
Jalanan Jakarta yang masih sangat macet. Darma masih saja fokus menyetir. Darma masih saja melirik gadis yang ada di sampingnya.
Bocah...bocah...Ratih benar-benar kayak bocah. Tapi dia lucu, dia unik, dan dari semua gadis yang pernah aku kenal, dia yang paling beda. Apa benar gadis ini bakalan jadi istriku.vAh mudahan-mudahan saja Mama ngerestui hubungan kita.
Darma masih tak percaya, dan berharap kalau orang tuanya mau merestui hubungannya dengan Ratih.
"Mas mau ngajakin aku kemana sih?" tanya Ratih mulai bicara, setelah agak lama mereka terdiam.
"Mau poles kamu sedikit Dek."
Ratih cuma mengangguk. Matanya masih saja menerawang keluar kaca mobil.
"Kita mau ke salon,vke Mall, atau ke mana?" tanya Ratih tak mengerti. Kemana sebenarnya arah tujuan itu.
"Udah jangan bawel! nurut aja napa sih. Katanya kamu pengin jadi istriku, kalau gitu nurut ajalah." Darma masih fokus menyetir.
"Oke." Ratih mulai terdiam.
Dengan sedannya, Darma meluncur ke tempat butik langganan Mamanya.
Darmapun kemudian turun dan membuka pintu mobil Ratih.
"Turun dan jangan bawel! "
"Tapi Mas suka kan aku bawel.Dari pada aku diam,"
Darma tak menggubris Ratih. Dia menarik tangan Ratih untuk mengikutinya Masuk.
"Selamat sore Pak Darma! " sapa seorang pelayan perempuan.
"Mana tante Karisa?"
Darma mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tak di lihatnya sosok tante Karisa.
Dan tiba-tiba orang berpawakan gemuk menghampirinya. Yah dia tante Karisa, pemilik butik tersebut.
Darma sudah sangat mengenal sosok Tante Karisa. Tante Karisa adalah sahabat Bu Arum mamanya. Mereka sangat dekat.
Dan tante Karisa juga sangat mengagumi Darma sampai dia berfikir, seandainya dia punya anak perempuan, pasti pengin anaknya di jodohkan dengan Darma.
Namun sayang, ketiga anaknya itu lelaki semua. Dan kedua anak Bu Arum juga lelaki semua. Jadi mereka gagal untuk bisa jadi besan.
Darma sudah sering sekali ketempat ini. Dan dia juga sering sekali membawa perempuan berkunjung ke butik Tante Karisa.
Tapi bukan pacarnya lho, cuma sahabat aja. Sahabat perempuan Darma kan banyak, nggak bisa di hitung.
Paling Darma nganterin teman gadisnya belanja. Itupun dia lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Asri.
"Oh. Darma...sudah lama?" tanya Tante Karisa.
"Baru nyampe kok Tan." Jawab Darma.
Orang yang bernama Karisa menatap Ratih dari atas sampai bawah.
"Gadis siapa lagi ini yang kau bawa?" tanya Karisa.
"Udah. tante jangan bawel! aku ajak dia kesini,supaya dia tampil beda. Aku pengin tante pilihin dia gaun yang cocok, dan make up yang pas untuk Ratih."
"Oh,Namanya Ratih." ucap Tante Karisa.
"hemm"
"Mau poles kaya gimana?"
__ADS_1
"Terserah Tante. Yalang penting buat dia secantik mungkin. Satu jam aku tunggu dari sekarang. Karena aku mau ajak dia kerumah."
Tante Karisa tersenyum pada Ratih.Diapun mengajak Ratih keruang make-upnya.
"Ayo duduk sini. Biar Hani dandanin kamu."
Ratih mengangguk saja. Tante Karisa kemudian memanggil Hani asistennya.
Setelah itu, Ratih duduk di depan cermin rias besar. Menunggu Hani untuk memolesnya.
Tante Karisa kemudian keluar menemui Darma.
"Siapa lagi dia Darma.?" tanya tante Karisa sembari duduk di samping Darma.
"Dia calon istriku tante." jawab Darma.
"Hah," tante Karisa terkejut.
"Biasa aja dong Tante!."
"Jangan bercanda kamu Darma!
"Kapan aku pernah bercanda sama tante?"
"Bocah kecil seperti itu, kamu bilang calon istri? yang benar aja kamu ini!"
"Memangnya kenapa Tante?"
"Dia nggak cocok sama kamu Darma. Dia itu masih terlalu kecil, yang ada kalau kamu jalan sama dia, orang pikir kamu tuh Omnya."
"Aku kesini bukan untuk dengar komentar Tante atau ceramah Tante. Aku kesini itu cuma mau Tante, dandani dia secantik mungkin." darma tampak kesal.
"Ya udah iya. Tapi dia cantik kok." Tante Karisa mengalah.Tak mau berdebat terlalu panjang lagi dengan Darma.
"Eits...tunggu Dulu. Mbak mau ngapain?" tanya Ratih sembari tangannya mencoba menghalang-halangi Mbak Hani yang sudah memegang pensil alis.
Mbak Hani jadi bingung. Karena Ratih tidak mau di sentuhnya.
"Mbak mau bikin kamu jadi cantik Ratih."
"Tapi Ratih nggak pernah pakai make-up mbak."
"Tapi ini keinginan Pak Darma."
"Tapi aku nggak mau di make-up.titik."
"Ratih,nurut aja lah. Mbak nggak bakalan nyelakain kamu kok. Ini cuma mau di make-up.Bukan mau di suntik."
Ratih tetap bersikeras dengan pendiriannya.
Dia bersidekap dengan memanyunkan bibir mungilnya.
"Ayolah Ratih! " Mbak Hani terus membujuk sembari tangannya masih memegang pencil alisnya.
"Pokoknya aku nggak mau.Kenapa nggak Mas Darma aja sih yang di make-up?"
"Lah Mas Darma kan cowok. Masa di make-up, ada-ada aja kamu ini." Mbak Hani tersenyum-senyum.
"Tapi Mbak, aku takut. Nanti make-upnya bikin kulit aku alergi. Dan nanti bisa cepet bikin aku keriput. Aku nggak mau! "
"Nah justru itu, Kamukan katanya calonnya Pak Darma. Pak Darma itu pengin kamu tampil cantik, Kamu nggak maukan kalau pacar kamu ninggalin kamu karena kamu jelek ?"
"Apa aku jelek yah Mbak. Tapi kenapa Mas Darma mau sama aku?"
__ADS_1
"Kamu cantik Ratih. Makanya nurut Mbak, biar kamu tambah cantik. Biar Mas Darmamu itu, makin cinta sama kamu."
Setelah perdebatan kecilnya dengan Hani akhirnya Ratihpun mengalah."Ya udah deh."
***
Satu jam berlalu.Tante Karisa kemudian keluar dari ruang make-up.
"Ini, calon istri kamu." Ucap tante Karisa.
Darma terlonjak kaget saat dia memandang wajah gadisnya.
Aish apa ini. Diakah gadisku, sungguh luar biasa! Dia benar-benar seperti bidadari.
Ratih tersenyum.
Dengan dress putih selutut, sepatu high heels, dan aksesoris anting dan kalung yang menyempurnakan kecantikannya.
Ratih mendekat ke arah Darma yang masih setia mematung memandang kecantikan Ratih.
Darma meneguk salivanya. Gemuruh dan gejolak di hatinya mulai merasukinya .Dia hanya bisa mematung.
Teplak...
Pukulan mendarat di bahu Darma.
"Auh...Aduh Tante! sakit tahu." Darma memekik sembari mengelus bahunya.
"Gimana?" tante Karisa meminta pendapat.
"Wah wah wah..." Darma bertepuk tangan sembari memutari Ratih.
"Tante benar-benar luar biasa. Tante mampu mengubah dia bisa secantik ini." Darma masih tampak terkagum-kagum.
Darma memegang bahu Ratih dan memutar tubuh Ratih membuat kepala Ratih sedikit puyeng.
"Ya udah sayang sekarang kita berangkat." Ucap Darma.
"Tenang aja tante, nanti aku kasih tip setelah ini." Bisik Darma pelan sebelum dia melangkah pergi.
"Huh, Darma...Darma." tante Karisa geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Darma itu.
Darmapun keluar dengan menggandeng tangan kekasihnya.
"Mas," Ucap Ratih di sela langkahnya.
"hemm"
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Ratih penasaran
Mas Darma sebenarnya mau ngajak aku kemana sih.
"Udah nanti kamu juga tahu."
"Ih Mas Darma gitu deh..." Ratih lekas kesal.
Tampaknya Ratih sudah terlihat capek. Ratih sudah seperti boneka aja. Yang nurut di bawa kemanapun Darma pergi.
"he he..."Darma terkekeh.
Terus aja adek ngambeknya. Mas jadi seneng lihat kamu ngambek. Mas gak salah milih calon istri secantik kamu. Masih muda dan masih segelan lagi.
ha ha...
__ADS_1
Langkah Ratih tiba-tiba terhenti.