Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
bab 48


__ADS_3

Setelah sampai di depan cafe Abang gojek berhenti.


"Neng, ayo bangunlah. Ini sudah sampai. Nanti keburu kamu tidak melihat suamimu selingkuh." Kata sang Abang gojek.


Ratih malah semakin nyenyak saja. Suara dengkurnya pun terdengar. Membuat si Abang gojek tersenyum.


"Untung kamu cantik neng, Jadi nggak apa-apa lah kalau lama-lama tidur sambil bonceng gini." kata si Abang gojek.


Setelah Asri pergi, Darma tidak langsung pulang. Dia masih memesan lagi makanan untuknya. Sepertinya dia sangat kelaparan. Maklumlah Darma kelaparan. Sejak Mbak Sumi dan seluruh pembantu di liburkan, Darma dan Ratih, hanya bisa memasak nasi goreng dan mi instan.


Dan karena saking malasnya, buatin kopi untuk suaminya pun Ratih tidak pernah.


Namun Darma selalu bersabar untuk bisa memahamai dan mengerti istrinya.


Setelah menghabiskan seluruh makannya, Darma pun pulang.


Saat dia melangkah ke depan cafe, Dia di kejutkan oleh kehadiran cewek misterius itu. Darmapun mendekat.


"Ratih...!" ucap Darma dengan nada tinggi. Membuat Ratih terbelalak.


"Bang, kita udah nyampai ya." tanya Ratih pada Abang gojek tanpa memperdulikan Darma di sampingnya.


"Ngapain kamu malam-malam sama Abang-abang ini. Dan ngapain kamu pakai pakaian kayak gini." tanya Darma dengan tamoang marah.


Ratih terkejut. Seluruh tubuhnya merinding. Tapi kenapa harus Ratih yang takut. Ratih kan tidak melakukan apa-apa.


Ratih pun akhirnya turun dari motor dan melepas helmnya.


"Mas Darma...!"


"Ratih, kamu jawab pertanyaan Mas. Ngapain kami ada di sin heh !" Bentak Darma.


"Aku...Aku...itu Mas..." Ratih tampak gugup.


Tanpa pikir panjang lagi, Darmapun menyeret Ratih untuk ikut bersamanya pulang, tanpa memperdulikan gojek itu.


Abang gojek tersadar saat Darma dan Ratih sudah masuk di dalam mobil dan mobil itu telah meluncur ke area luar parkiran. Ternyata penumpangnya itu, belum bayar.


"Ah, dasar penumpang sialan. Naik ojek kok nggak mau bayar. Awas aja kalau ketemu," Kata si Abang gojek itu sebelum pergi.


Darma menyeret Ratih. Dia memasukan Ratih ke dalam mobil dengan paksa.


"Ish, Mas Darma apa-apaan sih...!"

__ADS_1


"Kamu yang apa-apaan. Kamu kenapa berduaan sama ojek itu."


"Mas, aku kan itu, cuma..."


"Ratih, Mas nggak suka kamu peluk-pelukan sama lelaki lain."


"Kok malah Mas Yang sewot. Harusnyakan aku. Mas udah jalan berduaan kan sama mbak Asri. Dan Mas ninggalin aku sendiri."


"Iya. Tapi aku nggak ngapa-ngapain sama Asri."


"Tapi tetap aja Mas itu sudah selingkuhin aku."


"Hei nggak bisa gitu dong. Mas nggak pernah meluk-meluk sampai bersandar kayak kamu pelukan sama tukang ojek itu..


"Tapi aku ketiduran Mas. Dan aku nggak sengaja pelukan kok."


"Tapi tetap aja. Tukang ojek itu, bukan muhrim mu."


Di sepanjang perjalanan, Ratih dan Darma berantem. Mereka sama-sama tidak mau mengalah.


Dan mereka sama-sama diam. Dalam mobilpun tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut mereka.


Hanya ada suara deru mobil dan klakson yang ada di antara jalanan yang macet itu.


Dan sesampai di rumah, Darma langsung menggendong Ratih seperti membawa sekarung beras.


"Nggak mau. Aku mau terkam kamu malam ini sampai habis."


Ratih menangis.


Sesampai di kamar, Darma meletakan tubuh Ratih di atas tempat tidurnya.


Ratih memejamkan matanya. Dia benar-benar takut kalau Darma akan menerkamnya habis-habisan. Dan mungkin saja Ratih akan kesiangan lagi sekolahnya kalau Darma menghukumnya.


Darma tersenyum.


"Siap-siaplah adek. Habis kau malam ini. Kau akan menjadi santapan malam ku... Ha ha..."


"Aku nggak mau. Mas Darma kan kemarin udah melakukan itu. Aku nggak mau. Besok aku mau sekolah. Aku nggak mau telat lagi gara-gara begadang ngelayanin kamu."


"Kalau gitu, kenapa kamu mau menikah! Kenapa kamu nggak sekolah aja."


"Tapi kan aku terpaksa." kata Ratih membela diri.

__ADS_1


"Siapa yang memaksamu?"


"Mama dan Mas Darma. Bukannya Mas Darma yang ngotot banget untuk nikah dengan ku sampai-sampai ingin nikah bareng Mas Husni."


"Tapi Mas nggak memaksamu untuk nurut sayang. Lagian kenapa kamu berpakaian detektif kayak gini sih. Kamu mau buntutin aku dengan Asri yah?"


Ratih menggeleng.


"Nggak. Aku nggak membuntuimu."


"Bohong, kamu pastienguntit di belakangku. Sekarang terimalah hukumanmu Ratih, karena kamu tidak mempercayai suamu mu ini."


Akhirnya untuk yang keberapa kalinya Darma melakukan aksi malamnya bersama Ratih. Bahkan mereka begadang sampai pagi. Pengantin enam bulan seperti pengantin malam pertama aja. Lembur terus sampai Darma kesiangan ke kantor, dan Ratih kesiangan ke sekolah.


***


Amerika.


Malam ini, di sebuah apartemen mewah, tampak Nino sedang mengepaki baju-bajunya. Sejak kejadian di apartemennya beberapa waktu lalu, sejak Arfan dan Darma memergokinya akan meniduri Ratih, Nino sangat frustasi.


Nino kemudian melarikan diri ke Amerika. Yah, selama mengenal Ratih, sang playboy Nino tampak sudah terjerembab ke jurang cinta yang terdalam. Dia benar-benar jatuh cinta pada Ratih, dan ingin merebut Ratih dari Darma. Mungkinkah Nino akan menghancurkan hubungan Ratih dan Darma. Atai mungkin Nino akan dengan tega memisahkan mereka berdua. Entahlah hanya Nino yang tahu.


"Besok aku akan terbang ke indonesia."


Kata Ninoa.


"Yah aku tahu." Kata gadis yang berada di sebelah Nino.


Dia adalah Okta sahabat Nino. Mungkin biasa di bilang kekasih gelap Nino. Nino membawanya ke Amerika untuk melayani dia di sana.


Di sana Nino sudah tinggal sekamar dengan gadis itu, dan hubungan mereka juga sudah seperti hubungan suami istri. Dan pergaulan bebas selalu menyelimuti kehidupan Nino.


"Kamu pasti akan menemui gadis kecil itu kan, gadis tercinta mu itu." kata Okta.


"Iya itu benar." Kata Nino sembari melangkah ke arah ranjangnya. Dia menghempaskan tubuhnya di tepian ranjang.


"Tapi kenapa Nino, harus gadis kecil itu yang kamu kejar. Diakan sudah mempunyai suami. Dan suaminya itu, sahabatmu sendiri kan." Kata Okta yang sudah tahu betul dengan kekasih gelapnya. Bukan di katakan kekasih juga, karena mereka tidak saling mencintai. Karena Okta hanya gadis yang di pakai untuk pelampiasan nafsunya saja.


"Aku nggak bisa ngelupain Ratih Okta. Semakin aku melupakannya aku semakin tertarik padanya. Aku cuma penasaran aja sama gadis muda kayak dia. Aku pengin ngerasain aja bagaimana berhubungan dengan gadis belasan tahun."


"Mcek. Kamu itu, nggak pernah berubah yah. Masih sama kayak dulu. Kalau lagi suka sama cewek, nggak pernah mau nyerah untuk dapati dia."


Nino menyeringai licik.

__ADS_1


"Lihat saja , aku pasti akan dapatin Ratih. Aku pasti bisa merebut Ratih dari tangan Darma. Lihat saja nanti. Apa yang akan aku lakuin buat mereka berdua."


Okta yang sudah kenal betul siapa Nino, cuma geleng-geleng kepala. Sebenarnya Nino dan Okta tidak saling mencintai, Mereka cuma sekedar sahabat dekat aja. Tapi karena pergaulan bebas , Okta jadi ikut-ikutan kayak Nino. Terlalu bebas.


__ADS_2