
Satu minggu kemudian.
Darma mendapat telpon dari Arfan. Arfan mengabari, kalau sekarang Ratih sedang dekat dengan Nino.
Ratih sekarang sering di bawa Nino kekantor Nino.
"Kurang ajar Nino! jadi benar dugaan gue. Kalau ini memang perbuatannya. Gue tahu buaya darat satu itu, dia tidak akan pernah melepaskan mangsanya sebelum dia mendapatkanya. Dan sekarang gadisku dalam bahaya." Gumam Darma.
Darmapun kemudian menelpon Arfan untuk meminta bantuannya.
"Tolongin gue Fan. Gue nggak tahu lagi mau minta tolong sama siapa."
"....."
"Sekarang tugas lo adalah, mengawasi gerak-gerik Nino.
Jangan biarkan Nino sampai menyentuh gadisku."
***
Darma dan Arfan, menuju ke apartemen Nino.
Karena dari kabar yang Arfan dengar itu, Nino Akan mengajak Ratih sore ini ke apartemennya.
Di sisi lain.
Ceklek.
Pintu Apartemen Nino terkunci. Nino sengaja menguncinya.
"Lho kok di kunci?"
Nino menegak ludahnya. Dia sedang menahan hasratnya yang sudah bergelora sampai ke ubun-ubunnya.
"Iya, biar tidak ada orang yang bisa mengganggu kita sayang."
Ratih masih tidak mengerti.
"Emang apa yang akan kita lakukan Nino? "
" Nggak ada sayang, kita akan ngobrol-ngobrol aja kayak dulu."
"Oh."
"Udah, kamu masuk kamar dulu."
"Kenapa kita nggak ngobrol di sini aja. Kan sambil nonton tivi."
"Nggak sayang, kita lebih enak ngobrol di kamar."
"Ya udah." Ratih melangkah ke kamar Nino.
Sabar juniorku, kita akan mendapatkannya malam ini. Tapi kita harus pelan-pelan. Kita tidak boleh memaksanya. Biarkan dia yang meminta duluan. Obat perangsang ini akan membuat dia meminta dengan sendirinya.
Nino kemudian melangkah ke kamarnya dan menguncinya.
__ADS_1
"Aish. Kenapa kamarnya juga di kunci. Apa yang mau kamu lakukan sama aku Nino."
"Nggak sayang, kita akan ngobrol-ngobrol aja."
"Tapi nggak perlu mengunci pintu dong!"
"Iya biar kita ngobrolnya nyaman aja."
Ratih sekarang mengerti kalau Nino benar-benar akan membuatnya kehilangan ke gadisannya malam ini.
Ratih benar-benar merasa takut. Dia tak tahu apa lagi yang harus dia lakukan. Kenapa dia harus terjebak di kondisi seperti ini.
Apa yang mau Nino lakukan sih. Masa iya, dia mau ngobrol aja, harus di dalam kamar begini, dengan pintu yang terkunci lagi. Aduh, perasaan ku nggak enak banget nih.Mas Darma ...tolongin adek.
***
"Ayo Fan...lebih cepat lagi! gua tahu banget siapa Nino itu. Dia itu kayak orang nggak waras. Kalau lagi ngincer cewek apa aja akan dia lakuin. sampai cewek itu mau dia tiduri."
" Ah, bawel lu. Ini juga udah cepat!"
"Bisa bawa mobil nggak sih lu! "Darma menonyor kepala Arfan.
"Ah, apaan sih lu. Sabar dikitlah, sebentar lagi juga nyampe kok. Gue nggak mau kebut-kebutan dan mati konyol Bro. Gue masih punya anak bayi."
"Oke, terserah lu aja." Darma akhirnya mengalah.
Di apartemen itu terlihat sangat sepi.
"Kayaknya mereka nggak di sini deh." Kata Arfan.
"Oke. Terus kita mau ngapain. Masak kita mau nuggu di depan pintu kayak gini. Bisa lumutan dong sampai kakek-kakek." Kata Arfan.
" Berisik lu ah, kita dobrak aja pintunya." Darma memberi ide.
Darma dan Arfanpun mendobrak pintunya. Setelah itu, mereka melangkah ke kamar Nino.
Namun, tak terdenagr suara dari dalam kamar.
"Kayaknya mereka nggak di sini deh Bro." Ujar Arfan yang lagi-lagi mendapat pelototan dari Darma.
"Diam lu ah, berisik aja ! "Darma tampak kesal.
Arfan dan Darma kemudian mendobrak pintu itu lagi. Membuat Nino dan Ratih terkejut.
Dan yah benar, mereka sedang melihat Ratih bersisian dengan Nino.
Ratih tampak masih menenggak minumannya.
Tanpa basa-basi Darmapun memukul Nino. Nino tak melawan.
Arfan pun karena geram melihat tingkah Nino, ikut nemukul Nino.
"Mulai sekarang gue berhenti jadi karyawan lu. Gue nggak mau punya bos bejat macam lu! " kata Arfan.
" Ternyata dugaan gue benarkan. Lu lagi ngincer gadis gue. Dan sekarang lu mau menjebaknya seperti itu. Lihat dia terkapar begitu sekarang. Lu berikan dia obat apa hah,"
__ADS_1
Nino bingung harus ngomong apa, kalau sudah tertangkap basah begini.
Darma mencengkeram kerah baju Nino dan mengangkatnya berdiri.
Bugh...
Satu pukulan keras mengenai perut Nino lagi.
Lagi-lagi Nino tak melawan.
"Gue nggak nyangka ama lu Nino, lo itu baik di depannya aja, sementara di belakang, lu tuh tega nikung sahabat lu sendiri. di mana perasaan lu. Dia itu cewekny Darma!" Arfan terlihat gusar.
"Udah Fan, ngomong sama orang gila kayak dia nggak akan berpengaruh, Nggak akan mempan. Diakan cowok yang nggak punya hati dan perasan. Sekarang lu bantuin gue bawa Ratih pergi dari sini."
"Oke."
"Gue nggak ngapa-ngapain dia Dar, Gue cuma beri dia obat tidur dan obat perangsang aja. Tapi, sumpah gue belum nyentuh dia." Nino dengan tubuh gemetar mencoba menjelaskan.
Nino juga sebenarnya takut sama Darma, karena perusahaan ayah Darma yang sedang meroket. Bisa saja Darma menghancurkan perusahaan kecil Nino dan menjadikan Nino bangrut.
Arfan dan Darma mengangkat tubuh Ratih. Dia membawa Ratih pergi dari tempat itu.
"Ah, sialan ! kenapa mereka bisa memergoki gue sih, Ini pasti gara-gara Arfan karyawan kurang ajar itu. Lihat aja kau Arfan, gue akan buat perhitungan dengan lo.
" Mas," ucap Ratih.
"Iya sayang..."
"Kepalaku sakit banget..."
"Iya sayang, sabar yah. Kita akan pulang. Kita akan segera sampai."
Ratih tampak masih bersandar di dada bidang Darma.
Arfan masih tampak serius menyetir. Sesekali matanya menatap kaca spion. Dia bisa melihat jelas raut wajah Darma yang seperti sedang di selimuti kecemasan.
Dia juga sering kali mencuri pandang., pada ke dua sosok manusia yang duduk di belakangnya.
"Ah, enaknya lu Dar. Gue, udah kayak nyamuk aja di sini." Ucap Arfan sambil nyetir.
"Berisik...Diam lu ah!" sentak Darma.
"Kita mau kemana Dar?" tanya Arfan.
"Ke rumah gue."
"Baiklah."
Arfan kemudian melaju dengan kecepatan sedang ke arah rumah Darma. Jarak rumah Darma dengan Nino mungkin akan memakan waktu 45 menit dalam waktu sedang.
Arfan memang sudah sangat mengenal betul sosok Darma.
Dia sudah mengenal Darma sejak mereka masih berada di bangku SMP. SMA pun mereka masih satu sekolah. Namun saat kuliah mereka berpisah karena beda fakultas.
Darma memang sangat menyayangi sosok yang namanya perempuan. Siapapun perempuan itu. Baik pacarnya ataupun bukan.
__ADS_1
Perhatiannya, keromantisannya, dan kehangatannya, tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Beruntung banget orang yang bisa mendapatkan hati Darma.