Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 14


__ADS_3

Makan malam kali ini, terlihat berbeda. Karena ada satu tamu istimewa yang di undang ke rumah Ratih.


Siapa lagi kalau bukan Darma.


Kali ini Ratih sudah kembali seperti biasanya. Kakinyapun sudah normal lagi untuk berjalan. Namun kali ini dia harus nurut apa kata mamanya.


Yah nggak usah sekolah. Tapi nikah aja. Memang kelihatan konyol.


Sekarang fikiran Ratihpun sejalan dengan fikiran mamanya, fikiran konyol.


Tidak usah sekolah tinggi-tinggi.Toh kerjaan perempuan cuma kasur-dapur-sumur.


Tapikan ini udah jaman emansipasi wanita Ratih.


"Nak Darma. Kapan Nak Darma nikahin Ratih?" tanya Bu Lisna.


Cih apa-apaan ini. Aku fikir dia udah move on ngebahas masalah pernikahan.


"Eh, nggak tahu." Jawab Darma kikuk.


"Eh nggak apa-apa. Akad nikah aja. Nggak usah resepi. Yang pentingkan kalian sah di mata hukum dan agama," kata Bu Lisna Lagi.


Apa lagi ini. Akad nikah doang tanpa ada resepsi? aduh, apa kabar diriku nih. Nanti orang pikir, kalau Ratih hamil di luar nikah.


Darma melirik Ratih. Ratih mengedikan bahunya.


Ah sial. Kenapa aku harus kejebak begini sih.


"Iya Bu. Nanti yah kalau Kakak ku udah nikah."


"Kakakmu mau nikah? kenapa kita tidak nyempil aja ke pesta penikahan mereka." Cetus Ratih tiba-tiba.


"Apa nyempil? Maksud kamu?" tanya Darma bingung.


"Kita nebeng. Sekalian penghulunya suruh buat nikahin kita." Jawab Ratih konyol.


Darma masih bingung dengan kedua oang di hadapannya. Ibu dan anak ternyat sama saja. Sama-sama punya fikiran konyol.


Setelah selesai makan, Bu Lisna kembali berkutat di dapurnya untuk mencuci piring.


"Dek, Apa maksud kamu nyempil?" tanya Darma yang tampak masih bingung.


"Iya. Saat kakak kamu nikah kan masih ada Pak Penghulu, kita suruh aja penghulu nikahin kita. Bereskan.


Aku mau nikah sama kamu. Kalau kamu mau." Kata Ratih tersipu.


Sebenarnya dia malu juga untuk mengatakan itu.Tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah terlanjur jatuh cinta.


Cinta entah dari mana datangnya. Namun setiap kali Ratih dekat dengan Darma, dia jadi ngerasa nyaman dan ngerasa di lindungi.


Ratih juga nggak mau kehilangan Darma. Ratih selalu ingin Darma ada di sampingnya.

__ADS_1


"Sekolahmu?" tanya Darma.


"Kata Mama aku suruh berhenti aja."


"Apa aku nggak salah dengar? kamu mau berhenti sekolah? tapi kenapa Ratih? Kamu kan harus ngelanjutin cita-cita kamu." Darma masih tampak shock.


"Ya, aku mau berbakti aja ama Mama. Ucapan Mama ada benarnya juga kok. Kalau tugas seorang perempuan itu di rumah." Kata Ratih.


"Nggak bisa gitu dong! " suara Darma meninggi. Dia tampak menantang keras dengan keinginan Ratih untuk putus sekolah.


Ini anak udah benar-benar tumpul otaknya. Benar-benar udah kehasut ama omongan Mamanya. Dia bilang mau berhenti sekolah?


"Emang Mas Darma mau, kalau aku nikah sama orang lain?" tanya Ratih tiba-tiba.


Darma terkejut mendengar ucapan Ratih.


Bagaimana bisa Ratih ngomong kayak gitu. Setelah pengorbanan Darma selama ini. Menemaninya di kala kesusahannya, merawatnya di kala dia sakit, dan sekarang dia bilang, mau nikah sama orang lain?


Aduh adek, pikiran kamu itu di taruh dimana sih? kenapa kamu harus kehasut sih sama omongan Mamamu?


Ratih menggeser kursinya mendekat ke arah Darma. Ratih bergelanyut manja di lengan Darma.


"Aku nggak mau kehilangan kamu Mas. Mungkin kalau Mas pergi dari aku, aku bisa bunuh diri."


Mata Darma terbelalak mendengar ucapan Ratih. Dia tampak terkejut. Darma sadar kalau yang ada di sampingnya itu bukanlah gadis biasa, melainkan gadis kelainan mental.


Dia bisa melakukan apapun jika merasa di sakiti. Dia tak akan segan-segan untuk menyakiti dirinya.


"Mas kata orang, Malam pertama itu enak lho."


Darma tersedak ludahnya sendiri.


Ini bocah ngomong apa sih.


"Kamu ngomong apa sih?"


"Mas." Ratih memandang wajah Darma, sembari salah satu tangannya menyangga dagunya.


"Apa?" Darma grogi.


"Mas. Mas semakin hari makin cakep aja."


"Iya. kamu juga." Ucap Darma singkat.


Dia jadi salting. Nggak nyangka kalau gadisnya rupanya pandai merayu. Ah, mungkin Ratih sudah menyerap semua ilmu rayuan maut Darma.


Hati Darma semakin bergemuruh.


***


Di ruang keluarga.

__ADS_1


Malam ini, hanya hening yang masih menyelimuti keluarga Darma. Hanya suara televisi yang masih menggema di ruangan tersebut.


"Darma udah pengin nikah Ma." Ucap Darma tiba-tiba yang sontak membuat Bu Arum, Pak Arwan, dan Mas Husni terkejut.


Dan ketiga orang itu mengalihkan pandangan mereka pada Darma.


"Kamu pengin nikah? nikah sama siapa?" tanya Pak Arwan papa Darma sembari meletakan koran dan membenarkan letak kaca matanya.


"Ya nikah sama orang." Jawab Darma datar.


Nikah ama oranglah, masa ama kambing sih Pa.


"Emang udah ada calon?" tanya Mas Husni sembari masih memainkan hapenya.


"Iya udah ada." Jawab Darma mantap.


"Cepat amat move on nya." Cetus Husni.


"Ya udah. Nanti tahun depan Mama dan Papa nikahin kamu. Untuk tahun ini, biar kami fokus dulu pada pernikahan Kakakmu," kata Bu Arum.


Aduh tahun depan. Kenapa tahun depan? Keburu Ratih di nikahin pria lain dong. Ah Mama ini !


"Nggak bisa Ma. Aku penginnya nebeng aja nikahnya." Darma terus merengek.


"Nebeng? nebeng gimana maksud kamu?" tanya Pak Arwan tak mengerti.


"Ya itu, dua minggu lagikan, Mas Husni nikah? papa ngomong aja ama penghulunya, untuk nikahin aku saat itu juga. Biar sekalian gitu."


"Jangan main-main Darma! Nikah itu bukan untuk mainan! siapa yang nyuruh kamu untuk membuat ide gila kayak gitu." Bu Arum emosi.


ha ha ha....Husni tertawa.


"Ini semua salah Mama. Kenapa Mama nggak nikahin dia duluan dengan Asri. Dia gila itu pasti karena Asri. Husni yakin, kalau di hatinya masih naruh dendam sama Asri.


Makanya dia mau buktiin pada Asri, dia juga bisa cepat nemuin pengganti Asri." Husni berasumsi sendiri.


"Jangan bodoh kamu Darma! Mama juga belum tahu siapa wanita yang mau kamu nikahi. Bagaimana latar belakangnya? kata Bu Arum lagi.


"Ah, pokoknya Darma mau cepat nikah. Nggak usah pakai tunangan. Tanpa resepsipun tak apa, yang penting Darma nikah." Kata Darma tetap dalam pendiriannya.


"Ya udah. Kalau kamu pengin nikah. Sekarang bawa pacarmu kesini?" pinta Pak Arwan.


Darma tercengang.


Aku harus bawa Ratih kesini? duh gimana yah reaksi Papa dan Mama? Kalau mereka sampai tahu, kalau yang mau aku nikahi itu bocah. Belum bisa ngapa-ngapain lagi.


"Baiklah besok aku ajak dia kesini." kata Darma penuh keyakinan.


Yah, Darma sudah merasa sangat yakin dengan perasaannya pada Ratih. Darma juga sudah sangat mencintai Ratih.


Darma tersenyum lebar, hatinya sangat berbunga-bunga seperti telah mendapat hadiah lotre.

__ADS_1


***


__ADS_2