
Hujan siang ini turun begitu derasnya. Ratih masih berdiri di depan kelasnya. Dia masih dengan Adista. Masih setia menunggu jemputan.
Siang ini Darma tidak bisa menjemput Ratih karena Darma harus ada meeting dadakan.
"Rat, Gimana nih kita pulangnya? hujannya deras banget lagi. Om kamu belum jemput?" tanya Adista.
"Om Darma lagi sibuk meeting." Jawab Ratih.
"Yah, kita pulang naik apa dong! aku nggak ada tumpangan nih."
"Emang supir kamu nggak jemput?"
"Heuh, supirku lagi mudik kampung."
"He he...kayak lebaran aja."
"Ya gitu deh. Pokoknya tiga bulan sekali dia harus pulang kampung."
"Yah maklumlah, paling kangen sama istrinya. Kan kalau orang udah nikah, pengin ehem ehem." Kata Ratih sembari menahan tawa.
Entah kenapa lagi-lagi fikirannya kemana-mana. Mungkin ini efek dari suaminya. Suami otaknya ngeres istrinya juga ikut-ikutan. Apa lagi semakin hari Ratih semakin tumbuh menjadi orang dewasa.
"Apa sih Ratih maksud kamu. Ngeres banget. Kita itu nggak boleh berfikiran kayak gitu. Kitakan masih kecil."
Kecil sih menurut mu. Aku udah gede kali. Aku udah punya suami. Kamu aja yang nggak tahu kalau Om Darma itu suami aku.
Di belakang Ratih dan Adista, tampak seorang lelaki bertubuh jangkung itu berdiri. Siapa lagi kalau bukan makhluk tampan yang kemarin bola basketnya mengenai kepala Ratih.
"Wah...Pak Rama..." Ucap Adista dan Ratih kompakan.
Adista dan Ratih tampak terpana. Mereka melihat guru tampan itu tak berkedip.
Wah cakep banget, dia benar-benar cakep banget. Benar-benar mengingatkan ku pada Mas Darma.Tapi tunggu...
Di sela-sela lamunanya tiba-tiba Ratih melihat sekelebat bayangan ada di kening Pak Rama.
Tapi kenapa di keningnya Pak Rama ada Mas Darma. Mas Darma kok jadi berubah kayak monster gitu. Ada tanduknya, juga ada taringnya. Dia seperti mau menerkamku. Ah mana mungkin sih, ini pasti halu aku aja.
" Hey, kalian kok malah jadi pada bengong gitu. Kayak habis ngelihat hantu aja."
Ratih dan Adista tersadar.
"Iya kami lagi lihat hantu ganteng di depan kami." Kata Adista yang membuat Pak Rama senyam-senyum sendiri.
"Oya, kalian kok masih di sini. Kalian nggak ada yang jemput?" tanya Pak Rama.
"Ah, Pak Rama ini tahu aja deh. Emang kita nggak ada yang jemput kok." kata Ratih.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu, aku antarin kalian pulang gimana."
"Oke, aku mau banget Pak." Adista tampak antusias.
Pak Rama pun akhirnya mengantar kedua gadis ABG ini pulang.
Pak Rama mengantar Adista duluan ke rumahnya. Dan setelah itu, Pak Rama ngantarin Ratih.
"Ratih rumah kamu di mana, masih jauh yah?" tanya Pak Rama yang masih serius menyetir.
"Dekat kok Pak. Sebentar lagi juga nyampe." Jawab Ratih.
Ratih dan Pak Rama tampak canggung. Di dalam mobil, mereka cuma berdiam diri tanpa banyak bicara.
Ih nih orang, kaku banget sih ! nggak kayak Mas Darma. Coba kalau Mas Darma, baru kenal aja udah langsung colak-calek. Ini orang nggak seru. Diamnya minta ampun.
kriuuk...
Suara cacing dalam perut Ratih berbunyi nyaring. Sepertinya cacing di perut Ratih belum di kasih makan oleh majikannya.
"Kamu lapar Ratih?" tanya Pak Rama.
Ratih terkikik.
"Bapak tahu aja..."
"Nggak usah Pak Rama." Ratih menolak merasa tidak enak.
"Aku yang akan traktir kamu oke, anggap aja aku ini sahabatmu. Bukan pak gurumu."
"Terserah Bapak aja deh."
Ratih akhirnya tidak bisa menolak ajakan Pak Rama. Karena memang sekarang, dia sudah sangat kelaparan.
Biasanya kalau pulang sama suaminya, pasti suaminya akan mengajak Ratih makan dulu.
Dia kemudian mengikuti saja kemana Pak Rama pergi.
Pak Rama mengajak Ratih ke sebuah restoran tempat favorit Pak Rama.
"Di sini nih Ratih, tempat favorit aku. Aku biasanya kalau sama teman-teman, biasa nongkrong di sini."
Nongkrong? yah nongkrong adalah kegiatan Pak Rama, maklumlah Pak Rama itukan masih bujangan. Sama Darma aja umurnya masih mudaan Pak Rama.
Coba tebak berapa umur Pak Rama.
Pak Rama masih 23 tahun. Baru lulus kuliah kemarin.
__ADS_1
***
Di sisi lain.
Setelah selesai bertemu dengan klien, Darma dan Arfan tampak sedang menikmati makan siangnya.
Mereka makan dengan suasana yang hening. Mungkin mereka sudah sangat lapar. Karena sedari tadi mereka belum makan siang. Rapat di kantor yang sangat menjemukan bagi Darma,
membuat Darma dan Arfan harus menanggung lapar.
Tiba-tiba Arfan berhenti mengunyah. Dia se akan-akan sedang mempehatikan secara detail wajah seseorang yang di kenalnya.
"Lihat bro, bukannya itu Ratih. Dia sama siapa tuh?" kata Arfan sembari menunjuk kearah Ratih
Darma menoleh ke arah yang Arfan tunjuk.
Iya. Darma juga sangat mengenal sosok gadis imut itu. Dia Ratih istrinya.
Dunia memang begitu sempit sampai-sampai dari banyaknya restoran yang ada, kenapa Darma harus ada di restoran yang sama seperti Ratih.
Darma tampak begitu emosi. Tangannya mengepal. Sorot matanya penuh intimidasi. Memang benar kata Ratih, kalau suaminya marah memang seperti monster. Cuma tidak ada tanduk dan taringnya aja.
"Sabar Darma, tahan emosi lu. Ini di tempat umum." Arfan mencoba menenangkan.
"Iya gue tahu. Gue percaya ama istri gue. Ratih nggak mungkin ngehianatin gue. Diakan gadis unik, gadis polos. Nggak akan sembarangan orang bisa merebut hatinya."
Darma beranjak dari duduknya. Dia kemudian melangkah menghampiri Ratih dan Pak Rama.
"Ratih. Ngapain kamu di sini? Dan siapa lelaki itu?" tanya Darma mencoba setenang mungkin mengendalikan emosinya. Dia tidak mau membuat kekacauan di tempat umum.
Walau hati Darma saat ini, sudah benar-benar mendidih, dan ubun-ubunya sudah penuh dengan kobaran api cemburu, namun dia tidak mau gegabah. Dia akan memastikan dulu, siapa lelaki yang sedang bersama Ratih saat ini.
"Om Darma," Ratih langsung memeluk Darma erat.
Membuat Darma jadi bingung.
Apa-apaan ini adek. Kenapa kau memeluk Mas kayak nggak pernah ketemu puluhan tahun. Aku itu lagi marah sama kamu Ratih. Aku lagi cemburu banget sama kamu. Kenapa kamu pakai acara meluk segala sih.
" Om kemana aja sih? Ratih kan dari tadi nungguin Om di sekolah. Kenapa Om nggak jemput aku?"
Darma yang masih di rundung emosi mencoba melepaskan pelukan istrinya.
"Ratih lepas dulu, Mas nggak bisa nafas nih."
Ratih kemudian melepas pelukannya.
Arfan yang sedari tadi berdiri di samping Ratihpun ikutan bingung. Dengan perubahan panggilan Ratih yang berubah dari Mas menjadi om.
__ADS_1
Sejak kapan Darma jadi Omnya Ratih, dan Ratih jadi ponakannya Darma. Batin Arfan.