
Darma menoleh kebelakang. Di lihatnya Pak Rudy yang tampak menaruh kecemasan di wajahnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Pak Rudy.
"Alhamdulillah Pak. Operasinya berjalan lancar. Kita tinggal menunggu dia siuman aja." Kata Darma menjelaskan.
"Ya syukurlah. Oya, kok cuma kamu yang ada di sini? yang lain pada kemana?" tanya Pak Rudy yang masih tampak mengedarkan pandangannya.
"Mereka pulang Pak. Bapak kalau mau pulang, pulanglah!. Biar aku yang nungguin Ratih di sini." Pinta Darma.
"Tapi Nak Darma,"
"Nggak apa-apa. Pasti Bapak juga capek baru pulang kerja. Pulanglah! biar besok Bapak kesini lagi."
"Ya udah. Terima kasih banyak untuk semuanya yah Nak. Bapak jadi berhutang banyak sama kamu. Soal biaya operasi, Bapak akan ganti. Cuma bisanya nyicil yah."
Darma tersenyum lebar. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Pak Rudy.
"Bapak nggak usah pikirkan masalah itu, saya ikhlas kok membantu Bapak sekeluarga. Bagi saya, uang itu bisa di cari. Tapi keselamatan Ratihlah yang terpenting." Kata Darma sembari menepuk-nepuk bahu Pak Rudy.
"Iya Nak...Iya. Kamu memang berhati mulia. Sudah seperti malaikat penolong. Entahlah bagaimana caranya saya harus membalas budi untuk semua kebaikanmu ini.Terimakasih banyak."
"Jangan berlebihan gitulah Pak. Saling tolong menolong itu, memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang manusia."
"iya...iya...Benar Nak." Pak Rudy manggut-manggut.
***
Di kamar rumah sakit terlihat hening. Ratih masih tertutup matanya. Sementara itu, Darma terlihat wajahnya seperti terbenam di sisi Ranjang Ratih, sembari tangannya masih memegang tangan Ratih. Dia terlihat lelah dan ketiduran.
Jam di dinding sudah menunjukan jam 10 malam.
Perlahan jemari-jemari Ratih tergerak di ikuti kedua kelopak matanya yang semakin melebar. Ratih mengedarkan pandangannya kesekeliling.
"Apa yang terjadi dengan ku? di mana aku? apa aku sekarang ada di rumah sakit?" gumam Ratih lirih.
Ratih melihat ke samping.
"Mas Darma. Dia juga ada di sini?"
Tangan Ratih terangkat. Dia mau mencoba membangunkan Darma.
Darma yang kaget ada sesuatu yang bergerak di atas kepalanya, langsung menegakan kepalanya. Dia terkejut seketika setelah melihat gadisnya sudah siuman.
Darma mengulum senyum.
"Kamu udah sadar Dek?" tanya Darma tampak bahagia.
"Mas, aku ada di mana sekarang? dan apa yang sebenarnya terjadi? kenapa aku tiba-tiba ada di rumah sakit?"
__ADS_1
"Sudah, jangan pikirkan yang macam-macam dulu."
Ratih mencoba untuk duduk.
"Jangan banyak gerak dulu Dek."
"Mas aku bosen berbaring terus."
Darma kemudian membantu Ratih duduk. Dia mengambil bantal untuk Ratih bersandar.
Ratih terdiam. Dia tampak sedang mengingat sesuatu. Yah kejadian tadi siang yang sudah merenggut nyawa sahabatnya.
"Aku, ketabrak mobil Mas." Kata Ratih yang masih mengingat-ingat kejadian siang tadi.
Hiks hiks hiks.
Ratih menangis tersedu-sedu.
Dia mengingat kejadian tadi siang yang membuat nyawa Yuli terenggut.
"Ini semua salah aku Mas. Gara-gara aku, Aku dan Yuli jadi kecelakaan." Gumam Ratih lagi. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Ini sudah takdir Dek." Kata Darma menguatkan.
"Seandainya tadi siang aku tidak nekat nyetir motor, pasti kejadiannya nggak kayak gini. Coba kalau aku dengerin Yuli. Biar Yuli yang nyetir. Pasti nggak akan seperti ini. Akukan belum hafal banget nyetir motornya." Cerocos Ratih.
Mungkin Ratih berfikir, kalau kecelakaan ini adalah kecelakaan biasa.
"Mas...Yuli. Di mana dia sekarang?" tanya Ratih.
Darma tampak gugup. Dia tidak tega untuk menceritakan yang sebenarnya. Pasti jika dia menceritakan yang sebenarnya, Ratih pasti akan shock dan merasa sangat terpukul.
Darma bangkit dari duduknya. Diaa memeluk Ratih. Di benamkannya kepala Ratih pada dada bidangnya.
"Sabar yah sayang...!" kata Darma memeluk Ratih erat.
"Mas, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ratih yang tampak penasaran.
Ratih mendongak memandang wajah Darma. Darma tampak menghela nafasnya dalam. Dia tampak sedang berfikir bagaimana caranya untuk menjelaskan semuanya pada Ratih.
"Mas. Kenapa Mas diam aja. Ayo katakan sesuatu! Yuli baik-baik ajakan?"
"Dek," Darma membungkukan badannya, mensejajarkan kepalanya dengan Ratih
"Apa yang terjadi Mas? Bagaimana keadaan Yuli?" tanya Ratih cemas.
"Kalau Mas cerita, apa kamu akan ikhlas dan sabar?"
Ratih sangat penasaran.
__ADS_1
"Iya Mas." Ratih mengangguk.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kami?" tanya Ratih kemudian.
Darma masih ragu-ragu untuk mengatakannya. Dia masih teringat betul, saat orang tua Ratih mengatakan kalau Ratih suka depresi, dia akan jatuh sakit jika ada masalah berat yang dia fikirkan.
Gadisku . Maafkan Mas yah. Karena untuk kali ini, Mas terpaksa harus berbohong sama kamu. Mas nggak mau sampai terjadi apa-apa lagi sama kamu.
"Yuli nggak kenapa-napa kok.
Dia baik-baik aja. Sekarang dia udah pulang kerumahnya." Kata Darma meyakinkan.
Ratih mengulum senyum. Tampak jelas dari raut wajahnya, kalau
dia sekarang sedang merasa tenang karena Yuli tidak kenapa-napa. Karena waktu naik kendaraan roda dua itu,Yuli tidak menggunakan helm pengaman. Dia takut kalau Yuli akan terbentur kepalanya.
Ratih merasakan sakit di kakinya jika di gerakan. Dia menyibakan selimutnya untuk melihatnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat kakinya penuh perban dan sakit sekali untuk di gerakan.
"Mas, kakiku kenapa?" tanya Ratih menatap lekat manik mata Darma.
"Kamu...em...untuk sementara ini, kamu harus menggunakan kursi roda, sampai kamu bisa berjalan normal kembali." Kata Darma menjelaskan
"Tapi kenapa Mas? Kenapa dengan kaki aku?"
Tapi untuk kali ini Darma tidak bisa berbohong.
"Kamu patah tulang Dek, kamu baru saja melakukan operasi."
"Hah," Ratih tercengang.
"Tapi kamu tenang saja yah, itu nggak akan lama kok. Mas akan bantu kamu agar kamu bisa berjalan lagi."
Ratih tersenyum.
"Makasih Mas."
"Iya sama-sama Dedek cantik. Mas janji akan jadi kaki adek sampai adek bisa berjalan normal lagi."
***
Malam ini waktu tepat menunjukan jam tujuh malam. Husni tampak berpakaian rapi. Dia memakai pakaian terbaiknya dan memakai parfum khasnya. Setelah itu dia berjalan menuju ke ruang tamu.
"Wah...wah...wah...Anak Mama, tumben-tumbennya ganteng banget begini. Mau kemana? udah wangi, rapi lagi." Kata Bu Arum yang tak lain adalah ibu dari Husni dan Darma.
Bu Arum langsung berdiri dan menghampiri anaknya. Dia memegang kedua pipi Husni. Sudah sekian lama dia tidak melihat Husni sebahagia ini.
Namun malam ini, Husni begitu berbeda. Dia terlihat sangat bersemangat. Matanya berbinar-binar. Hatinya bergejolak.
Untuk pertama kalinya dia akan bertemu sang kekasih yang selama lima tahun ini jauh darinya.
__ADS_1