
"Jadi maksud Mas, kalau Ratih nggak doyan makan sisaan Mas, Ratih nggak cinta gitu sama Mas."
"Ha..ha.. Mas nggak ngomong kayak gitu lho... Kamu lho yang ngomong."
"Ish...Mas Darma nyebelin. Kenapa Mas Darma jadi nyebelin banget sih. Nanti Ratih gigit lagi baru tahu rasa."
Darma mendekat ke arah Ratih. Darma berbisik lagi.
"Gigitanmu enak sayang. Berasa banget." Bisik Darma
Ratih langsung mencubit lengan Darma.
Ah, itu orang. Makan dari tadi nggak kelar-kelar. Sebenarnya mereka siapa sih. Om dan keponakan, kakak dan adik, pasangan kekasih, atau suami istri. Dari tadi makan bercanda mulu. Batin Abang tukang bubur.
"Ha...ha... Glek." Darma keselek saat ketawa. Membuat hidung dan tenggorokannya panas perih rasanya karena sambal yang masuk kedalam tenggorokanya.
"Mas. Mas Darma. Kenapa Mas?" Ratih panik.
"Minum...minum...!!!" Kata Darma sembari memegangi dadanya yang sesak.
"Iya. Aku ambilin minum."
Ratih berlari kecil dan mendekat ke arah abang tukang bubur ayam.
"Bang. Minuman untuk suamiku." kata Ratih.
"Iya Neng."
Abang tukang buburpun mengambil minuman untuk Darma.
"Ini Neng..." Kata Abang tukang bubur sembari menyodorkan minuman itu kepada Ratih.
"Makasih yah Bang."
Ratih kemudian mendekat ke arah Darma.
"Ayo Mas minum! ini minumnya."
"Makasih Dek."
Darma kemudian meminum satu gelas air itu sampai habis.
"Terimakasih Ratih." Kata Darma sembari memberikan gelas itu pada Ratih.
"Iya Mas."
Setelah itu Ratihpun pergi melangkah ke arah tukang bubur.
"Ini Bang gelasnya."
Si abang kemudian meraih gelas itu.
__ADS_1
"Iya Neng. Makanya kalau makan jangan sambil ngobrol dan bercanda dong. Jadi kayak gitu kan."
"Iya Bang. Suami ku ngeselin."
"Ha...suami Neng itu! cakep yah Neng ." Abang tukang bubur terkejut. Karena ternyata wanita cantik itu sudah menikah.
Ah, aku fikir wanita ini ponakannya Mas ganteng itu. Imut sekali wanita ini. Tapi ternyata sudah nikah. Aku fikir masih SMP. Batin Abang tukang bubur.
Ratih mencubit lengan si abang.
"Jangan genit kamu Bang sama suami ku. Dia cakep cuma milik ku. Abang jangan ikut-ikutan naksir sama dia. Abang itukan lelaki."
Abang tukang bubur tidak mengerti kenapa Ratih mencubit dan ngatain dia genit. Padahal sebenarnya si abang itu cuma memuji Ratih, karena Ratih hebat bisa mendapatkan lelaki yang cakep. Eh malah si Ratih yang salah paham. Ratih fikir kalau abang itu suka sama suaminya.
Dasar wanita aneh.Kenapa dia cemburu sama aku. Siapa juga yang naksir suaminya. Aku kan cuma muji kalau dia hebat bisa dapat lelaki cakep. Aneh. Batin Tukang bubur.
"Bang. Jangan ngelihatin suamiku terus...!"
"Eh iya neng nggak kok. Abang mau neglihatin Neng saja."
"Ih..Abang ma, suamiku galak Bang. Awas aja Abang bisa di cincang sama dia. Mungkin juga akan di jadikan sambal. Kalau Abang sampai naksir aku."
"Neng. Abang lihatin Neng sama dia itu seperti Om dan Ponakan, atau Kakak dan adik. Tidak seperti suami istri. Soalnya Neng masih muda banget."
Ratih tersenyum." Masa sih Bang. Emang aku ini masih sekolah Bang."
"Oh yah? "
"Abang jomblo Neng. Baru putus kemarin sama pacarnya."
"Oh...kenapa putus Bang?" tanya Ratih lekas kepo.
"Iya Neng. Ceweknya pengin punya suami orang kaya Neng. Jadi dia lebih memilih dengan lelaki kaya ketimbang abang yang cuma jadi tukang bubur ini."
"Jangan sedih Bang. Wanita di dunia ini bukan cuma dia Bang. Tapi banyak. Banyak sekali. Abang nggak usah putus asa yah. Aku yakin jodoh nggak akan kemana. Karena suatu saat jodoh itu akan datang dengan sendirinya Bang." Kata Ratih menceramahi abang tukang bubur.
"Iya Neng. Itu pasti. Sekarang Neng umur berapa? dan Neng katanya masih sekolah?"
"Aku masih SMA kelas dua belas Bang bentar lagi lulus."
"Oh...nikah kapan Neng.?"
"lupa Bang. Kayaknya sih tujuh bulan atau delapan bulanan deh."
"Oh..."
"Kenapa kecil-kecil udah nikah Neng. Penasaran yah?"
Ratih melotot.
"Apa yang Abang bilang. Penasaran apa...!" Ratih tampak marah membuat Abang tukang bubur terdiam tak melanjutkan candaannya.
__ADS_1
Abang tukang bubur cuma tertawa di dalam hati.
Sementara di sisi lain. Darma sudah berkobar-kobar hatinya. Api cemburu sudah mulai mendera dan merajalela di tubuh tegapnya.
Darma mencengkeram mangkok kuat-kuat hampir saja Darma menelan sendoknya juga saat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Yah, saat ini Darma cemburu dengan kedekatan Ratih dengan Abang tukang bubur. Semakin lama istrinya itu semakin akrab saja dengan tukang bubur itu tanpa memperdulikan Darma lagi.
"Ratih. Kamu lagi ngapain sih di sini lama-lama. Ayo kita pulang."
"Lho...kok pulang. Katanya mau ke rumah Bang Arfan."
"Ini Bang, mangkoknya. Dan ini bayarnya. Nggak usah kembalian. Kembaliannya buat abang saja." Kata Darma sembari menyodorkan uang seratus ribuan pada tukang bubur.
"Wah. Benar Mas. Alhamdulilah...terimakasih banyak Mas. Semoga amal soleh anda di diterima oleh Allah."
"Amin..." Ucap Ratih.
"Ayo...!" Darma menyeret istrinya pelan. Ratih tidak menyadari kalau sedari tadi Darma lagi menahan emosinya. Darma benar-benar cemburu saat melihat istrinya itu ngobrol akrab dengan lelaki lain. Mungkin karena dia terlalu cinta jadi dia gampang cemburu.
Darma kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cepat. Membuat Ratih takut dan langsung memeluknya.
"Mas...aku takut...pelan-pelan bawa mobilnya...Hiks..hiks..." Ratih kemudian menangis membuat Darma menghentikan laju mobilnya.
"Maafkan aku Mas sayang, kenapa kamu nangis."
Darma menangkup wajah imut istrinya.
Ratih masih berlinangan air mata. Pipinya sudah sangat basah oleh air mata.
Darma tersenyum.
"Mas, mau bunuh aku dan kita? kenapa Mas bawa mobil kayam orang kesetanan. Sebenarnya Mas kenapa sih. Sejak tadi kayaknya Mas kayak marah sama Ratih. Apa salah Ratih Mas. Ratih kan nggak salah apa-apa."
"Astaghfirullah..." Ucap Darma sembari membasuh wajahnya kasar. Hampir saja dia membuat Ratih ketakutan. Dan bagaimana kalau stres Ratih kumat. Ratih kan bukan wanita normal. Dia itu punya kelainan mental dan emosi jiwa yang labil.
"Adek, maaf kan Mas yah."
Darma kemudian meraih kepala Ratih dan menenggelamkannya di dada bidangnya. Untuk beberapa lama mereka saling berpelukan.
Tok tok tok...
Suara orang mengetuk pintu dari luar jendela kaca mobil.
Darma membuaka kaca pintu mobilnya.
"Selamat siang Pak." Ucap seorang lelaki berseragam polisi. Dan memang benar kalau dia itu polisi.
Polisi itu sedari tadi mengejar Darma karena Darma kebut-kebutan di jalan dan sudah melanggar peraturan lalu lintas. Darma menyerang lampu merah begitu saja.
"Siang juga Pak polisi. Ada apa yah?" tanya Darma bingung.
__ADS_1