Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 12


__ADS_3

Waktu menunjukan jam 12 malam. Ratih masih sendiri di kamarnya.


Dia tampak masih sangat frustasi akibat kepergian Yuli.


"AaaaaĆ agh" Ratih berteriak histeris sembari mulutya meracau tak karuan.


Bu Lisna dan Pak Rudy terbangun.


"Suara apa sih, berisik sekali." Ucap Bu Lisna lirih.


Mereka tampak terkejut, ketika mendengar suara Ratih. Mereka kemudian berlari melangkah ke kamar Ratih.


"Ya ampun Ma, itukan suara Ratih." Ucap Pak Rudy.


"Iya Pa benar. Ayo kita kesana."


Bu Lisna dan Pak Rudy saling memandang. Mereka kemudian bangkit melangkah keluar kamarnya dan menghampiri kamar Ratih. Namun kamar Ratih ternyata terkunci.


"Bagaimana ini?" ucap Pak Rudy.


"Nak Darma. Iya, Mama akan telpon dia." tiba-tiba Bu Lisna teringat Darma.


"Jangan Ma, ini udah tengah malam. Kasihan Nak Darma. Dia udah sering banget kita repotkan. Papa jadi nggak enak."


"Udahlah Pa. Apa Papa bisa menyelesikan semua ini sendiri?"


Pak Rudy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah...bisa apa sih Papa." Dengus Bu Lisna kesal.


Bu Lisna kemudian menelpon Darma.


"Halo Nak Darma. Maaf malam-malam mengganggu."


"....."


"Nak Darma, tolongin Ibu. Ratih histeris, dia depresi lagi."


"....."


"Ibu nggak tahu dia kenapa Nak."


"....."


"Iya, sekarang yah Nak."


Darma yang masih berkutat dengan laptopnya, langsung menutupnya dan segera pergi meninggalkan rumahnya. Setelah dia menyambar kunci mobilnya, diapun tanpa fikir panjang lagi langsung meluncur menuju rumah Ratih.


Sesampainya di sana, memang benar kalau Ratih sedang ngamuk-ngamuk di dalam kamar.


" Sudah dari tadi Nak Darma, Bapak ketok pintunya. Namun sampai sekarang, Ratih nggak keluar-luar juga." Kata Pak Rudy.


"Iya Nak Darma. Ibu juga takut terjadi apa-apa sama dia. Biasanya kalau lagi kayak gini, Ratih akan menyakiti dirinya sendiri." Bu Lisna menuturkan.


Darma membasuh mukanya kasar penuh penyesalan. Tidak seharusnya dia melupakan kontek dengan Ratih.


Sejak kerjaannya banyak, diapun sudah tidak konsen lagi mengurus Ratih. Dia jadi jarang kontek dengan Ratih.


Setelah kaki Ratih sembuh,Darma tidak lagi menemani Ratih. Dia seakan semakin jauh dengan Ratih, karena kesibukan kantornya. Diapun sekarang jarang mengunjungi Ratih.

__ADS_1


Huh ini semua salahku. Tidak seharusnya aku meninggalkan Ratih. Dia begini mungkin karena aku tak ada waktu untuknya. Tapi urusanku kan banyak Ratih. Bukan cuma ngurusin kamu aja. Ah,ini anak satu, nyusahin aja deh! lama-lama aku halalin juga kamu Dek.


"Aku pembunuh...Aku udah membunuh Yuli. Yuli...Yuli...Maafkan aku!"


hiks hiks.


"Yuli. Kenapa bukan aku aja yang mati. Kenapa...! Apa gunanya aku hidup, kalau seumur hidupku harus di hantui rasa bersalah." Rancau Ratih di sela isakannya.


"Dek. Buka pintunya sayang! ini Mas sayang. Jangan bertindak bodoh seperti itu, ikhlaskan Yuli Dek! kamulu nggak salah.


"Ayo Nak buka pintunya!" kata Bu Lisna Khawatir.


Lama tak ada sahutan. Darma tanpa berfikir panjang lagi, langsung mendobrak pintu itu.


Dan mereka terkejut setelah mereka melihat Ratih tampak sedang menyakiti dirinya sendiri.vDia menjambak-jambak rambutnya, mencakar-cakar wajahnya, membenturkan kepalanya di tembok.


"Ratih cukup Nak, cukup. Apa yang kamu lakukan! kamu jangan menyakiti diri kamu sendiri." Kata Bu Lisna.


"Ratih, istighfar Nak." Ucap Pak Rudy kemudian.


Darma mendekat. Dia memeluk tubuh Ratih dengan erat.


Kenapa lagi kamu dek. Lagi-lagi kamu bikin Mas cemas. Mas nggak bisa Dek terus ada di samping kamu. Mas juga harus kerja. Tapi Mas juga nggak sanggup kalau melihat kamu jadi seperti ini.


Darma masih terus berusaha menenangkan Ratih. Ratih tampak meronta-ronta.


Beberapa lama kemudian, Ratih terdiam. Dia seperti telah tersadar. Bu Lisna dan Pak Rudy telah kembali ke kamar.


"Mas, kamu ada di sini?" Ratih mengelus rahang tegas Darma.


Membuat Darma tersenyum dan berdebar.


Manis banget sih kamu Ratih, Membuat Mas jadi nggak sabar pengin halalin kamu.


Mata bening Ratih menatap Darma tampak berkaca-kaca.


"Kamu mau ngomong apa sayang? ngomonglah! Mas akan selalu menjadi pendengar yang baik untuk kamu. Nggak usah khawatir yah, Mas nggak akan ninggalin kamu kok."


"Aku mimpi Yuli Mas." Ucap Ratih kemudian.


"Aku takut Mas. Yuli mau mengajak ku," tambahnya.


"Sayang, yang di mimpi kamu itu bukan Yuli. Dia itu cuma jin yang menyerupai Yuli. Mimpi itu cuma bunga tidur sayang. Makanya kamu harus ikhlasin Yuli. Biar dia tenang di sana."


Darma mengangkat tubuh Ratih dan menggendongnya ala bridge style. Dan menurunkannya ke ranjang.


"Mas, Aku takut." Ratih memegang erat tangan Darma. Membuat Darma tak tega.


"Iya sayang. Mas masih di sini. Kamu nggak usah takut." Ucap Darma


"Mas jangan tinggalin aku! " ucap atih memohon. Tampak jelas gurat di wajahnya yang menyimpan sejuta kecemasan.


Ratih kemudian memeluk Darma lagi.


Deg.


Jantung Darma berdegup kencang.


Perasaan apa lagi ini, ad**uh gadisku! Jangan sepert ini dong! aku takut kalau yang ada di bawah sana akan terbangun. Apa kamu nggak tahu kalau kamu sedang menggodaku. Jangan pancing-pancing Mas sayang. Mas masih perjaka tulen lho. Bibir Mas juga masih segelan. Tapi kalau tangan dan pelukan jangan katakan lagi aku memang sangat hobi meluk cewek dan mengusap air mata setiap ada cewek nangis. Tapi bukan karena nafsu sayang, tapi karena Mas nggak tega. Mas deg-degan banget dek dekat kamu kayak gini, apakah kamu juga merasakannya. Ah kamukan masih kecil, mana tahu hal kayak gini.Ya Tuhan ampunilah dosaku.

__ADS_1


Darma melepas pelukannya kemudian matanya terpejam.Dia tampak sangat tegang.


Ratih terkikik melihat ekspresi Darma.


"Kamu kok ketawa."


"Mas lucu sekali. Tadi mas merem-merem nggak jelas. Mas lagi mikirin apa?"


"Nggak. Mas em...Mas itu dek...em...itu." Darma jadi salting deh.


"Mas lagi mikirin apa yah...?" Darma tak tahu apa yang mesti di katakan. Memang iya, dia berfikir sedikit mesum tadi. Bagimana kalau Ratih tahu, bisa di tendang keluar kamar dong.


Bagaimana tidak mikir mesum. Malam-malam gini berduaan dengan seorang gadis, tanpa ada muhrim.


Di kamar berduaan lagi. Nanti kalau ada setan gimana tuh.


"Mas lagi mikirin itu yah?" telunjuk Ratih mengarah ke wajah tampan Darma.


"Apa?"


"he...he...nggak."


"Nggak apa?"


"Nggak jadi ngomong."


"Oh gitu yah? ya udah aku tinggal nih! Ayo tadi mau ngomong apa?"


Ratih terkikik lagi.


Darma jadi bahagia melihatnya. Gadisku udah kembali ceria.


"Ratih, Mas mau nemenin kamu. Tapi nggak di sini dek. Mas mau tidur di sofa tamu."


"Iya Mas."


Sebelum pergi secepat kilat Darma mencium kening Ratih sembari menyeringai.


Ratih memegangi keningnya. Baru pertama kalinya juga dia di cium lelaki.


***


Di ruang tamu Darma tidak bisa tidur. dia masih memikirkan wajah Ratih. Begitu cantik dan menggodanya.


Walau dia masih kecil, namun kemanjaannya dan kecantikannya bisa membangunkan sisi lelakinya yang belum terjamah seorang wanita.


Aduh Adek, kenapa kamu selalu menyiksa Mas sih. Mas masih gugup begini. Apa kamu tidak merasakannya, dari tadi di kamar,Mas takut kalau mas bisa saja menciumu beneran Dek. Benerkan Mas melakukannya, y**ah walau cuma sebatas cium kening.


Darma memiringkan tubuhnya ke kanan.


Cepat luluslah Adek, Mas udah nggak tahan. Mas pengin cepet-cepet nemenin Adek tidur dan berbaring disisi Adek. Ternyata hasrat ini sungguh menyiksa. Tapi kenapa waktu sama Asri aku tidak pernah merasakan hal seperti ini yah. Ya iyalah jelas. kan Asri nggak pernah mau aku cium, k**ita pacaran cuma kayak adik kakak. Yah bagaimanapun juga aku tahu batasan. Mas Husni yang selalu ngajarin aku.


Setelah sibuk dengan fikirannya sendiri, Darmapun terlelap. Ratih keluar dari kamarnya. Dia membawakan bantal dan selimut unuk Darma.


"Ini Ambil Mas." Ratih menyodorkan bantal dan selimut


"Dek...Kamu belum tidur?"


"Belum Mas."

__ADS_1


Darma meraih selimut dan bantalnya.


"Makasih."


__ADS_2