Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 4


__ADS_3

" Biasa kecapen dan masuk angin. Sekarang kan Kak Husni itu, sering pulang larut malam."


"Oh, Mas Darma juga sih sering pulang malam. Katanya, lagi numpuk banget kerjaan di kantornya."


"Iya."


...****************...


Malam ini, Nara masih ada di ruang tengah. Revan dan Husni sudah tampak terlelap. Tiba-tiba saja, handphone Nara berdering. Terlihat panggilan masuk dari Mamanya. Nara kemudian mengangkat nya.


"Halo Ma, assalamu'alaikum..." Ucap Nara.


"Wa'alaikumsalam. Nara apa kabar Nak.apa kamu baik - baik saja?"


"Alhamdulilah, Nara baik kok Ma. Gimana, Mama juga sehatkan di sana?"


"Iya. Mama cuma mau kabari,kalau besok Mama dan papa akan pulang ke Indonesia."


"Oh gitu yah. Aku senang banget Ma. Aku juga udah kangen sama Mama."


"Iya. Mama juga kangen sama cucu Mama. Maafkan Mama yah Nara,karena Mama nggak bisa temani kamu waktu kamu lahiran.


"Nggak apa-apa kok Ma, Mama dan Papa kan sibuk."


"Iya. Nanti besok, tunggu Mama yah. Nanti jangan lupa yah, jemput kami di bandara."


"Iya Ma."


Setelah lama bertelponan dengan mamanya, Narapun kemudian kembali ke kamarnya.


Dia melihat Husni dan Revan tertidur pulas.


"Ah, Kak Husni. Ada waktu buat kita, cuma kalau lagi sakit aja. Setiap hari, selalu saja sibuk. Selalu pulang malam."


Nara kemudian mendekat ke arah suaminya. Dia duduk di sisi ranjang. Dia menatap Revan. Putra kecilnya itu mirip sekali dengan Husni.


Nara mencium Revan si bayi mungilnya. Setelah itu, Nara berbaring bersama suami dan anaknya.


Yah, jika tertidur, Husni memang terlihat seperti suami yang jujur dan polos. Namun di sisi lain, Husni itu sekarang sudah bukan seperti Husni yang Nara kenal. Sekarang Husni itu sudah menjadi suami yang pembohong.


Nara kemudian terlelap bersama suami dan anaknya.


...****************...


Pagi ini, Nara sudah tampak berdiri di dapur bersama dengan Mbak Sumi. Mereka sedang memasak untuk sarapan di pagi ini.


"Non Nara."


"Iya Mbak Ada apa?"


"Ini non, saya mau bilang, saya mau izin pulang kampung. Anak saya sakit Non." Kata Mbak Sumi.


Nara menatap Mbak Sumi. Sebenarnya dia juga tidak bisa kalau harus mengurusi rumah dan Revan sendiri tanpa pembantu.


"Oh, mau cuti berapa lama?"


"Em, nggak tahu Non."


" Ya udah. Boleh kalau memang anak Mbak Sumi lagi sakit. Mbak boleh pulang kok."


Mbak Sumi tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih ya udah mau ngizinin saya pulang kampung."


"Iya Mbak."


Beberapa saat kemudian Husni dan Revan turun ke bawah. Mereka mendekat ke arah meja makan.


"Sayang kamu lagi masak apa sih? kok baunya harum banget?"


"He...aku nggak masak Kak. Ini Mbak Sumi yang masak."


"Oh."


Nara menatap Revan anaknya yang sekarang sedang ada di dalam gendongan Husni.


"Sini ayah. Bunda yang ajak Revan."


"Jangan Bun. Bunda lanjutin masak dulu."


"Oh. Ya udah. Tapi Revan nurutkan?"


"Iya nurut dong. Anak siapa dulu. Anaknya ayah Husni." Kata Husni sembari menampilkan gigi putihnya.


Yah entah kenapa dia seperti langsung sembuh saja karena obat yang diberikan Nara semalam.


"Ayah. Ayah mau ke kantor yah?"


"Iya sayang. Ayah mau ke kantor."


"Em, bukannya ayah masih sakit ya?"


"Udah enak kan kok. Karena obat yang kamu berikan semalam."


"Oh gitu? Ya syukur deh."


"Iya."


Setelah selesai, Nara kemudian membawa makanannya ke meja makan.


"Wah, kelihatannya enak banget. Telur dadar sama tumis buncis." kata Husni.


"Sini ayah. Biar Bunda yang gendong Revan."


"Oh iya Bunda. Ayah makan dulu yah. Bunda di sini saja temani ayah makan yah?"


"Iya ayah. Bunda dan Revan akan selalu menemani ayah "


Nara kemudian menemani Husni makan.


****


pagi ini, Nara dan Husni pergi ke bandara untuk menjemput orang tua Nara.


"Ma, ini lihatlah. Revan cucu Mama." Kata Nara sembari menggendong Revan.


Mama Nara tersenyum.


"Aduh, cakep sekali yah Pa."


"Iya. Cakep. Mirip Husni." Kata papa Nara


"Ayo, kita pulang. Kami mau mampir ke rumah kalian dulu."

__ADS_1


"Iya Pa."


Nara dan Husni kemudian pergi meninggalkan bandara. Setelah sampai di rumah, ponsel Husni beberapa dering.


Bu Maryam calling.


"Nara, aku angkat telpon dulu yah"


"Iya Husni." Kata Papa Nara.


Husni kemudian menjauh dari mereka.


"Halo..."


"Halo Husni, bisakah kamu kemari Nak, Inayah. Inayah tiba-tiba saja pingsan." Bu Maryam menuturkan.


"Apa? ya udah, aku akan segera kesana."


Husni buru-buru pergi ke rumah sakit. Dia begitu panik dengan ke adaan Inayah. Inayah tiba-tiba saja pingsan. Padahal kemarin dia sehat-sehat saja.


Sesampai di rumah panti, Husni langsung mengangkat Inayah dan langsung membawanya ke rumah sakit.


"Dokter, tolong dok. Selamatkan istri saya. Saya mohon."


Nara masih menatap nanar suaminya. Yah, sedari tadi ternyata dia mengikuti Husni.


Nara menangis. Betapa hancurnya perasaannya. Perasaan yang selama ini dia jaga untuk Husni. Ternyata Husni sudah berkhianat. Dan selalu berkhianat dan tidak mau berterus terang. Bagaimanakah perasaan seorang istri yang selalu di bohongi suaminya.


Nara masih mematung. Dia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Dia cukup tahu diri, kalau di rumah sakit itu, tidak boleh berbuat rusuh.


Sesaat kemudian. dokter pun keluar.


Dokter tampak lesu.


"Dokter, bagaimana keadaan Inayah istri saya?"


"Saya harus bilang sesuatu sama bapak dan ibu, kalau keadaan Inayah saat ini, cukup memprihatinkan. Kanker otaknya sudah memasuki stadium akhir. Jadi harapan untuk hidup itu, hanya dua puluh persen saja."


Bu Maryam dan Husni saling menatap. Dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Nara akan mengalami kanker otak.


Nara masih terdiam. Fikirannya sangat kacau. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi.


Husni mengedarkan pandangannya. Dan dia melihat Nara yang sedang berdiri menangis.


"Nara." Ucap Husni.


Narapun berlari meninggalkan tempat itu.


Husni mengejarnya.


"Nara tunggu... Tunggu aku Nara. "


Nara menoleh.


"Maafkan aku Nara. "


Husni mencoba mencekal tangan Nara.


"Lepasin Kak. Aku mau pergi."


"Tolong Nara. Aku bisa menjelaskan semua ini sama kamu."

__ADS_1


"Apa yang perlu di jelaskan. Aku udah tahu semuanya Kak. Apa lagi yang mau di jelasin. Bukankah selama ini kamu bilang, kalau kamu itu tidak punya hubungan apa-apa sama Inayah. Tapi nyatanya apa. Sekarang, kamu malah semakin khawatir sama dia. Kamu semakin dekat sama dia. Mulai sekarang, uruslah Inayah mu itu. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku. Dan jangan temui aku lagi Kak. Entah kenapa aku seperti sudah sangat kecewa sekali padamu. Aku seperti sudah tidak bisa memaafkanmu lagi !"


Nara kemudian pergi meninggalkan Husni.


__ADS_2