
Hari ini adalah hari minggu.
Ratih dan Darma sudah tampak siap untuk pergi ke rumah Kak Arfan.
"Dek, kamu udah siap Dek?" tanya Darma pada istrinya.
Ratih diam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas, aku seperti melupakan sesuatu."
"Apa. Kamu itu kan udah cantik sayang. Apa yang kamu lupakan?." tanya Darma.
Ratih diam. Dia beruasa untuk mengingat apa yang akan di bawanya.
"Kamu jadi pelupa banget sih Dek? Kamu mau bawa apa. Semuanya udah siap. Itu tas kamu juga ada di sana." Kata Darma.
Ratih menoleh.
"Iya Mas. Itu tas ku." Kata Ratih menyeringai.
Ratih kemudian mencangkleng tasnya.
Setelah itu Ratih dan Darma pergi ke luar dari kamarnya. Wangi harum tubuh mereka menandakan kalau mereka mau pergi jauh.
"Kalian mau kemana?" tanya Mama Arum.
"Biasa Ma. Mau jalan." jawab Ratih.
"Gimana Ma. Ratih cantik kan? dia juga udah mulai jinak Ma sekarang sama aku." Kata Darma sembari merangkul bahu istrinya.
Bu Arum tersenyum.
"Jinak kayak hewan aja."
Ratih melotot ke arah Darma. Dia memukuli Darma.
"Aduh...ampun Dek...ampun." Kata Darma sembari menangkis pukulan Ratih.
"Rasain kamu Mas. Mas bilang aku jinak, Mas samain aku kayak hewan yah?"
"Siapa yang nyamain kamu sama hewan sayang. Emang yang jinak itu hewan doang. Manusia juga bisa jinak kok." kata Darma.
"Sudah...sudah...kalian nggak usah berantem. Apa kalian nggak capek siang malam berantam terus."
"Ish, siapa yang berantem Ma. Ratih kalau malam nggak berantem kok. Ratih kalau malam belajar dan tidur."
"Jangan percaya Ma. Setiap malam kita berantem Ma. Ratih itu kalau berantem menang terus. Nanti biar anaknya kayak Ratih cantik."
Ratih mencubit pinggang Darma.
"ish, sebel deh. Mas itu deh, bercanda mulu. Nggak pernah mau serius."
Darma mengecup pipi Ratih. Membuat wajah Ratih merona.
"Sudah, duduk dulu! Mama udah siapin sarapan untuk makan kalian." Kata Bu Arum.
Darma dan Ratih kemudian duduk di ruang makan. Sementara Mama Arum masih berkutat di dapur bersama Mbak Sumi.
__ADS_1
Yah, sejak Ratih jadi menantunya Bu Arum, malah Ratih yang sangat di sayang dari pada Darma. Ratih bukan di benci malah tambah di sayang oleh mertuanya. Apalagi waktu mengetahui Ratih itu sedang hamil. Sekarang justru Ratih seperti putri saja. Mungkin Bu Arum juga merindukan sosok anak permpuan.
"Dek,sana, bantuin mama di dapur. Katanya kamu mau belajar masak."
Ratih diam saja. Dia sedang asyik dengan ponselnya. Membuat Darma kepo. Darma mencoba mengintip sedikit.
Adek kok asyik banget sih main hapenya. Jangan-jangan lagi chatan ama cowok.
"Dek. Asyik banget sih lagi ngapain?" tanya Darma.
"Kepo." Ujar Ratih.
"Kamu lagi balas chat siapa sih."
Ratih diam. Dia malah tertatawa.
Ha...ha..
Darma bingung. Dia kemudian merebut hape Ratih.
"Ish...Mas Darma nyebelin deh. Mana hapenya sini..."
Darma melihat hape Ratih.
Diapun ikutan tertawa. Ternyata dari tadi Ratih membaca komik lucu.
Darma sekarang malah yang pegang hape Ratih. Dia ketawa-ketawa tidak jelas gara-gara membaca komik.
"Mas. Sini hape aku...! kembalikan."
Ratih dan Darma berebut hape layaknya anak kecil. Membuat heboh di ruang makan.
"Nyonya. Den Darma sama Mbak Ratih seperti kakak beradik saja yah. Setiap hari mereka berantem melulu."
"Kayaknya Darma anak ku ikutan koslet Mbak otaknya deh."
Mbak Sumiati tersenyum-senyum.
"Lucu yah Bu. Cuma mereka berdua aja udah bikin heboh."
"Iya Mbak Sum. Makanya aku nggak mau punya cucu dari Ratih dulu karena itu. Dia belum dewasa. Dan suaminya juga ikutan nggak waras kayak gitu."
"Ha...ha... Jangan begitu nyonya. Bagaimanapun juga itukan anaknya nyonya."
"Iya Mbak Sum. Udah ah, ngapain kita gosipi mereka. Nggak ada untungnya."
Bu Arum kemudian meninggalkan Mbak Sum. Dia menuju ke arah meja makan.
"Sini Mas."Ucap Ratih
"Nanti dulu. Mas pinjam. Lagi seru nih."
Ratih tampak cemberut. Matanya berkaca-kaca sepertinya dia akan menangis. Namun dia tahan.
Tiba-tiba saja Pak Arwan datang.Dia langsung mengambil hape Ratih dari tangan Darma.
"Lho kok hapenya ngilang? "Ucap Darma.
__ADS_1
Darma menoleh ke belakang.
"Papa."Ucap Darma kemudian.
"Kamu ini, kapan dewasanya? Kenapa kamu nggak mau ngalah sama adik kamu? lihat lah, dia hampir nangis." Kata Papa Arwan sembari duduk.
"Adik. Dia istriku Pa. Bukan adik ku. Adik Darma itukan belum lahir. Masih ada di rahimnya mama." Kata Darma.
"Sudah Darma. Nggak usah mulai." kata Bu Arum yang sudah duduk di samping suaminya.
Bu Arum kemudian mengmbilkan nasi untuk suaminya, untuk Ratih dan untuk dirinya.
"Aku nggak usah di ambilin Ma. Biar Ratih aja yang ngambilin. Mulai sekarang aku cuma mau di layanin Ratih. Enak saja punya istri nggak mau ngelayanin suaminya. Malah sibuk baca komik."
"Ih. Mas Darma. Aku udah ngelayanin kamu terus kok kalau malam." kata Ratih.
"Kalau malam beda Dek. itukan memang tugas kamu dan nggak bisa di gantikan sama orang lain. Masa ngelayanin cuma kalau malam doang. Siangnya juga dong."
"Ya harus ngelayanin kayak gimana lagi?"
"Ya buatik kopi, nyiapin baju kerja. Masak istri bangunnya ke duluan suami. Istri macam apa kamu?"
"Ih, Mas Darma. Ratih itu sibuk sekolah."
"Ya tapi kan kamu bisa bangun lebih awal Ratih,"
"Ratih nggak biasa bangun subuh-subuh. Ratihnya masih ngantuk Mas Darma."
"Hush, sudah jangan pada berantem." Ucap Pak Arwan yang merasa terganggu.
Darma dan Ratih pun diam.
"Yah, kok malah pada ngelamun?" tanya bu Arum.
"Kenapa Darma? kamu nggak mau makan?" Tanya bu Arum.
"Aku maunya Ratih yang ngambilin nasinya."
"Ya udah sini." Kata Ratih. Dia kemudian mengambil piring yang ada di samping Darma.
Ratih menyedokan secentong nasi di piring Darma. Dan tak ketinggalan pula sayur dan lauk pauknya.
"Nah, gitu dong sayang. Belajarlah dewasa."
Ratih tampak menggerutu.
"Dasar suami manja."
"Apa kamu bilang?"
Ratih menoleh ke arah suaminya.
"Apa?Ratih nggak bilang apa-apa." elak Ratih.
Darma dan Ratih kemudian makan bersama di ruang makan. Mereka berempat makan dengan hikmatnya. Tampaknya kali ini mereka tidak ada perbincangan yang serius.
Karena masalah Husni dan Nara, itu akan di selesaikan sendiri oleh si pembawa biang masalah. Siapa lagi kalau bukan Husni. Husni yang buat masalah, masak orang tuanya yang harus turun tangan untuk menyelesaikannya. Pasti masalahnya itu akan di selesaikan oleh mereka berdua.
__ADS_1
Bu Arum dan Pak Arwan masih fokus saja dengan ke hamilan Ratih yang masih sangat muda.