
Malam ini waktu menunjukan jam 7 malam. Bu Arum tampak terkejut dengan kedatangan dua orang yang membawa Ratih, yang masih tampak pingsan itu.
"Ratih...Kenapa dengan dia?" tanya Bu Arum.
"Dia nggak kenapa-napa Ma. Cuma pingsan aja." Jelas Darma.
"Ya udah cepat sana bawa dia ke kamar! " pinta Bu Arum.
Bu Arum terlihat panik dengan kondisi Ratih saat ini. Di dalam benaknya, timbul berjuta tanda tanya. Apa yang telah terjadi dengan Ratih.
Setelah tubuh Ratih di baringkan oleh Darma, Arfan pun berpamitan untuk pulang.
"Gue pulang dulu Bro..." kata Arfan menepuk bahu Darma.
Darma mengangguk. " tanks ya bro untuk bantuannya. Lo bawa aja mobil gue. Dari pada lo naik taksi. Mungkin sekarang istri lo, lagi nungguin."
"Iya, sama-sama. Tenang aja, gue udah ngabarin bini gue kok."
Tak lama kemudian Arfanpun pergi meninggalkan rumah Darma.
Darma masih menatap calon istrinya. Kemudian dia tersenyum.
Tiba- tiba saja Ratih bangun dan langsung memeluknya.
"Mas Darma, jangan tinggalin aku, Aku cinta sama kamu. Mas, jangan sakiti aku, Aku nggak tahu bagaimana hidup ku nanti kalau kau tingalkan."
"Iya adek. Aku juga sayang sama kamu. Kamu belahan jiwa Mas." kata Darma sembari mengelus rambut Ratih.
Ratih tiba-tiba mengecup kening Darma, kedua pipi Darma dan...
Dan Darmapun di kejutkan dengan keagresifan Ratih. Ratih mengecup bibir Darma hingga kecupannya turun sampai kelehernya.
Darma masih mematung. Dia sangat shock dengan adegan yang barusan terjadi.
Bagaimana bisa gadisnya berani melakukan hal bodoh itu? Hal bodoh yang tak pernah Darma lakukan ke gadis lain.
Astaga gadisku, bibirnya sangat manis. Ini pertamakalinya aku dapat merasakan manisnya rasa bibir seorang gadis. Ah, nggak. Ratih dalam obat perangsang. Dia juga sedang tidak sadar dengan apa yang di lakukannya. Aku nggak boleh menghancurkannya.
Darma mencoba menahan hasratnya yang sudah membara. Bagaimanapun juga, ini tidak boleh di biarin. Darma harus kabur sekarang juga dari kamar Ratih, sebelum dia benar-benar khilaf.
"Sayang..." gumam Ratih. Tubuh Darma tampak bergetar. Kali ini godaan yang sangat dahsyat sedang melandanya.
Oh Tuhan, dosa apa lagi ini. Kenapa aku juga sangat menginginkan Ratih.
"Aku mau malam ini kamu tidur bersamaku." Ucap Ratih penuh nafsu.
Tubuh Darma bergetar hebat. Sesuatu yang di bawah sana, ternyata sudah terbangun. Nafas Darma kian memburu. Namun Darma masih bisa mengendalikannya. Dia masih menggunakan akal sehatnya.
"Nggak bisa Ratih. Kita itu nggak bisa ngelakuin ini. Aku tahu ini bukan kamu. Aku nggak mau merusakmu. Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh ini, kecuali dengan istriku. Kau belum halal untuk ku Ratih." Kata Darma sembari mengatur perlahan nafasnya yang masih memburu. Darma mencoba menggunakan akal sehatnya dengan tidak terpancing dan tergoda dengan Ratih.
Walau sesungguhnya saat ini dia juga sangat menginginkannya.
Darma langsung meninggalkan Ratih di kamarnya dan mengunci pintunya dari luar.
Darma kemudian tersenyum, memegang bibir dan mengusap lehernya yang baru tersentuh.
Ratih, ternyata kau bisa seagresif ini. Bagaimana jika kita sudah menikah. Siapakah yang akan jadi pemenangnya, aku atau kamu. Untunglah aku datang tepat waktu, jika nggak, entahlah apa yang akan terjadi setelahnya, jika Nino berhasil menyentuhmu.
__ADS_1
Darmapun melangkah menuju ke kamarnya sendiri dengan sejuta kebahagian.
"Aku pengin cepat-cepat nikahin kamu Ratih." Gumam Darma kemudian.
***
Minggu pagi, waktu sudah menunjukan jam 7 pagi. Darma menyibak gorden kamar Ratih.
Dia kemudian mendekat ke arah gadisnya yang masih tertidur dengan pulas.
"Apa-apaan ini. Jam segini masih nyenyak begini! " Darma menggerutu.
"hmm, dasar anak manja, pemalas, kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis seperti ini." Gumam Darma lagi.
Dia tersenyum dan mendapatkan sebuah ide.
Aku akan kerjain kamu Dek.
***
Ratih mengerjapkan matanya. Sinar mentari itu memantul masuk ke kamar dengan sempurna.
hoaamm
Ratih menguap. Di lihatnya Darma yang masih menggunakan boxer pendek di atas lutut yang mengekspos seluruh bagian tubuhnya. Dengan memperlihatkan perut sixpacknya, dia tersenyum.
"Selamat pagi sayang?"
Ratih terkejut setengah mati. Dia mencoba keras mengingat kejadian demi kejadian kemarin yang telah di laluinya.
"Kau..." Ucap Ratih yang masih belum percaya.
Ratih tidak bisa berucap. Jelas-jelas tadi sore dia bersama Nino. Dan kenapa dengan cepat Nino berubah menjadi Darma.
Apa-apaan ini. Kenapa Nino berubah menjadi Mas Darma. Ini pasti aku lagi halu nih. Mana mungkin sih dia Mas Darma. Mas Darmakan nggak pernah telanjang di depan aku. Itu pasti Nino yang menyerupai Mas Darma. Aduh aku bingung,
Ratih mengucek-ucek matanya. Mencoba membuang pikiran Mas Darma dari benaknya.
Kok Masih sama. itu Mas Darma,
bukan Nino.
Ratih mencoba mencubit tangannya sendiri.
"Augh...sakit. Ini bukan mimpi." gumam Ratih pelan.
Ratih mencoba beringsut duduk. Betapa terkejutnya Ratih, saat dia hanya mengenakan lingerie. Bentuk tubuhnya tampak terekspos sempurna.
Huaaaaa....
Ratih menjerit.
"Teriak aja yang kencang. Nggak akan ada yang dengar." Kata Darma.
Darma terkekeh.
Ratih langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Mas Darma, tolong jelasin apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak mengingat apa-apa lagi sekarang."
Darma mendekat.
" Kau semalam menang sayang." ucap Darma.
" Me...menang apa? Aku tak pernah melakukan pertandingan." Ratih bingung.
Menang apa?
"Ha...ha.... Apa kamu pura-pura pikun dengan kejadian semalam? Semalam kita bertanding sayang. Dan kau yang memenangkannya."
"Bertanding apa?" Ratih meneguk salivanya.
"Yah, semalam kau sangat lincah Ratih. Membuat ku hampir kewalahan di buatnya."
"Apa yang semalam terjadi? Apakah kita telah melakukan itu?" Ratih terlihat panik.
Rasain kamu Dek, siapa suruh kamu mau kemakan rayuan si Nino sialan itu. Gue kerjain baru tahu rasa kamu.
"Hemm" Darma mengangguk.
"Apakah benar. Tapi aku sama sekali tak mengingatnya." Ratih menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus apa yang kamu ingat?" tanya Darma.
"Aku cuma ngingat Nino, mengajak ku jalan, dan dia nyuruh aku mampir ke apartemennya. Dia menyuguhkan minuman. Dan aku nggak ingat lagi."
"Kamu cinta sama Nino?" Darma menghempaskan tubuhnya duduk di sisi ranjang. Darma kemudian mendekat ke arah Ratih dan menatapnya tajam.
Rahangnya mengeras. Kedua tangannya pun mengepal. Matanya melotot ke arah Ratih. Kemarahannya sudah kian memuncak, tapi dia tahan.
Tubuh Ratih gemetar hebat. Dia benar-benar takut. Darma tidak pernah semarah ini sebelumnya.
"Mas nggak akan memakanmu Dek. Jadi jangan takut. Mas cuma mau nanya aja." Darma kembali menenangkan amarahnya. Dia juga tidak mau meluapkan amarahnya kepada Ratih.
Ratih menggeleng.
"Terus siapa yang kamu cinta?"
"Mas Darma." Ucap Ratih yang masih gemeteran.
"Terus, Kenapa kamu mau, di ajak jalan Nino, tanpa sepengetahuan Mas!" Bentak Darma.
"Aku cuma masih kesal Mas. Sama foto itu." Ucap Ratih dengan bibir yang bergetar.
Dia juga masih sangat merasa bersalah telah membohongi Darma.
"Kamu dapat foto itu dari Nino kan?"
Ratih mengangguk.
"Dia mau menjebak kita Ratih. Dia suka sama kamu, dan mau menghancurkan hubungan kita. Kenapa kamu nggak sadar sih!" Suara Darma menggelegar memenuhi seisi ruang kamar.
Ratih benar-benar ketakukan.Dia pun tak kuasa menahan tangisannya.
"Apa kamu tahu Ratih, kalau Nino telah memberimu minuman racun."
__ADS_1
"Apa! Kok aku masih hidup." kata Ratih di sela-sela tangisannya.
"Bukan racun yang itu Dek."