
"Ih...Mas Darma. Itu kan bubur aku. Kenapa di makan!" Kata Ratih dengan nada tinggi.
"he he...nggak apa-apa. Kan kamu udah nggak mau. Jadi Mas makan." Kata Darma terkekeh, sembari menyantap bubur ayam Ratih.
"Maksud Aku, itu kan bubur bekas aku makan," kata Ratih yang matanya masih saja mengamati gaya Darma makan.
"Nggak apa-apa. Toh sebentar lagi kamu akan jadi istri aku." Kata Darma santai.
"Apa...!" Suara Ratih kembali melengking.
Darma berhenti mengunyah.
"Sssttt. Bisa nggak sih kalau ngomong jangan sambil teriak! kalau tetangga kamu dengar gimana? nanti aku di sangka mau ngapa-ngapain kamu lagi." Gerutu Darma.
"Habisnya Mas ngeselin sih...!" kata Ratih tidak terima.
"Ngeselin gimana Dedek cantik?" Darma mulai menggoda.
"Jangan panggil aku Dedek. Aku bukan bayi."
"iya, Adek maksud Mas."
"Jangan panggil aku Adek. Aku bukan adeknya Mas!"
"Oh iya Mas lupa. Sayang...jangan marah lagi yah?"
"ih...Mas Darmaaa..."
Darma langsung meletakan mangkoknya dan dengan sigap langsung membungkam mulut Ratih
ehmmmmhh
"sssttt. Mas bilang kalo ngomong jangan sambil teriak! berisik! Kalau kamu teriak mau Mas cium."
Mata Ratih membelalak. Mulutnya masih terbungkam oleh tangan Darma. Ratih menggelengkan kepalanya.
Setelah Darma melepas tangannya, Ratih sontak langsung memukul-mukul Darma dengan bantalnya.
"Ih...Mas mesum. Mas mesum...!"
"Gak apa-apalah mesum ama pacar sendiri."
Ratih dengan kuat mencubit pinggang Darma sampai Darma mengerang kesakitan.
"Iya... iya ...ampun ampun..."
Kamu tambah ngegemesin aja Dek. Mas jadi tambah suka sama kamu.
"Kamu ternyata bisa galak juga yah." Kata Darma sembari menoel pipi Ratih.
__ADS_1
Lagi-lagi Rati tersipu di buatnya.
"Kalau lagi marah gini, kamu jadi tambah cantik dan ngegemesin." Ucap Darma sembari terus mengalirkan senyuman di wajahnya.
***
Malam semakin larut. Bulan purnamapun tampak bulat sempurna. Di iringi bintang-bintang yang bertebaran di langit. Terlihat malam ini tampak terang dan damai.
Angin yang semilir terasa masuk menembus pori-pori dan menusuk kerelung hati.
Dua kakak beradik sedang duduk di teras depan rumahnya. Mereka seperti sedang asyik menikmati kopinya.
"Kamu udah punya penggantinya Asri?" tanya Husni membuka percakapan.
"Belum Mas." Jawab Darma singkat.
Aku nggak tahu Mas dengan perasaanku saat ini. Aku memang belum bisa move on dari Asri. Memang cukup sulit untuk melupakan cinta pertama.
Dan aku juga nggak tahu perasaanku pada Ratih. Tapi gadisku itu memang penghibur hati ku saat ini. Walau aku merasa, kalau aku belum bisa sepenuhnya membuka hatiku untuk wanita lain. Namun akan aku coba.
"Kalau kamu mau menikah dulu, ya Mas nggak keberatan. Menikahlah! dan nggak usah nungguin Mas."
"Ah, udahlah. Nggak usah bahas masalah ini! Biarkan Allah saja yang menentukan. Itu semua kan sudah kehendak Nya."
"Iya, tapi Mas juga merasa bersalah. Gara-gara kamu nungguin Mas nikah, kamu jadi gagal sama Asri."
Ini semua bukan salah Mas. Aku juga belum siap nikah."
"Assalamualaikum." ucap Asri tiba-tiba.
Darma dan Husni menoleh secara bersamaan.
"Asri! ngapain kamu malam-malam kesini?" tanya Darma ngegas.
"Santai aja sih ngomongnya Dar, nggak usah ngegas gitu dong. Aku kesinikan cuma kangen aja sama kamu. Cuma pengin ngobrol-ngobrol aja." Kata Asri dengan santainya.
Dia seperti melupakan statusnya sebagai istri orang.
"Ya udah As. Silahkan duduk sini. Aku mau masuk.
Nggak enak udaranya. Dingin.
Kalau bisa, jangan sering pakai yang pendek-pendek. Aurat... nanti masuk angin. Pakai jaket!" Kata Husni melangkah kedalam sembari membawa secangkir kopinya.
"Ngapain sih lo kesini?" tanya Darma sinis.
"Santai aja sih ngomongnya."
"Ckckck...Kamu bodoh apa ***** sih. Kamu itu udah punya suami! ngapain kamu masih nyamperin aku." Geram Darma.
__ADS_1
Darma mengedarkan pandangannya kesekeliling. Malam sudah semakin larut. Jalanan komplek rumahnya sudah terlihat sepi.
Aduh ini cewek apa-apaan sih, malu-maluin orang aja. Kalau ada tetangga yang lihat gimana nih urusannya. Bisa-bisa aku lagi, yang akan kena semprot Pak RT.
"Lah kitakan tetanggaan. Kan kita udah sepakat menjadi sahabat."
"Terus suami lo mana?" tanya Darma jengkel.
"Nah makanya dari itu, aku kesini cuma mau bilang, kalau suamiku sudah terbang ke Jepang.
Dan mungkin pulangnya lama. Aku di rumah kesepian Dar." Jawab Ratih menuturkan.
"Terus?"
"Ya, aku mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu."
"Lo udah gila ya As! kalau punya otak itu di pakai! jangan di taruh di dengkul mulu. Lo itu udah jadi istri orang. Ngapain lo main ke rumah mantan, sementara suami lo lagi nggak ada di rumah. Apa lo mau ngajakin gue selingkuh. Kalau lo mau ngajakin gue selingkuh, mending sana pulang aja. Nggak ada yang namanya mantan jadi teman!"
"Aku tuh cuma mau ngomong. Kalau sebenernya, aku masih cinta sama kamu. Aku susah sekali move on dari kamu."
"Lo itu benar-bener wanita nggak tahu malu yah! nggak punya perasaan!" Bentak Darma.
"Darma, tolong dengerin aku dulu! sebenernya selama ini, aku nggak pernah cinta sama suamiku."
"Kalau nggak cinta, kenapa kamu nikah sama dia?"
"Aku terpaksa. Karena aku malu, aku selalu mendapat gunjingan dari teman-teman aku. Aku nggak mau mereka ngata-ngatain aku perawan tua."
"Cih. Alasan yang nggak masuk akal." Darma tersenyum kecut.
"Darma, tolong maafin aku."
"Dari dulu yah kamu, memang nggak pernah berubah. Masih aja sama. Selalu gampang terpengaruh kata-kata orang. Jangan-jangan, kamu nikah dengan lelaki itu, juga karena pengaruh teman kamu dan ibu kamu yang penging gendong cucu.
Tapi buktinya apa, Belum ada setengah tahun udah di tinggal keluar negri. Sama aja bohong dong. Kapan ibu kamu bisa punya cucu. Sementara suami kamu aja pergi sebelum hamilin kamu."
Asri sangat tertampar dengan kata-kata Darma barusan.
Yah ... asri mengakui kalau selama ini dia itu salah. Yang di katakan Darma itu memang benar. Kalau dia terpengaruh dengan omongan orang.
Asri malu karena di katain perawan tua. Asri juga selalu di pojokin oleh teman-temannya. Teman-temannya mempengaruhinya, sehingga Asri sampai meninggalkan Darma.
Mungkin di antara mereka, memang ada yang sengaja membuat hubungan Asri dan Darma terpecah belah. Karena dengan itu, dia bisa memiliki kesempatan untuk mendekati Darma.
"Ngapain lo masih mematung di sini? sana pulang! nggak baik wanita malam-malam datang ke rumah laki-laki. Apalagi suaminya lagi nggak ada di rumah."
Tak lama kemudian, Darma masuk meninggalkan Asri. Asripun bangkit dari duduknya dan pulang dengan langkah gontai.
***
__ADS_1