
tok tok tok...
"Sayang ayo buka pintunya. Kamu lagi ngapain sayang? Mas mau masuk nih."
Ratih takut. Ratih panik. Dia kemudian mengambil bantal senjata andalannya. Ratih kemudian membuka pintunya dan menyerang suaminya.
" Aduh adek..ampun ampun.. Kenapa Mas di serang gini sih..." Kata Darma sembari menangkis serangan dari istrinya.
"Ih...ih....ih...rasain kamu Mas. Biar kamu kapok nggak terus-terusan ngasih aku hukuman."
"Siapa yang mau hukum kamu. Mas juga capek baru pulang kerja."
Darma kemudian berhasil mencekal tangan istrinya dan merebut bantal itu dari tangan istrinya. Darma melempar bantal itu ke ranjang.
Ratih menangis. Dia memeluk suaminya.
"Mas, Mas janji yah, setelah ini, mas jangan punya teman cewek lagi. Ratih sakit hati banget saat ada yang bilang kalau Mas itu sering meluk cewek."
"Nggak Ratih. Percayalah sama Mas, kalau Mas itu sangat sayang sama kamu. Mas itu akan selalu setia sama kamu. Walau kamu bukan yang pertama namun kamu yang terakhir untuk Mas." Ucap Darma sembari menyeka air mata Ratih.
"Sekarang kamu mandi yah? dan ganti baju."
"Tapi aku nggak mau melakukan itu."
"Iya. Mas nggak mau minta yang aneh-aneh cukup mandi bareng aja. ha..."
Bugh...
Ratih memukul perut suaminya layaknya petinju profesioanal, membuat Darma terpekik.
"Rasain tuh. Makanya kalau mesum itu lihat tempat."
"Auh, gadis kecil, tapi pukulannya kuat banget." Ucap Darma yang masih memegangi perutnya.
Ratih kemudian bergegas masuk kekamar mandi.
Dia tersenyum-senyum sendiri.
"He...he... Nggak apa-apa deh kalau Mas, mau ngasih hukuman lagi. Aku juga selalu menunggu hukuman-hukuman itu. Coba aja kalau aku nggak lagi hamil. Pasti aku semangat menerima hukuman dari Mas Darma. Cuma untuk sekarang aku kasihan ama dedeknya."
"Ratih...buka pintunya..." Seru Darma.
"Apaaan sih bawel. Aku mau mandi. Aku nggak mau mandi bareng Mas. Sana Mas cari kamar mandi di luar."
__ADS_1
"Ratih, Mas pengin masuk sayang. Mas pengin ikutan mandi."
"Ogah. Mau Ratih siram lagi."
Darma hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ah dasar anak keras kepala. Apa dia nggak nyadar apa. Sejak dia hamil, aku belum di kasih jatah lagi. Aku kan nggak kuat. Lagian dia juga udah terlanjur hamilkan. Jadi jika aku minta jatah tanpa pengaman sudah nggak masalah dong." Ucap Darma. Setelah itu dia buru-buru keluar kamar. Dia juga merasa gerah banget karena belum mandi.
...****************...
Husni mengeluh. Sekarang dia sedang di hadapkan dengan dua kesulitan. Menemani Inayah apa Nara. Kedua-duanya adalah istri sahnya. Dia juga tidak bisa egois pada Inayah. Inayah juga sekarang sudah menjadi tanggung jawabnya. Namun di sisi lain Husni juga masih mempunyai rasa bersalah pada Nara.
"Mas, temanin aku di sini." Ucap Inayah menatap wajah Husni dalam.
"Duh Inayah sayang, aku harus pulang. Nara lagi menunggu ku."
"Aku nggak mau minta yang aneh-aneh kok Mas. Aku cuma mau minta untuk malam ini aja kamu nginap di sini."
"Ah, aku bingung Inayah."
Inayah mencoba merayu suaminya. Dia juga ingin mendapatkan haknya sebagai istri. Bagaimanapun juga Husni itukan sudah menjadi suaminya. Akhirnya Husnipun mau juga menginap di rumah Inayah. Yah, ini adalah kali pertamanya Husni tidak pulang ke rumah Nara.
"Oke Inayah. Untuk malam ini aku akan temanin kamu di sini. Tapi aku nggak mau melakukan hubungan itu dulu sebelum aku siap."
"Aku akan tidur di sofa."
"Mas, Kenapa mesti tidur di sofa. Kenapa nggak berbaring di ranjangku. Tidak akan terjadi apa-apa Mas di antara kita. Percayalah sama aku. Aku cuma butuh perhatian kamu Mas. Aku nggak mau minta lebih kok."
Akhirnya Husni menurut juga dengan wanita sirinya itu.
Dia berbaring di sebelah Inayah. Husni kemudian terlelap sembari memeluk Inayah dan untuk malam ini dia melupakan Nara.
...****************...
Nara masih duduk di meja makan. Dia masih menunggu Husni pulang. Nara cuma bisa menatap makanan yang ada di meja makan. Yah, sejak menikah dengan Inayah, Inayah selalu membuatkan Husni untuk bekal di bawa ke kantor. Dan setiap pulang, Husnipun mengantar Inaya pulang dulu sampai kerumahnya.
"Ah, Kak Husni nggak makan di rumah lagi pasti deh. Kemana yah dia."
Nara menghubungi Ponsel Husni. Namun ponsel Husni tidak aktif.
"Kemana kamu sih Kak. Kenapa ponsel kamu sering nggak aktiv." Geram Nara.
Nara yang sudah merasa jenuh kemudian pergi ke kamarnya. Dia kemudian berbaring di ranjangnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Nara mual-mual. Dia langsung bergegas ke kamar mandi.
Bik Denah selaku asisten rumah tangga Nara yang baru, menjadi ikut khawatir dengan ke adaannya majikannya itu.
"Ah, kasihan Bu Nara. Sejak suaminya sibuk dengan kerjaannya, dia jadi jarang mendapat perhatian." Gumam Bik Denah.
Bik Denah kemudian masuk ke kamar Nara. Dia sangat mengkhawatirkan Nara.
"Bu Nara mual lagi?"
Nara mengangguk.
"Iya. Perut saya mual banget."
"Duh kasihan. Apa perlu, bibik panggilkan dokter?"
"Ah, nggak usah. Sebente lagi oaling Mas Husni pulang. Aku mau nunggu di ruang tengah aja."
Setelah itu Nara melangkah ke ruang tengah. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya ke sofa. Lagi-lagi dia menunggu dengan setia suaminya pulang.
...****************...
Jam telah menunjukan jam 12 malam. Husni melirik Inayah yang sudah tertidur pulas. Husni tersenyum.
"Sebenarnya kamu wanita yang baik Inayah. Tapi maafkan aku. Untuk saat ini, aku belum bisa mencintaimu. Aku masih setia pada Naraku. Jadi untuk saat ini, aku tidak bisa memberikan hak dulu padamu. Tapi kalau aku sudah siap, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan. Karena sekarang kamu juga istriku Inayah." Ucap Husni.
Husni setelah itu menyelimuti Inayah. Dia kemudian mencium kening Inayah.
"Selamat malam istri ku. Semoga mimpi inah." Gumam Husni sembari pergi.
Husni setelah itu pergi meninggalkan Inayah.
Inaya tampak menggeliat. Di rabanya bagian samping ranjangnya. Ternyata Husni sudah pergi.
"Ah, Mas Husni. Kenapa dia pulang. Kenapa dia tidak mau menemani ku sampai pagi."
Inayah kemudian menangis.
"Apa yang sebenarnya aku inginkan Mas. Aku cuma ingin malam ini, kamu tidur di sampingku. Aku juga tidak mau memaksamu untuk melakukan hubungan dengan ku. Tapi kenapa kamu malah pergi ke tempat istrimu.
...****************...
Sesampai di rumah, Husni melihat Nara yang masih asyik terlelap di ruang tengah. Dia kemudian menghampiri Nara dan Husnipun menggendong Nara dan melangkah ke kamarnya. Dia membaringkan tubuh Nara ke ranjangnya.
__ADS_1
"Maafkan Kakak Nara." Ucap Husni.