Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 2


__ADS_3

Pagi ini Bu Maryam dan Inayah tampak masih berkutat di dapurnya.


Mereka sedang memasak banyak. Yah, setiap hari memang selalu itu yang Inayah lakukan. Membantu bu Maryam di dapur untuk menyiapkan sarapan anak-anak panti.


"Ah, rasanya udah enak kok...!" Kata Inayah.


"Oh, ya udah, sekarang panggil suami kamu. Dan suruh dia sarapan bareng kita."


"Iya Bun," kata Inayah.


Setelah itu dia pergi ke kamar menghampiri Husni. Husni masih terlelap di bawah selimut. Husni tampak menggigil.


"Mas, kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Inayah.


Inayah duduk di samping Husni. Dia kemudian memegang kepala Husni. Yah, badan Husni ternyata panas sekali.


"Mas, badan kamu panas sekali. Apa kamu demam Mas?" tanya Inayah.


"Inayah, nggak tahu Inayah. Badanku rasanya nggak enak sekali Inayah. Hidungku juga mampet."


"Itu namanya masuk angin Mas. Kamu semalam kan ke hujanan." Kata Inayah.


Husni tersenyum.


"Makasih yah, sayang untuk semalam."


Inayah merona. Yah, dia masih ingat dengan semalam, di mana suaminya telah memberikan sesuatu yang indah yang setengah bulan ini dia belum berikan pada istri sirinya itu. Karena waktu setengah bulan itu, cuma buat Nara dan Revan. Karena waktu itu Revan sakit. Jadi Husni harus ikut mengurus Revan juga.


"Seharusnya aku yang berterimakasih Mas. Kamu sudah bela-belain datang ke sini hujan-hujanan gini, untuk nemuin aku. Kalau kamu masih di sibukan urusan kantor dan Revan, mending ke sininya di tunda juga nggak apa-apa. Aku nggak akan memaksamu kok Mas."


"Kamu memang istri yang pengertian Inayah."


"Aku cinta sama kamu tulus Mas. Tidak mau berharap lebih dari kamu. Aku cuma butuh seorang lelaki yang mau menjadi pelindungku dan mau menjadikan aku teman di dalam hidupku."


"Iya Inayah aku tahu. Hubungan kita itu aman kok.Darma dan Nara nggak pernah tahu. Mereka cuma tahu, kalau kamu udah pergi dan tidak kerja menjadi sekertaris aku lagi."


Inayah kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil alat kompres untuk mengompres suaminya.


"Mas, aku kompres dulu yah."


"Iya sayang." Kata Husni.


Inayah kemudian mengompres Husni dengan handuk kecilnya.


"Mas, mending kamu jangan ke kantor dulu. Kamu lagi sakit Mas."


"Iya sayang. Tapi aku mau pulang ke rumah Nara. Pasti Nara sedang menunggu ku di sana. Aku kasihan kalau Nara harus merawat Revan sendirian."


"Iya Mas."


Inayah diam. Dia cuma bisa diam dan tidak berani untuk mengatakan jangan. Inayah tidak mau berharap terlalu banyak pada Husni. Baginya, Husni sudah mau memperistrinya itu sudah lebih dari cukup.


Mas, aku sadar diri siapalah aku. Aku tidak akan pernah mengacaukan keluarga kecilmu Mas, aku tidak terlihat menjadi istrumu di mata umum juga tidak apa-apa. Aku ikhlas jika aku harus menjadi istri simpananmu selamanya. Tanpa harus orang lain tahu.

__ADS_1


Husni membelai lembut wajah Inayah.


"Kenapa sayang? kamu belum mau Mas tinggal yah?"


"Bukan begitu. Kalau Mas, di sana, siapa yang akan merawat Mas. Nara kan sibuk sama bayinya."


"Kamu nggak perlu cemas. Nara sama sepertimu. Dia sayang sama aku. Dan dia bisa mengatur semuanya sayang. Jadi dia tidak akan menelantarkan suami yang sedang sakit."


"Tapi apa Mas kuat, nyetir mobil sendiri?"


"Ya Kuat dong. Nggak apa-apa."


"Ya udah, Tapi Mas makan dulu yah sebelum pergi."


"Iya sayang...!" Kata Husni sembari beringsut duduk.


Husni kemudian pergi ke kamar mandi.Selesai mandi Husnipun keluar dan sarapan bareng Inayah. Setelah itu Husni pamit pulang.


"Inayah, aku pergi dulu yah. Asalamualikum."


"Wa'alaikum salam."


Husni kemudian pergi meninggalkan Inayah. Walau dia masih tampak sakit, namun dia tetap harus pulang ke rumah Nara.


Dia tidak mau Nara mencurigainya.


...****************...


Nara masih ada di halaman depan rumahnya. Dia tampak masih menggendong Revan. Yah, sekarang Nara sedang berjemur bersama anaknya.


Nara tersenyum.


"Kak Husni. Dia sudah pulang." Kata Nara sembari memburu suaminya itu.


Husni keluar dari mobilnya. Setelah itu dia memburu Nara dan Revan.


"Nara, maaf semalam aku nggak pulang." kata Husni.


Nara menyalim tangan Husni.


"Ayo Yah, kita masuk...!"


Husni kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Husni duduk di sofa ruang tengah. Wajahnya sangat pucat sekali.


"Kak, kamu kenapa? pucat sekali wajahmu?" tanya Nara.


"Em, sayang, aku nggak apa-apa kok. Lagi kurang enak badan aja."


Nara kemudian duduk di samping suaminya. Nara memegang kepala suaminya.


"Panas sekali ayah badanmu."

__ADS_1


Husni tersenyum."Nggak apa-apa Nara."


"Ah, Kak. Nara ambilin obat dulu yah...!"


Husni mengangguk.


"Mbak...mbak Sumi...! "


Mbak Sumi yang di panggil buru-buru mendekat ke arah bosnya.


"Iya Den Husni, Non Nara, ada apa? panggil saya?"


Nara berdiri. Setelah itu dia menyerahkan Revan pada Mbak Sumi.


"Mbak. Tolong jagain Revan yah. Aku mau ngurusin Kak Husni dulu. Dia sakit." kata Nara.


Nara kemudian mendekat ke arah Husni.


"Ayo Kak. Kita ke kamar saja. Kamu harus istirahat. Mungkin kamu ke capean karena harus pulang malam terus." Kata Nara.


"Iya. Sayang." Kata Nara.


Husni dan Nara kemudian melangkah ke kamar. Sesampainya di sana, Husni berbaring di atas tempat tidurnya.


"Nara."


"Iya kenapa Kak?"


"Maafin aku yah."


"Maaf untuk apa? kakak nggak salah."


Maafkan aku Nara, untuk pengkhianatan yang selama ini aku telah lakukan.


"Aku ambilin kamu obat dan nanti aku akan kompres kamu."


"Makasih sayang." Kata Husni.


Nara kemudian pergi meninggalkan Husni sendiri di kamarnya. Setelah itu dia mengambil obat dan alat kompres untuk Husni.


Nara mendekat ke arah Husni. Dan setelah itu dia mengkompres Husni.


"Kak, kamu sudah bekerja terlalu keras. Padahal sebenarnya kan ada Darma. Darma juga bisa kan membantu semua tugas kamu."


"Nggak apa-apa sayang. Darma itu kan lagi fokus sama anak kembarnya. Kamu tahu sendirikan kalau Ratih itu tidak bisa apa-apa. Dia itu kan masih bocah. Jadi semua harus mama yang kerjain."


"Iya Kak. Kasihan Darma. Ratih belum bisa jadi istri yang dewasa."


"Kayaknya sih nanti dia akan dewasa dengan sendirinya kalau umurnya sudah bertambah "


"Iya mungkin Kak."


Nara kemudian mengompres Husni dengan penuh kasih sayang. Yah, sekarang kasih sayang Nara harus terbagi. Terbagi untuk Revan dan Husni.

__ADS_1


Jadi selama ini, Mbak Sumi yang di suruh kerja di rumah Husni dan Nara. Karena Mbak Sumi itu orang kepercayaannya Bu Arum. Dan Mbak Sumiatilah yang selama ini nemenin Nara dan bantuin Nara ngurus Revan saat Husni ke kantor.


"Nara, gimana Revan? apa dia sudah mendingan."


__ADS_2