
"Kenapa berhenti?" tanya Darma.
"Mas," Ratih menatap lekat Darma.
"Ada apa sayang?" tanya Darma.
"Kakiku sakit." jawab Ratih yang tangannya masih mengutak-ngutik high heelsnya.
Ratih kemudian mencopot high heelsnya tersebut. Dan mencangkingnya.
Aish, anak ini. Kenapa dia malah nyeker?
"Kenapa di copot Adek?" tanya Darma.
"Sakit Mas. Aku nggak pernah pakai sepatu setinggi ini. Aku jadi susah jalannya."
"Tapi jangan di copot di sini dong sayang. Nyopotnya nanti. Kalau kita udah sampai di mobil."
"Mas mau nyiksa aku yah? Mas nggak bilang mau ajak aku kemana, dan sekarang Mas maksa aku makai high heels sialan ini!" Ratih tampak kesal.
"Siapa yang mau nyiksa kamu adek?"
Sesampai di parkiran mobil, Ratih memasukan sepatunya ke mobil.
Setelah itupun, Darma melaju dengan mobilnya meninggalkan butik tante Karisa.
"Sebenarnya Mas mau bawa aku kemana sih?"
"Ada deh..."
"Ih Mas kok gitu sih sekarang."
Darma masih senyam-senyum sendiri nggak jelas.
Nanti juga kamu akan tahu sayang. Aku akan kenalin kamu ke orang tuaku.
***
Rumah mewah dua lantai.
Yah disinilah sekarang Ratih berhenti. Darma memarkirkan mobilnya di garasi.
"Kok kita kesini sih Mas?" tanya Ratih yang matanya masih menyusuri kesekeliling rumah Darma
"Iya. Ini rumahku. Lebih tepatnya rumah kedua orang tuaku."
"hah...!" Ratih terkejut.Tak menyangka kalau Darma punya rumah semewah ini. Besarnya berkali-kali lipat dari rumahnya.
Ratih masih dengan rasa takjubnya.
Ini seperti mimpi.Ternyata Mas Darma anak orang kaya.Wah...rumahnya besar sekali. Rumahku yang dulu aja nggak segede ini.
"Ayo masuk Dek. Dan pakai sepatunya dulu." Darmapun berjongkok dan memakaikan sepatu Ratih.
Wah, Mas Darma romantis banget. Dia mau memakaikan sepatu segala. Aku benar-benar seperti berada di negeri dongeng sekarang. Aku cinderela, dan Mas Darma pengerannya.
__ADS_1
"Ayo pakai, malah bengong...! "pinta Darma mendongakan kepalanya ke atas menatap Ratih.
"I...iya...Mas. Aku bisa pakai sendiri."
"Ah, aku nggak percaya. Tadi aja kamu nyopotnya dengan susah payah. Mana bisa kamu pasang sendiri. Kamu kan nggak pernah makai high heels kayak gini. Kampungan! " Darma mengoceh sembari memakaikan sepatu itu di kaki Ratih.
"Apa...! " suara Ratih meninggi. Dia merasa tidak terima di bilang kampungan.
Darma kembali berdiri.
"huhh," Darma mendesah mencoba sabar menghadapi Ratih.
Ratih kemudian mengikuti Darma masuk. Darma mengajak Ratih keruang keluarga lalu melangkah lagi ke meja makan.
Darma kemudian memperkenalkan Ratih kepada kedua orang tuanya dan Mas Husni.
Mas Husni senyam-senyum sendiri melihat Ratih. Dia tampak geli melihat adiknya. Masa iya dia bawa bocah SMP ke rumah untuk di kenalkan sebagai calon istrinya.
Bu Arum dan Pak Arwanpun demikian. Melihat Darma tampak konyol sekali. Mereka tidak bisa membayangkan kalau nanti Ratih jadi menantunya, pasti Bu Arum yang paling di repotkan. Apalagi kalau Ratih dan Darma punya anak.
Yah, usia Ratih memang sudah genap 17 tahun. Tapi dengan tubuh mungilnya, dia masih tampak seperti bocah 14 tahun.
"Selamat malam Om, Tante. " Sapa Ratih.
Bu Arum dan Pak Arwan pun tampak menyambut hangat kehadiran Ratih. walau dalam hati mereka, masih punya perasaan tidak suka pada Ratih.
Bukan karena apa-apa. Tapi karena Darma memilih gadis di bawah umur. Bagaimana kehidupannya kelak?
***
Ratih tidak berani untuk berbicara. Dia hanya bisa curi-curi pandang menatap ketiga orang yang baru di kenalnya.
"Ratih, boleh tante tanya sesuatu?" ucap Bu Arum memecah kesunyian.
"Iya tante boleh." Kata Ratih di sela kunyahannya.
"Orang tuamu punya usaha apa?"
"uhuk...uhuk." Darma tersedak.
"Mas nggak apa-apa?" Ratih mencoba menolong.
"Iya nggak apa-apa."
Apa yang harus aku bilang nih.Masa aku bilang kalau Ratih cuma anak cleaning service.
"Punya usaha restoran Ma. Iya kan Ratih?" bohong Darma
Ratih melotot ke arah Darma.
"Oh gitu yah? berapa usiamu?" tanya tante Arum.
"17 tahun tante."
"Masih sangat belia yah, kamu kelas berapa sekarang?"
__ADS_1
Darma dan Ratih saling manatap.
"Ma, Ratihnya lagi makan. Jangan di tanyain macam-macam dulu! " pinta Mas Husni.
"Iya Ma, Mama ini. Biar kita selesaikan makan kita dulu." Pinta Pak Arwan.
"Oke," jawab Mama.
Setelah selesai makan malam, keluarga Darma tampak berbincang -bincang di ruang keluarga.
"Mas, Aku mau minta izin ke toilet dulu yah." ucap Ratih.
"Iya. Ayo aku antar" Darmapun kemudian berdiri dan mengantar Ratih ke toilet.
"Ngapain sih Mas ngikut! "
"Yah, kan mau ngantarin kamu."
"Mas sekarang pergi! aku nggak perlu di antar. Dari tadi deh, kerjaanya ngeselin mulu!"
"Iya."
Ratih di toilet.
Sementara Darma balik lagi ke ruang keluarga.
"Darma, jujur sama Mama. Sebenarnya siapa Ratih?" tanya Bu Arum.
"Jujur apa sih Ma? " Kata Darma bingung harus menjelaskan apa.
"Itu bocah, bocahnya siapa ? kenapa kamu bawa kemari. Dari mana asal-usulnya.Kalau asal-usulnya nggak jelas gitu, Mama nggak akan setuju kamu nikah sama Dia."
"Dia Ratih Ma pacarku.Dia juga punya orang tua yang masih lengkap."
"Tapi Darma.Kamu jangan konyol gitu dong Nak.Nikah itu bukan main-main. Mama tahu kamu kesal sama Asri, tapi ini buka begini cara balas Asri."
"Ma, ini bukan masalah Asri atau siapapun. Ini masalah hati Darma Ma. Aku sangat mencintai dia."
"Jangan bodoh kamu Darma. Kamu mau nikahin bocah ingusan kayak dia? Mikir dong Darma.
Dia itu masih anak-anak, dia nggak pantas buat kamu. Dia terlalu muda. Dia lebih pantas jadi keponakanmu. Mama yakin, kalau kamu akan kerepotan ngurus dia. Mama nggak bisa sampai bayangin deh bagaimana jadinya kalau kamu jadi nikah sama dia dan punya anak. Aduh..." kata Bu Arum panjang lebar
Husni dan Pak Arwan hanya diam. Mereka cuma jadi penonton aja di acara Drama ibu dan anak itu.
"Udahlah Ma, nggak usah terlalu ikut campur! ini kehidupan Darma Ma, Darma yang mau jalanin hidup. Bukan Mama."
"Pokoknya Mama nggak setuju kamu pacaran sama gadis itu! Dia itu masih kecil. Kamu cari aja yang dewasa. Kayak Nara."
"Ma, jangan gitulah, Darma yakin, sekarang dia kecil. Tapi bukan kah siatu saat dia akan jadi dewasa?"
" Kamu putuskan aja hubungan kamu sama dia. Dia belum bisa menjadi seorang istri. Duh Mama nggak bisa bayangkan punya menantu bocah kayak dia."
Di balik pintu kamar mandi.Ratih tertegun sejenak mendengar percakapan Darma Dan Bu Arum. Hatinya sangat hancur. Terlebih saat Bu Arum menyuruh Darma memutuskan hubungan dengannya.
Jadi Mas Darma ngajak aku kesini, cuma mau nunjukin kalau mamanya nggak suka sama aku. Kenapa aku bodoh sekali? kenapa aku harus datang kesini, kalau yang aku terima cuma penghinaan begini. Sakit hati aku Mas. Mamamu ternyata nggak menerimaku.
__ADS_1
*****