Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 17


__ADS_3

Ratih pov


Malam yang semakin mencekam. Aku meniti jalanan. Gelap di malam ini, menjadi saksi bisu kehancuranku.


Hancur di saat mendengar tante Arum, menyuruh Mas Darma untuk memutuskan hubungan denganku.


Betapa pedihnya aku. Aku mencintai Mas Darma, namun orang tuanya tak merestui hubunganku.


Inikah cinta. Sakitnya begitu menusuk sampai ke relung hatiku yang terdalam. Di saat aku benar-benar telah jatuh cinta dan memilihnya.


Dan secepat itu cinta menghancurkan aku sehancur-hancurnya.


Aku melangkah tanpa arah tujuan di temani tetesan air mata yang tak kunjung surut.


Kutatap langit. Mendung hitam tampak menyelimuti malam ini. Kilatan petir menyambar-nyambar, dan rintik gerimis yang sedari tadi menemaniku, semakin besar hingga menjadi hujan.


hiks...hiks..


Aku menangis ditengah dingin.


Hujan di malam ini mengiringi setiap langkahku. Malam ini, aku tidak mau pulang kerumah.


Tubuhku kini basah kuyup. Dressku, make-upku, dan high heels ku. Ah,semua tak ada artinya lagi.


Aaaaaaaagh


Ratih frustasi. Dia berjalan seperti orang mabuk.


"Kenapa cinta itu sangat menyakitkan!. Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, mending dulu aku nggak usah kenal dengan Mas Darma. Kenapa...kenapa aku harus jatuh cinta...!"


Flashback on


Ratih membuka pintu kamar mandi. Dia melangkah ke ruang keluarga.


"Ratih." Ucap Darma.


"Aku mau pulang Mas." bibir Ratih bergetar.


"Iya sayang nanti aku antar."


"Nggak usah Mas, makasih untuk semuanya. Dan selamat tinggal."


Ratih belari keluar. Dia tak bisa membendung air matanya. Dia menangis sambil berlari.


"Ahh...Pasti dia dengar semuanya. Sial!" geram Darma.


Darma menatap Mamanya. Wajahnya menampakan gurat kemarahan, kekecewaan,kesedihan dan kecemasan.


"Ma, kenapa Mama harus ngomong kayak gitu tadi. Aku yakin Dia pasti dengar semuanya." Kata Darma tampak cemas.

__ADS_1


"Ya baguslah. Biar dia sadar. Kalau dia belum pantas menjadi seorang istri.


Dia masih kecil. Dan usia kalian juga terpaut jauh. Dia nggak akan bisa melayani kamu dengan baik. Kalau kamu benar-benar menikahi dia, entahlah Mama nggak akn bisa membayangkan repotnya."


"Tapi Mama belum tahu siapa Ratih. Kalau sampai ada apa-apa dengan Ratih, aku nggak mau maafin Mama!" Kata Darma dengan nada tinggi.


Darma mengingat ucapan Ratih. Waktu itu Ratih pernah berucap, kalau dia bisa bunuh diri kalau sampai Darma meninggalkannya.


Jangan sampai Ratih melakukan perbuatan nekat itu. Aku tahu siapa Ratih. Ratih bisa bertindak nekat jika dia sedang terluka.


Tanpa berfikir panjang lagi Darma keluar dan menyusul Ratih. Namun Darma kalah cepat dari Ratih. Ratih sudah raib entah kemana.


Flasback off.


***


Ratih merentangkan tangannya di tengah jalan, berharap ada sebuah mobil yang menabraknya.


Ah, benar-benar gadis yang bodoh.Patah hati aja sampai mau bunuh diri.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju dengan sangat kencang. Mobil itu membunyikan klaksonnya berulang-ulang. Namun Ratih tak mengindahkan. Dia masih tetap berdiri mematung.


"ciiiiiiiit" Rem mendadak


Seorang lelaki di dalam mobil itu menggeram.


"Ah,sialan! Gadis bodoh. Kenapa malam-malam gini mau bunuh diri!" Lelaki yang berpakaian lengkap dengan setelan jas dan dasi itu kemudian turun dari mobilnya.


Ratihpun menangis.


"Hey gadis bodoh. Ngapain lo hujan -hujanan di tengah jalan begini. Lo Mau nyari mati yah?" Lelaki itu menatap tajam Ratih.


"Kenapa, kenapa kamu nggak tabrak aku tadi. Harusnya kamu menabraku tadi. Biarkan aku mati...!"Ratih kembali menangis dan semakin menjadi-jadi.


Dengan rambutnya yang udah acak-acakan, gaunnya yang basah kuyup, Make-upnya yang sudah luntur, dan high heels nya yang sekarang di cangkingnya, Ratih menggumam tak karuan. Entah kemana arah tujuannya.


"Hidup itu benar-benar nggak adil. Kenapa aku bisa jatuh cinta sama dia. Kalau aku tahu akan tersakiti begini, mending aku nggak usah mengenalnya. Aku nggak sanggup harus kehilangan dia. Hati ini rasanya sakit banget."


Ah pasti ini Abg yang lagi patah hati. Ah dasar gadis bodoh. Emang laki-laki di dunia ini cuma satu. Ngapain lo nangisin cowok. Mending lo nyari yang lain.


Lelaki itu memandang Ratih tanpa berkedip.


Dia memandang wajah Ratih.


Ini anak cakep juga. Sayang gue ngelihat dia dalam keadan kacau. Coba kalau dia tak sekacau ini, pasti dia sangat cantik, calon masa depan.


Lelaki itu menyeringai. Entah apa yang ada di fikirannya sekarang. Dia sedang mengaggumi Ratih atau entahlah.


"Kenapa kamu bisa hujan-hujanan kayak gini?" Suara lelaki itu tiba-tiba melunak. Dia seperti iba melihat kondisi Ratih saat ini.

__ADS_1


Namun dia juga tidak tahu, apa penyebabnya.


Lelaki itu memegang bahu Ratih dan mensejajarkan tubuhnya yang tinggi dengan tubuh mungil Ratih. Lelaki itu juga sudah mulai basah kuyup.


Tangannya sesekali mengusap air hujan yang membasahi wajah tampannya.


"Di mana rumahmu? biar sekalian aku antar pulang."


Ratih menggeleng.


"Aku nggak mau pulang." Kata Ratih sembari tertunduk.


"Terus kamu mau kemana? Ini udah malam. Nggak baik gadis malam-malam sendirian di luar. berbahaya..."


"Aku nggak tahu mau kemana, tapi untuk malam ini, aku nggak mau pulang." Ratih tetap dengan pendiriannya.


"Baiklah. Masuk mobil dan ikut aku. Kamu tenang aja. Aku bukan orang jahat kok, aku akan membawamu ke tempatku, sampai kau bisa merasa tenang. Setelah itu, nanti aku akan mengantarmu pulang."


Ratih mengangguk.


"Sekarang kamu pakai jas ku dulu. Aku yakin pasti dari tadi kamu hujan-hujanan kan. Kamu sudah sangat pucat.ayolah naik ke mobilku! "


Lelaki itu kemudian memakaikan jasnya pada tubuh mungil Ratih yang sudah tampak menggigil.


lelaki itu kemudian membuka pintu mobilnya.


Setelah itu Ratih masuk ke dalam mobil. Kemudian Ratih dan lelaki tampan itu pergi berlalu meninggalkan jalanan gelap itu.


***


Darma mengacak rambutnya frustasi. Sudah dari tadi dia mencari Ratih, namun tak kunjung ketemu.


"Di mana kamu Ratih," Gumam Darma sembari matanya masih terus mengawasi keluar mobil.


Siapa tahu dia menemukan sosok Ratih yang sedang di carinya.


Dia mencari ke setiap sudut tempat. Namun hasilnya masih nihil. Hujan di malam ini pun cukup deras.bMembuat Darma sangat mencemaskan keadaan Ratih.


"Adek, kemana lagi Mas harus nyari kamu. Tadi Mas udah hubungi Mama kamu. Dan kata dia, kamu belum sampai rumah. Kenapa kamu selalu bikin Mas khawatir adek. Mas cinta sama kamu. Dan Mas udah janji nggak akan ninggalin kamu. Mas akan secepatnya menikahi kamu Dek."


Darma masih fokus menyetir. Tiba-tiba di tengah jalan dia berhenti. Darma menemukan sebuah kalung yang tadi Ratih pakai. Kalung itu sekarang tergeletak di tengah jalan.


Darma menghentikan mobilnya dan berlari keluar mengambil kalung itu.


"jadi dia tadi ada di sini?" gumamnya lirih sembari menyimpan kalung ke dalam saku celananya.


"Lalu sekarang dia kemana? Apa dia udah pulang. Tapi dengan siapa? Sementara hujan begini. Jarang ada mobil yang lewat. Ratih...Ratih...!"


Darma sudah tampak sedikit menyerah.

__ADS_1


Mudah-mudahan aja dia nggak bertindak bodoh untuk mencelakai dirinya lagi.


***


__ADS_2