Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 43


__ADS_3

"Ratih, Ayo kita pulang! kenapa kamu nggak nunggu Mas jemput saja sih?" ajak Darma yang seprtinya sudah melunak.


"Om maaf... aku pulangnya di antar Pak guru. Dia itu Pak guru Rama. Guru olah ragaku."


Oh syukurlah. Jadi mereka memang sebatas murid dan gurunya.


"Am om am om. Emang aku ini om kamu! berhenti panggil aku om!" ketus Darma.


"Iya deh Mas Darma."


Arfan tersenyum kecil. Setiap ada di dekat pasangan Ratih dan Darma, entah kenapa Arfan begitu sangat terhibur.


Ratih gadis yang unik, dan Darma yang polos, karena sampai sekarang dia tidak berani nyentuh cewek termasuk istrinya.


Sudah empat bulan menikah, namun Darma tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Ratih. Dia hanya berperan seperti pasangan adik kakak, dan om sama ponakan.


Tapi jangan salah, kalau Ratih sekarang sudah jago membuat kissmark di mana-mana. Sekarang Ratih mesumnya sudah level akut. Yah siapa lagi gurunya, kalau bukan Mas Darma tercintanya itu.


"Om kamu udah ada di sini. Ya udah Ratih, kalau gitu aku pulang dulu. Aku udah bayar semuanya kok. Kamu tenang aja."


Om? dasar guru sialan. Emang aku ini Omnya Ratih !


Pak Rama kemudian pergi meninggalkan Ratih dan Darma.


"Arfan ayo kita pulang!" ajak Darma pada Arfan.


Darma menyeret pelan tangan gadisnya itu. Kemudian mereka bertiga memutuskan untuk pulang.


****


Koper-koper besar milik Bu Arum dan Pak Arwan sudah tampak Rapi berjejer di depan teras rumahnya.


Pak Arwan dan Bu Arum sudah tampak rapi. Mereka sekarang akan melakukan kunjungan ke Kanada. Mengunjungi salah satu cabang perusahaanya di sana.


Mungkin Pak Arwan dan dan Bu Arum akan pergi cukup lama. Mungkin mereka akan memakan waktu sampai satu bulanan di sana.


Darma tampak merasa lega. Lagi-lagi mesum akutnya kumat.


Sana kalian berdua pergi sejauh-jauhnya! biar aku nggak ngerasa terganggu lagi. Nggak ada kalian, sekarang aku udah bisa puas ngapa-ngapain Ratih. Secara, Mas Husnikan udah pindah kerumahnya sendiri. Aku sangat penasaran dengan Ratih.


Darma menyeringai.


Ratih yang sedang berdiri di samping Darma langsung mendekat ke arah Bu Arum.


"Ma, Ratih pasti akan kangen banget sama Mama."


Bu Arum mengelus rambut Ratih.


"Sayang, Mama nggak akan lama kok. Kamu jaga diri yah baik-baik, Kalau kamu butuh teman, Kamu bisa main ke rumah Kak Nara atau ke rumah orang tuamu. Kamu udah lama kan nggak kesana."


Ratih tersenyum.


"Iya Ma. Sejak aku menikah, aku belum pernah main ke rumah Mama Lisna. Aku jadi kangen sama mereka."


Setelah itu Bu Arum dan Pak Arwanpun pergi. Dan rumahpun udah semakin sunyi. Rumah sudah tampak sepi . Mbak Sumiati dan pembantu yang lainnya sudah di liburkan. Sekarang rumah ini hanya ada Darma dan Ratih.

__ADS_1


Kali ini adalah libur semester satu. Ratih libur dari aktivitasnya belajar. Dan akhir tahun, pekerjaan Darma sudah semakin berkurang. Dia jadi terlihat lebih santai.


Dia tidak pernah pulang malam lagi.


****


Pagi-pagi Ratih sudah tampak berkutat di dapur. Pagi ini dia akan memasakan sarapan yang spesial untuk suaminya.


Omelet dan nasi goreng kesukaan Darma. Yah, itukan yang sering di buatin Bu Arum untuk bekal Darma ngantor.


Darma mendekat ke arah Ratih.


Darma memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Masak apa sayang? kayaknya enak banget."


"Ini Mas. Aku mau bikinin kamu nasi goreng kesukaan kamu."


Darma masih bergelanyut manja di tubuh Ratih.


"Ih Mas, tunggu di sana dulu. Geli aku Mas. Jangan cium-ciumin aku terus." Ratih merasa risih karena bibir Darma sudah mulai nakal.


"Kamu wangi banget sayang, bikin Mas jadi nggak tahan."


"Udah deh, jangan kumat lagi mesumnya. Ini tuh sepi sayang, Kata orang, kalau laki-laki dan perempuan berduaan di dalam satu ruangan, ketiganya itu syaiton."


"Oh iya? "


Darma malah semakin usil. Tempat sepi, rumah sepi, dia sudah bisa leluasa untuk godain dan jahilin istrinya.


Darma memang berbeda dari lelaki lain. Dia itu sangat perhatian pada istrinya. Dia sosok lelaki idaman yang selalu memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Layaknya seorang pengawal yang menjaga tuan putrinya.


Darma dan Ratih masih menyantap nasi gorengnya. Seperti begitu nikmatnya. Keduanya sama-sama terdiam dan tak saling bicara. Hanya dentingan suara sendok yang masih menggema di ruang makan.


Di sela-sela kunyahannya, Darma menatap Ratih.


"Sayang, kamu liburkan?" tanya Darma pada Rath.


Ratih hanya mengangguk.


"Aku juga mau libur sayang." ucap Darma lagi.


"Kenapa?"


"Cuma lagi pengin bareng sama kamu aja."


"Tapi inikan, bukan hari libur."


"Ya terserah dong. Orang kantor juga kantorku. Siapa yang berani pecat aku."


"Iya juga sih." Kata Ratih sembari menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Adek. Hari ini Mas mau minta jatah nih."


"Jatah apa?"

__ADS_1


"Kan Adek udah Mas kasih jatah setiap bulan untuk shoping. Sekarang kamu giliran ngasih Mas jatah."


"Ih kok gitu. Kan aku nggak kerja Mas. Masak aku harus ngasih Mas jatah. Mas ini ada-ada saja deh. Uang dari mana aku."


Darma menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Huh gimana caranya aku ngejelasinnya kalau aku pengin minta anu. Kan mumpung sepi. nggak ada Mama. Ah benar-benar istriku ini nggak peka.


"Sayang, kita kan udah setengah tahun menikah, aku pengin melakukan itu sayang."


uhuk...uhuk...


Ratih yang sedang minum tersedak.


"A... apa..!"


"Nggak usah terkejut gitu sayang, santai aja. Kalau kamu nggak mau juga Mas nggak maksa."


"Tapi aku nggak mau hamil dan punya anak Mas."


"Ih, siapa juga yang mau punya anak. Kalau punya anak siapa yang mau ngurus. Orang ibunya Oon gitu."


"Apa...Mas bilang aku bloon!"


Ratih berdiri. Dia tidak terima di bilang bloo. Tanpa membereskan tempat makannya, dia pergi meninggalkan Darma di ruang makan dan melangkah menuju ke kamarnya.


"Ngambek lagi deh."


Darma kemudian membereskan semua bekas makannya dan mencuci piring di dapur. Benar-benar lelaki yang super sabar menghadapi istrinya yang super malas.


Setelah semua selesai, Darmapun menyusul istrinya di kamar.


Dia melihat istrinya berbaring di ranjang.


"Adek, Kalau habis makan nggak boleh tidur lagi. Duduk dulu." Ucap Darma.


Ratih diam. Dia cuma bisa memanyunkan bibirnya.


Darma kemudian duduk di sisi ranjang.


"Maafkan Mas yah sayang..."Kata Darma sembari membelai lembut rambut Ratih. Belaian tangan lembut Darma, yang membuat Ratih semakin menggilainya sampai hati Ratih tidak bisa berpaling pada lelaki lain.


Ratih menatap Darma lekat.


Kasihan Mas, Aku udah tega banget yah sama dia. Selama jadi istri, aku belum mau di apa-apain suamiku. Tapi kalau Mas Darma mau sekarang, aku nggak apa-apa deh. Lagian kata mbah google sakitnya cuma sebentar. Dan setelah itu akan berubah jadi rasa nikmat. Kayak apa yah rasanya?


Ratih mulai berfikir mesum. Membayangkan dirinya dan suaminya melakukan hal itu.


Ratih tersenyum penasaran.


"Mas Adek udah siap kok."


"Siap apa."


Pake nanya lagi. Tadi dia sendirikan yang minta jatah. Sebel deh ama Mas.

__ADS_1


__ADS_2