Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 20


__ADS_3

Nara dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya, tersenyum.


Inikah hari yang selalu di nanti-nantikan sepasang kekasih, yang mengikat janji suci pada ikatan perkawinan. Kesetiaannya dalam menjalani hubungan jarak jauh itu, telah membawakan hasil.


Nara begitu tampak cantik dengan gaun pengantin yang bersulaman pernak-pernik mutiara kecil.


Banyak motif bunga yang melekat pada gaun pengantin itu.


"Ah, kenapa aku jadi gugup gini yah?" gumam Nara, yang tangannya sesekali memegang dadanya yang penuh debaran.


Nara kemudian memperhatikan pantulan dirinya di cermin.


"Kenapa Nona?" tanya Mba Nunung perias pengantin Nara.


Nara tersenyum." Nggak apa-apa. Aku cuma gugup aja."


"Ya Biasalah Mbak. Kalau pengantin, biasanya akan gugup. Dulu saya juga gitu Nona. Kan ini adalah acara paling penting dalam hidup sepasang manusia. Inikan yang semua orang-orang tunggu, di perjalanan hidupnya." Kata Mbak Nunung yang masih merapikan make up Nara.


Lagi-lagi Nara tersenyum melihat tampilan dirinya di cermin.


"Itu benar-benar aku Mbak? aku nggak lagi bermimpikan menjadi seorang pengantin."


"Nggak nona, ini nyata. Nona sangat cantik. Pasti nanti Tuam Husni akan terkagum-kagum sama Nona."


Di sisi lain.


Husni mondar-mandir di kamarnya. Dia berlatih melafalkan ucapan ijab qobul berkali-kali.


Hatinya sangat bergemuruh.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nara Aida binti Ghufron Mubarok dengan seperangkat alat sholat..."


"Ha...ha...ha..."


Suara Darma memecahkan kesunyian di kamar Husni. Husni menoleh ke arah adiknya.


"Mas...Mas... gitu aja pakai latihan."


"Heh, jangan ngejek gitu. Aku lagi gugup banget nih."


"Ha...ha...Gitu aja gugup."


"Kamu belum ngerasain sih jadi pengantin." Mas Husni tampak kesal, karena konsentrasinya latihan di ganggu adiknya.


"Aku nggak bakalan kayak Mas Ghusni. Cuma kalimat dikit aja masak nggak hafal-hafal. Anak TK aja hafal kali Mas." Darma mengejek lagi sembari keluar kamar.


Sepertinya dia cuma mau mengecoh Kakanya saja.


Mas Husni menghela nafasnya dalam.


"Dasar adik sialan. Awas aja kamu nanti bakalan aku balas. Aku yakin semua lelaki juga pasti akan merasakannya. Termasuk kamu Darma." Gumam Husni


***


"Saya terima nikah dan kawinnya, Nara Aida binti Ghufron Mubarok, dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai satu juta rupiah di bayar tunai."


Setelah ketiga kalinya mengucap ijab kabul, akhirnya pernikahan Mas husni dan Nara Aida sah juga.


Pernikahan itu berjalan dengan lancar.


sah


sah...


"Alhamdulillah..."

__ADS_1


Semua orang merasa bahagia.


Nara mencium punggung tangan suaminya. Kemudiam Mas Husni mencium kening istri yang baru di nikahinya.


Darma melirik ke arah Ratih. Meereka saling pandang.


"Pak penghulu. Mumpung semuanya sudah pada berkumpul di sini, aku mau bilang. Bisa juga nggak Pak penghulu nikahkan kami berdua sekarang." Kata Darma yang sontak membuat semua orang yang ada di sana tercengang.


Mereka saling memandang dengan tingkah konyol Darma.


"Darma. Kamu apa-apaan sih." Bu Arum tampak kesal.


Darma hanya menyeringai.


Semua orang tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah konyol Darma. Membuat Ratih jadi tidak nyaman, karena menahan malu.


Begitu pula dengan kedua pengantin itu.


"Nak, nikah itu bukan perkara mudah. Kalau mau nikah, yah daftar dulu ke KUA. Biar dapat buku nikah." Kata Pak penghulu meyakinkan.


"Kok nggak bisa Pak, kenapa?"


"Kalaupun bisa, itu namanya nikah siri. Cuma sah di mata agama."lanjut Pak Penghulu.


"Darma udah tua Oon juga yah." Gumam Arfan berbisik pada Nino.


"Yah kali." Ucap Nino tanpa semangat.


Mungkin dia cemburu melihat kedekatan Darma dengan Ratih.


"Darma. Malu-maluin aja sih." Kata Bu Arum sembari matanya sesekali melirik ke arah para tamu undangan.


Bu Arum mendekat ke arah Darma dan menjewernya.


"Auh...Sakit Ma..." Kata Darma nyengir-nyengir.


***


Mungkin saat ini, adalah waktu yang tepat untuk ngomong pada ke dua orang tuanya.


"Ma? Mama mau nggak ngerestuin hubunganku dengan Ratih?" tanya Darma.


Bu Arum terdiam. Dia tampak masih kesal pada Darma.


Darma bersimpuh di kaki Bu Arum. Membuat Bu Arum dan Pak Arwan terkejut.


"Ma, tolong. Restuin aku dengan Ratih. Aku nggak mau kehilangan Ratih Ma. Aku sayang sama dia. Aku juga nggak mau kalau Ratih sampai melakukan hal konyol kayak kemarin."


Bu Arum tampak berfikir.


"Oke."


Akhirnya Bu Arum luluh juga.


Darma berjingkrak dan berjoget di hadapan kedua orang tuanya.


"Tapi ada syaratnya."


Darma mendadak berhenti.


"Ha ha..."Mas Husni tertawa.


"Apa! Kok pakai syarat segala sih Ma?"


Darma menatap Mamanya.

__ADS_1


"Mau nggak?" tanya Bu Arum.


"Ya udah deh. Apa syaratnya Ma. Jangan yang aneh-aneh ya. Yang penting aku bisa nikah."


"Mama akan menikahkan kamu. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" Darma penasaran.


"Setelah kamu nikah, kamu nggak boleh satu kamar dengan Ratih."


"Hah..."


Pak Arwan, Mas Husni dan Nara saling bertatapan. Nggak tahu apa yang ada di fikiran Bu Arum.


"Kok gitu Ma. Percuma nikah dong."


"Yah. Yang pasti Ratih harus melanjutkan sekolahnya. Bila perlu ke Kairo kaya Nara. Mama nggak mau punya menantu bodoh, dan nggak berwawasan."


"Kamu nikah sekarang, tapi nggak boleh nyentuh Ratih sampai dia lulus." Kata Bu Arum mengejutkan.


Darma seketika itu juga tidak bisa berkutik. Dia tadi terlalu happy, dan sekarang dia shock setengah mati.


Teganya dirimu Mama, itu sih sama aja membunuhku perlahan. Nunggu Ratih lulus? sekolah ke kairo?


Oh Tuhan, persyaratan konyol macam apa itu.


Mas Husni dan Nara senyam-senyum sendiri.


"Ada ada aja, Mama...mama..."Ucap Husni.


Setelah itu, pasangan pengantin baru itu, kembali ke kamarnya, meninggalkan Darma yang masih berdiri mematung.


***


"Mas, kita mau bulan madu kemana?" tanya Nara Aida.


"Kemana aja sayang. Kamu maunya kemana?"


"Aku pengin ke Bali Mas."


"Kamu nggak salah?"


Nara menggeleng.


"Mas nggak mau ke Bali. Terlalu mengotori pandangan kita." Mas Husni tampak tidak setuju.


Nara tampak mengerti. Kalau Bali memang tempat singgah turis- turis asing. Dan Nara mulai kembali berfikir.


"Kita Umrah ke Baitullah Mas," ucap Nara tiba-tiba.


Mas Husni geleng-geleng kepala.


"SUBHANALLAH. Kamu memang bidadariku. Istri soleha calon penghuni surga. Nggak salah Mas memilihmu dan menunggu mu. Kamu perempuan ku. Cinta pertama dan cinta terakhirku."


"Iya Mas. Kamu juga cinta pertama dan cinta terakhirku. Tak ada lelaki yang bisa menggantikanmu di hatiku Mas,


Nara akan mencontoh khadijah walau tak semulia itu.


Nara mau mencontoh siti Maryam walau tak sesuci itu,


Nara juga pengin kayak Aisyah


menjadi istri yang cerdas.


Akan menemanimu di kala senang dan duka. Sampai maut memisahkan kita."

__ADS_1


"Iya sayang." Kata Mas Husni mencium kening istrinya, dan di tenggelamkan kepala istrinya pada dada bidangnya.


__ADS_2