
Malam ini, Ratih tidur dengan sangat nyenyak. Setelah melakukan aktivitasnya sejak tadi pagi, dia merasa sangat lelah. Apa lagi sekarang tugasnya dobel.
Ngurus tugas sekolah dan ngurus suaminya. Sejak pagi itu, sejak pertama kalinya Ratih dan Darma melakukan aktivitas ranjangnya, kedua pasangan muda ini jadi kecanduan.
Sekarang, mereka hampir melakukannya setiap malam. Bukan setiap malam juga, pokoknya kalau ada waktu berduaan, mereka sudah seperti macan liar. Main terkam-terkaman aja. Nggak ada waktu untuk santai. Kadang juga mereka melupakan pengaman.
"Sayang, kamu nyenyak banget tidurnya. Besok Mas mau bawa kamu ke suatu tempat. Kita akan jalan-jalan besok sayang." Kata Darma sembari menatap lekat tubuh mungil istrinya.
Ponsel Darma berdering.
Darma menggeser tombol hijau.
"Darma, tolong temui aku di luar! aku lagi nunggu kamu. Kalau kamu nggak mau keluar, aku terpaksa akan masuk."
"Iya. Aku keluar."
tut. Darma langsung memutuskan saluran telponnya.
Darma langsung melangkah keluar. Dia tampak mengendap-endap. Takut istrinya terbangun.
Di teras depan rumahnya, tampak Asri sedang menungu Darma keluar.
Darmapun duduk di samping Asri.
"Mau ngapain kamu kesini As? " tanya Darma datar.
"Nggak, aku cuma lagi pengin ngobrol aja. Aku harap kamu masih mau Darma kalau kita berteman."
"Ya udah, kamu mau ngobrol apa?"
"Istri kamu mana?" tanya Asri.
"Dia udah tidur," jawab Darma.
"Ya syukur deh. Darma, kita bisa nggak kalau tidak ngobrol di sini. Aku takut kalau istri kamu akan salah paham sama kita."
"Udahlah di sini aja. Kamu mau ngomongin apaan sih?"
"Dar, aku... mohonlah, kasih aku kesempatan sekali lagi, untuk ngobrol berdua aja sama kamu. Setelah itu aku janji, nggak akan gangguin kamu lagi."
Darma menghela nafasnya dalam.
"Ya udah deh. Kita ke kafe tempat biasa."
"Iya. Ayo...kita berangkat. Tunggu apa lagi. Keburu istrimu bangun."
Darma kemudian mengambil kunci mobil.
Dengan masih mengenakan baju tidur, Ratih menyetop ojek di depan rumah. Dia kemudian mengikuti kemana Darma dan Asri pergi. Ratih mencoba untuk tenang. Bersikap seolah-olah dia tidak melihat apa-apa.
"Ayo Bang...kejar mobil itu sekarang!"
__ADS_1
"Iya Neng."
"Jangan sampai kita kehilangan jejak Bang."
"Iya neng."
Bang gojek langsung tancap gas untuk mengejar mobil Darma.
Seperti halnya pembalap internasional, bang gojek mengendarai motor begitu sangat kencang. Membuat Ratih merem melek saking takutnya.
"Bang...jangan kencang-kenceng dong! Aku takut. Nanti kalau kita jatuh gimana. Aku nggak bisa mergokin suami aku selingkuh dong."
"Oh. Jadi mobil itu suaminya Neng."
"Iya."
Bang gojek pun memelankan tancapan gasnya. Motor itu berjalan sangat lemah gemulai layak nya Putri keraton yang sedang jalan.
Ratih menabok bahu sang driver.
"Bang. Kenapa jalannya kayak Putri solo sih! Cepat dikit napa? Udah di kasih jatah belum sih sama istrinya." Ratih mulai ngeres.
Aish, ini bocah ngomong apa yah. Jatah-jatah apaaan. Boro-boro istri . pacar aja nggak punya. Batin sang gojek.
"Bang...Ayo cepat!"
"Iya Neng."
"Iya neng."
Dari perjalanan dari rumah sampai ke cafe sang gojek pun menyetir motornya di pandu oleh Ratih.
Sampai pada akhirnya. Bang gojeknya pun kesal.
"Neng, jangan ngomel-ngomel mulu. Cekep-cakep kok bawel."
Plak.
Ratih memukul helm sang gojek. Hingga motor si Abang nya mengeluyur tak karuan karena helemnya hampir menutupi matanya. Jadi Abang gojeknya hilang keseimbangan.
Ratih teriak teriak karena takut jatuh.
"Dasar cewek galak!"
Plak
untuk yang kedua kalinya Ratih memukul bahu sang gojek. Membuat Abang gojek meringis kesakitan.
Ah, dasar cewek sialan. Dari tadi pagi sepi penumpang. Giliran bawa penumpang, Penumpangnya macam harimau betina Galak banget. Sabar... sabar... Batin Abang gojek.
Beberapa menit kemudian Ratihpun mengantuk dan tertidur.
__ADS_1
Bang Gojekpun bingung, Karena tidak mendengar suara penumpangnya. Dia hanya merasakan kalau penumpangnya sedang bergelanyut di bagian belakang tubuhnya. Sang Abang gojek pun menyadari. Kalau penumpangnya tertidur.
Pas di lampu merah.
Darma seperti melihat sosok istrinya. Namun penampilan istrinya sangat berbeda. Dia berpakaian serba hitam seperti detektif.
Dan detektif yang ternyata memang benar Ratih itu, sedang bersandar di punggung Abang gojek.
Darma mengucek matanya sebentar. Tapi sosok yang di lihatnya sudah hilang.
"Apa itu tadi benaran Adek. Adek kan baru terlelap. Mana mungkin dia pergi. Pakai gojek lagi. Dan dapat dari mana baju serba hitam itu. Aku kan nggak punya baju macam detektif gitu."
Loh kok Ratih jadi berubah wujud. Bagai mana caranya. Ternyata Baju detektif itu adalah baju yang mau di pakai acara lomba drama di sekolahnya. Dan kebetulan, Ratih itu berperan jadi detektif cantik.
***
Sesampai di cafe, Darma dan Asri pun turun. Darma sama sekali tidak menatap Asri. Dia masih kesal aja sama Asri. Gara-gara Asri, Ratih hampir mati karena tenggelam. Dan ini saatnya Darma balas dendam. Dia akan ngelabrak Asri habis-habisan. Tapi nunggu waktu yang tepat.
Asri dan Darma kemudian memesan menu makan malam mereka.
"Darma, kamu tahu nggak, kalau tempat ini, udah menjadi tempat favorit kita dulu. Aku jadi ingat waktu kita masih sekolah, kamu nembak aku di sini." Kata Asri dengan mata bergelora.
Darma yang di ajak ngobrol malah cuek bebek gitu, nggak ada respon. Justru sekarang fikirannya pada detektif cantik yang bersama Abang gojek itu.
Siapa yah, cewek yang mirip Adek itu. Kenapa ada detektif cantik, bonceng tukang gojek. dan tidur nyenyak banget lagi. Apa itu istri ku? Mana mungkin sih. Kalau benar itu istriku, awas aja ya? beraninya dia berduaan ama Abang gojek. Aku nggak bisa terima. Aku harus terkam Ratih malam ini. Batin Darma.
"Darma... kamu dengarin aku ngomong nggak sih." Teriak Asri.
"Apaan sih As...! Aku lagi malas ngobrol. Kalau kamu mau ngobrol, ngobrol aja. Aku dengarin kok"
Asri kemudian menangis. Membuat Darma terkejut.
"Kok malah kamu mewek gitu sih."
"Darma, suami ku. Dia hianatin aku. Dia mau poligami. "
"Poligami? ya nggak apa-apa dong. Nabi muhamad aja istrinya banyak. Jadi biar jadi ladang pahala buat kamu, karena udah mencontoh istri rasul."
Asri menggebrak meja.
"Darma... Kamu kok ngomongnya gitu sih. Kamu dukung orang poligami yah."
"Kalau nabi Muhamad ya pasti aku dukung. Kan aku umatnya."
"Jadi kamu juga mau poligami?"
Darma diam. Dia tampak malas untuk bicara dengan Asri.
Lagi-lagi fikirannya ke cewek misterius yang bersama abang tukang gojek tadi.
"Cewek itu siapa yah. Apa mungkin dia Ratih istriku."
__ADS_1
***