
Sore ini Inayah sudah tampak mengemasi semua barang-barangnya. Dia sudah mau bersiap pergi meninggalkan rumah Husni.
"Aku mau pergi Mas. Tolong jangan halangi aku!. Aku harus benar-benar pergi dari kehidupanmu dan Nara." Ucap Inayah sembari membereskan semua bajunya ke tas besarnya.
Husni masih menatap Inayah. Husni tidak tahu dengan cara apalagi untuk menghentikan Inyah agar tidak pergi.
Sedari tadi Husni membujuk Inayah supaya tidak pergi meninggalkan rumah yang telah Husni berikan untuknya.
Entah kenapa hati Husni jadi merasa sayang pada Inayah. Mungkinkah Husni juga sudah mulai mencintai Inayah. Husni seakan tidak rela jika Inayah pergi darinya.
"Inayah, benar kamu mau pergi dari rumah ini?" tanya Husni.
"Iya Mas. Sekarang kamu ceraikan saja aku!" Pinta Inayah.
"Saya tidak akan menceraikan mu Inayah." Kata Husni menegaskan
"Terserah Mas Husni. Tapi aku tetap mau pergi. Aku nggak mau merusak hubungan kamu dengan Nara."
"Inayah. Kita bisa mulai dari awal kan. Aku akan bujuk Nara, supaya dia mau menerima poligami ini. Aku nggak tega padamu Inayah."
Inayah menatap Husni tajam.
"Sebenarnya itu, apa mau mu Mas? Kamu menikahi aku juga kamu tidak mau memberikan hak mu padaku. Untuk apa berpoligami kalau tidak ada ke adilan?"
Husni mendekat ke arah Inayah. Husni kemudian memeluk Inayah.
"Maaf kan aku selama ini Inayah. Aku telah menyakitimu juga telah menyakiti Nara. Seharusnya aku tidak menikahimu. Tapi di fikiranku waktu itu cuma cara itu yang bisa membuat warga diam dan tidak membullymu lagi."
Inayah melepas pelukan Husni. Diapun menangis.
Husni mendekat dan mencium kening Inayah. Entah kenapa Husni seperti tidak rela jika Inayah pergi. Entah rasa apa yang telah merasuk dalam diri Husni saat ini.
"Sayang...jangan pergi!. Jangan tinggalkan aku!. Aku janji aku akan memberikan hak mu setelah ini. Aku akan bilang pada Nara, untuk mengikhlaskan kamu bersamaku.
Inayah menggelengkan kepala.
"Tidak Mas Husni. Kamu milik Nara. Aku harus pergi."
"Sayang. Tolong...aku nggak bisa kehilangan kamu Inayah! Aku juga tidak bisa kehilangan Nara. Kalian berdua sekarang istri-istriku."
"Mas. Aku bisa saja rela kita berpoligami. Tapi tidak untuk Nara Mas. Dia itu tidak mungkin merelakan mu poligami. Aku nggak mau Mas. Aku nggak mau mengkhinati sahabatku sendiri. Aku harus pergi."
Inayah kemudian membawa tas besarnya itu pergi meninggalkan rumah Husni. Dia secepat kilat melangkah ke luar meninggalkan rumah Husni.
"Sayang...Inayah...!" Seru Husni.
Inayah menoleh.
__ADS_1
"Mas. Jangan cari aku lagi! aku tidak mau menghancurkan rumah tanggamu."
"Kamu jangan pergi sayang, kamu mau pergi kemana? kamu mau tinggal di mana?"
"Kamu nggak perlu tahu Mas, itu bukan urusanmu. Aku sudah bukan istrimu lagi."
"Tidak Inayah. Kamu tetap Istriku. Kamu tetap milik ku. Aku belum menceraikan mu Inayah. Aku belum menalak mu. Jika kamu pergi neraka menantimu Inayah."
Deg. Inayah terkejut mendengar ucapan Husni.
Yah, memang benar kalau seorang istri meminta cerai namun suamunya tidak menceraikan maka tidak akan terjadi perceraian. Apalagi mereka nikah siri.
Dan seorang istri yang pergi meninggalkan rumah tanpa seizin suami maka itu akan menjadi dosa besar untuk sang istri. Namun Inayah tidak perduli. Karena selama ini juga batinnya selalu tersiksa oleh Husni. Apa lagi sekarang Inayah tahu kalau Husni itu suami Nara. Jadi sekarang Inayah sangat mantap untuk pergi dari kehidupannya Husni.
"Ah, Mas. Sudahlah... lupakan semua yang telah terjadi di antara kita Mas. Biarkan aku pergi. Jagalah Nara dan calon anak mu. Mereka sangat membutuhkanmu."
Husni kemudian teringat Nara lagi. Yah, Nara istri yang dari dulu sampai sekarang masih di cintainya. Dan sekarang mereka akan mempunyai seorang anak.
"Terserah kamu Inayah. Ini rumah aku kasih buat kamu Inayah, Jika kamu membutuhkan pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk mu Inayah."
Inayah sudah tidak mau mendengarkan kata-kata lagi dari Husni. Inyahapun pergi dari rumah Husni.
Mas, sebenarnya aku juga tidak ingin pergi darimu. Aku sangat mencintaimu Mas.Tapi mulai sekarang aku harus pergi sejauh-jauhnya dari kehidupanmu. Mudah-mudahan kamu akan selalu bahagia bersama Nara. Maafkan aku, karena aku telah menjadi penghancur rumah tangga kalian. Batin Inyah sembari pergi.
...****************...
Ratih dan Darma sekarang sudah sampai di rumah kontrakan Arfan.
"Hei, jangan menghina."
Ratih menatap Darma horor."Siapa yang menghina?"
"Kamu, tadi bilang rumah ini kecil."
"Hemm, emang kenyataannya kecil Mas."
"Iya kecil. Namanya juga Rumah kontrakan Ratih."
" Terus mau ngapaian kita kesini?"
"Makan malam."
"Kak Arfan ngundang kita makan malam?"
"Iya, jangan bawel. Sekarang kamu masuk turun."
Ratih dan Darma kemudian turun dari mobilnya. Mereka melangkah ke depan rumah Arfan.
__ADS_1
"Rumah ini tampak nyaman Mas. Aku pengin ketemu sama anaknya Mpok Alma."
"Di udah gede Ratih. Udah bisa merangkak."
Setelah sesampai di depan rumah Arfan Darma mengetuk pintu.
"Aslaamu alaikum" Ucap Ratih dan Darma.
"wa alaikum salam. Terdengar ucapan dari dalam rumah."
Alma istri Arfan membuka pintu.
"Eh, Ratih... Darma...ayo Masuk!" ajak Alma.
Darma dan Ratih kemudian masuk ke dalam rumah Arfan.
Arfan masih ada di ruang tengah. Dia tampak sedang bermain-main dengan Leon.
Darma dan Ratih mendekat ke arah Leon. Kemudian mereka duduk di atas tikar yang sudah di gelar di ruang tengah oleh Arfan.
"Maafin yah Ratih, rumah Aku kecil."
"He..he.. Nggak apa-apa Kak."
"Tumbenan amat panggil aku Kak."
"Ish, kata siapa tumben. Aku sering panggil kamu dengan sebutan kakak kok. Kalau aku panggil kamu Mas, nanti Mas Darmanya cemburu...Kalau aku panggil kamu Bang, nanti Mpok Alma yang cemburu."
"Ha..ha.. Bisa aja istri ku ini."
Alma tersenyum kecil.
Ratih melepas tas kecilnya. Setelah itu dia masuk ke dapur untuk membantu Alma.
"Mpok. Lagi ngapain Mpok?"
Alma menoleh.
"Ini. Mpok lagi nyiapin makan malam untuk kita semua." Jawab Alma.
"Wah, Mpok masak banyak sekali!"
"Iya. Kata Bang Arfan kalian kan mau datang. Dan Mpok.udah masak banyaklah...."
"Oh, gitu yah. Mpok hebat yah bisa masak macam-macam kayak gitu. Ratih jadi pengin bisa masak kayak Mpok. Biar Mas Darma tambah cinta." Kata Ratih.
"Ya udah yuk. Jangan banyak ngobrol. Aku takut suami mu sudah kelaparan Ratih. Ayo bantu bawa."
__ADS_1
"Siap Mpok...!"
Ratih dan Alma kemudian menyiapkan makan malam. Mereka membawa makananya ke ruang tengah. Alma.dan Ratih meletakan semua makanan iti di atas tikar lebar itu.