
Pagi ini, di kamar rumah sakit, tampak Asri terbaring lemah. Dia sekarang masih belum sadarkan diri. Benturan hebat di kepalanya, membuatnya lama untuk sadar. Arman masih setia menungguinya.
"Mas Arman, apa yang terjadi?" tanya Asri pada suaminya.
"Kita semalam kecelakaan As, Dan kamu semalaman nggak sadarkan diri." kata Arman.
"Mas, Maafkan aku yah. Atas semua kesalahan yang telah aku lakukan. Sudah seharusnya, aku menuruti apa mau kamu. Aku harus melupakan Darma."
Arman tersenyum.
"Mas, apa kamu akan tetap menikah lagi?" tanya Asri.
Arman terdiam.
"Mas ayo jawab! kenapa diam!" Jawablah pertanyaan aku tadi." pinta Asri.
"Iya. Aku akan menikah lagi. Maafkan aku yah As. Aku sudah berhutang banyak sama wanita itu."
"Mas, tapi bagaimana dengan ku."
"Kamu tetap As akan aku jadikan istri aku."
Asri menangis. Dia sangat terpukul mendengar penuturan suaminya. Dia juga sudah sangat sedih memikirkan kejadian di cafe itu. Iya memang sangat memalukan. Terlebih Darma sudah membuatnya malu.
Penyesalan memang akan datang terlambat. Begitupun dengan Asri. Dia menyesal karena tidak bisa menjaga suaminya dengan baik. Sehingga suaminya sekarang, harus menikahi wanita lain. Dan dia juga menyesal, karena dulu, dia meninggalkan Darma, orang yang sangat setia padanya.
"As, keputusan ada di tangan kamu As. Kamu masih mau dengan ku, apa kamu akan meminta cerai. Dan keputusan aku sudah bulat aku akan menikah dengan wanita itu."
Asri terdiam. Dia benar-benar bingung sekarang.
Poligami. Bagaimanakah Asri akan menjalaninya. Asri tidak sanggup kalau harus berbagi suami atau berbagi cinta dengan wanita lain. Lebih baik dia sendiri dari pada harus berbagi cinta.
"Aku nggak sanggup Mas. Kalau harus hidup dengan berpoligami. Mending kita cerai aja."
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Akupun akan menceraikanmu.
Hati Asri begitu sakit mendengar ucapan cerai dari suaminya.
Mungkinkah ini balasan Tuhan untuk ku. Aku telah meninggalkan Darma orang yang sangat mencintaiku, yang cintanya begitu tulus dan setia. Ah..mungkin ini sudah nasibku.
****
Minggu pagi, Ratih tampak sudah siap untuk pergi kerumah orang tuanya. Mas Darmanya itu sudah cakep wangi dan tak ada duanya deh.
"Hemm... Mas, wangi banget kamu Mas. Tapi aku nggak suka." Kata Ratih tiba-tiba.
"Kenapa sayang. Kan aku udah wangi. Kok Adek bilang nggak suka."
"Iya. Aku mau muntah kalau bau minyak wangi Mas."
__ADS_1
"Kok bisa sayang. "
"Nggak tahu. Akhir-akhir ini, aku jadi sering mual."
"Ah, Mas tahu. Palingan kamu itu, masuk angin gara-gara aku lembur terus setiap malam."
Ratih memukul suaminya dengan tas kecilnya.
"Aih, Mas. Kenapa sih Mas jadi gitu banget. Masak aku tiap malam di garap terus."
"Mumpung Mama belum pulang sayang."
Ratih dan Darma kemudian melangkah keluar. Seperti biasa, Darma itu menaiki mobil sedannya. Mereka menuju ke rumah Bu Lisna Mama Ratih. Sudah lima bulan ini, Ratih belum pernah mengunjungi rumah Mamanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Darma sembari mengelus rambut Ratih penuh sayang.
"Aku, pengin muntah Mas."
"Lho kok bisa. Ya udah sabar yah. Sebentar lagi kita sampai." Kata Darma sembari fokus menyetir.
Lagi-lagi Ratih hampir muntah. Mualnya tidak bisa di tahan.
"Mas, perut adek sakit."
"Yah, Mas tahu. Kamu pasti kebanyakan makan mi instan ama kopi deh. Makanya magh mu kambuh. Besok Mas akan suruh pulang mbak Sumi. Sudahi aja bulan madu kita di rumah."
"Mas, "
"Aku ...Tiba-tiba kok aku pengin makan mangga Yah. Enak kali yah... "
"Nggak, nggak, Mas nggak izinin kamu makan yang asem-asem. Kamu itu lagi kena magh adek."
"Iya deh..." Kata Ratih cemberut.
Ratih mual-mual terus di sepanjang perjalanan, membuat Darma jadi bingung sendiri. Akhirnya Darmapun putar arah untuk ke rumah sakit.
***
"Selamat yah, Pak, Bu..." kata Bu Dokter.
Darma dan Ratih saling menatap.
"Selamat untuk apa?" Tanya Darma penasaran.
"Iya Dok. Selamat untuk apa? Emang kita ulang tahun." kata Ratih
Bu Dokter tersenyum.
"Iya. Karena sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua."
__ADS_1
Hah, Ratih dan Darma tercengang. Mereka tampak terkejut.
"Bagaimana bisa begitu dokter. Apakah punya ku setajam itu? Sampai-sampai bisa langsung membuat istri ku hamil." kata Darma dengan konyolnya.
Dokter tampak tersenyum malu.
Ratih mencubit pinggang Darma.
"Auh.. apaan sih Adek. Sakit tahu.
"Tajam tajam... Emang pisau?" Ucap Ratih.
"Dokter serius ini?" tanya Darma.
"Iya. Ini hasil labnya. Dan usia kandungan ibu masih satu minggu." kata Dokter sembari menyerahkan sebuah surat tanda bukti kalau Ratih itu positiv hamil.
Ratih menegak salivanya.
Lho, kok bisa begitu. Mas Darma tokcer banget yah. Padahal kan dia lupa pakai pengaman cuma sepuluh kali. Dan lebihnya kita pakai pengaman terus kok. Batin Ratih.
"Dokter bisa aja bercandanya. Kita melakukan gituan juga pakai pengaman kok. Jadi mana mungkin akau hamil. Aku nggak percaya." kata Ratih yang masih belum juga percaya.
"Ya udah kalau kamu nggak percaya. Nggak apa-apa. Memang suami mu itu tajam." kata Bu Dokter mengikuti kata-kata Darma.
Ratih merinding mendengar kata tajam yang di ucapkan oleh dokter itu. Memang yang selama ini Ratih tahu, Darma selalu melemburnya sampai pagi. Entah berapa kali mereka melakukan dalam satu bulan.
Tajam? mungkin saja yang di katakan dokter ada benarnya. Kalau Pisau Darma memang tajam. Sekali bacok aja bisa menghasilkan anak. Apa lagi berkali-kali bacokan. Sampai-sampai jika pisau itu menerkam Ratih, bisa membuat badan Ratih remuk karena saking lelahnya.
"Coba Dok di cek lagi. Barang kali dokter salah." kata Darma.
"Bu, Pak. Saya itu dokter. Jadi saya mana mungkin salah. Kalau hasilnya memang Bu Ratih terbukti positif, ya mana mungkin saya bohong. Untuk apa juga saya membohongi kalian. Nggak ada untungnya kan." Dokter itu sedikit kesal.
"Tapi aku nggak percaya. Aku nggak mungkin hamil. Dokter itu pasti bohong. Bagaimana kalau Mama Arum tahu. hiks...hiks...hiks..." Ratih menangis.
Dia jadi menyesal melakukan itu dengan suaminya.
Darma menatap Ratih lekat. Di dekatkan tubuhnya pada tubuh Ratih. Dia kemudian memeluk erat tubuh istrinya berusaha untuk menenangkan.
"Aku nggak mau hamil, Aku nggak mau punya anak. hiks...hiks..."
"Sayang, jangan nangis. Kamu harus senang yah. Sebentar lagi kamu akan punya teman main. Kamu akan jadi ibu Adek."
"Tapi, Bagaimana dengan sekolahku. Aku udah ingkari janji Mama Arum.
Dokter cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya udah ya Pak Darma. Saya akan tuliskan resep vitamin untuk ibu Ratih.
Iya Dok.
__ADS_1
Aku mau punya anak? dengan bocah konyol ini. Bagaimana mungkin aku seceroboh itu. Tidak punya anak aja udah ngerepotin banget. Apa lagi kalau dia punya anak. Aduh aku nggak bisa ngebayangin kayak apa jadinya.