
"Maaf...maaf..." dengus Kenzo kesal.
"Yah, gitu aja ngambek sih ish, sebel deh. Aku kan nggak sengaja."
Kenzo mengamati Ratih dari atas sampai bawah.
Kenzo tersenyum. Dia cantik, mungil, imut lagi. Kayaknya dia udah punya cowok belum yah? ah aku dekatin aja lah, siapa tahu dia bisa naksir sama aku."
"Oke gue maafin. Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" tanya Ratih.
"Syaratnya, aku mau dong minta nomer kamu. Boleh kan?"
"Untuk apa?"
"Ya, kitakan satu sekolah gimana kalau kita berteman." Kata Kenzo penuh harap.
"Oke."Ratih tampak menyetujui.
Ratih tidak tahu apa yang sedang Kenzo rasakan. Kalau Kenzo itu naksir sama Ratih. Yah, Kenzokan tidak pernah tahu kalau sebenarnya Ratih itu sudah bersuami. Jadi Kenzo fikir kalau Ratih itu jomblo.
Ratih dan Kenzo kemudian bertukaran nomer hape.
"Oh iya. siapa nama kamu?" tanya Kenzo.
"Aku Ratih Anggraini," Jawab Ratih.
"Oke aku akan simpan di kontak ku namamu." Kata Kenzo sembari mengotak-atik ponselnya. Kemudian dia menyimpan nama sayangku di ponselnya. Yah, bukan nama Ratih tapi nama sayangku.
"kalau nama kamu siapa?"
"Aku Kenzo. Biasa di panggil Ken."
"Oh, Oke. Kita bersahabat yah?"
"iya."
Ratih dan Kenzo kemudian berjabat tangan. Setelah itu Kenzo mengantar Ratih pulang.
"Ah,akhirnya sampai juga Ken. Terimakasih yah? udah mau nganterin aku." Ucap Ratih.
"Sama-sama Ratih. Kalau kamu perlu apa-apa kamu bisa hubungi aku yah?"
Ratih mengangguk. Dia kemudian melangkah pergi ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam Ratih terkejut. Mas Darma ternyata sedang memeluk Kak Nara yang sedang menangis.
Ratih menangis. Dia tidak kuat melihat Mas Darma memeluk Kak Nara.
"Mas Darma, Kak Nara, kenapa kalian berpelukan di depan aku? Kalian selingkuh? kalian jahat...!" Ucap Ratih sembari pergi.
__ADS_1
Darma dan Nara terkejut.
"Astaga, Darma, istrimu salah paham. Gimana ini" Kata Nara sembari mengusap air matanya.
"Aduh, gawat Kak. Darma mau kejar Ratih dulu yah."
Darma kemudian mengejar istrinya. Yah, lagi-lagi Ratih seperti itu, dia memang belum bisa menjadi sosok yang dewasa. Setiap mas Darmanya itu memeluk perempuan pasti akan di anggap selingkuh oleh Ratih. Padahal tadi kan Darma refleks memeluk kakak iparnya karena mau menghiburnya.
Ratih berlarian di jalan. Dia menangis sembari berlari. Hatinya sangat hancur. Baru kali ini Ratih melihat suaminya memeluk wanuta lain tepat di depannya.
"Jadi selama ini,Mas Darma udah bohongi aku?kenapa kak Nara dan Kak Darma selingkuh. Aku benci mereka. Hiks...hiks.."
Ratih semakin jauh. Darma oun kehilangan jejak lagi.
"Ah, aku tahu, kalau istriku itu kalau lari seperti kuda. Jadi mana mungkin aku bisa mengejarnya. Ah, aku harus pakai mobil untuk mencarinya. Aku nggak may Ratih kenapa-napa." Kata Darma.
Setelah itu Darma pergi mencari Ratih dengan mobilnya.
...****************...
"chiiiiit." Nino ngerem mendadak saat ada seorang perempuan berseragam putih abu-abu itu melintas di depannya.
"Ah, sial. Kenapa sih tuh bocah, nyebrang nggak lihat-lihat."
Ratih menatap ke arah mobil, yang membuat Nino terkejut.
Nino kemudian turun dari mobilnya.
"Ratih,kamu kenapa?kok kamu nangis."
"Hatiku sakit banget Nino. Aku sakit, Mas Darma udah jahat sama aku."
Nino tersenyum. Yah mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mencuci otaknya Ratih. Di saat Ratih sedang kalut seperti ini.
"Sudah Ratih jangan menangia. Aku ada di sini untuk menjagamu. Kamu bisa ceritakan semua masalahmu padaku."Kata Nino.
"Nino aku sakit banget melihat Mas Darma memeluk cewek lain."
" udah nggak usah nangis yah. Sekarang kamu ikut aku, aku pasti bisa membuatmu tersenyum lagi."
Nino melepas pelukan Ratih. Kemudian dia mengusap wajah ratih yang penuh air mata.
Nino tersenyum.
"Sekarang kamu ikut aku yah? aku akan membawamu ke suatu tempat biar kamu itu bisa melupakan semua masalahmu."
Ratih mengangguk. Diapun mau di ajak Nino pergi. Entah Nino akan mengajak Ratih kemana. Namun untuk saat ini Ratih sedang lupa. Kalau Nino dulu pernah mau menidurinya.
Nino mengajak Ratih ke rumahnya.
"Ayo Ratih masuk."Ucap Nino.
__ADS_1
"Makasih."
Ratih masuk dan duduk di ruang tengah.
Nino mengambil lima bungkus tisu untuk Ratih.
"Ish,Nino apa ini, kenapa kamu memberiakan aku tisu sebanyak ini, Emang kamu mau nyuruh aku memakan tisu-tisu ini?"
Nino tersenyum. "Yah, kemarin kamu nangis juga habis banyak kan tisunya." Kata Nino.
Sementara itu di lain sisi, Darma masuh tampak menyetir mobilnya. Dia melirik ke arah luar jendela mobilnya. Namun gadis kecilnya itu tak kunjung di temukan.
"Adek, kenapa kamu membuatku cemas terus. Aku lagi menghibur Kak Nara. Kami juga nggak sengaja pelukan kok. Kami cuma terbawa suasana aja." Gumam Darma yang sudah tampak lelah.
...****************...
Malam ini Darma begitu tampak frustasi. Seharian Darma tidak menemukan istri kecilnya itu.
"Kemana kamu Ratih?" Ucap Darma sembari bersandar di sofa.
Nara menatap Darma iba. Kemudian dia mendekat.
"Darma, maafin kakak yah? gara-gara kakak istrimu jadi salah paham sama kita."
" Ini bukan salah kamu Kak. Ratih memang over banget kalau cemburu. Dia itu cuma cemburu buta. Cemburu yang tak beralasan." Kata Darma.
Setelah seharian Bu Arum dan Oak Arwan pergi, mereka kemudian sampai juga di rumah. Mereka tampak bahagia. Sepertinya mereka telah meluangkan waktu berdua untuk jalan-jalan. Yah, mereka itu memang pasangan yang sangat romantia, dan jarang berantem.
Pak Arwan sangat setia pada Bu Arum. Begitu pula Bu Arum. Mungkin dari dua anaknya, Darma Ratih yang akan menuruni mereka.
"Wah,Ma.Jam segini, Ratih dan Darma udah tidur belum yah?"Ucap Pak Arwan.
"Palingan sih udah Pa. Ah, mama tahu betul siapa Darma. Dia itukan mirip sama kamu Pa. Suka sekali ngurung istrinya di kamar."
"Ha..ha.. mama masih ingat saja."
"Iya. Papa itu, nggak pernah bisa membiarkan mama hidup tenang. Mama dandan cantik sedikit saja pasti malamnya akan menjadi santapan papa."
"Ha..ha..."
Pak Arwan tertawa. Dia melangkah masuk sembari merangkul istri kesayangannya.
"Darma...Ratih... Di mana kalian Nak? Apa kalian udah tidur?." seru Mama Arum.
Di rumah tampak sepi. Entah kemana perginya Darma, Ratih dan Mbak Sumiati.
"Udah Ma, jangan teriak-teriak. Inikan udah jam sepuluh, mereka pasti sudah tidurlah."
"Iya juga sih ya Pa."
Pak Arwan melangkah ke belakang. Tiba-tiba saja pandangan mereka tertuju pada sosok Darma dan Nara yang sedang terduduk di sisi kolam renang.
__ADS_1
"Itu bukannya Nara sama Darma, mereka lagi ngapain jam segini ada di sana."
"Iya. Kita samperin yuk. Seperti orang galau. Diam-diaman gitu Ma."