Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 64


__ADS_3

Pagi ini, Husni masih bersedih. Fikirannya begitu kacau. Dia masih duduk di ruang tamu rumahnya. Nara sekarang tidak mau pulang kerumahnya, sementara Inayah, sudah tidak mau kerja di kantor Husni lagi.


"Ah, bagaimana ini. Kenapa jadi serumit ini sih masalahnya...!" Gumam Husni.


Husni sekarang sendiri. Nara masih ada di rumah Darma, dia belum mau pulang ke rumah Husni.


"Ah, Nara kenapa sekarang jadi keras kepala sih. Kenapa dia harus tinggal di rumah mama Arum." Kata Husni sedikit kesal.


Yah, Husni kesal. Karena setiap ke sana pasti Darma akan mengajaknya ribut. Darma tidak membolehkan Husni dekat dengan Nara kecuali Husni mau menceraikan Inayah.


"Ah, aku harus ngomong lagi sama Nara. Pasti sekarang Darmakan ke kantor. Lebih baik, aku pergi ke rumah mama lah. Nggak usah ke kantor dulu."


Setelah itu Husni pergi ke tempat orang tuanya.


Sesampai di sana Husni melihat istrinya sedang menyiram bunga. Sepertinya Nara sudah bisa tersenyum lagi.


Husni mendekat ke arah Nara dan memeluknya dari belakang. Sudah beberapa hari mereka tidak bersama.


"Sayang, Kakak kangen Nara." Ucap Husni sembari mendekap istrinya.


"Mas, lepasin...!"


"Nggak sayang, Mas rindu."


Nara kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya. Sekarang mereka berhadapan.


Nara tersenyum.


"Aku juga kangen Kak."


"Nara, aku mohon Nara, maafkan kakak. Kakak udah membohongimu. Percayalah Nara, kakak tidak oernah mencintai Inayah." Kata Husni.


"Iya. Nara percaya. Ayo Kak, kita masuk ke dalam."


Husni dan Nara pun masuk ke dalam.


"Kok sepi, pada kemana?" tanya Husni.


"Ah, adik-adik gokil kamu itukan punya kesibukan masing-masing." Kata Nara.


"Oh iya sayang."


Husni kemudian menggenggam tangan Nara. Dia kemudian mengecup lembut tangan Nara.


"Kak, bagaimana hubungan mu dengan Inayah. Kalian baik-baik saja kan?"


"Nggak tahu Nara. Inyah meminta cerai. Namun aku belum bisa menceraikannya."


"Kenapa Mas...Kenapa kamu tidak menceraikannya.? Kamu cinta yah sama dia.?"


Husni menggeleng.


"Nggak sayang. Aku cuma mau melindungi dia. Dia itukan yatim piatu, wanita sebatang kara, aku menjadikan dia istri itu, supaya statusnya itu jelas. Supaya dia tidak menjadi janda. Itu saja."

__ADS_1


"Itu tetap salah Mas. Katanya kamu ngaji. Kenapa ilmu mu tidak pernah di pakai. Jika saja, kamu menikahi wanita, sudah seharusnya kamu menafkahinya lahir dan batin Mas. Kamu harus bisa adil. Jika kamu tidak adil, untuk apa menikahi Inayah. Inayah juga pasti akan tersiksa." Kata Nara mencoba meluruskan.


Yah, sebagai seorang istri memang sudah ke wajibannya untuk meluruskan jika suami berbuat salah.


"Tapi Nara."


"Ya udah, kamu ceraikan dia. Kalau kamu tiak bisa adil pada dua istri." Pinta Nara.


Husni masih terdiam. Dia seperti sedang mencerna kata-kata Nara.


Iya, benar. Hidup poligami itu memang sulit. Aku harus bagaimana. Aku bi**ngung. Batin Husni.


Husni tampak merenung.


"Sudahlah Nara. Kita lupain dulu masalah ini. Kamu mau kan kita pulang. Mas nggak mau tinggal di sini. Nanti Mas bisa berantem terus sama Darma. Dan sekarang, Inayah juga sudah mengundurka diri dari kantor Nara."


Nara mengangguk.


"Iya nanti aku siap-siap dulu. Nanti kita pulang." Kata Nara.


Nara kemudian masuk ke kamar untuk berkemas. Dia akan pulang ke rumahnya sendiri. Yah, rumah yang di belikan Husni untuk mereka tempati.


...****************...


Sepulang sekolah, Ratih masih bersama Kenzo. Mereka melangkah ke arah luar sekolah.


Tapi tampaknya, Darma sudah ada di depan sekolah.


"Hai...Mas Darma. Aku fikir Mas tidak akan jemput. Jadi aku mau pulang bareng Kenzo."


"Mas, Kenzo udah gede, dia nggak ingusan lagi. Lihat saja, hidungnya bersihkan." Kata Ratih membuat Kenzo tersenyum.


Darma menyeret pelan Ratih menjauh dari Kenzo.


"Apaan sih kamu. Aku ini suami mu. Mas kan udah pernah bilang, kalau Mas, nggak suka kamu jalan sama lelaki lain. Bukan muhrim Ratih. Katanya kamu mau mencontoh kak Nara."


Ratih diam.


"Iya Mas, Maaf."


"Udah ayo kita pulang." Kata Darma.


Darma dan Ratih kemudian pulang kerumah mereka. Sesampai di sana Darma melihat Nara dan Husni.


"Mau kemana kalian?" tanya Darma.


"Kita mau pulang."Kata Nara.


"Kak Nara nggak boleh pulang. Kan Kak Husni udah nyakitin Kakak."Kata Ratih.


"Iya Kak. Ngapain sih kamu mau sama lelaki pembohong dan pengkhianat macam dia." Kata Darma.


Husni merasa terpukul hatinya mendengar ucapan adiknya itu. sebegitukah bencinya Darma padanya.

__ADS_1


"Sudah lah Darma, ini masalah kakak sama Kak Husni, kamu nggak usah ikut campur."


"Darma. Kamu apaan sih. Sebenci itukah kamu sama Mas?"


Darma diam. Dia membuang mukanya. Setelah itu Darma pergi kekamarnya meninggalkan Nara dan Husni.


"Kak, Kak Nara benar mau pulang?" tanya Ratih. Sepertinya Ratih itu sudah mulai merasa kehilangan Kak Nara. Kak Naranya itu akan pergi. Berarti Ratih tidak akan punya teman lagi di rumah.


"Iya Ratih. Jaga diri kamu baik-baik yah. Kakak pamit dulu."


Husni dan Nara kemudian meninggalkan rumah Darma.dan Ratih.


Setelah itu Ratih masuk ke kamarnya.


"Mas..."


"iya..."


"Lagi ngapain...?" tanya Ratih.


"Mau mandi Dek. Mas gerah banget nih."


"Mas. Ratih mual lagi nih."


"Ya sabar. Di wastaffel luar kan ada Ratih."


"Tapi Ratih bukan mau itu. Ratih kebelet banget."


Ah, dasar istri bodoh banget sih. Di laurkan ada kamar mandi. Ngapain nungguin aku. Ah, aku tahu. Dia pasti minta mandi bareng. Alasan aja dia mual, kebelet.


Darma kemudian melilitkan handuknya dan keluar kamar mandi.


Namun Ratih buru-buru masuk dan langsung mengunci pintu kamar mandi.


"Ah, dasar istri nggak guna." Gerutu Darma.


Darma masih menunggu Ratih di pintu kamar mandi.


"Dek. Cepatan dong...!" Seru Darma.


"Mas, Mas pindah aja di luar. Di luarkan ada kamar mandi. Kenapa nggak keluar saja." kata Ratih yang membuat Darma kesal.


"Tapi Mas mau mandi di sini. Bareng kamu." Ucap Darma.


"Nggak mau. Ratih nggak mau mandi bareng Mas."


"Dek, Mas Husni udah pulang yah?" tanya Darma kemudian.


"Iya. Dia ngajakin istrinya juga pulang." jelas Ratih.


"Ah, sialan. Mas Husni itu pengkhianat."


"Sudahlah Mas, dia itu kakakmu."

__ADS_1


"Iya Dek. Mas mandi di kamar mandi luar aja deh. Lama banget kamu." Gerutu Darma kesal


Setelah itu Darma keluar dari kamarnya. Dia melangkah dengan langkah gontai.Tubuh baru di siram sudah diteriakin Ratih. Boro-boro pakai sabun atau sampo. Pakai handuk saja dengan gugup. Tapi ini sudah menjadi terbiasa untuk Darma. Punya istri cakep tapi galak bawel dan pemalas kadang juga nyebelin.


__ADS_2