Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 69


__ADS_3

...💜Cinta untuk Ratih.💗...


...💕Ketika cinta sudah berlabuh,...


...dan singgah di atas hatimu,...


...💕Tak akan ada yang bisa membuatnya pergi....


...💕Ketika cinta sudah memasuki hatimu...


...💕Tak akan mudah untuk dia terlepas,...


💕Semakin lama jerat cintamu


...sudah semakin melilit erat di hatiku Ratih....


...💕Kamulah sandaran hatiku,...


...💕Kamulah belahan jiwaku,...


...💕kamulah tempat melepas penatku....


...💕Aku mencintaimu bidadariku....


...💕Sampai kapanpun cuma kamu yang ada di hatiku....


...💕Darma setiawan suami mu.....


^^^💕Yang akan selalu bilang I Love you di setiap hembusan nafasnya...^^^


...💕Dan di setiap detakan jantungnya......


...💕Sampai jantung ini tak lagi berdetak,...


...💕Sampai nafas ini tak lagi berhembus,...


...💕kaulah wanita ku yang akan menemani masa tuaku......


...💕I love you Ratih......


"Wah...Mas Darma hebat sekali...Dari mana Mas nyontek puisi itu?" tanya Ratih.


"Eh, enak aja nyontek. Apa kamu tidak tahu, Mas Darma mu ini suka bikin puisi."


"Masa sih?" Ratih tampak tidak percaya.


"Iya. Jangan salah, walau aku seorang pembisnis, tapi aku juga seorang sastrawan dong...yah, walaupun sastrawan abal-abal."


"Tapi bagus Mas. Ratih jadi terharu deh. Ratih mau dong, di ajarin."


"Lagi Mas..." rengek Ratih.


Darma diam.


"Ayolah. Ratih pengin puisi lagi. Ratih jadi pengin deh baca puisi saat perpisahan kelas nanti."


"Terus?" tanya Darma.


"Mas Darma buatin puisi untuk Ratih yah, yang keren..." Pinta Ratih.


"Imabalannya apa?" tanya Darma.


"Apa yah?" Ratih tampak berfikir.


"Ah, pakai mikir segala...!" Kata Darma sembari mengacak rambut Ratih.


"Ih..Mas Darma." Kata Ratih sembari membenarkan poninya.


"Yah, terserah Mas Darma deh." Kata Ratih lagi.

__ADS_1


Darma mendekat ke arah Ratih. Dia berbisik.


"Nanti malam kamu dandan yang cantik.Kita buatin cucu lagi untuk mama."


"Kan Ratih udah hamil Mas."


"Iya. Biar hamilnya anaknya dobel sayang."


"Apa? Mas pengin punya anak kembar?"


Darma tersenyum sembari mengangguk.


"Gimana sayang?"


"Berarti kalau kita buat cucu untuk mama lagi akan ada dobel bayinya? Berarti kalau Mas Darma minta terus-terusan Ratih akan banyak sekali anaknya..."


Ratih membayangkan berapa banyak anak yang akan di lahirkannya nanti, saat suaminya minta jatah terus.


"Satu kali aja satu bayi. Kalau berkali-kali berapa bayi. Aku nggak bisa membayangkannya. Hamil satu kali tapi akan melahirkan berapa kali...Hua...." Ratih menjerit membayangkannya.


Namun Darma diamkan.


"Silahkan Dek. Menjerit sesukamu di sini. Nggak ada orang juga. Kalau kita main di sini juga nggak masalah. Nggak ada yang lihat." Kata Darma


Ratih langsung mencubit perut Darma dan lengan Darma membuat Darma terpekik.


"Auhh...sayang. Galak banget sih! kumat lagi deh..."


"Aku bukan kucing. Aku nggak mau ngelahirin banyak sekali. Mulai sekarang Mas Darma jangan minta jatah lagi. Apalagi untuk nanti malam." Kata Ratih sembari pergi meninggalkan Darma.


"Ya udah aku nggak mau buatin kamu puisi kalau kamu nggak ngasih aku jatah. Aku mau kamu dandan yang cantik nanti malam dan jangan nolak...!" seru Darma dengan nada tinggi. Setelah itu Darma bangkit dari duduknya dan mengejar Ratih.


"Ratih...I love you..." Teriak Darma sekencang-kenacangnya. Membuat Ratih menghentikan langkahnya.


Ratih menoleh." I love you too Mas Darma..." Ratihpun ikutan berteriak.


Yah, panas terik pantai tidak membuat mereka jera ada di situ. Mereka Malah semakin mesra dan dan hubungan mereka semakin hangat dan romantis saja.


Mereka bebas bercumbu dan bercengkrama di tepian pantai itu, sampai sore haripun tiba.


Sekarang waktu sudah menunjukan jam lima sore. Ratih dan Darma masih bercakap-cakap di atas pasir putih itu. Mereka seperti orang yang baru kasmaran saja. Merasakan nikmatnya pacaran setelah menikah.


Lagi-lagi Darma memeluk Ratih dari belakang. Wangi tubuh Ratih tak bisa membuat Darma melepas pelukannya.


"Sayang kita pulang yuk...!"


"Nggak mau." Kata Ratih menolak.


"Kenapa nggak mau? Kita itu sudah seharian lho sayang di sini."


"Aku mau melihat matahari tenggelam. Aku pengin selfi-selfi di sini Mas."


"Oke lah kalau begitu."


Darma kemudian berdiri. Diapun membacakan bait puisi lagi. Entah dari mana datangnya puisi itu. Yang pasti kata-katanya membuat Ratih terharu.


...💞Cinta itu sempurna...


...💞Saat sepasang kekasih sudah saling memiliki...


...💞saat dua hati itu sudah saling menyatu...


...💞saat jiwa ku dan jiwamu sudah menjadi satu karena ikatan cinta suci.....


...💞Siapa yang akan dapat memisahakn kita....


...💞Walau jarak mu dan jarak ku sangatlah jauh, namun cinta itu tidak akan pernah jauh...


...💞karena jika manusia sudah merasakan jatuh cinta...

__ADS_1


...💞Walau di belahan bumi mana kamu berdiri kita akan terasa dekat....


...💞Ingat lah Ratih Aggraini...


^^^💞Aku suamimu Darma setiawan^^^


...akan menjaga cinta suci ini,...


...💞Tak akan aku nodai cinta ini dengan pengkhianatan...


...💞Biarkan lah aku buta...


...💞Karena aku tak akan melirik wanita lain....


...💞Biarkan aku bisu...


...💞Karena aku tak mau 💞mengatakan cinta pada wanita lain...


...💞Biarkanlah aku tuli...


...💞Karena aku tak akan mendengarkan bujuk rayu wanita lain...


...💞Biarkan aku lumpuh, karena aku tak akan pernah berjalan berdua dengan wanita lain....


Ratih berdiri dari duduknya. Diapun memeluk Darma suaminya. Dan lantunan puisi terucap juga dari mulut Ratih. Ratih memeluk Darma dengan erat. Sembari memabacakan sebuah puisi balasan untuk ke dua puisi Darma.


💗Demi cinta suciku ini,


💗Tak akan aku biarkan kamu berpaling...


💗Tak akan aku biarkan kamu


berkhianat.


💗Tak akan pernah aku biarkan


kamu pergi dari hidupku...


💗Aku mencintaimu suamiku...


💗Tak memandang sedikitpun kekurangan mu...


💗Akan selalu memandangmu dari kelebihanmu...


💗Aku akan selalu menjaga cinta suci ini dengan kesetiaan...


Darma membalikan tubuhnya. Dia menangkup wajah Ratih.


"Rupanya kamu juga jago buat puisi Dek?"


"He..Ratih memang bisa buat puisi."


"Wah, hebat sekali. Kok Mas baru tahu. Kenapa kamu minta di ajarin."


Ratih tersenyum."Puisi Mas yang lebih panjang. Berarti lebih jago Mas dong buat puisinya. Mas kan seorang sarjana. Sementara Ratih masih SMA."


Setelah matahari hampir tenggelam. Ratih dan Darma keudian mengambil foto di sana.


Drrrrt drrrrt.


Ponsel Darma bergetar. Ada panggilan masuk dari Arfan.


"Halo Fan..."


"Kemana aja lu Bro...Katanya lo main ke rumah gue. Alma sudah masak banyak. Kenapa kamu malah nggak datang. Katanya kamu itu mau datang sama Ratih."


"Iya. Gue lagi mampir di pantai dulu. Nanti gue kesana."


"Ya udah ge tunggu. Benarkan lo akan kesini."

__ADS_1


"Iya tunggu aja Fan. Masakan istri lo nggak akan mubadzir nanti kita kan makan malam di rumah loe. Kalau makanannya nggak habis nanti gue bawa pulang deh..."


__ADS_2