Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
bab 36


__ADS_3

Ratih tampak masih memukuli Darma dengan bantalnya.


"Mas keterlaluan! kenapa Mas mau aku minum pil pencegah hamil itu. Aku kan udah bilang, aku belum siap main itu sama Mas!"


"Kenapa belum siap sayang? kata kamu malam pertama itu enak."


"Nggak. Aku nggak bisa bayangin aja gimana sakitnya. Kalau Mas benar-benar menerkam ku sampai aku nggak bisa jalan."


Ratih merinding. Membayangkan hal-hal mesum itu.


Darma masih berusaha menahan tawa.


"Sudah sayang, sudah. Berhenti mukulin Mas kayak gini!" ucap Darma.


Ratih akhirnya melepaskan bantalnya. Sementara Darma bersandar di kepala ranjang.


"Sini sayang tidur disamping Mas.l!" Kata Darma sembari menepuk bantal yang ada di sisinya.


Ratih menggeleng.


"Nggak, Mas nggak mau ngelakuin apa-apa."Kata Darma.


"Benarkan Mas nggak mau macam-macam?" Ratih masih sedikit takut.


"Mas cuma mau meluk kamu aja. Mas lagi kangen sama kamu. Kita lurusin masalah yang tadi di mall aja Ya. Mas mau jelasin siapa cewek yang ada di mall itu."


Ratih akhirnya menurut. Dia pun akhirnya mendekat ke arah suaminya. Darma dengan sigapnya langsung memeluk istrinya itu.


Darma menyandarkan kepala Ratih pada dada bidangnya.


"Iya, jelasin! Mas harus jelasin satu persatu cewek yang ada di hape. Juga yang ada di parkiran mall." Pinta ratih.


Ratih meraih hape Darma yang masih tergeletak di atas bantal. Dia kemudian menggeser layarnya. Dia melihat ke akun sosmed Darma yang sudah nampak banyak postingan perempuan.


"Aku mau Mas jelasin satu persatu cewek yang ada di kontak ini! " Pinta Ratih.


"Apa sayang, nggak bisa dong! itu cewek banyak banget. Nomornya juga ada yang udah nggak aktiv."


"Tapi ini pacar Mas semuakan?"


"Bukan sayang. Kenapa kamu selalu beranggapan kalau setiap cewek itu pacar ku sih!" dengus Darma kesal.


"Cemburu sih boleh aja. Tapi jangan berlebihan gitu dong!"


Ratih diam.


"Cemburu? aku nggak cemburu kok. Siapa bilang aku cemburu."


"Kalau orang marah itu, namanya cemburu."


"Terus yang di mall."

__ADS_1


"Itu namanya Evelin. Dia itu teman Mas sewaktu kuliah. Kita cuma teman sayang, Dan kebetulan kita ketemu di parkiran mall."


"Jelita, Anggi, Denia, Rindu, Antika Alicia itu siapa ?"


Ratih tampak masih meletakan kepalanya di dada bidang Darma.


"Ah, kamu kok malah yang lebih hafal sih Dek nama-nama mereka. Mas aja lupa siapa aja mereka." gumam Darma sembari mengecup puncak kepala Ratih


"Kata Mbak Sumi, Mas pernah ciuman, pelukan dan tidur ama cewek-cewek itu."


Darma terkejut. Dia melepas pelukannya.


"Apa! Mbak Sumiati. Dia bilang apa aja sayang."


"Dia bilang Iya. saat aku nanya, apa Mas udah ciuman, apa Mas udah pernah nidurin cewek. Mbak Sumi jawab iya semuanya sayang. Jadi kamu nggak bisa ngelak."


Mbak sumi ... awas aja kau. Aku akan beri perhitungan denganmu.


Darma sangat kesal. Sebenarnya apa sih yang pernah Mbak Sumi bicarakan.


***


Darma beranjak dari tempat tidurnya.


"Mau kemana sayang?" tanya Ratih.


"Aku mau ke ruang kerja sebentar." Jawab Darma.


"Iya, nanti kita lanjutin lagi."


Dia menuju ke ruang kerjanya. Dia menghidupkan layar laptopnya. Dia mau melihat rekaman CCTV kemarin saat Ratih sedang ngobrol dengan Mbak sumi.


"Ha...ha...ha...gila, benar-benar gila istriku ini. Kenapa dia jadi bloon banget begini. Masak dia introgasi orang yang sedang ngantuk begini. Ah, dasar. cemburu yang nggak beralasan." Cibir Darma pelan.


Setelah itu Darma kembali ke kamarnya, Dia melihat Ratih sudah tertidur nyenyak.


Darma kemudian berbaring di sisi ranjang. Dan tidur memeluk Ratih.


"Kamu mungkin masih terlalu muda Ratih untuk melakukan hubungan itu denganku. Tapi aku tahu kamu takut. Aku nggak akan memaksamu. Aku akan selalu menunggu sampai kau siap." Gumam Darma sebelum dia mencium seluruh bagian wajah Ratih tanpa tersisa. Tak lupa juga dia mencuri cium bibir manis itu yang membuat Ratih menggeliat.


Entahlah, mungkin karena Ratih merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibir mungilnya. Jadi dia merasa tidak nyaman.


Hanya cumbuan itu yang bisa Darma lakukan untuk saat ini.


"Ah, gagal lagi deh. Gara-gara ide Arfan yang konyol itu, gue jadi ketahuan Mama kan."


Lagi-lagi dia harus menahan hasratnya yang masih bergejolak.


Dia masih terfikir hal kemarin sewaktu Arfan memberi kaplet pil KB milik istrinya.


Flashback On

__ADS_1


Di ruang tamu rumah Arfan. Arfan tampak sedang bercakap-cakap dengan Darma. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius.


"Gimana Bro, malam pertama lo dengan Ratih?"


"Nggak tahulah Ar. Semuanya hancur."


"Hancur gimana?"


"Yah, malam pertama gue malah di usir Ratih dari kamar. Lo tahu kan, kejadian waktu kita nikahan. Ratih jebur kolam renang. Dan semalaman dia marah besar sama gue. Gue nggak tahu apa yang menyebabkan dia sebegitu marahnya. Tapi menurut gue, karena gue cuekin dia, atau karena dia cemburu melihat kedekatan gue pada para cewek itu."


"Mungkin juga ada penyebab lain. Lo cek dulu aja di CCTV. Mungkin aja di kolam renang ada seseorang yang mendatangi Ratih."


"Maksud lo?"


"Yah barangkali nino, gitu manas-manasin Ratih. Kita kan nggak tahu."


"Iya juga sih."


"Oya, terus sekarang gimana? Lo pasti udah nyerahin keperjakaan lo pada Ratihkan?"


"Ah, itu juga belum gue lakuin bro. Secara lo kan tahu, kalau nyokap gue itu, ngelarang gue untuk nyentuh Ratih sebelum Ratih lulus SMA ."


"Tahan lu?"


Darma mengedikan bahunya.


"Kenapa nyokap lo nggak ngebolehin lo tidur bareng."


"Nyokap gue takut gue hamilin Ratih bro. Ratihkan harus sekolah SMA. Mana ada sih gadis SMA punya suami dan hamil."


Arfan menepuk-nepuk bahu Darma.


"Yah, elo. Gini aja. Istri guekan punya pil kontrasepsi. Nanti lo paksa Ratih minum pil itu sebelum melakukan hubungan badan denganmu. Di jamin nggak bakalan hamil deh."


Arfan kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengambil pil tersebut.


Dia kemudian memberikannya pada Darma.


"Ini?" Darma mengamat-ngamati.


"Yah, ini sih Mama juga punya kali Fan."


"Yah, ini ambil aja. Alma nanti gue beliin lagi. Masak lo mau nyolong punya nyokap lo sih. Nanti kalau ketahuan gimana. Ini rahasia lo ama Ratih. Nggak boleh sampai nyokap lo tahu."


"Iya thanks ya bro. Gue akan coba bujuk Ratih."


Yah, hal konyol lagi kan? Entahlah sampai kapan Darma akan bersabar untuk bisa mendapatkan tubuh Ratih seutuhnya.


"Semangat dong! kalau Ratih nggak mau minum itu ya, mungkin kamu harus pakai pengaman lain."


Sembari bercakap-cakap, Darma dan Arfan sama-sama mencicipi hidangannya. Yang berupa kacang tanah goreng dan dua cangkir kopi panas yang telah di buatkan Alma.

__ADS_1


__ADS_2