Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 28


__ADS_3

Pengantin kecil, sudah tampak cantik, dengan balutan gaun pengantinya.


Wajah Ratih yang mungil, terlihat sangat cantik dengan polesan make-up ala pengantin itu.


Namun, entah kenapa keringat di keningnya selalu bercucuran. Tidak berhenti menetes.


" Anak Mama...cantik sekali." Bu Lisna memeluk Anaknya.


Dia sangat bangga pada anaknya, tidak membayangkan sebelumnya, kalau Darma adalah anak orang kaya.


"Apa Mama udah puas sekarang! " ucap Ratih di sela-sela pelukan ibunya.


Bu Lisna melepaskan pelukannya,


"Apa maksud mu?"


"Ini kan, yang Mama harapkan, agar aku menikah! " bentak Ratih.


"Sayang, Maafkan Mama. Apa kamu nggak bahagia dengan pernikahan ini Nak?" tanya Bu Lisna cemas.


Ratih menangis.


"Kamu nangis Nak, apa kamu akan membatalkan pernikahan ini? Mama fikir, kamu mencintai Nak Darma."


Ratih menangis tersedu-sedu.


Bu Lisna tampak terkejut. Karena yang dia fikir selama ini, Ratih sudah mencintai Darma. Tapi kenapa Ratih menangis sesenggukan begitu. Seperti orang yang mau di paksa nikah aja.


Bukannya hubungan Ratih dengan Darma itu, adalah hubungan asli dua insan yang saling mencintai. Bukan karena terpaksa. Bu Lisna tampak bingung.


" Aku benci Mama... Aku benci !


Mama tega dengan ku !


Mama nggak ngebolehin aku sekolah lagi. Mama malah menikahkan ku, di usiaku yang masih semuda ini. Di mana otak Mama. Aku juga pengin Ma, ngerasain masa muda, Aku ingin ngerasain yang namanya pacaran, aku pengin ngerasain jadi anak kampus, aku pengin ngerasain yang namanya kerja, cari uang untuk membantu kehidupan Mama dan Papa. Tapi kenapa, kalian menghancurkan semua itu...!"


Bu Lisna tak tahu harus ngomong apa lagi. Ini adalah pernikahan besar. Pernikahan pengusaha muda Darma setiawan. Akankan pernikah ini akan hancur gara-gara Ratih. Dan akankan Bu Lisna kali ini akan menanggung malu?


Perasaan Bu Lisna begitu bercampur aduk saat ini. Dia ingin ikut menangis. Jika Ratih benar-benar menghancurkan pesta ini, mau di taruh di mana muka Bu lisna.


Bu Lisna menangkup wajah Ratih sembari menangis.


"Maafkan Mama Nak, Mama nggak bermaksud untuk menghancurkan cita-cita kamu. Mama sayang sama kamu Nak, Mama melakukan ini juga untuk masa depan kamu. Mama fikir, kamu akan bahagia. Kalau kamu nggak cinta dengan Nak Darma, kenapa kamu mau ngorbanin perasaanmu untuk menikah dengannya. Mama tidak akan memaksamu Nak.


Kenapa kamu tidak pernah bilang sebelumnya, kalau kamu terpaksa dengan pernikahan ini ! Kalau kamu bilang, Mama bisa untuk menggagal kannya. Tapi sekarang jangan permalukan Mama Nak..."


Tangis Bu Lisna pecah, Bu Lisna mengadu dahinya dengan dahi Ratih berhadapan. Mereka sama-sama menangis, di tengah-tengah pelukan hangat ibu dan anak.


Ratih menangis karena bahagia, Sementara Bu Lisna menangis karena kecewa.


"he...Aku bahagia kok Ma, dengan pernikahan ini,"


Tangisan Bu Lisna berhenti, seketika melihat putrinya terkekeh.

__ADS_1


" Ma, aku beruntung banget punya orang tua seperti kalian. Aku sedih karena setelah ini, aku tidak akan tinggal lagi di rumah kalian. Aku pasti akan sangat rindu. Aku..."


Bu Lisna melepas pelukanya.


" Apa maksud kamu? Tadi kamu menangis dan bentak- bentak Mama itu, "


"Ha...ha... Aku cuma Akting Ma, ha..."


"Anak kurang ajar ! beraninya kamu ngerjain orang tua."


Bu Lisna mencubit lengan anaknya.


"Auhg...Ma, sakit."


" Di saat-saat kayak gini, kamu masih bisa bercanda ! "


***


"Lho..lho..Kenapa make up nya jadi berantakan gini?" tanya Tante Karisa pada Ratih.


" Maaf Tante, tadi aku habis nangis."


"Ah, dasar bocah. Mau jadi pengantin aja ribet banget!"


"Han, tolong nih... Rias dia lagi. Sebentar lagi acaranya udah mau di mulai." Kata Tante Karisa pada Hani.


"Iya Bu."


"Jangan nangis lagi. Penghulu akan segera datang." Tante Karisa tampak jengkel.


Hani kemudian merias ulang wajah Ratih. Make-up Ratih yang sudah luntur karena keringat dan air mata.


Rati duduk di depan cermin.


"Nanti bawa kipas kecil yah, Kamu berkeringat terus. Nanti kalau seperti ini terus, bisa luntur make-up nya." Pinta Hani.


"Iya Mbak Hani, aku gerah. Nggak biasa makai pakaian kayak gini."


Acara tinggal beberapa menit lagi. Hati Ratih begitu resah. Jantungnyan berdetak kencang.


" Mbak, Kayaknya setelah ini, aku harus priksa kesehatan jantung ku deh."


" Lho, kenapa emang Ratih dengan jantung kamu?"


" Akhir-akhir ini jantung aku, jadi sering deg degan secara tiba-tiba."


Hani tersenyum.


" Santai aja Ratih, ini semua wajar kok. Semua pengantin memang kalau lagi acara penting kayak gini, emang gitu. Gugup. Apa lagi nanti, kalau udah ada di depan penghulu. Jantungnya akan tambah deg degan." Kata Hani menuturkan.


"Emang Mbak Hani sudah ngerasain yang namanya nikah, dan malam pertama? rasanya kayak apa sih?"


Aish, aku masih perawan Ratih. Jangan tanyakan malam pertama pada ku.

__ADS_1


" Mbak Hani belum pernah nikah Ratih." Jawab Hani.


"Ah, tapi kenapa mbak Hani sok tahu, dengan kondisi jantung ku. Kayaknya jantung ku udah mulai nggak waras nih."


Lagi-lagi Hani menahan tawa. Gadis yang sedang di riasnya saat ini, memang beda dari gadis lain. Entah kenapa setiap di dekat Ratih, setiap orang itu akan merasa teehibur, atau di buat jengkel dengan kekonyolan-kekonyolannya itu.


****


Di tempat berbeda, Darma sedang menghafal ucapan ijab qabulnya.


Husni yang sedang menemani adiknya di kamarnya terkikik-kikik.


Dia merasa lucu dengan adiknya.


Dulu dia yang di ketawain Darma. Sekarang, Darma yang akan dia ledek habis-habisan.


" Mas, bantuin dong!"


"Apa yang mesti Mas bantu?"


" Mas akhir-akhir ini, jantungku seperti sedikit bermasalah deh. Setelah ini aku akan memeriksanya ke dokter."


" Jangan Aneh-aneh Darma. Jantung berdegup kencang itu, wajar untuk calon pengantin."


"Tapi ini beda Mas."


" Bukankah kamu dulu, ngejekeni Mas. Kamu bilang anak TK hafal dengan ucapan ijab qobul. Sekarang kamu udah hafal belum?"


Darma berpikir sejenak.


Iya. Benar jantung ini nggak bermasalah. Mungkin aku lagi gugup aja mau ngadepin pengulu.


" Bagaimana aku mau ngafalin, Mas aja berdiri di situ mulu."


" Lah emang apa masalahnya? Aku kan Mas mu, aku mau nemenin adiknya dong."


" Iya, Tapikan aku jadi grogi dan nggak konsen."


Husni menepuk-nepuk bahu adiknya.


"Ini Mas mu lho dek, Mas udah dari kecil nemenin kamu. Mas di sini untuk menyuport kamu. Biar acara pernikahan ini berjalan lancar."


Darma tersenyum. Dia memang beruntung mendapatkan Kakak yang baik seperti Mas Husni.


"Kalau sama Mas aja kamu grogi, gimana nanti di luar. Kamu akan di hadapkan dengan orang banyak, Relasi relasi papa, juga relasi bisnis Mas hadir semua lho. Teman-teman perempuanmu di luar, juga sudah pada kumpul. Mau ngucapin selamat. Apa kamu udah siap?"


Deg.


Darma berfikir lagi.


Astaga, ini benar-benar pernikahan mewah. Mas Husni dan Papa sudah benar- benar mendukungku dalam pernikahan ini, dengan waktu singkat mereka bisa mengatur resepsi ini...


" Kalian lagi, ngapain masih di sini!. Itu tamu-tamu udah pada nunggu. Husni, kamu juga malah asik-asikan di sini, bukannya nyambut tamu." Bu Arum tampak kesal.

__ADS_1


Setelah itu, Husni pergi keluar untuk menyambut tamu-tamu yang datang.


__ADS_2