Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 58


__ADS_3

Darma marah besar. Dia begitu sangat geram pada kakaknya itu.


"Benar-benar Mas Husni. Aku muak jadinya. Berani-beraninya dia menikah diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga. Mau di taruh di mana muka keluarga ini. Husni yang katanya anak lulusan pesantren, bisa berbuat seperti itu."


Kata Darma sembari membuka dasinya.


Ratih sedari tadi diam saja. Entahlah, mungkin sekarang dia sedang asyik di dunianya sendiri. Yah, dunia anak sekolah.


"Ish, Gila. Kenapa soalnya bisa sesulit ini sih. Mr Edwin benar-benar deh, Membuat otak ku hampir meledak." Gerutu Ratih.


Darma masih tampak emosi. Dia kemudian berbaring di ranjangnya tanpa melepas sepatunya.


"Ratih...!" Seru Darma.


"Hemm."


"Dasar istri nggak tahu diri. Suami pulang bukannya di sambut malah di cuekin." Gerutu Darma.


"Ratih...!" Suara Darma semakin meninggi.


"Ish, Apaan sih Mas. Teriak-teriak. Ganggu aku belajar saja. Aku sebentar lagi mau menghadapi ujian nih. Aku lagi mau konsen dulu belajarnya."


"Iya Mas tahu, tapi Mas capek banget baru pulang kerja. Setidaknya kasih senyumlah."


Ratih berdiri dari duduknya. Kemudian dia menghampiri suaminya.


"Mas ku tercinta, apa mau mu? Kalau mau menghukum ku, aku nggak bisa. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama bayiku kalau kita keseringan tempur."


"Siapa yang mau ngajak tempur. Ngeres aja pikirannya. Bukain sepatu ku."


"Apa. Teganya kamu Mas. Ratih di suruh bukain sepatu Mas?"


Darma kemudian duduk.


"Sayang, ayolah belajarlah dewasa. Kamu sekarang mau jadi ibu, nggak boleh manja terus."


"Mas, dewasa itu, nggak harus bukain sepatu juga kali, aku juga nggak pernah lihat mama Arum bukain sepatunya Papa Arwan. Itu namanya Mas yang manja. Kenapa malah nuduh aku yang manja."


Yah, Ratih, kamu memang pintar seakali membolak-balikan kata. Awas saja kamu Ratih, Sekarang Mas lagi capek banget, jadi Mas tidak akan menyentuh mu untuk malam ini. Tapi besok- besok kalau kamu ngelawan aku akan terkam kamu Ratih. Batin Darma.


Tanpa aba-aba Darma menarik tangan Ratih membuat Ratih terjatuh di atasnya.


Darma tersenyum-senyum. Dia sangat suka sekali menjahili istrinya. Dia mendekap istrinya begitu eratnya membuat Ratih sesak nafas.

__ADS_1


"Mas, lepasin Ratih. Ratih sesak."


"Nggak, aku nggak mau lepasin."


"Mas, jangan begini. Bayi kita kasihan. Nanti kepelet."


"Oh iya sayang. Maaf."


Darma kemudian melepaskan pelukannya.


Setelah itu Ratih berdiri kembali.


"Sayang, Mas capek Dek. Mas mau dong di pijit!" Pinta Darma.


"Ratih nggak mau mijitin Mas. Pasti Mas nanti mesum lagi. Dedek bayinya kan kasihan."


"Nggak sayang, cuma pijit aja kok. Mas nggak mau minta jatah."


"Benar yah. Awas kalau sampai Mas macam-macam. Nanti Ratih gigit lagi." Ancam Ratih pada suaminya.


Darma merinding mendengar ucapan gigit. Memang Ratih gigitannya sangat kuat. Apa lagi kalau buat kissmark. Merata di mana-mana. Dan juga memang sekarang Ratih seperti macan saja. Suka sekali menggigit Darma jika dia kesal.


Ah, mungkin ini sudah menjadi cobaan hidupnya cowok setia seperti Darma. Punya istri bawel, pemalas dan galak.


"Iya Dek."


Darma kemudian duduk.


Ratih kemudian melepas sepatu Darma dan juga kaos kakinya.


"Mas, kaos kakinya bau banget sih." Ucap Ratih sembari masih memegangi kaos kaki Darma.


" Yah, ngapain kamu nyium kaos kaki. Namanya kaos kaki jelas baulah. Kenapa kamu nggak nyium Mas saja, yang jelas-jelas wangi begini."


"Ih. Siapa juga yang mau nyium kaos kaki jelek begini. Berapa hari ini tidak di cuci."


"Satu bulan sayang."


"Apa...! Mas Darma udah gila. Satu bulan nggak di cuci?"


"Yah, habisnya istrinya nggak mau nyuciin sih."


"Kan ada Mbak Sumi."

__ADS_1


"Aku nggak mau ngandalin Mbak Sumi sekarang. Mulai sekarang yang berhubungan denganku Adek harus yang pegang. Mulai memasak, menyipkan bekal ke kantor, nyuci, buatin kopi. Harus adek sekarang. Jangan Mbak Sumi."


"Tapikan Ratih lagi hamil muda Mas. Nggak boleh terlalu capek."


"Ah, bilang aja kamu malas."


"Ish, Mas. Siapa yang malas. Akulah Ratih si cewek paling rajin. Aku belajar setiap malam. Sekolah juga nggak pernah bolos. Pulang juga tepat waktu. Malas dari segimananya?"


Setelah itu Ratih kembali ke tempat belajarnya, Sementara Darma pergi ke kamar mandi untuk mandi.


"Ah, pusing banget nih. Mr Edwin, Ratih itu nggak suka pelajaran bahasa inggris. Tapi ini di suruh bikin cerita bahasa Inggris. Gimana caranya, malas kalau setiap kata harus buka kamus. Ah, aku mibta tolong aja sama Mas. Mas pasti jago bahasa inggrisnya"Gumam Ratih.


Sesaat kemudian, Darma keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah, wangi sabun dan sampo yang menempel di tubuh dan rambutnya, membuat Ratih menjadi terpana.


Ratih tak berkedip memandangi suaminya.


Darma yang di pandangi oleh istrinya cuma bisa bersiul sembari memakai baju.


Glek. Ratih menegak salivanya saat melihat suaminya ganti baju. Dia menutup matanya rapat-rapat dengan tanganya. Tubuh seksi Darma tampak terekspos sempurna.


He he... suamiku cakep amat yah. Nggak nyangka aku punya suami secakep dia. Perutnya sickpack, kulitnya putih. Ish, nggak bisa bayangin deh kalau Mas ada yang ngerebut. Pokoknya Ratih itu, juga harus tampil cantik. Biar Mas Darma nggak berpaling kelain hati. Batin Ratih.


...****************...


Pagi ini, Inayah terburu-buru berangkat ke kantor. Namun apa yang terjadi di kantor. Inayah di gunjing seluruh karyawan kantor. Mereka menggosipi Inayah habis-habisan.


Inayah masih melangkah ke arah kantor. Namun semua mata menatap ke arahnya.


"Lihat tuh pelakor. Nggak tahu malu banget. Masih berani datang ke kantor ini." Kata Yulia karyawan kantor Husni.


"Iya ish, nggak nyangka deh. Ternyata Inayah yang kelihatannya wanita baik itu, tega banget yah. Mau aja di jadikan istri simpanan oleh bosnya sendiri." Novita menimpali.


"Ah, namanya juga pelakor. Semua pelakor itu sama, kalau di kawinin sama pria yang sudah beristri pasti mau aja." kata Andin.


Inayah segera masuk ke ruangan Husni. Inayah tidak mau lagi memperdulikan ucapan orang-orang itu. Yah, sejak jadi istri Husnikan, Meja kerja Inayah di pindah ke dalam ruangan Husni. Entahlah apa yang selama ini Husni lakukan. Dia mencintai Inayah atau hanya berkedok untuk menjaga ke hormatannya saja.


"Yang kemarin itu, istrinya Pak Husni yah?" tanya Novita.


"Iya." Jawab Yulia.


"Tapi tunggu deh, aku rasa, Inayah sama istrinya si bos itu, wajahnya agak mirip yah?" kata Andin.


"Yah mirip dari mananya. Bu Nara itu cantik luar dalam. Nggak ada yang bisa ngeraguin kesetiaannya." ujar Novita.

__ADS_1


"Bukan itu, kamu lihat deh, wajah mereka itu hampir mirip. Kayak kaka beradik." Kata Andin lagi.


"Alah, nggak usah bandingin.wajah Inayah dengan Bu Nara. Bu Nara itu orang kaya, dia lulusan Kairo,Sementara Inayah apa? dia kan cuma orang miskin yang cuma ingin memanfaatkan hartnya si bos Husni doang." Kata Yulia.


__ADS_2