
Sopir taksi terheran-heran. Kenapa penumpangnya itu, tidak berhenti menangis.
"Neng, jangan nangis melulu Neng. Nanti air matanya kering."Ujar Pak supir.
"Biarin."Ucap Ratih ketus.
"Jangan galak-galak sih Neng. Nanti pacarnya pada kabur."
"Tahu apa sih Bapak ini."
"Ya, saya tahulah, kalau gadis lagi nangis itu, pasti lagi galau. Karena di putusin pacarnya."
"Sok Tahu..."Ratih manyun. Dia tampak tidak ingin di ganggu. Apa lagi sopir taksi itu sudah sok tahu.
He...he... Pak supir terkekeh.
"Di mana pulangnha Neng?" tanya Pak supir.
"Aku nggak mau pulang. Aku mau mampir ke taman. Tuh nanti turun di depan."
"Baiklah Neng. Siap."
Saat ini Ratih pengin sendiri. Setelah sampai di taman, Ratih kemudian duduk.
Dia masih dengan posisi menangis. Dan habislah tissu satu kantong lagi. Dan setelah empat kantong tissu habis, barulah dia terdiam.
"Hai..." Sapa seseorang yang tiba-tiba saja ada di samping Ratih.
Ratih menoleh. Dia sangat terkejut.
"Nino? Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Ratih yang tampak Heran.
Nino tersenyum.
"Apa kabar Ratih? aku dengar kamu sekarang sudah menikah yah dengan Darma. Selamat yah?"
Ratih menjaga jarak, dia beringsut geser kesamping.
Racun.
yah, Ratih masih mengingat kata-kata itu. Mas Darma pernah mengatakan kalau Nino telah memberikan racun.
Ratih sudah siap saiaga. Tangannya perlahan turun kebawah dan meraba-raba tanah, dia mencari batu.
Awas aja kamu Nino, kalau sampai kamu maca**m macam lagi dengan ku, aku akan hajar kamu.
Nino tertawa saat melihat tingkah laku Ratih yang lucu.
ha... ha... ha...
"Kamu lagi ngapain Ratih?"
"A..a...aku mau nyari batu."
"Untuk apa?"
"Untuk aku lemparin ke wajah kamu."
"Ha..ha..ha.. Masa wajah-wajah cakep gini di lemparin batu. Mubadzir Ratih. Aku sama Darmakan sebelas dua belas. Malah cakepan aku sama suami mu."
"Ish, kepedean banget sih."
__ADS_1
"Bukan kepedean Ratih itu Fakta. Buktinya kamu juga sempat naksir kan sama aku."
"Nggak. Aku nggak pernah naksir sama kamu. Kamu jahat...!"
Hiks...hiks...
Ratih menangis lagi. Namun saat ini, tissunya sudah habis.
Nino menyodorkan sapu tangannya. Ratih kemudian mengambilnya.
"Terimakasih Nino, kamu baik."
"Nah, gitu dong, baru cantik. Jangan galak-galak sama aku. Aku nggak akan gigit kamu. Tapi aku akan membuat mu bahagia Ratih."
Ratih menatap tajam Nino. Dia tidak tahu apa maksud Nino.
"Apa maksud mu Nino?"
"Ratih, kamu itu sangat cantik Ratih. Kamu sudah benar-benar membuatku gila."
Mata Ratih melebar. Dia tidak tahu apa lagi yang harus di lakukannya. Ratih tampak risih dan takut.
Ah Ternyata dari tadi aku duduk sama orang gila. Aku harus bagaimana ini. Jangan sampai orang gila ini memperkosa ku di sini. Aku harus bisa kabur dari sini. Batin Ratih.
Nino kemudian menggenggam tangan Ratih dengan erat. Ratih diam saja. Dia tampak sedang berfikir keras bagaimana caranya dia kabur dari Nino gila itu.
"Ratih, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Pak Rama yang tiba-tiba sudah ada di dekat Ratih dan Nino.
Ratih langsung berdiri. Dia langsung mengumpat di balik tubuh Pak Rama.
"Kamu kenapa Ratih?"
"Takut sama siapa?"
"Itu."Ratih menunjuk ke arah Nino.
Nino menjadi Heran.
Apa-apaan ini bocah. Kenapa dia jadi takut sama aku. Lagian siapa lelaki ini berani ikut campur masalah gue.
Pak Rama kemudian mengajak Ratih pulang.
"Ya udah kalau kamu takut. Aku antar kamu pulang yah?" Kata Pak Rama datar.
"Iya Pak. Terimakasih."
Pak Rama kemudian mengantar Ratih pulang. Sementara Nino tampak menggerutu.
"Sialan siapa sih lelaki itu. Berani-beraninya dia ikut campur urusan gue."
...***************...
Di dalam mobil Ratih tampak masih menampakan wajah cemberut. Fikirannya masih berkecamuk. Ada rasa ingin pergi, ada juga rasa ingin pulang.
Sebenarnya aku malas kalau pulang kerumah. Nanti aku bisa ketemu Mas lagi. Aku malas banget kalau dapat hukuman dari dia. Emang nggak ada hukuman lain apa selain ngelayanin dia. Uh, capek banget ternyata jadi istri. Gimana kalau dedek bayinya lahir. Akan lebih capek lagi kan. Batin Ratih.
Pak Rama melirik Ratih.
"Kamu belum pulang ke rumah Dek?"tanya Pak Rama.
Ratih masih terdiam, belum mau bicara.
__ADS_1
"Kamu kenapa? lagi ada masalah?" tanya Pak Rama.
"Aku cuma lagi sebel aja Pak."
"Om kamu nggak jemput kamu lagi yah. Kalau begitu sabar yah?"
"Iya Pak. Aku kan orang yang paling sabar ngadepin Om ku yang rese itu."
Ha...ha...
"Jangan gitu dong. Om kamu itu,paling lagi sibuk kerja."
"Iya mungkin."
Ratih dan guru olehraganya itu akhirnya sampai juga di depan rumah Ratih.
Ratih kemudian turun dari mobil Pak Rama. Darma dengan sorot mata tajamnya tampak mengawasi Ratih dari kejuahan. Tampaknya sekarang gilirian Darma yang terbakar cemburu. Bagaimana tidak. Dia semobil berdua dengan guru olah raganya yang cakep seantero sekolahan itu.
Darma mendekat.
"Dari mana aja kamu Ratih?"
"Om, aku habis dari taman."
"Am Om am om. Mau kamu aku hukum lagi."
glek. Lagi-lagi Ratih merinding. Iya Ratih Ratih tahu sekali anacaman suaminya itu tidak main-main.
"Iya Mas. Ampun jangan hukum aku."
"Ini guru olah raga kamu kan Ratih? kenapa kamu bisa sama dia? Kalian habis kencan."
Buuugh.
"Auh..." pekik Darma saat Ratih menginjak kakinya.
"Ih, sakit adek."
"Mas Darma apaan sih. Emang aku cewek apaan. Mas Darma nuduh aku kencan sama Pak Rama. Pak Rama cuma nganterin aku doang Mas Darma. Kita nggak habis kencan."
"Iya..iya...iya... Aku percaya sama kamu."
Darma mengulurkan tangannya.
"Hai pak guru. Perkenalkan aku Darma suaminya Ratih."
Pak Rama tercengan dan hampir tidak percaya.
"Oh, jadi kalian berdua itu suami istri?"
"Iya. Pak Rama. Kita memang suami istri." Kata Ratih yang pada akhirnya mau jujur juga dengan statusnya yang memang benar kalau dia itu istrinya Darma.
"Oh, ya udah lah kalau begitu. Lanjutin lagi berantemnya. Saya permisi dulu."
Pak Rama kemudian pamit pulang sementara Darma masih berdiri di halaman depan rumah denga Ratih.
"Huaaaa...."Ratih berteriak dan berlari ke dalam rumah. Yah dia memang takut kalau suaminya itu akan memberi hukuman lagi padanya. Hukumanya yah, apa lagi kalau bukan olah raga ranjang.
Ratih langsung masuk ke kamarnya. Dia langsung masuk ke kamarnya.
"Mudah-mudahan Mas Darma tidak memberi hukuman itu. Aku capek kalau saja Mas Darma meminta jatah lagi. Ah, ternyata repot banget jadi seorang istri. Harus ngelayanin suaminya. Tahu gitu mending nggak usah nikah lah."
__ADS_1