
Asri Pov.
Kenapa hatiku sakit rasanya, mendengar Darma akan bertunangan dan menikah dengan gadis kecil itu. Apakah aku masih ada perasaan sama dia.
Entah kenapa, Aku seperti kehilangan satu jiwaku. Aku fikir Darma akan tetap mencintaiku. Tapi nyatanya, dia bisa dengan cepat melupakanku.
Yah, aku tahu aku salah. Aku sudah menduakanya waktu itu.
Namun ini semua juga bukan semuanya kesalahanku. Darma juga salah. Dia tidak pernah peka denganku.
Dia memang romantis, tapi cuma ucapannya saja, tidak dengan
perbuatanya.
Selama sembilan tahun kita pacaran, apa yang pernah dia berikan padaku. Cuma kecupan sekilas di kening dan pelukan sejenak saat aku menangis. Kita kekasih, tapi seperti bukan kekasih.
Status kita memang pacaran.Tapi perbuatan kita cuma seperti seorang kakak yang menjaga adiknya. Aku juga pengin mengharapkan lebih dari sekedar kecupan di kening. Tapi dia tidak pernah peka. Dia tidak seperti seorang lelaki yang memiliki nafsu. Hingga sempat aku berfikir, Darma cenderung lebih menyukai sesama lelaki ketimbang wanita.
Di kantor teman-teman ku juga selalu menanyakan hubunganku. Kapan kita akan tunangan, dan kapan kita akan menikah. Itu yang membuat aku malu. Usiaku sekarang sudah menginjak 27 tahun. Tiga tahun lagi, akan menginjak kepala tiga. Lalu mau sampai kapan aku menunggu Darma?
Aku mencoba membujuk Darma. Namun Darma seperti mengulur-ulur waktu. Dia selalu beralasan menunggu Husni menikah.
Suatu hari, aku di ajak Dinner oleh seorang duda muda, yang tak lain adalah direktur di perusahan tempatku kerja.
Dia adalah Arman wijaya. Namun setelah pernikahan kita baru dua bulan, Arman pergi ke Jepang untuk mengurus bisnisnya di sana.
Ah, rasanya seperti apa hubungan jarak jauh itu. Awalnya Arman memintaku untuk aku ikut ke Jepang. Namun aku menolak dengan alasan, orang tuaku tidak ada yang mengurus. Karena aku adalah anak tunggal, jadi mau bagaimanapun juga, aku harus merawat kedua orang tuaku.
Dan kini aku merasa sendiri. Aku sudah seperti istri yang terbuang. Karena Arman semakin hari seperti semakin menjauh. Dia jarang menghubungiku.
***
Malam ini cuaca begitu cerah secerah pasangan Darma dan Ratih. Mereka Seperti sedang menikmati romantika cinta di kehidupan mereka.
Tangis, canda, tawa, silih berganti di kehidupan mereka berdua.
"Mas, aku kepengin ice cream." Ucap Ratih.
"Ice cream? Kok kayak anak kecil sih?"
"Apa...Mas bilang aku anak kecil !
Aku udah gede Mas. Sebentar lagi mau menikah. Emang anak kecil doang yang suka ice cream." Suara Ratih meninggi.
Seperti tidak terima di bilang anak kecil.
"Iya...iya." Lagi-lagi Darma harus mengalah.
"Mas, aku pengin beli itu."
"Boneka?"
"hmm,"
Ratih menunjuk ini itu, membuat Darma pusing. Semua yang ada di pasar malam itu, seperti hampir terbeli semua oleh Ratih.
Untung Darma berdompet tebal. Jadi dia mau menuruti membeli apapun kemauan Ratih.
__ADS_1
Walaupun dia seorang manager, Namun sesungguhnya bisnis Pak Arwan cabangnya ada di mana-mana. Dan pastilah Darma yang merupakan anak bungsunya, mempunyai kartu kredit pribadi dari ayahnya.
Jangankan membelikan Ratih ice cream, boneka atau coklat. Memberikan fasilitas-fasilitas mewah pun sanggup.
Cuma Darma belum mau terlibat di bisnis ayahnya itu. Dia lebih milih memulai dari nol. Dari jabatan karyawan biasa sampai menjadi manager.
Darma cukup kerepotan karena sudah membawa belanjaan Ratih yang cukup banyak.
Aduh adek, belum jadi istri aja, aku udah capek begini. Bagaimana kalau kita udah nikah dan menjadi suami istri benaran. Aku nggak bisa ngebayangin deh rasanya. Bagaimana kalau sampai kita punya anak.
"Mas, aku capek. Dari tadi aku udah muter-muter keliling pasar malam. Dan semua juga udah aku beli. Sekarang kita istirahat dulu yah Mas." Ratih akhirnya menyerah juga.
Lebih capek mana Ratih, aku sama kamu? apa kamu nggak lihat barang yang aku bawa sebanyak ini. Ini bocah benar-benar lagi ngerjain aku.
Darma mengikuti kemanapun Ratih pergi, sembari mengikuti di belakangnya.
"Mas, kita duduk di situ yuk."
Darma cuma mengangguk.
"Iya sayang. Terserahlah apa mau mu Ratih. Yang penting kamu seneng sayang."
Setelah duduk, Ratih menatap lekat wajah Darma.
tangannya membelai indah wajah Darma. Jari jemarinya se akan-akan menari-nari di wajah Darma.
Membuat hati Darma jadi bergejolak lagi.
Lagi lagi kamu menggodaku Ratih. Kapan sih sehari aja aku nggak kegoda. Kamu itu kecil tapi rayuan dan sentuhanmu membuat tubuh ini melayang.
Mereka saling menatap.
"Iya adek."
"Mas pasti capek yah, "
Darma diam.
Ah, kenapa baru tanyain ini sekarang sih. Aku capek udah dari tadi adek. Kamu telat.
"Yah lumayan." jawab Darma.
"Mas,"
Ratih semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Darma.
Membuat hati Darma bergejolak. jantungnya berdekup kencang. Apa yang akan bocah ini lakukan.
Apakah Ratih akan menciumnya. Jika ia, Darmapun akan menyerahkan seluruh wajahnya untuk Ratih.
Darma memejamkan matanya.
Tiba-tiba
Plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Darma.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Ratih. Kau menamparku?"
"Maaf. Tadi ada ini." Ratih menunjukan telapak tangannya.
"Nyamuk?"
Ratih mengangguk penuh menyesalan.
Sial. Kenapa tadi dia tidak menciumku. Aku fikir dia mau menciumku. Ternyata cuma seekor nyamuk.
***
Setelah Darma mengantar Ratih pulang, dia dikejutkan oleh pemandangan yang tak mengenakan.
Asri telah berdiri menunggu di teras depan rumah Darma.
" Ngapain lo di sini?" tanya Darma ketus.
"Aku pengin ngomong sama kamu sebentar."
"Ngomong apa?"
"Apa benar kamu akan menikah?"
"Iya."
"Dengan anak Abg itu?"
"hemm."
"apakah sudah tak ada sedikit rasa lagi untuk ku?"
"Maksud lo apa sih As,"
"Yah, masak kamu cepat banget lupain aku,"
"Ya terserah gue dong perasaan- perasaan gue. Lagian ini kan udah bukan urusan lo lagi. Lo kan udah nikah. Ngapain sih masih kepo ama kehidupan pribadi orang."
Asri menangis. Tiba-tiba saja Asri mendekap tubuh Darma dengan erat.
"Darma. Maafin aku, aku udah ngehianatin kamu, aku udah nyakitin kamu. Darma aku masih cinta sama kamu."
Darma melepaskan pelukan Asri.
"Kamu apa-apaan sih As, kalau ada yang lihat gimana. ini akan menjadi bomerang besar , di kehidupan aku. Kamu harusnya sadar dong. Kamu itu seorang wanita yang sudah bersuami. Nggak usahlah kamu datang padaku lagi. Kita itu sudah punya kehidupan masing-masing. Kamu harus bisa menjaga harga dirimu. Apalagi menjaga sikapmu padaku.
Setelah itu Darmapun melangkah masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Asri sendiri.
Di sisi lain seorang lelaki tersenyum puas,
Dia berhasil memotret Asri dan Darma yang sedang berpelukan.
"Ha...ha...ini akan menjadi senjata untuk ngehancurin hubungan lo dengan Ratih Darma !" Kata orang itu penuh kepuasan.
"Jalan Pak. "Pinta lelaki itu pada sopirnya.
Setelah itu mobil lelaki itu meluncur dan menghilang dari komplek perumahan Darma.
__ADS_1