
Korea.
"Inayah, bersiaplah! kita akan pulang ke Indonesia." Kata Husni sembari mengemasi barang-barang bawaannya.
Inayah yang sedari tadi masih berdiri di samping jendela apartemen, tak merespon. Dia masih setia mematung. Mungkin fikirannya saat ini tidak sedang bersamanya.
Husni menepuk bahu Inayah.
"Ayo Inayah, kita berkemas! "
Inayah tersentak kaget.
"Oh iya Mas. Ayo!"
"Kamu lagi mikirin apa sih Inayah?" tanya Husni menatap Inayah lekat.
"Tidak ada kok Mas." Bohong Inayah. Padahal memang dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu pasti bohongkan. Sekarang kamu ceritakan apa yang sekarang kamu rasakan? katanya kamu sudah menganggapku sahabat. Aku juga tahu kan, tentang masa lalumu. Kau juga sudah menceritakan semuanya. Terus sekarang apa yang masih mengganjal di hatimu?"
Apa aku harus mengatakannya Mas. Aku rasa untuk perasaanku ini, kamu tidak perlu tahu. Aku tidak akan pernah mengatakan perasaan ini padamu. Aku sangat mencintaimu Mas. Tapi aku tidak akan berani untuk mengutarakannya. Karena kamu sudah mempunyai istri. Dan aku tidak mau menjadi duri di kehidupan rumah tangga kalian. Apa lagi pernikahan kalian masih seumur jagung.
"Aku nggak mikirin apa-apa. Cuma mungkin tempat ini akan menjadi kenangan indah kita di Korea." Ucap Inayah.
Husni tersenyum.
Kenangan indah? yah, kenangan indah yang tak akan pernah Inayah lupakan. Di tempat inilah, Inayah menjadi seorang wanita yang merasa di hargai dan di hormati, karena bosnya itu memperlakukannya dengan sopan dan sangat baik.
"Mungkin, jika istrimu tahu kalau kita tinggal satu atap begini, dia akan marah besar."
"Iya, mungkin Inayah. Aku juga sudah sangat merindukannya. Bidadari surgaku." Gumam Husni.
Dada Inayah terasa sesak. Bagaimana tidak? Husni mengutarakan perasaannya pada istrinya di depan Inayah.
Ucapan Husni barusan seperti sangat menohok hatinya. Membuat butir bening matanya mengalir dan menetes di pipinya. Namun dia berusaha keras untuk menyembunyikannya.
Apakah Inayah cemburu? yah tentu saja. Seandainya dia seseorang yang tak punya perasaan, mungkin di saat-saat seperti inilah dia bisa merebut Husni dari Nara.
Apalagi yang Inayah tahu, kalau Husni sangat mengangguminya. Dari cara Husni menyanjung Inayah, cara dia memuji Inayah, dan cara Husni memberikan perhatian pada Inayah, Itu akan lebih mudah untuk Inayah masuk ke dalam hati Husni.
Tapi Inayah selalu tersadar. Dia juga seorang perempuan. Dan tidak akan berani melakukan hal bodoh itu. Merebut kebahagiaan perempuan lain.
__ADS_1
"Inayah, ada apa?" tanya Husni sembari mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Inayah.
Inayah hanya bisa menggeleng.
"Nggak apa-apa. Aku cuma bahagia aja kita akan bisa kembali ke Indonesia. Dan bisnis kita kali ini semua lancar " Elak Inayah. Padahal sedari tadi dia memang sedang memikirkan perasaannya.
"Ini semua juga berkat kamu Inayah. Kamu memang orang yang sangat bisa aku andalkan." Puji Husni
"Ah, jangan terlalu banyak muji Tuan Husni. Ini semua juga berkat kerja keras mu juga kan."
"Anda itu memang sosok lelaki yang sangat istimewa Mas Husni. Pasti orang yang bisa menjadi istrimu akan menjadi seorang wanita yang sangat beruntung."
Jika saja aku adalah orang yang beruntung itu Mas. Kenapa aku tidak mengenalmu lebih dulu dari pada istrimu itu.
"Iya. Aku juga sangat beruntung mendapatkan seorang perempuan seperti istriku."
"Iya. Aku juga senang jika ada di posisi Mbak nara. Bisa memiliki seorang suami seperti anda Tuan."
Husni terdiam. Dia menatap Inayah penuh iba. Dia sudah sangat tahu latar belakang Inayah. Inayah seorang gadis yatim piatu, yang harus mengalami pahit dan getirnya prahara rumah tangganya dengan suami-suaminya.
Sekarang Husni sudah mengerti dan sangat memahami gadis cantik yang sedikit mirip istrinya itu. Di balik mata bening inayah yang terlihat selalu sayu, Ternyata Inayah mempunyai masa lalu yang sangat buruk.
****
Malam ini, udara di luar terasa dingin. Dinginnya seperti menusuk, menghujam hingga menembus ke jantung, hingga masuk sampai keseluruh pori-pori kulit.
Ratih masih sibuk dengan kegiatan barunya. Ya, apalagi kalau bukan belajar. Selain sebagai seorang istri, dia juga sekarang sebagai seorang pelajar.
Ratih masih asyik dengan PR nya. Dia masih tampak sibuk membolak-balikan bukunya.
Darma yang sebaru pulang dari kantor, segera meletakan tas kerjanya, melepaskan Jas dan dasinya. Setelah itu, dia juga melepaskan sepatunya.
Menyambut kepulangan suaminya. Yah, begitulah yang seharusnya seorang istri lakukan. Namun Ratih malah asyik saja dengan dunia belajarnya. Namun Darma tidak pernah mempermasalahkan itu. Darma menyadari siapa Ratih itu. Ratih itu masih kecil. Jadi mana mungkin Ratih akan langsung bersikap layaknya seorang wanita dewasa.
Setelah melepaskan baju kerja nya, Darma melangkah ke arah istri kecilnya. Dia memeluk Ratih dari belakang. Dia meletakan dagunya di atas pundak Ratih.
"Lagi ngapain Dek? serius amat sayang,"
"Ini Mas. Bantuin aku dong! Aku lagi ada tugas. Otak ku sakit nih. Aku nggak bisa mikir."
Darma tersenyum.
__ADS_1
"Sayang, kamu terlalu cinta yah sama Mas, sehingga kamu tidak bisa mikir pelajaran. Karena yang ada di fikiran kamu itu, sekarang cuma Mas kan hayo ngaku."
Tuuk.
Ratih memukul dahi Darma dengan balpoinnya. Membuat Darma meringis.
"Auh sakit sayang! kenapa tangan kamu usil banget sih!" Kata Darma sembari masih mengelus-elus dahinya sendiri.
Setelah itu dia berdiri dari posisi bungkuknya.
"Mas jangan kepedean deh. Siapa juga yang mikrin Mas."
"Sayang, Malam ini Mas pengin tidur di kamar ini. Bolehkan sayang?"
Ratih memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya.
"Gara-gara pil KB sialan itu, Mas jadi nggak boleh tidur sekamar lagi denganmu," gerutu Darma.
"Siapa suruh Mas maksa aku minum pil itu. Kenapa juga sih, Mas mau di kasih ide konyol itu oleh Bang Arfan. Itukan pil milik Mpok Alma."
" Iya Maafkan Mas sayang."
Ratih tampak cemberut.
"Kenapa sayang, Kamu kangen yah untuk Mas peluk. Kan tadi Mas udah meluk Adek."
Bugh...
Lagi-lagi Ratih melayangkan sebuah benda ke arah suaminya. Kini dia melemparkan tempat pensilnya ke tubuh suaminya.
"Apalagi sih Adek." Teriak Darma sedikit kesal.
Adek ini. Kapan sih berubah dewasanya. Bukan nya Mas di sambut, lah ini malah di lempar-lemparin. Galak banget sih. Tapi aku suka. Dia imut sekali. Tinggal satu yang belum aku dapatkan dari dia. Tubuh mungilnya.
"Mas ini yah. Bukannya bantuin aku ngerjain tugas. Malah pikiran ngeres terus yang di piara."
Darma terkekeh.
Membuat Ratih semakin geram.
"Ih....Mas Darma nyebelin...!" Suara Ratih kembali melengking. Yah itulah suara Khas Ratih. Suara ngangenin yang membuat Darma selalu merindukannya.
__ADS_1