Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
bab 66


__ADS_3

Dengan umur yang sangat muda,dan usia yang sangat muda, itu akan sangat rentan terhadap permasalahan di kandungannya. Namun untuk kali ini, kandungan Ratih baik-baik saja. Dan Ratihpun tampak tidak terlalu banyak mual-mual seperti waktu masih sebulan.


"Ratih, kok nasinya nggak di makan? malah di diamin kayak gitu." tanya Bu Arum


"He..he...lagi di doain kali Ma. Biar nasinya nggak lari kemulut Darma." Kata Darma.


"Mama lupa yah. Aku kan lagi hamil. Masak aku makan nasi sih. Aku ngelihatnya juga masih sebal." kata Ratih.


"Ya makan buah dong. Itu banyak kan buahnya. ada Anggur, apel merah, bauh pir, pisang." kata Bu Arum menawarkan.


"Ha...ha...mama. Kayak tukang buah aja."Kata Ratih.


"ssst. Mama nggak lagi bercanda. Kamu harus banyak makan buah. Apa kamu nggak suka apa makan yang asem-asem."tanya Bu Arum.


" Belum pengin Mas. Aku masih pengin jitak kepala botaknya guru Ratih." kata Ratih.


Uhuk..uhuk... Darma tersedak minumannya sendiri.


"Apaan sih kamu Ratih."


"Ini bukan keinginan Ratih Mas. Ini ke inginan anak kita."


"Ah, ada-ada saja kamu Ratih. Akan jadi apa anak kita nanti. Belum lahir aja udah minta yang aneh-aneh." gumam Darma.


Setelaah selesai sarapan Ratih dan Darma pun pergi. Mereka meluncur menuju ke rumah kontrakan Arfan.


" Ayo Mas. Kita berangkat." Kata Ratih.


Darma kemudian mengemudikan mobilnya sampai di rumah Arfan. Yah, Darma dan Ratih akan memberi kejutan untuk Arfan dan Alma. Mereka akan memeberikan rumah baru untuk Arfan. Karena selama ini Arfan sudah menjadi karyawan yang terbaik di kantor Darma.


"Mas. Kita mau ke rumah Mpok Alma yah? sekaluan mampir ke rumah Dian dan Raka yah? Ratih kengen sama mereka Mas."


"Iya sayang. Nanti Mas akan kesana. Kamu yang sabar yah. Nanti kita akan mampir juga ke rumah Ratih."


"Mas. Sekali-kali dong...Nginep.di rumah orang tua aku. Jangan jadi menantu yang sombong. Nanti mendapat laknat."


Darma tertawa sembari mengacak poni Ratih.


"Ha..ha... Adek, adek. Laknat dari mananya. Emang Mas itu anak durhaka kayak malin kundang? bukan sayang. Mas itu anak baik-baik. Dan Mas juga suami baik-baik. Mana mungkin dapat laknat."


"Tapi Mas kan nggak pernah nengokin mertua. Dan Mas juga nggak pernah mau nginep di rumahnya Ratih. Gantian dong..."


"Mas lagi sibuk Dek. Lagian Mas setiap hari juga ketemu sama orang tua kamu di kantor."


"Tapi Mas jahat. Kenapa Mas cuma menjadikan orang tua ku cleaning service. Kenapa nggak di naikin jabatannya sih."

__ADS_1


"He...he... sayang...Kenapa kamu jadi yang protes sih. Orang tua kamu juga nggak protes."


Ratih cemberut. Yah, menurut Ratih jabatan yang di berikan Darma pada orang tuanya itu sangat rendahan. Padahal Darma menggaji orang tua Ratih bukan seperti gaji cleaning service. Tapi seperti gaji orang kantornya.


"Terus adek maunya apa sayang? Apa orang tua adek harus Mas naikan pengkatnya menjadi seorang ceo?"


Ratih tersenyum.


"Ya nggak gitu juga Mas. Masa papa Ratih pantas sih jadi ceo. Yang pantas jadi ceo itu kan cuna Mas Darma dan Mas Husni. Ha...ha..."


Ratih tertawa membayangkan jika pak Rudy orang tuanya itu menjadi cep benaran.


"Ha...ha... Papa jadi ceo? apa jadinya? Papa sama mama aja kalah kalau berantem. Bagaimana mungkin Papa akan jadi kepala di kantor."


Ratih tertawa terpingkal-pingkal membuat Darma bingung.


"Dek. Kamu nggak apa-apa kan."


Ratih tak pernah berhenti ketawa.Sampai airmatanya iti menetes sendiri dari pelupuk matanya. Ratihpun masih memegangi perutnya yang sakit karena menahan tawa.


Chiiiiit. Darma tiba-tiba saja mengerem mendadak. Membuat Ratih terkejut dan diam dari tawanya.


"Mas Darma...!" Pekik Ratih membuat Darma menutup telinganya.


"Mas Darma kenapa nggak permisi dulu kalau mau ngerem."


"Ih...Mas Darma. Mana ada kesurupan ketawa.Yang ada kesurupan itu menjerit histeris. Bukan ketawa."


"Yah. Siapa tahu kesurupan setan ketawa. Bisa jadi kan?"


Ratih diam. Dia memegangi perutnya.


"Kenapa Dek perutnya?"


"Perut adek sakit Mas."


"Ah, kebanyakan ke tawa sih."


"Adek pengin makan."


"Ya udah. Sekarang turun tuh di depan ada tukang bubur ayam. Kita makan di sana." Kata Darma.


Ratih dan Darma kemudian turun dari mobilnya dan mendekat ke arah tukang bubur ayam.


"Bang. Buburnya dua mangkok." Kata Darma.

__ADS_1


Ratih dan Darma kemudian duduk di kursi abang tukang jualan ebari menunggu si abannya menyiapkan buburnya.


"Ini mbak...Mas... buburnya." Kata si abang sembari memberikan dua mangkok bubur itu pada Ratih dan Darma.


"Makasih bang." ucap Ratih.


"Iya neng selamat menikmati."


Darma dan Ratih kemudian makan bubur ayam di pinggir jalan. Rasanya romantis sekali. Walaupun mereka sudah akan menjadi orang tua, namun keromantisan itu tidak pernah pudar pada keduanya.


"Dek."


"Hemm."


Darma mendekat ke arah Ratih. Membuat Ratih deg degan.


Apa yang mau Mas lakukan. Kenapa dia mendekati ku. Apa jangan-jangan dia akan menciumku? ah, kenapa dia mau menciumku di tempat ke ramaian begini.


Ratih kemudian memejamkan matanya. Bukan menolak malah memejamkan matanya.


Darma mengusap lembut bibir Ratih yang gelepotan karena buburnya.


"Adek, apa yang sedang kamu fikirkan? apa kamu fikir Mas akan mencium mu? kepedean banget sih kamu jadi istri." Darma berbisik pelan di samping telinga Ratih.


Membuat Ratih membelalakan matanya. Dan bugh...


Satu pukulan mendarat di lengab kekar Darma.


"Ha...ha... Pukulan mu nggak berasa sekarang Dek. Nggak seperti dulu. Makanya, makan yang banyak. Biar kuat lagi kalau mukul."


"Ih... Mas Darma nyebelin... aku benci Mas Darma."


"Kalau benci kenapa mau nikah hem..kenapa tidak sekolah aja."


"Ih. Ini juga aku sekolah kok. Siapa bilang Ratih nggak sekolah."


Abang tukang bubur itu tersenyum-senyum sendiri melihat ke kocakan pembelinya. Kadang Ratuh dan Darma berantem, main pukul-pukulan. Kadang mereka tersenyum dan tertawa bersama, kadang pula cekcok dan tidak ada yang mau mengalah.


"Dek. Cobain punya Mas deh. Enak...benget tahu nggak."


"Masa sih. Punya ku juga enak. Kan abang yang jualan sama. Pasti rasanya kan sama enaknya."


"Tapi ini buburnya sisa Mas. Pasti enak sayang."


"Ih...siapa juga yang mau bubur sisaannya Mas."

__ADS_1


"Kan dulu Mas juga doyan makan bubur sisaan kamu. Karena Mas cinta sama kamu."


__ADS_2