
Setelah sampai di depan rumah Darma, Nino memarkirkan mobilnya. Darma sedang berdiri di teras depan rumahnya.
Darma masih memandang mobil yang ada di depan rumahnya.
"Mobil siapa yah. Bukan mobil Mas Husni." Ucap Darma.
Darma kemudian mendekat ke arah mobil Nino.
Nino keluar dari mobilnya.
"Nino..." Ucap Darma terkejut.
"Hai Dar. Apa kabar?. Lama kita nggak jumpa." Kata Nino sembari tersenyum.
Darma melihat ke arah dalam mobil. Sosok istrinya sedang tertidur.
Darma langsung meraih kerah baju Nino dan mencengkeramnya.
"Lo apakan Ratih heh...?"
"Aku nggak ngapa-ngapain istri lo. Gue cuma mau menolongnya saja. Percayalah..."
"Gue nggak percaya, kalau lo nggak mempunyai maksud terselubung."
Nino melepaskan cengkeraman Darma.
"Santai aja Bro. Biar gue jelasin dulu."
"Mau jelasin apa heh!"
"Gini, kemarin itu gue nemuin Ratih di tengah jalan. Dia menangis."
"Kenapa lo nggak ngajakin dia pulang ke sini heh...!"
"Ratih nggak mau pulang Bro. Sumpah deh."
"Kenapa istri gue sekarang?"
"Dia sakit, tubuhnya panas tinggi. Dan dia minta pulang."
"Oh... gitu."
Darma kemudian menggotong tubuh Ratih. Dia meninggalkan Nino dan membawa Ratih ke dalam.
Perlahan-lahan Darma membaringkan tubuh gadis kecilnya itu ke kamarnya.
Saat Darma aķan melangkah keluar, tiba-tiba saja Ratih mencekal tangan suaminya.
"Mas, mau kemana? temanin adek di sini."Ucap Ratih.
"Sayangku Ratih... Kamu udah sadar."
"Ish, sadar...sadar...emang aku pingsan."
Darma langsung mendekat ke arah Ratih.
"Kemana aja kamu Dek?" tanya Darma dengan tampang marah.
Ratih diam. Dia tidak berani menjawab.
"Kenapa kamu diam? apa mau Mas terkam"
Ratih melotot.
__ADS_1
"Nggak mau. Mas itu yah... heran deh aku. Istrinya lagi sakit begini...Serem banget sih ngomongnya.Terkam...terkam...!"
"Ya habisnya...Kenapa kamu bisa sama Nino?."
"Aku nggak sengaja ketemu Nino."
"Terus kenapa kamu itu nggak mau pulang. Kamu kangen sama Nino.? Sampai-sampai nggak mau pulang kesini."
Dengan sigap Ratih beringsut duduk dan mengmbil bantal untuk memukul suaminya. Dengan sigap pula Darma mencekalnya.
Dan sekarang Darma dan Ratih saling menatap. Rasa deg degan semakin menjalar di tubuh mereka. Dua hari tidak bertemu dan dua hari tidak tidur bersama.
"Sayang...Mas kangen banget sama kamu." ucap Darma.
Ratih masih diam, dan masih memandang wajah suaminya.
Mas Darma cakepnya nggak ketulungan. Ratih nggak ada rasa bosan jika memandang wajahnya. Kenapa yah? Ratih merasa Mas Darma itu cakepnya luar dalam. Nggak ada lelaki yang bisa menandinginya. Batin Ratih.
Darma dan Ratih semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling menempel. Dan terasalah hembusan nafas dari ke duanya.
"Ratih...Mas kangen banget." Ucap Darma lirih.
"Aku juga Mas. Aku kangen banget sama kamu."
Mereka kemudian saling tersenyum dan terpejam. Namun di saat bibir mereka hampir menempel, mereka di kejutkan oleh ketukan pintu dari luar kamar.
"Ah, sial. Ganggu orang lagi asyik aja." Gerutu Darma membuat Ratih terkikik.
Darma kemudian membuka pintu kamarnya. Tampaklah Mbak Sumi tersenyum padanya.
"Den. Aden lagi ngapain? Itu kenapa temannya di biarkan sendiri?."
"Ih, Mbak Sumi. Biarin aja dia nunggu. Kebiasaan saja deh kalau lagi ada orang mau asyik aja di ganggu."
"Emang tidak bisa di tunda yah Den. Kan bukannya tadi Aden mau ke kantor?"
"Iya. Nanti aku turun."Kata Darma kesal.
Mbak Sumi kemudian turun ke bawah.
Darma melangkah ke arah istrinya.
"Sayang, Mas temui Nino dulu yah."
"Mas, percaya sama Ratih. Ratih nggak ada hubungan apa-apa sama Nino. Ratih cuma sayang sama Mas Darma."
"Iya, mas percaya. Nanti kita lanjut lagi yah?"
"Bukannya Mas sudah siap mau ke kantor?"
"Nggak jadi. Mas kangen sama kamu. Mas nggak mau ke kantor. Mau nemenin kamu dan anak kita."
Ratih tersenyum. Yah begitulah suaminya. Dia lebih memprioritaskan istrinya dari pada kerjaannya. Sepertinya Darma sudah benar-benar menggilai istrinya itu. Di tinggal dua hari saja sudah hampir membuat Darma stres dan hampir terkena stroke. Apa lagi jika di tinggal setahun. Entahlah.
Darma kemudian melangkah ke luar kamar. Dia akan menghampiri Nino. Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk Nino dan Darma akur lagi. Jika Nino sudah berubah.
Jika Nino masih menginginkan Ratih, mungkin Nino akan berpura-pura baik saja pada Ratih atau Darma.
"Gimana dengan Ratih? apa dia sudah bangun?"
"Iya sudah No. Thanks ya. Lo udah bawa istri ku pulang." Ucap Darma.
"Iya. Sama-sama."
__ADS_1
Nino tersenyum, begitu juga dengan Darma.
"Aku pulang dulu yah. Siapa tahu kamu mau nemenin Ratih. Kasihan dia. Aku sih, nggak tahu sih ya,masalah kalian. Tapi, yang pasti, Istri lo itu, istri yang baik Bro. Beruntung lo bisa dapatin istri macam dia."
Darma tersenyum.
Ah, mudah-mudahan saja lo itu nggak ngincar istri gue No. Kalau tidak habis lo No ama gue.
Setelah itu Nino pulang. Sementara Darma melangkah ke arah kamarnya untuk menemui Ratih.
Darma tersenyum. Ternyata Ratih tertidur lagi. Dengkurnya pun terdengar. Darma kemudian menyelinap masuk ke dalam selimut dan mendekap Ratih.
"Mas.." Ucap Ratih sembari menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.
"Iya sayang."
"Kamu masih pakaian kerja, kamu nggak mau ke kantor?" tanya Ratih.
Darma menggeleng.
"Kan Mas udah bilang, kalau Mas itu, lagi pengin nemenin kamu dan anak kita." Kata Darma santai.
"Mas."
"Iya sayang..."
"Ratih lapar."
"Lapar? Emang kamu belum makan?" tanya Darma.
" Ratih udah makan bubur cuma sedikit."
"Terus kamu mah makan apa?."
"Ratih pengin pepaya, pisang, melon, mangga, jeruk,apel,
"Stoop...jangan kebanyak sih adek. Mas ngga bisa mikir nih. Kamu mau buah sebayak itu? untuk apa?apa kamu mau makan semuanya?"
Ratih menghadapkan wajah nya ke arah Darma.
"Pastilah aku makan. Ini keinginan dedek bayinya." Ucap Ratih.
"Ya udah. Tapi satu-satu yah." Kata Darma.
Darma kemudian mengambil semua buah yang ada. Pertama-tama dia mengupas melon.
"Den, lagi ngapain?" tanya Mbak Sumi.
"Ini, lagi ngupas melon "
"Buat non Ratih ya Den."
"hemm siapa lagi kalau bukan anak manja itu. Kan istriku cuma dia."
"Apa melon sebanyak itu mau Den Darma iris?"
"Ya iya lah. Inikan permintaan istriku. Ayo dong bantuin.! Jangan diam saja.! Istriku mau buah yang banyak."
"Iya Den."
Mbak Sumi tampak berfikir.
"Den, kalau mau buah yang banyak, kenapa nggak Aden belikan aja rujak buah? Kan buahnya lengkap tuh."
__ADS_1