
Inayah terduduk di ruang kerjanya. Pandangannya kosong. Dia hanya bisa menangis dan menangis. Mungkin penyesalan selalu datang terlambat. Sekarang Inayah menyesal. Kenapa dia harus mau menikah dengan Husni.
"Ya Allah, apa salah dan dosa ku. Kenapa aku di takdirkan harus seperti ini. Setiap aku menikah dengan lelaki, pasti rumah tanggaku selalu bermasalah." Gumam Inayah.
Darma masuk ke dalam ruangan Husni. Dia melihat Inayah menangis.
"Apa yang sedang kamu tangisi Inayah. Kamu menangisi Kakak ku? Kamu itu wanita Inayah, kenapa kamu mau di peristri oleh lelaki yang sudah menikah. Apakah kamu tidak merasakan sakitnya perempuan yang telah di khianati?"
Inayah menatap Darma. Dia kemudian mengusap air matanya.
"Maafin aku Pak Darma. Aku menyesal telah melakukan ini. Seharusnya aku menolak tawaran Pak Husni waktu itu."
Darma tersenyum sinis.
"Kamu itu wanita Inayah. Mestinya kamu itu bisa menjaga diri dan kehormatanmu. Dan sekarang bukan kamu yang namanya tercoreng, keluarga ku juga."
"Tapi semua ini tidak seperti apa yang bapak fikirkan. Aku dan Mas Husni menikah karena Mas Husni mau menolongku aja."
"Menolong gimana maksudmu?" tanya Darma yang ingin mendapat penjelasan yang sebenarnya dari Inayah. Karena Darma juga tahu betul kalau kakaknya itu, bukanlah seorang lelaki yang mudah tergoda dan jatuh cinta pada wanita.
"Bolehkah aku menjelaskan sedikit Pak Darma dengan kesalah pahaman ini." Kata Inayah.
Darma mencoba untuk bersikap tenang, kemudian dia duduk di kursi Husni.
"Sekarang, silahkan kamu jelasin semuanya."
Inayah kemudian menjelaskan semua duduk persoalannya dari
A-z. Setelah mendengar penuturan dari Inayah, Darma mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dasar Husni bodoh...!"Geram Darma.
Darma tanpa aba-aba langsung pergi ke rumah Husni.
"Kenapa kakak ku bisa sebodoh itu. Apa dia itu sudah nggak waras. Dia menikahi Inayah tanpa izin dari istri pertamanya dan keluarganya. Dia juga tidak memberikan haknya untuk Inayah. Apa maunya sebenarnya. Ini bukan semua salah Inayah. Ini semua salah Husni si bodoh itu." Geram Darma sembari menyetir.
Setelah sampai di depan rumah kakaknya Darma kemudian turun. Dia melangkah ke pintu rumah Husni.
Tok tok tok.
"Iya sebentar."Bik Denah tampak tergopoh-gopoh membuka pintu depan.
"Mana Mas Husni?" tanya Darna.
"Itu ada di taman belakang." jawab Bik Denah.
Darma dengan terburu-buru langsung menghampiri Husni dan menghajarnya. Membuat Bik Denah ketakutan dan lantas menjerit.
Nara yang masih di kamar, langsung membuka pintu dan menghampiri Bik Denah.
__ADS_1
"Ada apa Bik? Kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak?" tanya Nara.
"Den Husni dan Den Darma berantem. Mereka saling memukul." Bik Dena menuturkan.
Nara kemudian melangkah ke arah belakang rumah.
"Darma stop!. Apa yang kamu lakukan pada kakak mu. Hentikan Darma!." Kata Nara mencoba untuk melerai.
Husni masih tersungkur di tanah. Darma mencoba menahan emosinya.
Nara langsung mendekat ke arah suaminya yang sudah tidak berdaya.
"Kak Husni. Kakak tidak apa-apa?"
"Kak Nara minggir Kak ! biar aku habisi suami sialanmu ini. Dia itu sudah menyakitimu Kak Nara."
Nara menatap Darma tajam.
"Darma. Pulanglah kamu! kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga kami."
"Tapi aku di sini mau belain Kak Nara. Lelaki itu sudah mengkhianatimu. Dan aku benci sekali dengan pengkhiantan."
"Iya Darma,Kak Nara tahu, tapi bukan seperti ini juga caranya. Kalau kayak gini, kamu bisa membuat kakakmu terluka."
"Baiklah Husni, sekarang kamu selamat. Dan berterimakasihlah pada istrimu itu." Ucap Darma.
"Kakak nggak apa-apa kan?" tanya Nara.
"Kak Nara. Dia itu sudah menikah tanpa izin darimu. Dan sekarang dia juga tidak mau memberikan haknya pada Inayah istri sirinya itu. Harusnya diakan bisa adil kalau mau bepoligami." Kata Darma menjelaskan.
Nara memandang nanar wajah suaminya.
"Apa benar begitu Kak? kenapa kamu harus menikahinya jika kamu itu tidak mau memberinya hak."
Nara begitu emosi. Dia kemudian mencengkeram bahu Husni. Husni hanya bisa menunduk.
"Aku cuma cinta sama kamu Nara."
"Apa kamu bilang, cinta? Kamu itu sudah menghancurkan semua kepercayaan ku Kak. Kamu itu sudah tega membohongiku. Mana Husni yang selama ini aku kenal? mana Husni yang setia?" kata Nara dengan suara yang semakin meninggi.
Nara tak kuat lagi dengan perasaannya. Diapun kemudian menangis.
hiks..hiks...
"Jahat sekali kamu membohongi ku. Kamu sudah menodai cinta kita."
"Tapi aku tidak mencintai Inayah. Aku cuma mencintai kamu Nara."
"Terus kenapa kamu harus menikahinya?"
__ADS_1
"Aku terpaksa Nara. Aku mau melindunginya. Dia wanita sebatang kara, aku cuma mau menjaganya saja dari olokan warga. Bukan karena aku mencintainya." Jelas Husni.
"Tapi nggak begitu caranya."
Nara memukul-mukul dada bidang Husni. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia kemudian memeluk suaminya.
"Aku nggak kuat kak Husni. Jika tahu kamu dekat dengan wanita lain. Apalagi kamu menikah dengan wanita itu. Ini sama saja sebuah pengkhianatan. Walau kamu tidak menyentuhnya sedikitpun. Aku kecewa sama kamu. Kenapa kamu menikah tanpa izin ku. Lebih baik aku mati saja kak. Aku nggak kuat menahan rasa sakit ini."
Darma yang masih berdiri, mendekat ke arah Nara. Dia menyeret Nara pelan dan membawa Nara pergi.
"Kak Nara nggak pantas menangisi lelaki brengsek dan pengecut kayak dia. Ayo kak, kita pulang ke rumah mama. Biarkan suamimu itu di sini. Dia tidak pantas mendapatkan cinta darimu Kak."
Setelah itu, Nara dan Darmapun pergi meninggalkan Husni sendiri. Husni menangis. Sepertinya dia sudah mulai menyesali. Menyesali keputusan sepihaknya untuk menikahi Inayah. Namun harus bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Semua sudah mengetahuinya, termasuk istrinya.
"Kenapa semua harus seperti ini. Maafkan aku Nara." Ucap Husni penuh sesal."
...****************...
Sepulang sekolah Ratih berjalan sendiri. dia meniti jalanan yang penuh polusi. Siabg ini terik matahari begitu menyengat. Di setiap langkah Ratih hanya bisa menggerutu.
"Ih, Mas Darma ngeselin. Kenapa dia nggak jemput aku. Dari tadi di telpon juga nggak di angkat-angkat. Uh Sebel."
Ratih kemudian menendang sebuah botol air mineral.
Botol itupun melayang tinggi dan.
Buuuhg
"Auh..." Seorang pemuda seusia Ratih memegangi dahinya.
"Kurang ajar. Siapa yang berani melempari ku botol sih."
Mata pemuda itu menelusuri ke semua arah. Dia menemukan sosok Ratih yang sedang mengomel sendiri.
"Ih, itukan bukannya anak baru itu. Yang dulu pernah kena bola basketnya Pak Rama. Kenapa dia kayak orang Gila. Ngomong sendiri. Apa jangan-jangan dia itu memang orang gila?" Terka pemuda itu yang tak lain adalah Kenzo teman satu sekolahnya Ratih.
Kenzo mendekat ke arah Ratih. Dia menghadang Ratih.
"Hei, mau kemana lo ?" tanya Kenzo.
"Ish, minggir ish, ngapain kamu menghalangi jalan ku. Emang ini jalan nenenk moyang lo." Ucap Ratih.
Ratih yang sudah di buat kesal suaminya, sekarang dia di buat kesal oleh Kenzo.
"Hei, lo kan yang tadi ngelempar botol ini?" tanya Kenzo.
"Ups,maaf kena lo yah? Maaf yah, gue nggak sengaja."
Ratih membulatkan matanya. Dia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.
__ADS_1