
Korea
Malam ini Di sebuah apartemen, Dua insan manusia sedang duduk-duduk di sofa ruang tengah. Kali ini adalah musim dingin. Sehingga suasana
ya memang sedikit menggelitik menusuk ke relung hati.
Inayah masih berdiri di pantry. Dia tampak sedang menguber secangkir kopi.
Husni yang ada di meja makan, menatap punggung seorang wanita bernama Inayah.
Kenapa dia benar-benar mirip dengan Nara istriku. Tubuhnya, wajahnya, dan penampilannya. Jika di jejer, Mereka pantas di sebut adik kakak. Tapi sepertinya Inayah ini wanita kuat dan mandiri.
"Pak Husni. Ini kopinya."
Husni tersentak kaget.
"Eh, iya Inayah. Makasih."
"Silahkan duduk Inayah."
Inayah mengangguk. Dia masih sedikit canggung.
"Maaf yah Inayah, aku harus mengajak mu kesini."
"Nggak apa-apa Pak. Itu memang sudah tugas saya. Bukankah tugas sekertaris itu, menulis setiap jadwal bosnya."
"Iya. Maksudku, maaf. Karena aku harus mengajakmu tinggal dalam satu atap begini. Soalnya kalau aku harus memesan Apartemen lagi, aku khawatir sama kamu Inayah. Inikan luar negri. Bukan tempat kita. Jadi ini pun sudah menjadi tugasku untuk melindungimu."
"Iya. Aku ngerti. Selama kita masih bisa menjaga batasan, tidak jadi masalah kita tinggal satu atap."
"Iya Inayah, kamu jadi mengingatkanku pada istriku."
Inayah tersenyum.
"Apakah dia seperti ku?"
"Iya Inayah, mirip. Dan aku sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini."
"Aku minum yah kopinya."
Inayah mengangguk.
Husni menyeruput kopinya.
"Wah, rasa kopinya enak Inayah. Kamu hebat. Istriku aja belum tentu bisa membuatkan kopi seperti ini. Buatannya Kadang terlalu manis. Kadang juga terlalu pahit. Tapi kamu langsung bisa membuatkan aku kopi yang pas di lidahku."
"Iya Pak. terimakasih atas pujiannya."
"Kamu tenang saja Inayah, walaupun kamu itu sekertaris aku, aku akan tahu batasan. Aku tidak akan bersikap kuarang ajar padamu. Aku sangat mencintai istriku."
"Iya Pak. Aku juga akan menjaga sikap selama beberapa bulan ke depan."
"Ya sudahlah, kamu boleh tidur Inayah. Besok, kita akan ada meeting.
***
Setelah sholat subuh, Husni keluar kamar menuju ke Pantry. Dia melihat Inayah sudah berkutat di Pantry
seperti kemarin, Inayah membuatkan sarapan untuk Husni.
Tidak ada yang spesial. Hanya nasi goreng biasa.
" Inayah. Kamu lagi masak apa?"
__ADS_1
"Nasi goreng Pak."
"Oh. Kelihatannya enak."
Inayah hanya tersenyum.
"Kamu ternyata pandai memasak?"
"Iya Pak. Memasak adalah hobiku."
Setelah selesai membuatkan nasi goreng, Inayah dan Husni menyantap makananya.
"Masakan kamu enak Inayah, melebihi masakan pembantuku di rumah. Coba kalau Nara juga pandai memasak seperti kamu."
"Ah, jangan terlalu banyak muji Pak, Emang istri bapak nggak bisa masak?"
"Ya lagi proses belajar. Belajar memasak untuk suami. Dari kecilkan Nara itu sangat manja. Dia itu manja sekali. Selalu ngandelin pembantunya."
"Oh..."
"Mulai sekarang kamu panggil aku Husni aja. Nggak usah panggil bapak. Biar kita nggak ngerasa canggung lagi.
Yah, kalau sedang berdua begini, anggap saja kita seorang sahabat. Jadi kamu bisa menceritakan semua beban pikiranmu padaku."
"Baiklah Pak. eh, Husni."
"Ya udah. Kitakan akan segera berangkat untuk menemui klien."
"Baiklah, aku akan siapkan pakaian Bapak."
"Kamu lupa yah."
"Eh iya. Husni. ah, tapi nggak enak aku manggilnya."
"Iya Mas Husni, aku ke kamar kamu mau siapkan baju kamu dulu."
Husni tersenyum entahlah apa yang ada di fikirannya sekarang. Dia seperti sedikit mengaggumi Inayah. Buatan kopinya, masakannya ,Pas sekali di lidahnya.
Husni masuk ke kamarnya. Di tempat tidur, sudah ada kemeja, jas, dasi, kaos kaki dan sepatunya. Inayah seorang sekertaris. Tapi sudah kayak istrinya saja.
"Aku jadi ingat Nara, Lagi ngapain yah dia sekarang. Sejak sampai kesini, aku belum menghubunginya. Nanti setelah kerjaanku selesai aku akan menghubunginya.
****
Indonesia.
Nara terlihat cemas.
Dia melihat ke arah Darma dan Ratih yang masih bermesra-mesraan di ruang tengah.
Ah, kedua bocah itu, asik-asikan saja mesra-mesraan. Sementara aku lagi cemas banget mikirin Kak Husni.
Darma dan Ratih saling bercanda dan tertawa.Yah, namanya juga pengantin baru.
"Kak Nara kenapa?" tanya Ratih yang tampak sudah menyadari kalau Kak Nara memang lagi sedih.
Ratih melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia kemudian beranjak ke arah Nara.
Ratih kemudian duduk di samping Kak Nara.
Nara menitikan air matanya.
"Kak, Kenapa?" tanya Darma.
__ADS_1
"Kak Husni, dia belum ngabarin juga."
"Yah, Kak. baru dua hari aja udah di tangisi. dulukan kalian juga pisah bertahun-tahun. Nggak apa-apa."
Ratih melemparkan bantal ke wajah Darma.
"Adek, mau mulai lagi kamu?"
"Mas, Kak Nara itu lagi sedih. Jangan di buat sedih lagi dong! Dulu kan mereka masih pacaran, Sekarang kan statusnya udah beda. Jadi wajar dong kalau Kak Nara itu cemas. Mereka kan pengantin baru juga."
Darma manggut-manggut.
"Maaf yah Kak. Aku juga sama kok. Kalau sehari nggak ada Ratih, rasanya seperti kayak setahun."
Ratih mengikik.
"Mulai deh ngegombalnya."
Darma tersenyum. Dia bisa melihat dengan jelas gadis mungilnya itu sudah tampak bahagia.
"Iya Ratih kamu benar.Kakak sangat sedih sekali. Masmu nggak ngabar-ngabarin juga sampai sekarang."
"Ratih yakin, kalau Mas Husni, pasti masih sangat sibuk. Dia belum sempat ngabarin Kak Nara."
Ratih memeluk Nara. Hatinya sangat bahagia. Sudah sejak lama dia kepengin punya kakak perempuan.
"Udah malam Ratih, kamu nggak ngantuk?"
"Aku mau nemenin Kakak dulu. Biar Kakak nggak sedih lagi. Aku udah lama banget pengin punya kakak perempuan."
Nara melepaskan pelukan Ratih.
"Makasih ya adek cantik. Kakak juga nggak punya adik perempuan. Jadi kamu boleh nganggap aku kakak kamu, dan aku nganggap kamu, adik aku.
"ehem.."Darma yang merasa di cueki berdehem.
"Aku kok kayak lihat adegan dra kor aja sih. Peluk-pelukan segala, aku kayak nyamuk aja nggak di anggap." kata Darma.
"Ih sirik aja kamu Mas. Kalau mau tidur yah sana, tidur sendiri."
"Lah, Masak sendiri Dek. Kan Mas suami kamu."
"Iya. Tapi akukan udah janji ama Mama. Sampai lulus SMA, aku nggak boleh tidur bareng Mas."
"Ah, jadi nunggu setahun nih. Nggak adil banget." Dengus Darma.
"Malam ini, aku mau tidur bareng Kak Nara. Mau nemenin dia biar nggak kesepian lagi. Bolehkan Kak?"
Nara mengangguk.
"Iya sayang, boleh banget."Kata Nara menyetujui.
Darma tampak kesal karena di abaikan oleh kedua perempuan itu, tanpa pikir panjang lagi, Darma bangun dari duduknya.
dan
Bugh...
sebuah bantal melayang ke wajah Ratih.
"Auh... Mas Darma...Awas aja kau nanti. Akan aku balas."
Darma berlari kecil menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Nara cuma senyam-senyum sendiri melihat tingkah Ratih dan Darma. Dia juga sudah sedikit terhibur dengan mereka.