
Setelah sah menjadi pasangan halal, Husni dan Inayah masuk ke kamar rumah baru mereka.
Malam pertama pernikahan mereka, Husni dan Inayah masih duduk di sisi tempat tidur. Malam ini hanya keheningan yang menyelimuti pasangan suami istri itu. Merekapun di selimuti pula oleh rasa canggung satu sama lain.
Inayah meremas-remas tangannya sendiri. Dia benar-benar merasa gugup sendiri dengan malam pertamanya dengan Husni.
Kenapa sedari tadi Mas Husni diam aja. Kenapa dia tidak mau menyentuhku sama sekali.
Husni menatap lekat wajah Inayah.
"Inayah. Aku mau pulang kerumah Nara. Kamu tetaplah di sini. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Aku akan memberikan mu semua fasilitas yang kamu inginkan. Namun maaf Inayah, aku belum bisa memberimu nafkah batin. Karena aku belum bisa mengkhianati istriku. Aku cuma mau menolongmu saja.
Jeder...
Bagai sambaran petir di siang bolong.
Hati Inayah sakit, hancur berkeping-keping. Dia tidak menyangka kejadian yang dulu dengan suami pertamanya terulang lagi.
Kejadian beberapa tahun lalu yang membuat trauma mendalam di kehidupannya. Seorang Wisnu pengusaha kaya itu menikahinya hanya untuk di jadikan pembantu.
Inayah sama sekali tidak pernah di hargai sebagai seorang wanita. Dia cuma di jadikan pelarian oleh Wisnu saja. Dan Inayah mendapatkan perlakuan buruk dari suami pertamanya itu.
Dia pun tak pernah di sentuh apa lagi di lirik. Dan sekarang Husni orang yang dia cintai, akan mengulangi kejadian seperti dulu. Menikah hanya karena kasihan dan ingin melindunginya. Bukah menikah karena cinta.
Sebulir air mata Inayah jatuh dari pelupuknya. Dia buru-buru menyekanya.
"Iya Mas. Nggak apa-apa. Aku sudah mendapatkan rumah dan mobil juga pekerjaan itu sudah lebih dari cukup. Aku juga tidak mau mas, merebutmu dari Nara."
"Iya Inayah. Terima kasih kamu memang wanita yang baik. Aku pergi dulu."
Tak lama kemudian Husnipun pergi. Inayah langsung lunglai. Dia terduduk bersimpuh di lantai. Dia seakan sudah tidak kuat untuk menerima kenyataan ini.
"Apa aku kuat hidup jadi istri kamu Mas Husni. Aku tidak akan pernah mendapat nafkah batin dari mu. Bagaimana rasanya. Aku juga membutuhkan kebutuhan batin itu." Kata Nara.
"Apa aku salah, aku juga perempuan, ingin di cintai dan disayangi. Apa tidak ada sedikit perasaan Mas untuk ku."
Inayah menangis. Dia sesenggukan sendiri di dalam kamar.
***
__ADS_1
Malam ini, lagi -lagi Nara menunggu suaminya pulang. Dia ingin memberikan kabar bahagia.
"Asalamu'alaikum." ucap Husni.
"wa ' alaikun salam."
Nara langsung memeluk Husni dengan erat. Dia menubruk tubuh Husni dan langsung menangis.
"Kakak ke mana aja. Kenapa sekarang selalu pulang malam. Aku kangen Kak Husni. Kak Husni jarang ada waktu buat aku."
Husni menangkup wajah istrinya.
"Sayang, Maafin Kakak yah. Kakak sibuk banget. " bohong Husni. padahal dia akhir-akhir ini di sibukan mengurus penikahan rahasianya dengan Inayah.
Nara mengangguk.
"Aku punya kabar gembira Kak."
"Kabar apa sayang?" tanya Husni.
"Kak. Aku hamil Kak. Dan lihatlah ini hasilnya." Nara begitu Antusias.
Husni begitu sangat bahagia, namun di balik kebahagiaannya itu, ada kesedihan yang mendalam. Dia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri, karena telah membohongi istri yang sangat di cintainya itu.
"Oya, tentu. Kakak sangat bangga padamu sayang. Kamu benar-benar istri yang sempurna Nara. Aku sangat mencintaimu Nara."
Husni kemudian mencium kening Nara. Dan Husni kemudian mengajak Nara ke kamar. Entah kenapa perasaan merasa bersalah Husni pada istrinya itu semakin membelenggu fikirannya.
Nara begitu sangat bahagia menyambut kedatangan suaminya pulang. tanpa dia tahu, kalau Husni akhir-akhir ini banyak menghabiskan waktu untuk Inayah.
Husni memeluk tubuh istrinya. "Maafkan Kakak Nara. Kakak belum bisa menjadi suami yang baik untukmu seperti Darma menjadi suami yang baik untuk Ratih" Ucap Husni tiba-tiba yang membuat Nara tersentak kaget. Karena tak tahu maksud yang di ucapkan Husni. Nara melepaskan pelukan Husni.
"Kakak kok ngomong gitu. Kakak itu suami Nara. Suami yang selalu setia buat Nara. Kakak lebih baik dari pada Darma. Di mata Nara itu, kakak orang yang terebaik"
Maafkan aku Nara, aku sudah mengkhianatimu.
Penyesalan memang datang terlambat. Demi melindungi dan menjaga nama baik wanita seperti Inayah, Husni rela membohongi istrinya dan mengkhianati istrinya itu. Nara pasti akan sangat terpukul jika sampai dia tahu kalau Husni mempunyai istri lain selain Nara.
Husni hanya bisa membatin Ya Allah, mungkin ini sudah jalan takdirku, Engkau pertemukan aku dengan Inayah supaya aku bisa melindunginya. Namun, aku juga sangat tersakiti di sini. Bagaimana kalau Nara dan Semua orang tahu kalau aku memiliki istri lain selain Nara. Aku benar-benar akan menjaga rahasia ini. Aku akan bilang pada Inayah.
__ADS_1
****
Husni duduk di sofa kamarnya. Dia menonton tivi namun fikirannya sedang tidak bersamanya. Dia menerawang jauh ke masa depan.
Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, pasti akan ketahuan juga kan.
Yah, itulah yang sedang di rasakan oleh Husni sekarang. Serapat-rapatnya dia merahasiakan hubungannya dengan Inayah, mungkin suatu saat akan ketahuan jugakan.
Husni menatap Nara lekat. Nara wanitanya sudah terlelap di ranjangnya. Dengkuran kecil dari tidurnya, membuat Husni tersenyum.
Husni bangkit dari duduknya dan menghampiri istrinya di ranjang.
Dia mengangkat selimut dan menyelimuti tubuh istrinya.
Maafkan aku Nara, nggak seharusnya aku membohongimu. Sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Dan tidak ada perempuan lain yang akan menggantikanmu di hatiku, termasuk Inaya. Aku sangat bahagia sayang, mendapatkan istri sebaik kamu. Batin Husni
Husni kemudian beranjak ke kamar mandi. Dia melaksanakan sholat malam, dia ingin mengadu kepada sang khalik.
Kali ini setes bening air mata Husni jatuh dari pelupuknya. Apa aku sudah mengambil jalan yang salah? batin Husni.
Di sujud sepertiga malamnya Husni menangis. Apa yang akan di lakukannya setelah ini. Nara hamil dan sangat membutuhkan dirinya. Dan sisi lain ada Inayah yang juga masih membutyhkan perlindungan Husni. Karena teror itu masih saja menghantui Inayah.
Nara terbangun dari tidurnya. Dia melihat Husni sedang hikmat bersujud tanpa dia tahu, kalau sebenarnya Husni itu sedang diam-diam menangis.
Nara menghampiri suaminya itu.
Dia mendekat ke arah Husni.
"Kakak, "
Setelah sekian lama bersujud, Husni pun kembali ke posisi duduknya.
"Kamu kayak habis nangis Kak."
Husni tersenyum.
"Ini air mata kebahagiaan Sayang. Aku bahagia, kalau sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah."
Nara memeluk suaminya erat.
__ADS_1
"Aku juga sangat bahagia bisa mendapatkan suami bertanggung jawab dan suami setia seperti kamu Kak."
Husni tersenyum. Saat ini, dia harus benar-benar menjaga perasaan istrinya itu. Dia akan selalu melindungi istrinya itu. Karena dia tahu, sekarang Nara sedang mengandung anaknya.