Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 51


__ADS_3

Di ruang keluarga rumah Darma, sudah tampak berkumpul Darma, Husni, Nara, dan Ratih. Mereka malam ini berkumpul karena akan menyambut kehadiran orang tuanya yang pulang dari Kanada.


Bu Arum dan Pak Arwan masuk ke dalam rumah mereka. Mereka begitu terharu karena anak-anaknya sudah pada berkumpul untuk menyambutnya.


"Mama Arum..." Ucap Ratih langsung memeluk Mama mertuanya itu.


Karena saking kuatnya pelukan Ratih, membuat Mama Arum Jadi tidak bisa bernafas.


"Lepasin Mama, Ratih...! Mama bisa sesak nafas kalau begini terus." Kata Mama Arum sembari mencoba melepaskan pelukan Ratih.


Ratih melepaskan pelukannya.


"Aku senang banget Mama udah pulang."


Mama arum tersenyum.


"Gimana sekolah mu Ratih?"


"Ratih senang kok Ma. Di sana Ratih sudah betah. Teman-teman Ratihpun baik-baik."


"Syukurlah kalau gitu."


Mama Arum dan Papa Arwan duduk di tengah-tengah anak-anaknya.


Darma diam saja. Dia seperti tidak suka dengan kehadiran orang tuanya.


Jelaslah dia tidak suka, dia takut kalau Mamanya akan mendengar kehamilan Ratih.


Itu Artinya, Darma harus siap-siap mendapat omelan Mamanya. Mungkin saja Darma akan mendapat hukuman yang berat oleh Mamanya, karena sudah ingkar janji.


"Darma, kamu kenapa? sepertinya kamu tidak senang dengan kepulangan Mama." Kata Mama Arum penuh selidik.


Darma cuma bisa menegak salivanya. Dia tidak berani menatap Mamanya.


"Ma. Aku punya kabar gembira buat Mama." Kata Husni tiba-tiba yang membuat semua orang memandangnya penasaran.


Husni senyam-senyum sendiri.


"Kak Husni punya kabar gembira apa? Ratih jadi penasaran." Kata Ratih begitu antusias.


*Ah, Kak Husni kayaknya habis memenangkan pertandingan deh. Mungkin, dia menjadi juara satu* Batin Ratih.


"Ma, Pa, sebentar lagi kalian akan punya cucu.!" Kata Husni.


Mama Arum dan Papa Arwan tersentak kaget dan tampak tak percaya, rona kebahagiaan menyelimuti wajah mereka.


" Alhamdulilah...!" Ucap Papa Arwan dan Mama Arum bersamaan.


"Usianya udah lima minggu Ma." Kata Nara menuturkan.


"Mama senang dengarnya sayang." kata Mama Arum pada menantunya Nara.


Mama Arum mendekat ke arah Nara. Dia mencium kening Nara dan memeluknya.


Ah kenapa bisa bersamaan gini. Benar-benar ajaib. Kak Nara dan Ratih hamil secara bersamaan. Dan Mama akan memiliki dua cucu sekaligus. Batin Darma.


Fikiran Darma dan Ratih begitu sangat berkecamuk. Mereka tampak gugup sendiri.


Tiba-tiba saja Ratih mual. Secepat kilat dia langsung menuju kamar mandi. Darmapun mengejarnya.


Nara dan Husni saling menatap. Begitu juga dengan Bu Arum dan Pak Arwan.


"Kenapa Ratih?" tanya Nara.

__ADS_1


"Nggak tahu. Mungkin Ratih lagi sakit." jawab Husni.


Mama Arum mendekat ke arah Darma dan Ratih.


"Darma apa yang terjadi? Ratih sakit?"


Mama Arum mendekat ke arah Ratih dan Darma


Aduh kenapa mama pakai kesini sih. Kalau tahu aku hamil, dia marah nggak yah? Batin Ratih.


Mama Arum tampak curiga. Dia memandangi Darma dan Ratih secara bergantian.


"Ini Ma, kebanyakan kopi dan mie instan. Jadi gini deh." Darma menuturkan.


Mama Arum menggelengkan kepala.


"Ya udah. Kalian istirahatlah dulu di kamar!"


Ratih dan Darma kemudian pergi meninggalkan ruang tengah.


Mereka beranjak untuk ke kamarnya.


***


Di kamar mandi Mama Arum begitu shock. Karena dia menemukan sebuah tespek yang tampak ada dua garis merah. Mama Arum memandangi tespek itu secara rinci.


"Ini, tespek siapa yah? Kok bisa ada disini. Ah, paling ini punya Nara." Gumam Mama Arum.


Mama Arum kemudian berjalan melangkah ke arah ruang keluarga. Dia menatap Nara dan Husni.


"Ini punya kalian?" tanya Mama Arum.


Husni dan Nara saling memandang.


"Tespek Nara ada di rumah kok Ma. Itu bukan punya Nara. Ngapain Nara bawa tespek kesini." Kata Nara menjelaskan.


"Mbak Sumi...!" Seru Mama Arum.


Mbak Sumiati, kemudian menuju ke ruang tengah.


"Mbak Sumi, ini tespek kamu?" Tanya Mama Arum.


Mbak Sumi menggeleng. Dia juga terlihat gugup.


"Itu...itu...punya non Ratih..."


Mama Arum terbelalak. Jantungnya seakan mau copot saja dari tempatnya. Bagaimana mungkin, setelah kepulanganya dari Kanada, Nara dan Ratih hamil secara bersamaan. Ini benar-benar kejutan yang sangat menegangkan.


"Darma...!!!" Mama Arum berteriak. Tanpa fikir panjang lagi, Mama Arum bergerak melangkah menuju ke kamar Drama.


Darma dan Ratih saling memandang.


Dengan konyolnya Ratih mau mencari tempat yang aman.


"Mas, Mama Mas." ucap Ratih.


"Iya. Aku tahu."


Ratih memutar bola matanya. Dia mencoba mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


Ratih ke sisi tempat tidur. Dia tiarap di lantai.


"Tidak. aku nggak boleh ngumpet di sini." ucap Ratih.

__ADS_1


Ratih kemudian membuka lemari.


"Apa aku ngumpet di sini aja yah."


Darma yang pusing melihat Ratih lalu menghampiri Ratih.


"Adek. Lagi ngapain sih...?"


"Aku mau cari tempat persembunyian ku Mas. Tapi dimana yah...?"


Ratih menelurusi setiap sudut kamar. Namun dia tidak menemukan tempat persembunyian yang aman.


Ratih mendekat ke arah pintu. Tiba-tiba saja.


jedoooor.


Kepalanya terbentur pintu saat Mama Arum membuka pintu kamarnya.


"Auh..." pekik Ratih yang memegangi sedikit benjolan di dahinya.


"Ups...Ratih, kamu nggak apa-apa kan Nak?" tanya Mama Arum.


"Mama..! Kalau mau masuk, kenapa nggak ketuk pintu dulu sih...!" gerutu Darma.


Darma kemudian mendekat ke arah istrinya.


Darma mengelus dan meniup dahi istrinya.


Mama Arum langsung menjewer telinga Darma...


"Aduh...aduh... Ma... Apa-apaan sih Ma. Sakit...!!!" Darma memegangi tangan Mamanya.


"Cukup main sandiwaranya."


Ratih menutup mulutnya. Mati deh kita. batin Ratih.


"Dasar anak kurang ajar. Kamu sudah ingkar janji sama Mama. Kata nya kamu nggak mau ngapa-ngapain Ratih. Kalau tahu gitu, kamu kemarin Mama bawa ke Kanada. Biar Ratih sama mbak Sumi di sini. Kamu juga kan yang meliburkan para pembantu supaya kamu bebas sama Ratih." omel Mama Arum.


"Lepasin dulu Mam..iya nanti aku jelasin."


"Apa yang mau kamu jelasin?"


"Aku mau jelasin kalau Ratih hamil."


"Mama udah tahu kalau Ratih hamil." kata Mama Arum.


"Stoooop..."Suara lengkingan khas Ratih menggema. Membuat Darma dan Mama Arum diam.


"Jangan pada berantem. Aku sakit...!" bohong Ratih. Padahal sebenarnya Ratih baik-baik aja.


Darma panik. Darma mendekat.


"Ratih pengin pingsan." ucap Ratih.


"Tuh kan Ma, ini gara-gara Mama sih. Jadi Ratihnya pengin pingsan deh."


"Cukup sandiwaranya Ratih, Darma, "


Mama Arum mengambil raket nyamuk dan lekas mengejar Darma. Darma pun langsung turun menuruni anak tangga.


Mama Arum masih mengejarnya. kemudian ibu dan anak itu, kejar-kejaran layaknya tom and jerry di ruang tengah. Membuat Papa Arwan, Husni dan Nara pusing melihatnya.


"Stooooop..." lengkingan suara Ratih. Yang lagi-lagi membuat Mama Arum dan Darma berhenti.

__ADS_1


Semua keluarga menatap Ratih.


"Ini serius...Ratih mau pingsan beneran."


__ADS_2