
" Mas keluar sekarang!" Teriak Ratih.
"Apa-apaan sih sayang, kenapa Mas di
suruh keluar?"
"Aku nggak mau ngelihat muka Mas lagi"
Ratih masih tampak begitu kesal.
Ratih bangun dari ranjangnya, Setelah itu Ratih menyeret tubuh Darma.
Darma masih belum mengerti apa yang terjadi pada istrinya.
"Sayang, kamu ngusir Mas, Inikan kamar Mas sayang?"
"Bukan, ini kamar Ratih. Mas kan suami Ratih, Jadi semua milik Mas sekarang udah menjadi milik Ratih!"
Aih, apa-apaan ini bocah.
"Nah, itukan kamu sadar, Mas kan suami kamu, masak harus tidur sendiri-sendiri sih!"
"Pokoknya, Malam ini Mas harus tidur di luar!"
"Adek, kamu kesambet apaan sih? Masak tega ama Mas,"
Ratih mengambil selimut dan bantal. Dia berikan pada suaminya. Setelah itu, Ratih mengusir Darma keluar kamar.
"Ah, untung aku lagi capek Ratih. Kalau nggak, udah ku terkam kau tanpa ampun. Sampai kau nggak bisa jalan. Hari ini aku maafin. Besok nggak lagi Ratih." Gumam Darma.
Setelah itu dia keruang tengah. Dia tiduran di sofa.
Malam yang nelangsa untuk Darma, Seharusnya malam pertama itu adalah malam yang sangat membahagiakan. Namun ini, adalah malam yang sangat menyiksanya.
"Darma, Kamu kok tidur di sini?" tanya Bu Arum.
"Iya Ma, aku di usir oleh Ratih."
Bu Arum tersenyum.
"Ya bagus dong."
"Kok bagus Ma,"
"Iya. itu artinya, Ratih nurut sama Mama. Mamakan udah bilang kedia. Mama akan daftarin dia sekolah. Dan sebelum Ratih lulus SMA, kalian nggak boleh tidur sekamar!"
"Apa!"
"Bukankah kau sudah setuju dengn syarat itu?"
"Iya aku masih ingat Ma. Satu tahun lagi atau dua tahun lagi yah? baiklah." Kata Darma lemas.
***
Sore ini, hari tampak sangat cerah, Namun tidak secerah pasangan Husni dan Nara.
Setelah pulang umrah, Husni dan Nara, terpaksa harus berpisah sementara waktu.
Husni akan mengurusi bisnisnya yang ada di korea. Untuk beberapa bulan ke depan, Husni terpaksa harus tinggal di sana.
Dan perusahaan yang ada di indonesia, harus di pindah alihkan pada Darma adiknya.
Husni menyerahkan semua pekerjaannya pada Darma. Dan menyuruh istrinya untuk membantu Darma dalam menangani proyek-proyeknya nanti.
__ADS_1
Husni tampak sedang mengemas, barang-barangnya.
Nara memeluknya dari belakang.
"Aku akan sangat merindukan mu Kak."
Husni tersenyum.
Dia kemudian memutar tubuhnya menghadap Nara.
"Bidadariku, Jaga diri baik-baik yah sayang, Mas akan pergi sebentar. Setelah Mas pulang nanti, Mas akan memberikanmu sebuah kejutan. Dan sekarang tugas kamu adalah menjaga orang tuaku dan adik-adik ku. Dan jangan lupa juga, kamu harus bekerja sama dengan Darma untuk mengurus perusahaan. Kamu harus bantuin dia. Mas Husni yakin. Kaulah Aisyah ku yang cerdas."
Nara mengangguk.
"Sekarang Ratih udah tinggal di sini. Sekarang, kamu pasti akan merasa terhibur dan nggak kesepian lagi. Baik-baik yah sama dia. Dia teman kamu di sini."
"Iya Mas, aku suka kok sama Ratih. Dia lucu."
Husni mencium kening istrinya.
Setelah itu dia kembali berkemas.
Setelah selesai, Husni menyeret kopernya keluar.
Nara masih mengembangkan senyum.
Dia mengantar suaminya sampai ke luar.
Di sana sudah ada Bu Arum, Pak Arwan, Darma, dan Ratih.
" Mas Husni, jangan lupa yah oleh-olehnya. Ratih pengin beli boneka. Biar bisa di peluk setiap saat."
Husni tersenyum.
Boneka gede? apa iya aku punya boneka gede? boneka gedenya bisa meluk aku? Ah Mas Husni ini, ada -ada aja. Mana ada boneka yang bisa meluk. lagian untuk boneka, aku cuma punya megi, dan itupun kecil.
Darma senyam-senyum sendiri.
"Mas Husni ini ngaco. Aku cuma punya satu boneka kecil. Sejak kapan aku punya boneka gede yang bisa meluk. Lagian mana ada sih boneka bisa meluk manusia. Yang ada aku yang meluk boneka." Kata Ratih.
Semua orang ketawa. Begitupun dengan bi Sumiati dan Pak Anto supir pribadi keluarga Darma. Merasa geli sendiri mendengar ucapan menantu baru bosnya itu.
"Kok pada ketawa, apanya yang lucu?"
Darma memeluk Ratih dari belakang.
"Maksud Mas Husni itu, aku adalah boneka yang bisa meluk itu sayang." Bisik Darma.
Ratih terkikik...
Husni hanya geleng-geleng kepala.
"Iya Ratih. Kamu memang lucu. Kenapa nggak dari dulu kamu jadi adik ipar ku. Biar aku bisa usilin kamu setiap hari. Ngegemesin banget sih."
Husni mencubit pipi Ratih.
Darma melotot.
"Ish, Mas Husni. Ngapain pegang-pegang Ratih. Ratih itu milik aku. "
"Iya...iya..ah posesif banget sih."
Darma masih merangkul Ratih.
__ADS_1
"Mau ikut nggak Ratih?" tanya Nara.
Ratih menggeleng.
"Kalau Ratih nggak ikut, aku juga nggak akan ikut." Kata Darma.
"Ya udah kami pamit dulu. Jaga rumah baik-baik yah! " pinta Pak Arwan.
"Siap Pa." jawab Ratih dan Darma kompakan.
Pak Arwan, Bu Arum, dan Nara akhirnya pergi mengantar Husni ke bandara.
Setelah mobil menghilang, Darma menatap Ratih yang masih mematung.
Tiba-tiba saja Darma menggendong Ratih ala bridge style. Dia menuju ke kamarnya. Ratih meronta-ronta minta di turunkan.
"Saatnya kita bersenang-senang sayang...!"
Darma menurunkan Ratih di ranjang.
Ratih langsung meraih bantal untuk menutupi tubuhnya.
"Mas Darma jangan mendekat!"
"Lho, kenapa sayang?"
"Pokoknya, Mas Darma jangan sentuh aku."
"Iya, nggak nggak. Mas nggak akan macam-macam. Mas nunggu sampai kamu siap. Kalau kamu nggak mau yah Mas nggak akan maksa."
"Pokoknya aku nggak mau sampai hamil. Aku udah janji sama Mama Arum. Aku mau lanjutin sekolah. Dan aku juga mau kuliah."
"Iya Mas ngerti sayang. Tapi biasa aja dong sayang, jangan galak-galak. Mas jangan di gebukin terus."
Darma mendekat. Dia kemudian duduk di sisi ranjang.
Dia menangkup wajah Ratih.
" Sayang, Kamu senang nggak nikah sama Mas?"
Ratih mengangguk. Walau hatinya masih kesal dengan kejadian di malam pengantin itu.
"Ya udah, kita jalan yuk?"
Ratih terlonjak bahagia. Dengan sigapnya dia langsung mencium kening Darma, kedua pipi Darma.
Dan dia berhenti. saat beberapa centi lagi bibirnya sampai di bibir Darma.
Hampir saja kelepasan.
"Kok berhenti sayang, cium lagi dong." Kata Darma sembari meletakan satu jarinya ke bibir manisnya.
"Maaf, aku kelepasan."
"Ha...ha..." Darma tertawa.
Darma langsung mendekap Ratih ke dalam tubuhnya.
Deg deg...
Jantungya sudah mulai bertingkah. Begitulah Darma setiap kali memeluk istrinya. Setiap kali dia membelai rambut Ratih, mencium kening Ratih, dan memeluk tubuh Ratih yang hangat, membuat nafasnya sesak dan terasa sakit di bagian bawah sana.
Iya, Setiap kali dia menyentuh Ratih, Juniornya sangat sensitiv. Juniornya selalu mengagetkannya. Karena sekarang suka tiba-tiba saja terbangun.
__ADS_1
Entah sampai kapan Darma bisa bertahan. Mungkinkah menunggu sampai Ratih lulus?