Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 13


__ADS_3

Pertama Kali aku bertemu Mas Darma.


Sepulang sekolah aku menyusuri jalanan yang tampak ramai siang ini.


Aku melihat sebuah mobil terpakir di depan rumahku.


Aku masuk kedalam rumahku. Aku tampak penasaran dengan orang yang bertamu siang ini.


"Tumben sih ada tamu, siapa yah?" gumamku.


Aku masuk ke dalam rumah secara perlahan. Tak kusangka, mataku melihat sesosok lelaki tampan nan rupawan yang sedang duduk dan menatapku.


Aku tersenyum. Diapun membalas senyumanku.


"Assalammualakum."


"Wa'alaikum salam." Balas Mama dan Mas Darma bersamaan.


Aku kemudian mencium tangan Mama.


Mama menyuruhku duduk di sampingnya.


"Ini Nak Darma, Ratih. Dia anak saya." Mama memperkenalkanku pada Mas Darma.


Keadaan masih sangat canggung.


"Iya Bu. Hai Ratih." Sapa Darma.


"Ratih, Kenalkan ini Nak Darma dia pegawai kantor tempat Mama bekerja."


Aku hanya tersenyum.


"Ratih ini, anaknya sedikit pemalu." Kata Mama sembari mengelus rambutku.


Pertemuan pertama aku masih sangat canggung.


Pertemuan kedua.


Aku masih menulis di kamarku, Aku sedang mengerjakan tugas sekolahku. Sesekali aku melirik Meggy boneka kesayanganku, dia yang selalu menemaniku. Menemani hari-hariku.


Dari luar kamar, aku dengar sebuah mobil berhenti. Aku langsung berhambur keluar.


Lagi-lagi aku melihat sosok lelaki itu sedang berdiri menatapku.


seperti biasa akupun tersenyum.


Ternyata lelaki itu telah mengantarkan Mama pulang.


"Ayo Nak Darma masuk." pinta Mamaku.


"Nggak usah Bu. Aku mau pulang aja. Lagian, inikan udah sore."


Darma kemudian pergi meninggalkan rumah kami.


Kring...kring...kring


Suara deringan hape Mama. Aku langsung mengangkatnya.


"Halo."


"...."


"Iya Ada.Tunggu yah."

__ADS_1


"...."


Akupun berlari memanggil Mama.


Suara itu.Pasti dari lelaki bernama Darma.


***


Di ruang makan kami sekeluarga berkumpul.


"Ratih, menurutmu, bagaimana Nak Darma. Dia cakepkan?" tanya Mama.


Aku masih asyik megunyah. Aku begitu kesal setiap mendengar keantusiasan Mama untuk mengenalkanku pada lelaki. Entah Darma itu lelaki yang keberapa yang telah Mama kenalkan pada ku.


Entah aku tidak tahu apa yang ada di dalam fikiran Mama. Aku seperti melihat sosok Mama yang berbeda. Dia seperti bukan Mamaku yang dulu, entah sudah berapa kalinya dia mau mencarikan jodoh untuk ku.


"Ma, aku nggak mau! Mama kenapa sih tega sama aku. Aku masih kecil Ma, Belum mau mikirin yang namanya nikah."


"Sayang. Mama cuma pengin kamu bahagia. kamu bisa memiliki seorang suami mapan, tampan tanpa kamu harus kerja Nak."


"Tapi bukan begini caranya Ma, aku tuh belum cukup umur. Aku mau sekolah. Aku mau kuliah. Aku mau menjadi orang sukses. Aku pengin merubah semua kehidupanku."


"Nak, Mama nggak mau kamu jadi kayak Mama begini. Banting tulang sendiri, cari uang sendiri. Sementara Papamu nggak bisa apa-apa. Serrba maunya mengandalkan Mama. Lihat, Mama seorang sarjana. Tapi apa, Mama cuma jadi cleaning service"


"Ah...Jangan samain aku sama Mama." Aku mendesah kesal. ku banting sendok yang ada di tanganku. Kemudian aku berhambur pergi menuju ke kamarku.


Ku tatap Meggy. Tak terasa air mataku menetes. Ku raih Meggy dan ku pangkunya sembari ku dekap dia.


"Kenapa Mama jahat sama aku. Aku yakin pasti Mama tidak menyukaiku. Dia akan menyingkirkanku pelan pelan. Apa sebenarnya salah ku. Apa aku selalu menjadi beban untuknya."


Aaaaaaagh. Aku menjerit frustasi.


Bagaimana jika keinginan Mama menikahkan ku benar-benar terjadi. Apa yang harus aku lakukan. Aku akan menjadi seorang istri, berdiam diri di rumah, menyambut suami datang, dan ah, aku akan di pandang rendah oleh suamiku. Karena aku tidak sederajat dengannya. Aku cuma lulusan SMP. Sementara Mama dan Papa seorang sarjana. Jika itu terjadi, hidup benar-benar tidak adil.


Nomor tak dikenal. Ku geser tombol hijau.


"Hay..." Suara orang di sebrang sana.


"Ini siapa?" tanyaku.


"Ini nomernya Ratihkan."


"Iya benar."


"Ini Darma."


"Iya ada apa? kamu tahu nomerku dari siapa?" ketusku.


"Em, dari Mama kamu."


"Ngapain nelpon?"


"Nggak, cuma mau ngobrol aja."


"Maaf aku sibuk."


Akupun menutup paksa hapeku.


Aku benar-benar kesal. Apalagi dia pria asing yang sama sekali aku tidak kenal. Dan apa untungnya dia menelponku.


"Ah Mama ini. Kenapa sih Mama, selalu aja mau ngenal-ngenalin aku ke temannya."


***

__ADS_1


Sebulan kemudian, Aku telah menerima Darma di kehidupanku. Tapi tidak di hatiku. Aku selalu bercerita dan berkeluh kesah dengannya. Dia menanggapi begitu sangat baik.


Dia orang yang hangat. Mudah berbaur dengan teman baru. Akupun yang baru mengenalnya, sudah merasa nyaman dengan kehadirannya.


Dia sudah menjadi sosok penerang di hatiku. Dia dengan sabar, menjadi seorang pendengar yang baik di anatara keluh kesahku.


Sepulang sekolah, aku keluar bersama dengan Rani dan Yuli. Kulihat sosok tampan itu. Aku tak menyangka dia ada di depan sekolahku.


Dia melambaikan tangannya ke arah ku. Akupun mendekat, di ikuti Rani dan Yuli di belakangku. Aku di ajak Darma untuk makan siang dulu sebelum kami pulang.


Kemudian kami melaju ke arah cafe. Darma mentraktir kita bertiga


"Mr ganteng. Terimaksih nih untuk traktirnya. Sering- sering aja yah." kata Yuli setelah menyelesaikan kunyahan terakhirnya.


Darma mengangguk. Dia tampak masih menikmati hidangannya.


"Iya. Kita seneng banget hari ini. Udah bisa makan sebanyak ini." Kata Rani sembari menyuapkan sesendok soto kedalam mulutnya.


Lagi-lagi Darma mengangguk.


Aku cuma hanya bisa diam. Entah fikiran apa yang sedang menyelimutiku kali ini. Ada perasaan canggung ada juga perasaan rindu.


Tapi entahlah, yang aku tahu sekarang, aku merasa nyaman di dekat Darma.


***


Aku perlahan membuka mataku. Ku arahkan pandanganku kesekeliling.


"Kamar rumah sakit.?" gumam ku.


aku lihat selang infus yang menempel di tanganku dan sesosok laki-laki yang sedang menenggelamkan wajahnya di sisi ranjangku.


Ku lihat Darma sedang tertidur. Aku menatapnya sekilas. Aku mencoba membangunkannya. Diapun terbangun.


"Kamu udah sadar Dek."


"Mas, aku ada di mana sekarang? dan apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sudah jangan difikirkan macam-macam dulu."


Aku mencoba bangkit untuk duduk. Aku merasa sudah tidak betah berbaring. Darmapun membantuku.


Aku melihat betapa lusuhnya penampilannya saat ini, kemejanya yang tampak sudah kusut, wajahnya yang kusam, matanya yang sayu.


Ku lihat dia tampah letih.Tak ku sangka dia begitu perduli padaku.


Aku memegangi kepalaku yang masih terbalut perban. Aku mengingat kejadian tadi siang. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Yuli.


Dan di situlah aku merasa sangat terpukul. Terlebih saat aku mengetahui kalau kakiku patah.


Aku sempat berfikiran kalau aku akan menjadi cacat seumur hidup.


Dan di saat-saat terpuruku, Darma yang dengan tlaten merawatku, hingga kakiku pun sembuh dan aku bisa berjalan walau masih sedikit pincang.


Namun sebulan tidak ada kabar dari Darma membuatku tambah frustasi. Aku rindu sosok Darma yang hangat, yang sabar dan penuh perhatian.


Satu bulan kami hilang kontak. Darma seperti di telan bumi. Entah kamana dia pergi. Mamapun seperti sudah tak seantusias dulu.


Mungkin Mama dan Papa akhir-akhir ini, fikiran mereka sudah di alihkan pada konsentrasi usaha barunya. Yaitu membuka jasa catering di tempatnya bekerja.


Sudah tiga bulan aku tidak sekolah. Aku seperti sudah tidak konsen lagi dengan pelajaran sekolah.vKepalaku sering sakit saat aku memikirkan pelajaran sekolah.


Entah kenapa. Otaku benar-benar bebal. Mungkin ini jawaban dari Tuhan, kalau aku harus menerima takdirNya. Aku akan di takdirkan hanya lulus SLTP.

__ADS_1


__ADS_2