
SATU TAHUN KEMUDIAN.
Ratih dan Nara sekarang sudah melahirkan. Ratih dan Darma melahirkan seorang putri kembar dan mereka beri nama Ayana dan Ayara.
Sementara Nara dan Husni, melahirkan seorang putra bernama Revan.
Dan usia anak mereka menginjak lima bulan.
Sejak pertemuan di cafe itu bersama Inayah, Husni tidak bisa berpaling lagi dari Inayah. Sekarang, Inayah masih ada di panti asuhan jauh dari rumah Husni.
Namun Husni masih sering datang ke sana untuk mengobati rasa rindunya pada istri sirinya itu. Yah, jelas sekali itu tanpa sepengetahuan Nara dan Darma.
Sejak ke hamilannya, Nara memang sangat tidak di perhatikan oleh Husni. Tapi Nara selalu percaya pada Husni. Kalau Husni selama ini memang sibuk dengan kerjaannya di kantor. Karena Darma juga memang sama-sama sibuk. Tapi Nara tidak tahu, kalau diam-diam suaminya itu menemui istri ke duanya itu di panti asuhan. Bahkan Husni sering menginap di rumah panti Inayah.
...****************...
Malam ini Nara masih terlelap bersama Revan putranya. Di tempat tidurnya dia masih memeluk Revan. Sementara suaminya masih sibuk di kantor.
Drrrrt....drrrt...
Suara deringan ponsel Nara membangunkannya dari tidurnya.
Husni calling.
"Halo ayah..."
"Bun, ayah tidak bisa pulang malam ini,"
"Kenapa yah?"
"Ayah mau lembur Bun, kerjaan ayah banyak banget. Gimana Revan, dia tidak rewel kan?"
"Nggak ayah...Revan nggak rewel kok. Ayah nggak pulang lagi ya?"
"Iya. Maafin ayah ya Bun..."
"Ya udah nggak apa-apa. Nara juga ada mbak Sumiati yang nemenin."
"Ya udah, ayah tutup yah Bun telponnya."
"Iya Ayah...!"
Tut. Husni memutuskan sambungan telponnya.
Nara beringsut duduk. Dia memandang Revan Putra kecilnya. Dia sangat mirip sekali dengan ayahnya.
"Ayah mu semakin giat saja Nak kerjanya. Sekarang dia mau lembur di kantor, dan nginep di sana." Ucap Nara.
Revan tampak menggeliat dan tersenyum. Sepertinya Revan memang sedang mimpi indah.
"Revan, kamu mirip sekali dengan ayah Husni." Kata Nara. Setelah itu Nara mencium pipi putra kecilnya itu.
__ADS_1
Sementara di luar rumah, kilat seperti sudah menyambar-nyambar. Langitpun sudah tampak gelap. Malam yang sangat dingin. Hembusan angin dari luar sangat terasa sekali.
Nara bangkit dan melangkah ke arah jendela kamarnya. Dia kemudian mengunci jendelanya. Tirai kamar Nara mulai menyibak-nyibak. Nara kembali lagi berbaring di sisi Revan.
Sementara Husni sekarang sedang menuju ke panti asuhan, di mana Inayah tinggal. Husni melajukan mobilnya menerjang hujan dan kepekatan malam.
Jalanan yang tampak licin itu tidak menghentikan niatnya untuk menemui Inayah. Yah, sudah setengah bulan dia tidak ke tempat istri sirinya itu.
Husni tersenyum.
"Inayah, aku kangen sama masakan lezat kamu Inayah. Ah, Nara mana mungkin bisa masak yang enak seperti masakan mu. Rasanya waktu setengah bulan saja sudah lama sekali Inayah. Sudah seperti setahun untuk ku. Aku cinta sama kamu Inayah." Ucap Husni sembari menyetir.
Setelah beberapa lama Husni menerjang hujan dan angin kencang, Husni tampak sudah berparkir di halaman depan rumah panti Inayah.
Husni kemudian turun dari mobilnya dan menerjang hujan dan berlari kecil menuju ke terasa rumah Inayah.
Tok tok tok..
Husni mengetuk pintu rumah Inayah.
Ceklek...
Inayah membuka pintu rumahnya. Yah, dia tahu kalau suaminya itu akan datang malam ini.
"Mas...Kamu kehujanan?" tanya Inayah.
Inayah langsung memeluk suaminya itu.
"Sayang, Mas masih basah, jangan peluk seperti ini. Nanti adik-adik panti pada ngelihat. Apa kamu nggam malu?"
Inayah menatap Husni dalam.
"Aku kangen...!"Kata Inayah.
Husni menangkup wajah Inayah.
"Mas juga kangen. Setengah bulan tidak ketemu kamu sayang."
Inayah tersenyum."Adik-adik panti sudah pada tidur mas. Bunda panti juga sudah tidur. Mas tahu ini jam berapa? ini sudah jam sebelas malam."
"Iya sayang. Kamu udah menungguku yah?"
Inayah mengangguk.
"Iya. Ayo masuk Mas...!"
Husni kemudian masuk. Inayah dan Husni masuk kedalam kamar mereka. Yah, karena saking seringnya Husni menginap, jadi ibu panti langsung membuatkan kamar khusus untuk mereka.
Karena Husni juga sudah banyak menyumbang untuk panti yang sekarang Inayah tempati.
"Hemm...sayang. Kamarnya wangi banget."
__ADS_1
" Iya dong Mas, aku udah semprotin parfum di sini. Gimana Mas. Kamu pasti nyaman tidur di sini."
Husni memeluk Inayah.
"Selama bersama kamu, aku akan selalu nyaman Inayah." Kata Husni.
Inayah melepas pelukannya.
"Sana Mas, kamu pasti capek. Kamu mandi dulu yah. Nanti aku buatin air hangat untuk kamu mandi."
"Iya sayang. Terimakasih."
Inayah kemudian membantu Husni melepaskan dasi dan jasnya. Dan setelah itu Inayah pergi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
"Inayah, kamu dan Nara adalah istri terbaik ku. Kalian hampir mirip. Tapi, aku lebih kagum sama kamu Inayah. Karena masakanmu selalu pas di lidahku." Kata Husni sembari menghempaskan tubuhnya di ranjang.
"Ah, rasanya capek banget hari ini. Inayah memang istri yang sangat perhatian. Walau kamar sekecil ini, tapi kamar ini wangi dan terasa nyaman sekali. Dia memang istri yang rajin." Kata Husni lagi.
Setelah Inayah sudah menyiapkan air hangat, Inayahpun kembali ke kamarnya. Dia kemudian mendekati suaminya. Dan tiba-tiba saja.
Bruuuk...
Inayah ambruk di atas tubuh Husni. Yah, Husni menarik tangan Inayah, hingga dia terjatuh.
"Auh...Mas, apa-apaan kamu Mas. Kenapa kamu jadi jahil gini sih."
"Inayah, setelah mandi, aku pasti akan memberikanmu kebahagiaan malam ini, sesuatu yang paling indah dan tidak akan pernah bisa kamu lupakan sayang."
"Iya Mas, aku percaya. Kamu sekarang suami yang adil. Aku sudah beruntung bisa kamu nikahi walau cuma sebatas nikah siri." Kata Inayah.
Inayah kemudian hendak berdiri. Namun Husni semakin memeluknya erat.
"Di luar hujan Inayah, Aku mau memberikan mu sesuatu yang kamu tunggu...! bolehkah Inayah aku meminta jatahku?"
"Ya tentu dong Mas. Aku tidak bisa menolaknya. Karena kewajiban seorang istri bukankah melayani suaminya?"
"Iya. Betul. Kamu memang istri cerdas. Dan sangat berbakti pada suami."
Inayah dan Husni sekarang sudah duduk di sisi ranjang.
"Gimana kabarnya Revan dan Nara. Apa mereka baik-baik saja."
"Iya. Mereka baik-baik saja."
"Aku pengin Mas, melihat Revan. Katanya Revan mirip sama kamu yah? tapi aku tidak enak sama Nara."
"Sudah, nggak usah sedih, nanti kita buat anak sendiri. Supaya kamu tidak kesepian lagi yah sayang..." Kata Husni sembari meraih kepala Inayah dan di tenggelamkannya kepala Inayah di dada bidangnya.
"Mas tadi kesini hujan-hujanan yah? Mas pasti kedinginan yah...?" Tanya Inayah.
"Iya Inayah. Tapi Mas udah hangatan kok karena pelukan kamu ini." Kata Husni yang semakin erat saja memeluknya .
__ADS_1