
Ratih telah sampai di sebuah apartemen. Yah itu adalah apartemen milik lelaki yang telah menolong Ratih tadi.
Ratih masih dalam ke adaan basah kuyup. Dia tampak menggigil.
Lelaki itu kemudian menyuruh Ratih duduk.
"Duduk dulu !" pinta lelaki itu.
"Nggak usah Pak. Nanti sofa Bapak bisa basah. Bajuku kan masih basah."
W**hat, Bapak? dia manggil gue dengan sebutan Bapak? Apa gue udah setua itu?
Lelaki itu kemudian melangkah ke arah cermin. Dia bercermin sembari mengamati secara rinci wajahnya.
Gue masih ganteng kok, dan nggak begitu kelihatan tua banget. Belum pantaslah gue di panggil Bapak. Ngaco gadis ini.
Lelaki itu kembali ke arah Ratih.
"Jangan panggil aku Bapak. Aku masih bujangan."
"Terus? aku harus manggil kamu apa? Om? Paman? atau tuan?"
"Emang nggak ada sebutan yang lain apa, selain apa yang kamu sebut tadi."
"Terus? aku panggil kamu apa? aku kan nggak kenal nama kamu." Kata Ratih yang bibirnya masih bergetar kedinginan.
"Oh iya. Kita belum kenalan yah. Kenalin aku Nino."
Nino mengulurkan tangannya yang di sambut oleh tangan Ratih.
"Ratih."
"Ya panggil aku Nino aja nggak apa-apa. Atau bolehlah panggil Kakak, Mas, atau Abang. Nggak masalah. Tapi jangan panggil aku dengan sebutan Om, Tuan, atau Bapak."
"Baiklah."
"Ya udah. Kamu kelihatannya udah pucat banget. Sekarang kamu ganti baju dulu. Malam ini kamu tidur di sini dulu. Aku punya dua kamar. Dan kamu bisa tidur di kamarku. Biar aku tidur di kamar sebelah.
Setelah itu Ratih melangkah pergi ke kamar Nino.
"Kamu tidur di kamar ku dulu. Dan kamu boleh pakai baju ku. Terserahlah kamu mau pakai apa. Yang penting, aku kan tinggal sendiri. Jadi nggak ada baju cewek di sini."
"Iya. Terima kasih."
"Oya, kalau perlu apa-apa, tinggal bilang aja. Nggak usah sungkan. Anggap aja, aku sahabatmu."
Ratih mengangguk.
Setelah itu, Nino menutup pintu kamar sebelum pergi beranjak ke dapur. Nino ke dapur menyiapkan susu hangat untuk suguhan mereka malam ini.
Sementara itu di kamar Ratih memilah-milih bajunya.
"Iya. Baju cowok semua. Aku pakai apa yah?" Ratih menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ratih mengambil salah satu kemeja yang tampak kebesaran.
"Masak aku harus pakai ini sih." Ratih mencibir sembari mengamati baju yang di pegangnya.
"Ini pasti kelonggaran. Tapi nggak apa-apa deh, kemeja inikan cukup besar. Dan pasti, menutupi tubuhku sampai lutut. Lagian Nino juga kelihatannya orang baik. Nggak Mungkinlah dia macam-macam sama aku." Gumam Ratih
Nino masih menguber segelas susu. Setelah itu semua selesai, Nino melangkah ke meja makan dan meletakan dua cangkir susu itu di sana.
Ratih mengintip dari balik pintu kamar.
"Aku haus. Nino lagi ngapain yah? Masak aku keluar dengan baju kayak gini.Tapi, nggak ada lagi." Gumam Ratih.
__ADS_1
Nino mendekat ke arah Ratih.
"Hai...kamu udah ganti baju. Ya udah aku buatin kamu susu hangat. Agar tubuh kamu bisa sedikit hangantan."
Ratih tersenyum.
"Makasih yah Nino."
Nino mengangguk. "Sama-sama."
***
Hari sudah pagi. Seperti biasa Darma berangkat bekerja. Namun kali ini, masih ada sesuatu yangmasih mengganjal pikirannya.
Sampai saat ini, Ratih belum ada kabar. Pak Rudy dan Bu Lisnapun sangat mengkhawatirkan anaknya itu.
Darma melangkah keluar. Di meja makan, Mas Husni, Bu Arum, dan Pak Arwan sudah berkumpul untuk sarapan.
Darma tak memandang sedikitpun wajah-wajah mereka. Dia keluar rumah dengan fikiran yang berkecamuk.
Sesampai di kantor, Darma langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tiba-tiba saja Nino menghampirinya.
"Hai, Kenapa lu. Lagi ada masalah?" tanya Nino ikutan duduk.
"Hemm."
"Cerita dong ! "Pinta Nino.
"Mana Arfan?" tanya Darma.
"Arfan nggak masuk. Istrinya lagi ngelahirin," jawab Nino.
"Oh..." Darma manggut-manggut. Dia baru tahu berita kelahiran anak Arfan.
Nino senyam-senyum sendiri.
"Ini lebih dari itu Bro?" kata Nino antusias.
Darma menanggapinya malas.
Hah paling masalah cewek barunya. Dasar playboy cap kadal.
"Tahu nggak Bro."
"Apa?"
"Semalam gue nemuin cewek cantik di tengah jalan."
"Ah, paling wanita penghibur."
"Ini beda Bro. Dia gadis ABG labil."
"Gadis ABG?"
Darma teringat dengan Ratih.
"Iya. Semalam Gue nemuin dia di tengah jalan. Dia sangat kacau sekali." Kata Nino menuturkan.
"Terus?" Darma mulai serius menanggapi. Dia ingin memastikan kalau cewek itu benar-benar Ratih.
"Gue ajak dia nginep di apartemen gue."
"Tapi lu nggak apa-apain diakan?" tanya Darma khawatit.
Karena Selama ini, Darma tahu kalau Nino itu suka sekali nidurin pacar-pacarnya.
__ADS_1
"Ya nggaklah...Gue nggak sekejam itu kali. Gue bakalan nglakuin itu atas dasar suka sama suka. Bukan dengan memperkosa."
"Pulang kerja gue ke apartemen lu." kata Darma bangkit dari duduknya, dan melangkah ke meja kerjanya.
***
Sepulang kerja, Darma langsung menuju ke apartemen Nino sahabat sekaligus atasannya. Karena sekarang Darma bekerja di kantor Nino.
"Pakai mobil gue aja." Kata Nino.
Akhirnya Nino dan Darmapun meluncur menuju ke apartemen Nino.
"Kenapa sih Dar,vKayaknya lu penasaran banget sama gadis ini?" tanya Nino penasaran.
"Iya, nanti gue ceritain semuanya ke lu. Yang penting sekarang, lu anterin gue ketemu Ratih."
"Kok lu bisa tahu namanya."
"Udah jalan aja. Nggak usah bawel."
"Ya gue nanya. Lu kenal ama Ratih?"
"Dia cewek gue."
Nino melongo. Dia tampak terkejut.
"Serius lu?" Nino melirik ke arah Darma
Darma mengangguk.
Nino kembali menyetir. Pikirannya masih tertuju pada Ratih.
Apa benar Darma cowok yang udah bikin Ratih patah hati? Tapi setahu gue, Darma cowok setia. Tapi kenapa yah, Ratih bisa sampai mau bunuh diri.
"Ya Serius. Emang gue lagi ada tampang bercanda apa! " Darma terlihat semakin kesal.
Bisa-bisanya Ratih berada di apartemen Nino. Dan bisa-bisanya dia nggak mau pulang dan nginep di apartemen itu.
"Kali ini lu, hutang penjelasan sama gue Dar."
Ratih gadisku. Kenapa kamu selalu bikin aku cemas adek
Sesampai di apartemen.
Darma masuk bersama Nino. Dan Darma tidak melihat sosok Ratih di sana.
Darma mencengkram kerah baju Nino.
"Kemana dia hah, Kamu apakan gadisku." Api cemburu semakin berkobar di dalam diri Darma.
"Sabar Bro. Aku sama sekali tak menyentuhnya. Aku cuma mau menolongnya."
"Apa, menolong?"
Darma melepas cengkramannya.
"Iya. Semalam dia mau bunuh diri. Dia mau menabrakan dirinya sendiri ke mobilku. Untunglah aku masih bisa melihatnya. Kalau nggak, bisa mati dia."
"Apa? Ratihku mau bunuh diri?"
"Ya. Penampilannya sangat kacau."
"Sekarang dia ada di mana?"
"Di kamar ku."
__ADS_1
"Apa?" Darma melotot. Amarahnya kian menanjak. Api cemburu terasa membakar hatinya.
"Santai aja Bro. Dia tidur di kamarku, dan aku tidur di kamar satunya, aku nggak pernah nyentuh dia walau se ujung kukupun."