
"Maaf Pak. Bisa tunjukan KTP, STNK, dan SIM anda."
"Iya Pak. Sebentar."
Darma kemudian memberikan apa yang pak polisi pinta.
"Apa anda tahu kesalahan anda bapak Darma Setiawan?"
"Iya Pak. Maaf saya khilaf pak. Tadi saya kebut-kebutan di jalan."
"Bukan cuma itu. Anda menyerang lampu merah. Apakah anda tahu kalau aksi anda itu bisa membahayakan semua pengguna jalan."
"Maaf Pak polisi. Jangan marahi suami saya. Kasihan..." Ucap Ratih.
"Baiklah. Untuk kali ini anda bisa lanjutkan perjalanan. Tolong jangan ulangi lagi yah Pak Darma."
"Iya Pak, terimakasih."
"Selamat siang."
"Siang Pak."
Setelah polisi itu pergi Darmapun melanjutkan menyetir.
"Ih Mas Darma. Hampir saja kita kena tilang."
"Udah, polisi itu orang baik. yang penting kita selamat."
"Kok hari minggu polisinya nggak liburan yah. Mestinya dia lagi liburan sama anaknya."
"Iya Dek. Ini hari libur. Makanya kita tidak kena sangsi."
Darma kemudian meluncur dengan kecepatan lambat. Dia memang jarang sekali mengajak jalan Ratih karena kesibukan mereka masing-masing. Ratih sibuk sekolah, dan Darma sibuk ke kantor. Dan kalau hari libur biasanya mereka di sibukan untuk lari pagi dan bercengkrama di dalam kamar.
"Mas, ngapain kita lewat sini. Bukankah kita akan ke rumah Kak Arfan?"
"Udah jangan bawel. Nurut aja sih..."
Ratih diam. Dia tampak bingung. Kemana lagi suaminya itu akan membawanya pergi.
Beberapa saat kemudian, Ratih tersenyum. Darma mengajaknya ke pantai.
"Wah...Mas. Ini pantai yah?"
"Iya sayang siapa yang bilang ini gunung. Kalau di sana aja ada laut, berarti ini pantai. Masih nanya lagi."
"Ih...Mas Darma. Gitu amat sih. Mana pengunjungnya Mas? kok sepi sih."
"Mas sengaja bawa kamu kesini. Ini pantai bukan tempat obyek wisata sayang. Cuma pesisir pantai biasa. Kalau aku ajakin kamu ke pantai objek wsiata, nanti matamu nggak fokus sama mas."
"Maksudnya?" Ratih tidak mengerti.
"Iya. Nanti kamu ngelihatin cowok yang cakep-cakep gitu."
"Ha...ha...Ratih ngerti. Jadi Mas cemburu yah dari tadi. Berarti Mas juga cemburu waktu Ratih ngobrol akrab dengan Abang tukang bubur ayam itu. Mas juga cemburu waktu aku naik gojek online."
Darma diam.
"Kok diam. Kalau diam berarti iya dong..."
Ratih semakin meledek saja.
__ADS_1
Lagi-lagi Darma diam.
Ratih semakin bingung saja. kenapa suaminya malah cuek sekali dengannya. Ratihpun ikutan diam.
Tiba-tiba saja
Cup. Satu kecupan mendarat di pipi mulus Ratih.
"Mas Darma..." Ucap Ratih sembari memegang pipinya.
Darma tersenyum.
"Mau lagi? Biar nggak berat sebelah."
Ratih menggeleng.
"Satu aja cukup." Ucap Ratih dengan jantung berdebar. Padahal sebenarnya Ratih juga ingin mendapat kecupan satu lagi dan mendapat pelukan lagi.
Darma meraih kedua tangan Ratih. Dia cium kedua punggung tangan Ratih.
"Kamu cantik banget Dek."
Ratih tersenyum.
"Mas Darma juga ganteng."
Darma tersenyum. Dan akhirnya merekapun larut dalam cumbu rayu asmara di tepian pantai itu.
Darma masih dalam posisi memeluk Ratih dari belakang. Dagunya dia sandarkan ke bahu Ratih.
Wangi harum tubuh Ratih selalu membuat candu bagi Darma. Dia tidak pernah bosan untuk menyentuh Ratih. Di setiap waktu tidak ada yang dia fikirkan lagi kecuali Ratih.
Begitu juga dengan Ratih. Darma itu adalah cinta pertama dan cinta terakhirnya. Walaupun mereka tidak pacaran seperti orang-orang pada umumnya. Namun mereka seperti sudah mengisi hatinya dengan cinta mereka masih-masing.
Semilir angin di siang ini tampak membuat rambut Ratih dan Darma berterbangan. Darma masih melingkarkan tangannya di pinggang Ratih.
." I love you sweet heart..." Bisik Darma lembut.
"I love u honey..." Ucap Ratih yang masih belum merelakan Darma melepas pelukannya.
Tangan Ratih masih menggenggam erat tangan Darma yang masih melilit pinggangnya.
"Apa kamu suka pantai sayang?" tanya Darma.
"Hemm..." Ratih mengangguk.
"Kamu cinta sama aku sayang."
"Hemm..."
"Apakah kamu janji tidak akan berpaling dari ku?"
"Ratih janji Mas. Ratih akan selalu setia padamu. Tapi Mas juga janji yah, akan selalu setia sama Ratih. Entahlah akan jadi apa Ratih ini jika Mas mencintai orang lain."
Darma memutar tubuh Ratih. Dan sekarang mereka saling berhadapan. Ratih tersenyum. Darma kemudian meraih rambut Ratih dan menyibakan rambut Ratih ke belakang telinga Ratih.
"Kamu cantik sayang."
Ratih tersenyum. Wajahnya merona. Darma kemudian mencium kening dan kedua pipi Ratih.
"Mas janji sayang. Mas akan selalu mencintaimu selamanya. Mas tidak akan pernah berpaling dan mengkhianatimu. Karena mas juga pernah merasakan sakitnya di khianati. Jadi kamu nggak usah khawatir yah, mas akan selalu menjaga dan melindungimu hingga maut memisahkan kita."
__ADS_1
"Iya Mas. Ratih juga. Mudah-mudahan cinta kita akan langgeng sampai kakek nenek. Ratih juga tidak akan pernah mengkhianati Mas. Karena bagi Ratih Mas adalah suami yang terbaik. Mas sudah bisa selalu memanjakan Ratih walaupun sering usil dan nyebelin."
"Iya sayang. Aku beruntung bisa dapatin wanita secantik kamu. Sekaligus naas karena mendapatkan wanita pemalas, galak dan bawel kayak kamu. Ha...ha..."
"Ih...Mas Darma. Nyebelin...!"
Ratih melotot. Wajahnya seakan singa betina yang kelaparan. Sebelum Ratih memukul Darma langsung berlari menghindar. Ratihpun mengejar suaminya.
Mereka kejar-kejaran di bawah teriknya panas sinar menatari. Tak ada kata panas lagi jika cinta sudah menyatu. Di manapun tempatnya akan menjadi indah jika ada cinta.
Ratih tampak kelelahan. Darma mendekat.
"Adek, kamu kenapa?" tanya Darma.
Kriuuuk...
"Apa yang bunyi?"
"Hi...hi...cacingnya Ratih Mas, minta makan."
"Lah, kok bisa. Kan tadi baru makan bubur ayam."
"Itu Ratih yang makan. Kalau cacingnya belum."
"Kamu mau makan lagi?"
"Nggak usah. Ratih pengin es."
"Hei, jangan minum es. Kamu lagi hamil."
"Ih Mas Darma kok jadi kayak mama sih cerewet."
"Udah. kita pulang aja yuk. Udah panas banget begini."
"Mas. Ratih pengin minum."
"Ya udah yuk kita balik aja."
"Jangan. Ratih penging di sini aja ngelihat matahari tenggelam. Ratih pengin romantis-romantisan sama Mas. Kita pacaran aja di sini mumpung sepi."
Darma menarik hidung Ratih."Bisa aja kamu"
"Auh...sakit tahu Mas." Kata Ratih sembari memegangi hidungnya.
"Ya udah kita cari tempat berteduh yah sayang."
"Iya Mas."
Darma kemudian mencari tempat berteduh. Mereka naik ke atas bebatuan yang di belakangnya ada pohon besar rimbun yang bisa melindungi mereka dari sengatan matahari.
"Kita sekarang duduk di sini yah sayang."
"Iya Mas."
Darma kemudian mengajak Ratih duduk.
"Sayang Mas puisi buat kamu."
"Oh yah?"
"Iya. puisi ini aku persembahkan untuk Adek Ratih tercinta cinta sejatinya Mas Darma."
__ADS_1