
Di kamarnya, tampak Ratih masih terbaring lemas. Tubuhnya terasa menggigil. Sudah dua hari ini dia tidak masuk sekolah.
Darma yang mendapat kabar kalau Ratih sakit, langsung beranjak pergi menemui Ratih.
Sepulang kerja dia tidak langsung pulang kerumahnya. Dia langsung melesat kerumah Ratih.
Di depan rumah Ratih, Darma langsung mengetuk pintu rumah Ratih. Tak lama kemudian, Bu Lisna membuka pintu. Bu Lisna mengembangkan senyum.
"Eh...Nak Darma. Ayo masuk!" ajak Bu Lisna.
Darmapun kemudian masuk, mengekori Bu Lisna.
Di ruang tengah mereka duduk.
"Jadi Ibu nggak masuk kerja, karena harus jagain Ratih?" tanya Darma.
"Yah begitulah Nak Darma. Ratih sering sekali kayak gini. Ibu juga nggak tahu. Dari kecil, Ratih udah sering sakit."
"Emang Ratih punya penyakit apa sih Bu?"
"Ibu juga nggak tahu. Penyakit Ratih bukan penyakit berbahaya juga sih Nak Darma. Paling yah penyakit magh dan tifus. Tapi kalau stresnya itu beda lagi." Jelas Bu Lisna.
"Rumah kok sepi?" tanya Darma sembari matanya masih menelusuri ruangan rumah Bu Lisna.
"Iya. Sepulang kerja, Pak Rudy saya suruh pergi ke apotik untuk membeli obat Ratih. Dian dan Raka memaksa ikut. Ya sudahlah mereka ikut."
"Ini Bu. Saya bawa sedikit buah untuk Ratih. Semoga dia cepat sembuh." Darma memberikan sebuah kantong plastik yang berisi buah-buahan pada Bu Lisna.
Bu Lisna pun dengan sigap langsung menerimanya.
"Aduh, trimakasih banyak yah. Udah ngerepotin."
"Ah, nggak apa-apa kok Bu."
"Oh iya. Nak Darma mau masuk nengokin Ratih? boleh kok. Dia ada di kamarnya sekarang."
Darma bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan ruang tengah menuju kamar Ratih.
"Dia masih terlelap. Nak Darma temenin yah. Nanti Ibu bikinin kopi kesukaan Nak Darma."
Bu Ratih pergi melangkah menuju dapur untuk membuatkan minum untuk Darma.
Darma yang sedari tadi berdiri, langsung menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang Ratih. Dia menatap lekat Ratih.
"Gadisku begitu lelap tidurnya." Gumam Darma lirih.
Ratih. Kalau lagi pulas gini, kamu terlihat sangat cantik. Kamu sangat menggemaskan.
Darma mengelus pipi Ratih dengan tangan kanannya.
"Terimakasih yah Dek. Karena kamu udah bikin Mas terhibur dan semangat lagi. Karena kehadiran kamu, Mas sudah bisa sedikit melupakan masa lalu Mas." Gumam Darma lirih namun masih bisa terdengar.
Bu Lisna yang mendengar gumaman Darma, tampak tersenyum.
__ADS_1
Dia terlihat bahagia karena sedikit-sedikit, Darma sudah mulai perhatian pada Ratih.
Dan rencananya menjodohkan Ratih dengan Darma, tidak akan sulit berjalan.
"Nak Darma di minum dulu kopinya." Kata Bu Ratih sembari meletakan secangkir kopi di atas nakas.
"Ibu tinggal dulu yah?"
"Ratih udah makan Bu?" tanya Darma.
Bu Lisna menggeleng.
"Itu ada bubur ayam. Tadi Ratih udah makan, cuma sesuap." Jawab Bu Lisna.
Bu Lisna segera kembali ke dapur meninggalkan Ratih dan Darma.
Darma sedari tadi, tanpa bosan memandangi bocah polos tersebut.
Bagaimana tidak di katakan polos. Sejauh ini,sampai Ratih menginjak SMA Ratih tidak punya kenalan lelaki. Sahabatnyapun cuma Rani dan Yuli. Tidak seperti Darma yang luas pengalamannya dan mempunyai banyak teman dan kenalan.Termasuk teman perempuan.
Apa lagi sekarang. Dia sudah tidak terikat dengan perempuan. Jadi sudah mulai banyak perempuan yang mendekatinya. Termasuk para gadis di tempatnya kerjanya.
Siapa sih yang tidak kenal dengan Darma setiawan. Lelaki tampan dan berkharisma. Badannya yang tinggi tegap bak model papan atas, hidungnya yang bangir, dan kesetiaannya pada kekasihnya, yang membuat para perempuan terkagum-kagum.
Banyak perempuan yang menginginkannya.Termasuk menginginkan ketulusan cintanya.Karena hati Darma tidak akan bisa goyah dengan godaan apapun.
Namun entahlah sekarang. Setelah di campakan kekasihnya, apa Darma masih akan memegang kuat prinsipnya untuk hanya mencintai dan menyayangi satu gadis di perjalanan hidupnya, atau tidak.
Dia meletakan secangkir kopi di atas meja. Setelah itu, dia berlalu meninggalkan kamar Ratih.
Setelah beberapa saat Ratih mengerjapkan matanya.
Dia kaget setengah mati, saat mendapati sosok lelaki yang dia puja, tepat duduk di sisi ranjangnya.
"Eh Mas Darma. Sejak kapan Mas Darma ada di sini?" tanya Ratih sembari beringsut duduk menegakan tubuhnya.
Darma tersenyum.
Hati Ratih berdesir. Jantungnya seakan-akan mau terlepas dari tempatnya, saking kuatnya debarannya.
Ratih tidak pernah sedekat ini sebelumnya sama lelaki. Semenjak kenal Darma, baru pertama kalinya dia bisa sedekat ini.
Inilah kali pertamanya Ratih dekat dengan lelaki sampai aroma lelaki itu terhirup di hidungnya. Ratih merasakan ada yang berubah dalam dirinya.
Saat di dekati Darma tubuhnya tampak gemetaran,
jantungnya berdetak tak seirama, dan sepertinya dia juga sudah mulai salah tingkah.
Baru pertama kalinya Ratih merasakan hembusan nafas lelaki tampan nan mempesonan itu.
"Kamu kenapa cuma sedikit makannya hem...?" Darma menatap manik mata Ratih sembari mencondongkan badannya mendekat ke wajah Ratih.
Ratih mengangkat kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya. Dia tampak berfikir keras.
__ADS_1
Kalau Darma sampai berani menciumnya, dia akan bangun dan berteriak meminta tolong. Dia akan berteriak sekeras-kerasnya.
Apa-apaan sih nih bocah. Emang dia fikir aku mau menciumnya? lucu sekali.
"Ratih, kenapa kamu merem-merem gitu? dan untuk apa kamu menutupi wajah kamu."
Darma memegang kedua tangan Ratih dan menurunkannya dari wajah Ratih.
"Aku malu Mas. Kenapa Mas tiba-tiba ada di sini. Kenapa Mas kesini nggak ngomong dulu."
"Mas mau jengukin kamu Dedek cantik." kata Darma masih mengulas senyum.
"Tapikan Ratih malu. Dan kenapa Mas ada di kamar Ratih?"
"Mas mau nemenin kamu tidur. Bolehkan?" Darma meledek.
"apa..." Ratih memekik, membuat gendang telinga Darma hampir pecah.
"sssttt. Jangan kencang-kencang kalau teriak!
kamu mau bikin Mas sakit telinga?"
Ratih menyeringai.
"Mas cuma bercanda. Serius amat sih nanggapinnya." Kata Darma sembari mengacak poni Ratih.
"Terus kenapa harus malu. Kan di chat kita udah sayang-sayangan."Darma menaik turunkan alisnya.
Ratih tersipu.Wajahnya merona.
"Ah Mas...jangan bahas yang di hape. Udah lupain aja kata-kata mesra-mesraan itu. Aku juga nggak anggap serius kok."
"Nganggap serius juga nggak apa-apa kok. Mas malah seneng."
Ratih membuang muka, tak berani menatap Darma lagi.
Iya, memang selama ini mereka cuma jadi teman chatting, dan pesan di chattingpun gaya anak pacaran.
Mungkin karena itu Ratih malu. Karena Darma juga sering menggodanya dengan kalimat-kalimat rayuan mautnya yang membuat setiap cewek jadi salting saat mendengarnya.
"Udah. Sekarang Dedek cantik makan yah buburnya. Kalau Dedek nggak makan, nanti magh Dedek kambuh lagi," bujuk Darma supaya Ratih mau menghabiskan makanannya.
Ratih mengangguk.
Setelah itu, Darmapun bangkit dari duduknya dan mengambil bubur Ratih.
"Aaaa...ayo buka mulutnya. Mas suapin." Kata Darma sembari menyuapkan satu sendok bubur kemulut Ratih.
"Udah ah Mas. Buburnya nggak enak."
"Beneran nih kamu nggak mau makan? kalau nggak mau, biar buburnya buat Mas."
Darma kemudian mengambil sesendok bubur dan menyuapkan ke mulutnya sendiri.
__ADS_1