Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
bab 23


__ADS_3

"Ratih, kamu mau nggak kalau aku ajak kamu makan malam?" tanya Nino.


"Kapan?"


"Malam ini gimana?"


"Nggak tahu yah. Aku bingung." Ratih tampak berfikir.


Lama Ratih terdiam.


"Kenapa? Kamu lagi ada acara yah?"


Ratih menggeleng.


"Ada yang mau aku tunjukin sama kamu?"


"Apa?"


"Ya ada deh,"


Nino akan membuat hubungan Darma dan Ratih hancur.


***


Malam ini, Nino menjemput Ratih ke rumahnya.


Nino menatap ke sekeliling. Rumah sederhana yang tampak asri.


Sesampai di depan pintu rumah Ratih, Nino mengetuk pintu rumah Ratih.


Tok tok tok...


Bu Lisna membuka pintu itu, betapa terkejutnya Nino saat tahu kalau ternyata rumah itu, adalah rumah Bu Lisna.


"Pak Nino. Maaf yah Pak. Ada perlu apa yah?" tanya Bu Lisna bingung, cukup terkejut dengan kehadiran Nino.


"Eh, Bu Lisna. Ini rumah ibu?" tanya Nino.


"Iya betul Pak. Maaf yah rumahnya jelek."


"Apakah Ratih itu anak ibu?"


"Iya, Ratih anak saya. Kok Pak Nino bisa kenal dengan anak saya?"


"Iya, saya pernah menolong Ratih waktu itu."


"Oh, jadi orang yang menolong Ratih pada malam itu, anda Pak."


"Iya benar sekali." Nino tersenyum ramah.


Ratih dengan penampilan yang sederhana, dengan make-up yang tipis, tampak menyambut hangat kehadiran Nino.


"Ibu udah kenal ama Nino?" tanya Ratih.


"Ya kenal bangetlah. Diakan bos besar yang dermawan."


he... Nino terkekeh.


"Ah, ibu bisa aja."


"Memang benarkan, kalau Pak Nino sering banget nolongin bawahannya. Dan sering ngasih komisi ke kita." Kata Bu Ratih lagi.


" Ayo masuk dulu Pak."


"Nggak usah Bu Lisna, saya udah janji mau ngajakin Ratih makan malam berdua."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya Bu. Ratih pamit dulu yah."


Ratih kemudian mencium tangan ibunya dan berpamitan untuk keluar bersama Nino.


Kenapa Nggak aku jodohkan aja Ratih dengan bos besar yah.


***


Malam ini bulan sabit di atas sana mulai nampak bercahaya. Di temaram malam, Dua orang anak manusia sedang menyantap makanannya penuh hikmat.


Yang satunya tampak menikmati makanannya, yang satunya lagi sesekali curi-curi pandang dengan gadis yang ada di depannya.


"Gimana, enak makanannya?" tanya Nino yang tatapannya sangat berbeda.


Dia menatap bukan karena tulus cinta, seperti tatapan lembut Darma. Namun tatapan Nino itu, adalah tatapan penuh obsesi, ingin memiliki Ratih seutuhnya. Dan menginginkan Ratih merelakan tubuhnya berada di dekapannya untuk tidur bersamanya.


Ratih memakan makananya dengan sangat lahap.


"Ini enak sekali. Terimakasih yah Nino, karena kamu udah mau ngajakin aku makan di tempat seenak ini." Kata Ratih yang masih sibuk mengunyah.


"Iya. Kalau kamu suka, bolehlah kapan-kapan kita makan lagi." Kata Nino sembari menyeruput minuman yang di depannya.


"Gimana soal hubungan kamu sama Darma?"


"Kita baik-baik aja."


"Oh, kalian kapan menikah?"


"Secepatnya." Kata Ratih sembari menyeruput minumannya.


"Ratih cobalah kamu lihat ini."


Ratih memandang sekilas sesuatu yang ada di atas meja.


"Mas Darma, pelukan ama cewek. Dan cewek itu siapa? Apa dia pacarnya!"


Ratih menangis. Hatinya begitu kacau. Betapa beratnya ujian yang di hadapinya semenjak kenal dengan Darma.


Nino memegang tangan Ratih.


"Sudahlah, jangan kamu tangisi cowok macam dia. Dia nggak pantas buat kamu."


Ratih masih menangis. Dadanya tampak sesak melihat foto-foto itu.


Foto dimana Darma di peluk oleh seorang wanita.


Namun Ratih tetaplah Ratih. Dia memang gadis labil yang egois. jikalaupun Darma menjelaskan, Ratih akan sulit untuk menerima penjelasan.


"Cowok di dunia itu bukan cuma satu. Tapi banyak Ratih. Aku harap, kamu jangan ngelakuin yang macam-macam lagi yah, aku akan ada selalu di samping kamu. Aku akan selalu menghapus air matamu. Air matamu itu, sangat berharga untuk menangisi cowok brengsek kayak dia." Nino mencoba mempengaruhi Ratih.


Nino duduk di samping Ratih.Kemudian memeluknya dan mencium kening Ratih.


"Sudahlah ada aku di sini. Kamu bisa ceritakan semua beban pikiranmu padaku. Jikalau itu bisa membuatmu lega."


Aku suka cewek sepertimu Ratih. Cewek yang sangat polos. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksimu jika kita tidur di satu ranjang dan sama-sama saling menginginkan.


***


Malam ini Darma tampak mondar-mandir tak karuan. Pikirannya tampak sangat kacau sekali.


Ratih sangat susah sekali di hubungi. telpon nggak mau di angkat, di whatsapp pun nggak pernah di balas.


Ada apa lagi ini adek... kenapa kamu itu sangat susah sekali. Kamu itu nggak pernah mau ngerti perasaan Mas. Mas lagi banting tulang mati-matian begini untuk masa depan kita nanti. makanya Mas jarang hubungi kamu karena Mas sibuk Adek.


"Aku harus samperin dia sekarang," gumam Darma.


Tanpa basa-basi lagi dia meluncur ke rumah Ratih.

__ADS_1


***


Bu Lisna menceritakan semua pada Darma. Kalau akhir-akhir ini, Ratih sering murung. Dan sudah beberapa hari ini, dia juga selalu mengurung dirinya di kamar.


"Bagaimana ke adaan Ratih?" tanya Darma.


"Nggak tahu Nak. Dia nggak mau cerita apa-apa ke Ibu."


"Tapi dia nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh lagikan."


Bu Lisna menggeleng.


"Coba sana, kamu bujuk dia lagi Nak, Bapak nggak tahu apa masalah kalian. Biar masalah ini, kalian selesaikan sendiri." Kata Pak Rudy kemudian.


"Baiklah."


Darma kemudian melangkah menuju ke kamar Ratih. Dilihatnya Ratih masih dalam keadaan melamun. Pikirannya kosong.


Makanan yang ada di atas nakas itupun, cuma di diamkan.


"Ratih..." Ucap Darma pelan.


Ratih menatap Darma tajam.


Ratih langsung memukul Darma dengan benda apa aja yang ada di kamar.


" Tenang sayang, tenang, Ada pa dengan kamu."


"Mas jahat. Kenapa Mas selalu nyakitin aku. Kalau mas mau mengkhianatiku, kenapa Mas mau menikahi ku."


"Kamu ngomong apa sayangku, siapa yang menghkianatimu?"


"Mas nggak usah bohong lagi."


Ratih turun dari ranjangnya. Kemudian dia mengambil sesuatu di tasnya. Dia melempar foto itu ke wajah Darma. Dan foto itupun berserakan di lantai.


Darma tampak terkejut, kenapa ada foto Asri memeluk dirinya,


Oh, ternyata ada yang melihatku, saat Asri memeluk ku. Dan dia memotret kegiatan kami. Kurang ajar. Aku akan segera cari tahu siapa dia.


"Sayang, kamu dapat dari mana foto-foto ini?"


"Itu nggak penting. Aku benci sama Mas Darma. Aku benci ! "


"Sayang, ini tidak seperti apa yang kau fikirkan. Mas Darma nggak pernah memeluk cewek ini."


"Tapi itu buktinya Mas."


"Mas akan jelasin semuanya Adek."


"Aku benci Mas. Udah nggak ada yang perlu di jelasin lagi. Mulai sekarng aku udah nggak mau ngenal Mas lagi. Mulai sekarang kita putus! "


Deg


Hati Darma terasa perih, kenapa dengan seenak jidatnya Ratih ngomong putus. Apakah dia tidak mengenal yang namanya perasaan?


"Dek, kamu jangan ngomong kayak gitu. Sebentar lagi kita akan nikah Dek. Dan Mas akan menjadi orang paling bahagia dapatin kamu."


"Aku nggak akan mau nikah sama Mas. Sekarang Mas pergi dari sini! pergi...!" Ratih mengusir Darma pergi.


Ratih menutup pintunya dan menangis di balik pintu tersebut.


"Nak Darma. Sebaiknya Nak Darma pulang dulu yah, Biar Ratih sendiri dulu. Kayaknya dia masih sangat kesal." Kata Bu Lisna.


"Baiklah."


Darma akhirnya pergi dengan berjuta pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi pada Ratih. Kenapa Ratih bisa mendapatkan foto-foto itu,


"Pasti ada orang yang mau menjebak ku. Agar hubunganku dengan adek hancur. Aku harus tahu siapa orang itu. Aku harus selidiki masalah ini."


__ADS_2