Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 21 - Penjara Suci


__ADS_3

Tibalah keluarga Azzam di tempat yang akan menjadi tempat tinggal Khanza dan Naura selama mondok, penjara suci.


Naura yang baru saja turun dari dalam mobil menatap bangunan yang terlihat rapi, adem, dan juga sangat nyaman. Suasananya yang terletak di tengah sawah menambah kesejukan kala ingin menyendiri. Hamparan sawah di sekeliling pondok membuat mata tak ingin berpaling untuk tidak memandangnya.


"Akhirnya kita sampai juga di sini," kata Khanza yang juga tengah berdiri di samping Naura menatap bangunan cukup luas.


"Kalian sudah yakin dengan pilihan kalian sendiri?" Tanya Azzam memastikan pilihan Naura dan Khanza sebelum memasuki halaman pesantren. Azzam tidak ingin kedua mundur setelah masuk ke area penjara suci. Karena jika sudah ada di dalam, ingin pulang pun terasa sulit.


"Kalau Khanza sudah yakin, Ayah. Sejak awal kan Khanza ingin mondok sambil sekolah di sini," jawab Khanza begitu tegas dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya. Ini memang pilihannya setelah lulus smp, dan kini mau masuk SMA memilih jalan seperti ini.


"Kalau kamu, Nau?" Tanya Azzam pada Naura yang sedang diam menatap bangunan pondok.


"Naura juga sudah yakin. Namun Naura minta maaf sama om dan Tante, terutama pada keluarga om karena Naura sudah merepotkan kalian."


"Sudah tahu merepotkan malah masih saja bertahan, bikin kesal saja," celetuk Fatimah sambil melenggang masuk melewati gerbang pesantren.


Azzam menggelengkan kepalanya atas sikap Mamanya.


"Kalau kalian sudah siap, sekarang kita masuk ke dalam." Azzura mengajak mereka masuk. Sedangkan Azriel di suruh menurunkan dua koper milik Khanza dan juga Naura.


Sesampainya di dalam, keluarga umi Qulsum menyambut kedatangan keluarga Azzam dengan senyuman ramah. Namun ada satu yang masih menyimpan kesal, yaitu anisa. Istrinya ustadz Ahmad.


Apalagi melihat kedatangan Azzura, Ustadz Ahmad sesekali mencuri pandang pada wanita yang ternyata belum pergi dari hatinya kecilnya. Hal itu membuat Anisa kesal.

__ADS_1


"Jaga pandangan mu! Ingat, ada aku sebagai istrimu," bisik Annisa ke telinganya Ahmad. Anak kedua umi Qulsum itu menundukkan pandangannya dan ia beristighfar dalam hati.


"Astaghfirullah, rasa ini masih ada. Seharusnya aku tidak menatap kagum Azzura. Aku sudah punya anak dan istri, jadi aku harus melupakan Azzura." Bagi ustadz Ahmad begitu sulit melupakan orang yang ia cintai dan Azzura adalah cinta pertamanya.


"Assalamualaikum Umi," sapa keluarganya Azzam.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah kalian semua datang dengan selamat. Mari masuk." Wanita yang sering di sapa Umi Qulsum itu menyambut baik Fatimah dan juga keluarganya.


Di dalam rumah Umi juga sudah ada ustadz Ali, anak pertamanya, Asiah sebagai istri Ali, dan juga Ustadz Ahmad beserta Annisa.


"Terima kasih, Umi." Para wanita saling memeluk satu sama lain dan juga saling cipika cipiki. Naura dan Khanza juga ikutan menyalami Umi Qulsum, Annisa, dan juga Asiah. Kemudian keluarga Azzam duduk dengan Khanza yang selalu dekat dengan Naura.


"Umi, kedatangan kami kesini mau menitipkan anak kami, Khanza untuk menuntut ilmu di sini," kata Azzam sebagai kepala keluarga.


"Alhamdulillah, ini adalah suatu kabar baik untuk kita semua. Semoga niat baik Nak Khanza ini bisa menjadi amal kebaikan baginya sendiri dan juga bagi keluarganya. Oh iya, siapa anak manis yang ada di samping Khansa?"


"Orang asing yang tidak tahu darimana asalnya," celetuk Fatimah memotong ucapan Azzam.


"Astaghfirullah, Mah. Tidak boleh begitu!" Azzura menggenggam tangan mertuanya seraya menasehati sang mertua untuk tidak bicara yang tidak-tidak.


Keluarga umi Qulsum terlihat bingung. Sebab orang yang di bawa bukanlah anggota keluarga Azzam.


"Fatimah, Tidak baik berburuk sangka pada orang lain. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, 'Al-Fitnatu Assyaddu minal qotl' yang artinya 'fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan'. Bahkan ayat ini di jelaskan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 191 yang maksud dari artinya adalah keharaman berkata bohong untuk menjelekkan orang lain. Jadi, tidaklah baik bicara tanpa mengetahui sebuah kebenaran. Nanti jatuhnya fitnah. Jika kamu tidaklah tahu, lebih baik diam supaya tidak menimbulkan fitnah, naudzubillah." Umi Qulsum memberikan peringatan pada Fatimah supaya tidak lagi berburuk sangka. Dan Fatimah pun terdiam dengan mata menatap kesal pada Naura.

__ADS_1


"Silahkan nak Azzam, lanjutkan saja."


"Maaf Umi, Om, Tante, bukan maksudku menyela ucapan kalian semua. Namun kedatangan aku kesini karena memang niat dalam hati ingin belajar lebih dalam tentang Tuhanku, agamaku, dan ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku bersyukur di pertemukan dengan keluarga Tante Azzura yang begitu baik padaku. Di saat Tante Azzura menawarkan aku mondok di sini, hatiku bergetar ingin sekali mengenal lebih dalam apa itu pondok dan tentang hal yang lainnya," kata Naura menunduk malu dengan segala kelakuannya.


"Umi, aku ingin berkata jujur mengenai siapa aku. Sebelum aku di terima di sini, kalian semua harus tahu dulu aku ini seperti apa agar kalian bisa mempertimbangkan lagi menerima aku mondok disini." Naura ingin memberitahukan siapa dirinya supaya suatu hari nanti tidak akan ada fitnah lain yang ia terima.


"Bicaralah, Nak. Kamu berhak mengeluarkan suara mengenai apa yang kamu rasa," kata Umi Qulsum menatap lembut gadis yang ada di hadapannya.


"Terima kasih, Umi. Jujur sebenarnya aku ini seorang anak yang terlahir dari rahim wanita malam."


"Astaghfirullah." Mereka yang ada di sana tercengang mendengar pengakuan Naura. Namun tak ada satupun yang menyela lagi.


"Aku di besarkan dari lingkungan yang bisa di bilang kurang baik. Bahkan aku juga tidak tahu Tuhanku, agamaku, karena yang aku tahu mencari uang adalah kewajiban ku mempertahankan hidup diantara kejamnya kehidupan. Aku juga terkadang sering mabuk, sering merokok, bahkan menjadi wanita penghibur di sebuah club."


"Ya Allah." Lagi-lagi ada beberapa orang yang tercengang atas pengakuan Naura. Namun berbeda dengan Azzura, Azriel, dan umi Qulsum yang diam mendengarkan.


"Dia mengakui kalau dia ini wanita hina," kata Fatimah.


Namun umi Qulsum mengangkat tangannya memberikan isyarat pada Fatimah untuk tidak banyak bicara lagi.


"Lanjutkan, Nak!"


"Namun, pertemuan ku dengan Khanza, Azriel, Tante Azzura dan keluarga menyadarkan aku satu hal, bahwa hidup tidak akan selamanya begini dan tidak akan pernah abadi. Hingga terbesit di hatiku untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Namun, jika aku masuk pondok Umi, apa umi akan menerima wanita hina seperti ku? Apa umi dan keluarga tidak akan malu jika suatu hari nanti aib aku tiba-tiba terbongkar begitu saja? Jadi, sebelum umi menerimaku sebagai santriwati, inilah aku dengan segala dosa dan kekuranganku." Bahkan Naura menceritakan semua yang terjadi padanya, kisah hidupnya, hingga hampir semua yang ia alami ia ceritakan sambil menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Dia membutuhkan bimbingan, semoga Allah mengampuni semua dosa kamu, Nau. Dan semoga Allah menerima taubatmu, Naura. Aamiin yarobbal'alamiin," batin Azriel menunduk dan merasa iba atas kehidupan Naura.



__ADS_2