
Pak Andrian ayah Yuli mencoba menenangkan istrinya.
"Sudahlah Ma, jangan bertengkar di sini, malu!" pinta Pak Andrian
***
Bu Lisna dan Pak Rudy telah tiba di rumah sakit. Mereka melangkah menuju kamar rawat Ratih. Bu Lisna tampak begitu kesal.
Gara-gara pertengkaran kecil di pemakaman Yuli, Bu Lisna tampak sangat marah. Gurat wajahnya tampak begitu jelas kalau dia marah besar pada Ratih.
"Ratih," Bu Lisna menatap Ratih nanar.
Ratih dan Darma saling menatap, dan kemudian memandang Bu Lisna.
"Mama, ada apa Ma?" tanya Ratih.
"Udah habis kesabaran Mama selama ini Ratih! kamu itu memang anak pembawa sial! dari dulu sampai sekarang, kamu itu selalu membawa masalah di keluarga kami." Ucap Bu Lisna yang ucapannya selalu membuat hati Ratih terluka.
"Ma, ini rumah sakit Ma, jangan bikin ribut di sini. Kita ngomonginnya kalau Ratih udah di rumah, " pinta Pak Rudy.
Ratih bingung dengan sikap kedua orang tuanya saat ini.
Sebenarnya ada apa sih. Ada apa sih dengan Mama dan Papa.
"Pa, Mama itu udah kesel Pa. Papa lihat sendirikan tadi, Bu Sandra memaki-maki Mama." Kata Bu Lisna tidak bisa terima.
"Apa! Mama habis ketemu tante Sandra?" tanya Ratih.
"Iya. Dan Mama nggak bisa terima. Dia mempermalukan Mama di tempat umum." Kata Bu Lisna menuturkan.
"Maksud Mama apa sih? terus gimana keadaan Yuli. Dia baik-baik aja kan?" tanya Ratih penasaran.
"Baik-baik aja kamu bilang? Yuli itu udah mati! Mati seketika itu juga."
Deg
Ratih masih tidak mengerti dengan ucapan Mamanya.
Ratih melirik Darma.
"Mas kamu bilang Yuli..." ucapan Ratih terpotong. Dia tak kuasa menahan tangisannya. Darma langsung memeluknya.
"Adek, yang sabar yah adek. Ini semua udah takdir." Darma mencoba menghibur.
"Jadi Yuli, Yuli meninggal Mas! Kenapa Mas bohongin aku? Kata Mas, Yuli udah pulang!" Ratih sudah tampak histeris.
Aku udah bunuh Yuli.
Flashback on
Sepulang sekolah Ratih, Yuli, dan Rani pulang bareng. Rani mengendarai motornya sendiri. Sementara Yuli dan Ratih berboncengan.
Di jalan, mereka berhenti di depan mini market. Dan mereka menyempatkan diri untuk berbelanja.
__ADS_1
"Yul Motor kamu bagus deh. Aku jadi pengin nyoba." Kata Ratih sembari memilah-milih barang.
"Ya udah kalau kamu bisa. Motorku itu masih baru lho."
"Enak yah jadi Yuli. Mama Papanya kerja di luar negri. Pengin apa tinggal minta." Kata Rani sedikit merasa iri.
Yuli tertawa kecil.
"Gimana? Bisa nggak?" tanya Yuli.
"Ya bisa sih. Cuma sedikit-sedikit. secarakan, aku nggak punya motor sendiri. Kan motor satu aja di bawa kerja Mama Papa."Jelas Ratih.
"Emang boleh Yul?" tanya Ratih.
"Yah boleh sih, tapi..." Yuli tampak berfikir.
Yuli tahu kalau Ratih tidak begitu lihai dalam mengendarai motor. Apa lagi selama ini, dia tahu kalau Ratih itu jarang pegang motor.
"Jangan ah Rat. Aku takut kamu jatuh." Kata Yuli khawatir.
"Yah Yuli please lah! kali ini, aja.
Iya aku tahu, kalau aku nggak hafal bawa motor. Tapi aku juga sering latihan motor orang tuaku kok. Dan aku pasti akan berhati-hati. Nggak akan aku biarkan motormu lecet Yul."
"Gimana yah." ucap Yuli.
Akhirnya Yulipun mengiyakan permintaan Ratih.
Ratih terdiam. Tiba-tiba saja dia ambruk di pelukan Darma. Ratih pingsan. Seluruh tubuhnya dingin seketika. Wajahnya memucat.
Darma yang melihat Ratih pingsan tampak sangat panik. Kedua orang tua Ratihpun ikut panik. Mereka keluar langsung memanggil dokter.
Darma yang melihat tubuh Ratih yang sudah lunglai langsung membaringkan tubuh Ratih ke ranjang.
"Ratih....bangun dek, bangun." Kata Darma sembari menepuk-nepuk pipi Ratih. Dan selang beberapa menit, dokter datang dan memeriksanya.
Dokter cuma mengatakan Ratih baik-baik saja. Cuma kata dokter Ratih sedikit shock dan masih trauma dengan kejadian mengenaskan kemarin.
Ratih begitu sangat terpukul mendengar semua ini. Entah bagaimana dengan jiwanya nanti. Pasti akan sangat terguncang.
Mungkin depresinya akan kumat lagi.
***
Minggu pagi, sinar mentari sudah memancarkan sinarnya. Ratih masih termenung di atas kursi rodanya. Semenjak pulang dari rumah sakit, dia seperti sudah kehilangan akal kewarasannya.
Senyumnya seketika pudar, tawanya seakan hilang di telan kenangan yang memilukan itu. Dari kejauhan Darma memandang sosok gadis kecilnya.
Kasihan dia. Dia pasti mersa sangat terpukul. Aku harus cari cara, agar Ratih bisa menjadi gadisku yang dulu. Penuh keceriaan dan kemanjaan.
Sekarang Ratih sudah tampak berubah sejak mendengar kabar kematian Yuli. Keceriaanya menghilang entah kemana.
"Dek...Kamu di sini?" tanya Darma sembari berlutut di hadapan Ratih.
__ADS_1
Ratih memandang Darma kesal. Dia masih kesal karena Darma mencoba menyembunyikan kabar kematian Yuli darinya.
"Mas bawa sesuatu nih."
Darma mengeluarkan coklat dari sakunya.
"Taraaa...coklat Dek."
Tak ada ekspresi.
Darma bingung. A**pa lagi Dek yang bisa buat kamu tersenyum. Mas sudah kehabisan cara nih, jangan bikin Mas tambah pusing mikirin kamu Dek. Melihat kamu seperti ini, Mas juga ikut merasakan sakit. Entahlah ada apa dengan perasaanku.
Darma diam. Dia tampak sedang memikirkan cara lain untuk membuat Ratih tersenyum.
"Baiklah, " gumamnya.
Darma pergi ke taman. Dia memetik setangkai bunga mawar. Kemudian dia melangkah menghampiri Ratih.
"Dek tersenyumlah...Mas rindu adek yang dulu. Ini Mas bawain Adek bunga. Adek suka kan bunga mawar?"
Ratih hanya bergeming.Masih mengacuhkan Darma.
"Dek, Mas mau minta maaf yah soal kemarin. Mas nggak bermaksud bohongi Adek. Mas sayang sama Adek. Mas nggak kuat kalau Adek begini terus."
"Mas, anterin aku ke makam Yuli." Ucap Ratih tiba-tiba.
Darma tersenyum. Dia bener-bener gak menyangka, ini pertama kalinya Darma mendengar suara Ratih lagi. Suara yang di rindukannya selama seminggu ini.
"Baik. Mas akan antar kamu kesana." Kata Darma dengan senang hati.
Darma pun akhirnya mau mengantarkan Ratih ke makam Yuli. Mungkin dengan ini Ratih bisa lebih merasa tenang.
Ratih menangis, dia duduk bersimpuh di samping pemakaman Yuli.
"Yuli maafkan aku. Aku yang udah ngebuat kamu jadi begini. Aku nggak tahu lagi harus bagaimana. hiks..."
Ratih masih terus terisak. Darma merangkul bahu Ratih mencoba terus menenangkannya.
"Yang sabar yah Dek."
Ratih memeluk Darma erat.Dia menangis sesenggukan di pelukan Darma. Darma mengusap pipi Ratih yang basah.
"Adek, ikhlaskan Yuli yah. Dia sudah tenang di sisiNya." Darma mencoba untuk menenangkan.
"Mas..."Ratih menatap erat wajah Darma.
Darma menangkup wajah Ratih dengan kedua tangannya.Dan dia kembali memberi kekuatan Ratih.
Sebelum pergi dari pemakaman Yuli, Ratih menabur bunga di atas makam Yuli.
"Yuli, aku akan sangat merindukanmu." Ucap Ratih sebelum kembali ke kursi rodanya.
Darma mencoba membantu Ratih. Yah, selama seminggu ini Darma yang begitu banyak menemani Ratih untuk melalui semua ini.
__ADS_1