Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 62


__ADS_3

"Aku tidak menyentuhnya karena aku tidak mau mengkhianatimu Nara." Jelas Husni.


"Apa kamu bilang, kamu itu sudah mengkhianati aku Kak. Dengan kamu menikahinya diam-diam itu sudah merupakan pengkhianatan yang besar. Dan sekarang kamu mau menambah dosa lagi, dengan tidak mau adil dengan Inayah. Kalau kamu sudah mantap menikahi dia, kamu itu harus siap juga memberikannya nafkah lahir dan batin."


"Tapi Nara, aku tidak bisa."


"Benar apa kata Nara. Nara memang menantuku yang paling baik. Lihatlah dia begitu ikhlas menerima ini semua." Cetus pak Arwan.


Nara tersenyum walau senyuman itu menyimpan jutaan luka, namun Nara mencoba ikhlas untuk menerima semua kenyataan pahit ini. Semua sudah terjadi. Tinggal keikhlasan dan kesabaran yang harus di pertahankan dalam hati.


"Ya Allah, Husni...Mama benar-benar kecewa sama kamu." ucap Bu Arum.


Husni masih terdiam.


"Kak, aku sudah ikhlas. Nara nggak mau egois Kak. Nara sedang mengandung anak kamu, jadi Nara tetap akan bertahan demi anak ini." Kata Nara kemudian.


Entah sampai kapan aku bisa sanggup untuk hidup berpoligami.Namun jika aku menggugat cerai kamupun aku nggak bisa Kak. Karena aku sedang hamil. Aku nggak tau Kak, kalau pernikaha ini akan terus berlanjut. Jika anak ini lahir, rasanya aku juga tidak mau hidup bersamamu lagi. Batin Nara.


Husni menatap Nara lekat. Sungguh mulianya hati Nara. Dia mau berlapang dada menerima semua kenyataan pahit itu.


"Nara maafkan aku."


Nara tersenyum.


"Nanti malam, datanglah ke rumah Inayah. Minta maaflah padanya. Dan berikanlah dia haknya Kak." Kata Nara.


Setelah itu Nara pergi melangkah ke kamarnya. Dia mengunci pintu kamarnya. Rasanya perih seakan-akan dia tidak sanggup untuk menyimpan kesedihannya itu sendiri.


Nara terduduk dan bersender di pintu kamarnya. Dia menangis sembari memeluk kedua lututnya


"Apakah aku akan kuat, melihat Mas Husni tidur dengan wanita lain. Tapi inikan sudah suratan takdir." Ucap Nara di sela-sela tangisnya


...****************...


Malam ini, Husni pulang ke rumah Inayah. Inayah masih tampak berdiri di kamar. Sepertinya Inayah sedang bersedih. Dia tampak menyesali karena telah menikah dengan Husni suami dari sahabatnya sendiri.


Husni mendekat ke arah Inayah. Dia kemdian memeluk Inayah dari belakang.


"Inayah, Maafkan aku, aku udah salah selama ini. Maafkan aku, tidak seharusnya aku tidak berlaku adil padamu."


Inayah menyingkirka tangan Husni.


"Sudahlah Mas, kita akhiri saja hubungan ini. Ceraikanlah aku Mas. Aku nggak bisa menyakiti Nara."


"Tapi kenapa Inayah. Aku bukan lelaki jahat. Aku akan tetap menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."

__ADS_1


"Tapi kamu itu suami Nara. Dan Nara itu sahabat aku. Aku sudah di anggap pelakor oleh semua orang. Ini semua gara-gara kamu Mas."


Husni terdiam.


Kenapa keputusanku menikahi Inayah, malah jadi serumit ini. Semua orang mengetahuinya. Dan Nara sudah terluka. Sekarang Inayah meminta cerai.


"Tidak Inayah. Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku akan tetap dengan keputusan ku ini."


"Ah, terserah kamu Mas. Aku capek. Semua orang sudah mengetahui. Begitu juga orang kantor. Mereka sudah mencemoohku. Mulai sekarang aku sudah tidak mau bekerja di kantormu lagi Mas."


" Kenapa Inayah."


"Kenapa kamu tanyakan itu. Akukan tadi sudah bilang. Kalau orang kantor semua mencemoohku. Mereka sudah menganggapku pelakor."


Inayah begitu kesal. Dia menyesal juga kecewa. Seandainya dari pertama dia tahu, kalau Husni adalah suami dari sahabatnya yang bernama Nara, pasti Inayah akan menolak untuk menikah dengan Husni.


...****************...


Pagi ini, Ratih masih ada di rumah Nino.


Ratih masih berbaring di tempat tidur. Ratih masih berselimut. Sepertinya dia demam. Namun Nino belum tahu kalau Ratih sakit.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu dari luar. Namun Ratih belum juga bangun. Badannya panas tinggi, tubuhnya menggigil kedinginan.


"Astaga Ratih. Kenapa dengan Ratih. Kenapa dia bisa demam begini." Ucap Nino.


Nino kemudian keluar mengambil alat kompres.


Dia kemudaian mengompres Ratih.


" Ratih, kamu kenapa jadi sakit begini sih. Sakit hati sih boleh saja. Tapi jangan badannya ikutan sakit dong. Aku kan jadi khawatir gini." Ucap Nino.


Nino kemudian menyiapakan air hangat untuk Ratih minum. Dan membelikan bubur untuk Ratih makan.


Sesaat kemudian, Ratih terbangun. Dia mual-mual dan kepalanya sangat pusing.


Nino jadi bingung.


"Aduh...Ratih kenapa yah. Kenapa dia jadi seperti itu." Gumam Nino yang tidak tahu kalau sebenarnya Ratih itu sedang hamil.


"Ratih kamu kenapa? kamu masuk angin yah?" tanya Nino.


"Iya aku masuk angin." Jawab Ratih. Dia tidak mau mengaku pada Nino kalau dia sedang hamil.

__ADS_1


"Kamu minum obat yah."


Ratih menggeleng. Dia kemudian manangis.


"Mas Darma...hiks...hiks...Ratih pengin pulang...Ratih kangen."


Nino bingung.


Ah, sial kenapa dia ke ingat suaminya lagi sih!


Hiks...hiks...


"Mas Darma...Ratih sakit... hiks..."


"Aduh, aku jadi nggak tega sama Ratih. Apa aku sudah salah yah mengurungnya di sini. Tapi ah,aku kan pengin buat Ratih jatuh cinta padaku, biar dia ninggalin suaminya." Gumam Nino pelan yang hanya telinganya saja yang bisa mendengar.


"Ratih...kamu baik-baik saja kan?" tanya Nino.


"Aku mau pulang. Pasti Mas Darma nyariin."


" Ya udah. Nanti aku antar pulang." Ucap Nino pada akhirnya.


Entahlah, kenapa dengan Nino, tiba-tiba saja hatinya mulai melunak. Dia menjadi baik dan mau mengantar Ratih pulang. Padahal sebenarnya dia itu mau menyembunyikan Ratih. Dia tidak tega kalau Ratih sakit dan dia menangis dan merengek.


Ah, sebaiknya aku antarkan Ratih pulang deh. Kasihan dia lagi sakit. Kalau di sini terus, gimana kalau terjadi apa-apa sama dia.


Nino akhirnya bersiap-siap untuk mengantar Ratih pulang.


"Kamu mau pulangkan?" tanya Nino.


Ratih mengangguk.


"Baiklah. Sekarang kamu makan bubur dulu dan minum air putih hangat yah. Baru setelah itu aku antarkan kamu pulang. Dua harikan kamu nggak masuk sekolah."


"Iya Nino. Terimakasih." Ucap Ratih.


Ratih kemudian makan dan minum sebelum pulang ke rumah Darma.


Nino cuma bisa memperhatikan Ratih makan dan minum.


Kasihan, aku melihat Ratih sakit begini. Aku takut akan terjadi apa-apa pada Ratih. Nanti aku yang di salahkan lagi.


Nino kemudian mengantar Ratih ke rumah Darma. Sudah lama Nino itu tidak bertemu Darma. Bagaimana jika Darma melihatnya membawa istrinya.


"Ratih. Setelah ini kamu harus minta suamimu ngantarin kamu ke dokter." Kata Nino.

__ADS_1


Itu sih nggak perlu kamu jelaskan Nino. Mas Darma sudah pasti akan ngantarin aku ke dokter.


__ADS_2