Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 61


__ADS_3

Pak Arwan dan Bu Arum mendekat kearah anak dan menantunya itu.


"Darma, Nara, ada apa? kenapa kalian malam-malam gini ada di sini?" tanya Pak Arwan.


Darma menangis, Nara juga ikut menangis, membuat ke dua orang tua itu bingung.


"Ada apa ini? kenapa kalian pada menangis?" tanya Bu Arum.


Nara dan Darma cuma diam.


Darma menangisi Ratih yang menghilang, sementara Nara menangisi pengkhianatan suaminya.


Bruuaak.


Bu Arum menggebrak meja.


"Kalian nangisin apa sih ! kenapa di tanya diam aja kayak orang bisu."


Darma menatap mamanya.


"Ratih Ma, Ratih menghilang, Darma sudah mencarinya kemana-mana tapi Ratih nggak ketemu." tutur Darma sembari berlinangan air mata.


"Apa?!" Pak Arwan dan Bu arum saling memandang.


"Kenapa bisa? Kamu kenapa teledor banget sih Darma. Menjaga istrimu saja tidak becus." Gerutu mama Arum.


"Mama jangan nyalahin aku Ma. Mama seharusnya nyalahin Mas Husni. Dia penyebab semua ke hancuran ini."Kata Darma.


"Apa maksud kamu? Istri kamu yang hilang, kenapa kamu malah nyalahin Mas mu?" Bu Arum menatap nanar Darma.


Bu Arum memang tidak pernah tahu menahu dengan masalah yang sedang menjerat anaknya saat ini. Karena Darma juga belum mau cerita pada mamanya dengan sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupan rumah tangga Nara dan Husni kakaknya itu.


"Nara, ini sebenarnya ada apa Nara? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya papa Arwan.


Nara berdiri dari duduknya. Tanpa aba-aba dia memeluk Bu Arum dengan eratnya.


"Kak Husni Ma. Kak Husni." Kata Nara yang masih kelu untuk mengatakan hal yang menyakitkan itu


Mama Arum melepas pelukan Nara. Dia kemudian menatap Nara erat dan mengusap air mata Nara.


"Apa yang terjadi sayang, katakanlah?" Pinta Bu Arum.


" Kak Husni punya istri selain Nara." Ucap Nara pada akhirnya yang membuat Bu Arum dan Pak arwan saling berpandangan.


Bu Arum shock berat, kakinya melemas dan dia terduduk lemas.


"Apakah benar begitu. Tapi mana mungkin anak kesayanganku selama ini seperti itu. Bagaimana mungkin dia menikah tanpa sepengetahuanku.Hiks..hiks.."Mama Arum pun ikut menangis.

__ADS_1


Sekarang bukan cuma Darma dan Nara yang menangis, mama Arum pun ikut menangis. Husni menikah lagi diam-diam, sementara Ratih pergi dari rumah.


"Husni yang menikah lagi, kenapa Ratih yang pergi dari rumah?" tanya Pak Arwan tak mengerti.


"Itu karena Ratih salah paham sama Darma Ma,Pa, Darma tadi siang meluk Kak Nara. Darma cuma terbawa suasana aja Ma, jadi Darma refleks memeluk Kak Nara. Darma nggak ada maksud apa-apa." Kata Darma.


"Iya mama tahu sekarang."Ucap Mama Arum mencoba untuk menenangkan diri.


"Ya udah. Jangan pada emosi dan panik. Masalah sebesar ini, kita harus cari jalan keluarnya." Kata Papa Arwan penuh ketegasan


...****************...


Malam ini, Ratih tidak bisa tidur. Hatinya sangat kalut. Entahlah Ratih akan kuat atau tidak. Ratih cuma bisa menangis.


Nino kemudian masuk ke kemar Ratih. Nino mendekat ke arah Ratih yang sedang menangis.


Ratih dan Nino sekarang saling berhadapan. Nino menyeka air mata Ratih yang sedari tadi keluar bercucuran.


"Sudah jangan menangis Ratih. Untuk apa kamu menangisi suamimu. Suamimu itu seorang playboy. Tapi kenapa kamu juga mau terus aja percaya padanya."


"Benarkah, kalau Mas Darma itu playboy?"


"Aku sudah mengenal Darma sangat lama, sejak kami kuliah. Darma itu suka gonta-ganti cewek. Cewek mana aja dia mau pacari. Apalagi kakak iparnya yang cantik itu."


Hiks...hiks... Huaa...


"Mas Darma jahat...Kak Nara juga jahat... Hiks...hiks..."


Nino tersenyum.


Lihatlah Ratih, aku yakin setelah ini, kamu akan membenci suamimu. Dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku akan menjadikan kamu tidak akan pernah bisa berpaling dariku. Aku yakin, jika kamu sudah mencintaiku, tanpa aku minta, kamu akan menyerahkan dirimu sendiri untuk aku sentuh. Batin Nino penuh kelicikan.


Yah, kali ini Nino tidak akan bertindak gegabah. Dia akan mendapatkan hati Ratih secara perlahan. Mungkin Nino akan mencuci otak Ratih si gadis polos itu supaya Ratih bisa membenci suaminya.


"Ya sudah Ratih, sekarang kamu tidurlah. Sudah malam. Besok kamu mau sekolah kan?"


"Aku nggak mau sekolah dulu. Aku nggak mau ketemu Mas Darma dulu."


...****************...


Pagi ini Husni sudah tampak rapi. Dia kemudian meluncur ke arah rumah orang tuanya.


Sesampai di sana, Husni turun. Dia kemudian melangkah ke dalam. Husni melangkah ke arah ruang makan. Husni melihat kebersamaan istrinya dengan keluarganya.


" Ah,ternyata Nara ku masih di sini." Gumam Husni pelan.


"Pagi semua? "Sapa Husni.

__ADS_1


Darma masih memandang Husni nanar. Darma berdiri dan menghampiri Husni. Dia kemudian mencengkeram kerah baju Husni.


"Ngapain Mas Husni kesini?" tanya Darma.


"Aku mau ngajak istriku pulang Darma."


"Apa kamu bilang, kamu masih menganggapnya istri?"


Husni menampik tangan Darma.


"Lepasin Darma kamu itu apa-apan sih."


"Mas, sekarang Mas pergi dari sini. Aku benci Mas Husni."


Papa Arwan yang sedari tadi menyaksikan Darma langsung angkat bicara.


"Diam kalian. Darma. Duduk kamu. Kita bisa ngomong baik-baik kan?" Kata Papa Arwan.


Darma kemudian duduk. Di ikuti Husni yang ikut berbaur juga dengan keluarganya.


Husni menunduk. Dia tidak berani menatap Nara. Dia juga belum mampu untuk berucap.


"Husni, apa benar kamu suah menikah lagi tanpa sepengetahuan Mama dan Nara. Kenapa kamu bisa melakukan hal memalukan seperti itu."


"Husni cuma mau melindungi wanita itu Ma, pa, Husni nggak cinta sama dia."


"Husni, selama ini Papa itu mengajarkan kalian itu kebaikan dan kejujuran. Tapi kenapa kamu membuat kami kecewa Husni?" Pak arwan angkat bicara.


"Maafkan aku Pa. Waktu itu memang fikiran Husni buntu dan nggak ada jalan lain."


"Terus sekarang mau kamu apa? Kamu harus selesaikan semua masalah ini dengan baik. ingat lho, Nara sedang mengandung anak kamu." Kata Papa Arwan.


Husni menangis di hadapan Nara dan orang tuanya.


Darma yang tampak sudah muak dengan Husni itu buru-buru pergi.


"Aku muak Mas melihat kamu." Kata Darma sembari pergi.


Sekarang Husni bingung dan mau menjelaskan apa.


"Kak. Sudahlah nggak perlu nangis begitu. Mungkin ini semua sudah menjadi suratan takdir."


Husni memandang Nara.


"Nara sayang, maafkan aku. Aku sangat mencuntaimu mu. Demi Allah Nara, aku belum menyentuhnya."


"Kak. Kalau begitu kamu bertaubatlah Kak. Kamu tidak hanya melukaiku. Kamu juga melukai Inayah. Bagaimana mungkin kamu menikahi Inayah tanpa memberikannya hak itu dosa Kak."

__ADS_1


Husni meneteskan air matanya lagi.


__ADS_2