
Sore ini, Ratih di ajak Bu Arum ke butik milik tante Karisa. Kebahagiaan tersendiri bagi Ratih. Bu Arum sekarang mau menerimanya menjadi menantunya.
"Kamu pilih aja Ratih, baju mana aja yang kamu suka." Kata Bu Arum.
"Benaran tante?" Ratih berbinar senang.
"Iya. Sekarang kamu harus tampil dewasa. Nggak boleh kayak anak-anak lagi. Nggak boleh ngambek-ngambekan lagi. Tante ngelakuin ini, karena Tante sangat menyayangi Darma. Tante pengin buat Darma bahagia. Jika Darma menginginkanmu, yah apa boleh buat."
"Iya tante, Aku janji nggak akan ngecewain tante."
Bocah ini masih sangat lugu. Aku harus sedikit-sedikit merubahnya. Supaya dia tampak lebih dewasa. Kenapa Darma bisa mencintai bocah kayak gini.
Bu Arum tersenyum.
"Jangan panggil Tante, panggil Mama aja. Kan sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku."
Ratih memeluk tubuh Bu Arum dengan erat. Entahlah, rasa bahagianya itu tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Setelah melepaskan pelukannya, Ratih menatap lekat wajah Bu Arum.
"Sebenarnya sih, Mama belum setuju aja Ratih, kamu menikah sama anak saya. Kamu itu masih kecil Nak. Kamu masih bisa meraih cita-citamu setinggi langit. Kamu masih bisa merasakan masa remajamu Nak, tanpa menjadi seorang istri."
"Iya. Aku tahu Ma. Dulu aku juga sempat berfikiran sama kayak Mama. Tapi, buat apa Ma, buat apa berlama-lama. Lagian Mas Darma bilang, dia udah pengin nikah dulu. Katanya dia udah nggak sabar Ma. pengin ngehalalin Ratih. Biar kita bisa bersama terus."
"Iya iya...Mama tahu, anak Mama itu."
"Iya Ma. Kalau udah nikahkan, mau ngapa-ngapain aja juga nggak apa-apakan Ma? katanya, Mas Darma udah pengin mencium ku." Kata Ratih dengan polosnya.
"Ah, Darma ini." Geram Bu Arum geli.
Ratih yang seharusnya berubah menjadi sosok yang dewasa, bukan Darma yang berubah menjadi kayak bocah lagi.
***
Husni duduk di kursi kebesarannya, Dia tampak masih sibuk dengan pekerjaannya.
Dia masih serius memandang layar laptop.
tok tok tok
"Masuk..." ucap Husni.
Seorang lelaki berusia 35 tahunan masuk.
"Pak, saya akan memperkenalkan sekertaris baru bapak." Ujar lelaki itu.
"Oke." Husni masih memandang ke arah laptopnya.
Seorang wanita berparas cantik, berpakaian modis, dan berhijab itu masuk.
Husni terkejut. Dia pikir itu Nara istrinya. Namun setelah melihat wajahnya, memang dia itu bukan Nara. Cuma mirip aja.
"Dia Inayah Pak." Kata lelaki itu.
__ADS_1
"Inayah?"
"Iya Pak, nama saya Inayah." Kata Inayah.
"Oh silahkan duduk?" Husni menyuruh Inayah duduk.
"Makasih Pak." Kata Inayah sembari duduk di depan Husni.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak." Kata Lukman lelaki itu, yang tak lain adalah karyawan bagian personalia.
Husni masih memandang takjub wanita di depannya. Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang penampilannya mirip dengan istrinya.
"Inayah, Dari data yang saya terima, apakah kau ini lulusan Kairo?" tanya Husni.
"Iya Pak." Jawab Inayah singkat.
"Kamu udah interview dengan Pak Lukman tadikan?"
"Iya, udah Pak."
"Baiklah. Mulai sekarang kamu boleh gabung di perusahaan saya ini. Sekarang kamu adalah sekertaris saya. Dan kamu tahukan apa pekerjaanmu?"
"Iya Pak. Saya harus menulis apa saja kegiatan Bapak. Dan menemani bapak jika bertugas ke luar kota."
"Yah, pintar sekali. Dan akhir tahun, mungkin jadwal saya akan sangat padat. Saya mungkin akan berkunjung ke berbagai cabang ke luar negri. Kau juga harus ikut."
"Insya Allah Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."
"Bagus. Dan satu lagi. Apakah Suamimu mengizinkan jika suatu saat ada kegiatan mendadak, dan kamu harus ikut bersama saya. ke luar kota atau keluar negri."
"Oh, jadi kamu masih gadis?"
"Tidak juga Pak. Saya udah janda."
"Oh Maaf..."
"Saya sudah satu bulan ini, resmi bercerai dengan suami saya."
Inayah tampak sedih, matanya tampak berkaca-kaca. Seperti sedang memanggul beban berat di hatinya. Entah apa itu. Dari sorot matanya mengatakan, dia itu perempuan yang sangat malang akan nasib hidupnya.
***
Sore ini, Darma masih duduk di ruang kerja Pak Arwan. Yah, Pak Arwan memang menyuruh Darma untuk ke kantornya. Ada hal penting yang ingin di sampaikannya.
"Papa Mau ngomong apa sih?" tanya Darma.
"Darma, Kamukan sebentar lagi udah mau nikah, belajarlah dewasa."
"Aku udah dewasa kok Pa. Emang aku masih kelihatan kayak anak kecil ! " Darma tampak kesal.
"Bukan begitu maksud Papa, Darma."
"Terus?"
__ADS_1
"Papa udah pengin kamu dan Mas mu mengurus perusahaan. Papa udah semakin tua. Dan nanti pada akhir tahun, Mas mu akan mengunjungi cabang-cabang ke luar kota. Dan kamu harus membantunya."
"Terus aku harus membantu apa?"
"Kamu harus kerja di perusahaan Papa. Bukan kerja di perusahaan lain. Kamu harus bisa menjadi seorang pemimpin seperti Husni. Dan apa kamu tahu, Husni udah banyak memenangkan tender. Dan Sekarang perusahaan kita sedang berkembang pesat. Ayolah Darma, bantu kami ! belajarlah dengan Mas mu."
"Iya pa. Aku fikirkan dulu."
"Nah gitu dong. Papa harap kamu bisa mencontoh kakakmu itu. Dia sangat berbakat dalam berbisnis."
Huh, dasar Papa. Mas Husni, terus yang selalu di banggakan. Sementara aku apa? cuma anak, yang di pandang sebelah mata oleh orang tuanya.
***
Sore ini Ratih sangat tidak bersemangat. tidak seperti biasanya.
Ke kasihnya yang biasa selalu menemaninya itu, sekarang sedang sibuk mengurusi bisnis ayahnya.
Dari pada Ratih cuma berdiam diri di rumah, karena tidak ada kerjaan. Dia punya ide untuk jalan-jalan sore bersama ke dua adiknya, cukuplah untuk membuang kejenuhannya.
Semenjak tidak ke sekolah, Ratih jadi tidak punya teman lagi. Dia ngerasa sangat bosan.
"Kakak mau ajak kita kemana? ke rumah Oma yah?" tanya Dian.
"Kita main ke taman,
"Asik...Aka ikut."
"Iya. Kalian semua ikut."
Ratihpun menggandeng ke dua adiknya untuk bermain ke taman yang ada di dekat rumahnya.
Ratih masih berdiri mematung. Hatinya terasa hampa. Taman ini sudah mengingatkannya dengan berbagai macam kenangan. Kenangan bersama sahabat-sahabatnya termasuk Rani dan Yuli.
"Hai cantik. Kok ngelamun aja." Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Ratih dari belakang.
Ratih menoleh.
"Aish...Nino? Kamu ada di sini juga?" Ratih berlonjak bahagia.
Nino tersenyum.
Wah senyumannya manis banget! Ah, tapi lebih ganteng Mas Darma. Mas Darma kan ke kasihku. Aku nggak boleh ke goda ama laki-laki lain. Termasuk masuk ke dalam jeratan lelaki tampan ini. sabar Ratih sabar...
" Kamu ke sini sama siapa? sama Darma?" tanya Nino.
Ratih menggeleng. Pandangannya menunuduk. Tampak dari raut wajahnya kalau dia sedang sedih.
"Nggak, Mas Darma seharian, dia tidak menghubungi ku. Ponselnya juga mati. Aku sebel banget ama dia."
Nino menyeringai licik.
Kesempatan bagus.
__ADS_1
***