
"Pada hari itu, ayah berencana merayakan hari ulangtahun pernikahan kita yang ke tiga tahun dan pada saat itu usia kamu baru dua tahun. Ayah pura-pura bilang mau kerja ke luar kota, padahal tidak. Namun di saat hari itu juga Ayah justru menemukan sebuah pakta tentang perselingkuhan ibumu dengan teman ayah sendiri. Kejutan yang seharusnya ayah menjadi hari bahagia malah malah berubah menjadi duka kala ayah melihat dengan kepala mata ayah sendiri mengenai ibumu yang mendua."
"Ayah kecewa, ayah marah, ayah sakit dengan pengkhianatan itu. Ayah bertanya apa yang terjadi pada ibumu sampai berkhianat dengan sahabat ayah sendiri. Dan apa kamu tahu jawabnya?" Genta menatap putranya dengan tatapan sedih. Aditya menunggu kelanjutan ceritanya.
"Alasannya karena ayah tidak bisa memberikan apa yang ibumu inginkan. Alasannya karena ayah tidak sekaya teman ayah dan ayah tidak bisa membahagiakan ibumu dengan harta. Untuk melampiaskan kemarahan ayah, ayah sering bermain ke club malam menghibur diri. Di sanalah pertemuan pertama ayah dengan seorang wanita yang menjadi pemandu karaoke. Ayah tidak bisa menceraikan ibumu karena ayah teringat kamu yang masih kecil. Karena semakin hari sikap ibumu semakin di luar kendali, ayah mencari ketenangan di luaran sana. Sampai pertemanan ayah dan Farida perlahan menjadi hubungan yang spesial. Ayah menyukainya, ayah nyaman dengannya, ayah pun menikahinya tanpa memberitahukan dia kalau sesungguhnya ayah sudah memiliki istri dan anak. Pernikahan siri kita berlangsung lama dan terbilang bahagia. Satu tahun ayah dan Farida menjalin hubungan tanpa sepengetahuan ibumu. Satu tahun pula ayah dan ibumu berjarak, dia dengan dunianya, dan ayah dengan kehidupan ayah. Tidak ada keharmonisan dalam ruang tangga ayah dan ibumu dan kami hanya berkomunikasi hanya untuk kamu saja. Namun suatu hari ibumu terkena kanker stadium akhir, dia meminta ayah menemaninya di saat terakhirnya karena kekasihnya sudah tidak peduli lagi. Karena ibumu tidak memiliki siapapun, ayah berusaha merawat dia sampai ia tiada. Di saat itu pula ayah menjadi jarang berinteraksi dengan Farida bahkan ayah meninggalkan Farida hanya untuk menemani sisa terakhir ibumu." Dengan perkataan yang cukup terbata, pikiran terus menerawang ke masa lalunya, dan rasa bersalah yang telah menghantui dirinya, Genta menceritakan kisah yang ia alami.
"Apa dia wanita malam?" tanya Aditya.
"Tidak, dia hanya pemandu karaoke dan ayah orang pertama yang menyentuhnya. Waktu kami bertemu, itu hari pertama dia kerja."
"Lalu dengan teganya Ayah meninggalkan dia tanpa kabar dan mementingkan perempuan yang sudah berkhianat pada Ayah?" Aditya tidak habis pikir dengan pikirannya Ayahnya pada saat itu. Kalau bahagia bersama istri keduanya kenapa harus mempertahankan istri pertama yang ternyata tetap menjalin hubungan dengan pria lain.
"Ayah salah, Adit. Ayah salah tidak memikirkan itu. Sampai saat ini Ayah tidak tahu kemana dia pergi. Waktu Ayah kembali padanya, dia sudah pergi dari rumahnya. Ayah tidak bisa mencarinya karena terhalang biaya." Genta mengusap air mata yang menetes dari matanya. Ia menyesal telah menyakiti Farida. Ia menyesal telah membohonginya.
"Dan Ayah bertindak bodoh. Sangat bodoh sekali, kalau hati Ayah tersakiti oleh ibu kenapa tidak menceraikan ibu? Dan apa yang Ayah lakukan menyakiti perasaan orang lain? Lihatlah sekarang, ada sosok yang hadir tanpa Ayah sadari bahkan Ayah tidak tahu bagaimana kehidupan dia di masa lalu. Ayah lari dari tanggung jawab sebagai pria."
"Karena kamu ayah tidak bisa membuat keputusan, karena kamu juga ayah harus menahan sakit hati selama ibumu berkhianat. Ayah juga tidak tahu jika Farida sedang ..."
Ceklek ...
Pintu terbuka. Genta dan Aditya menoleh ke arah pintu. Ternyata itu adalah Revan, sahabatnya Aditya.
"Eh, aku kira tidak ada kalian. Maaf." Revan kaget ada Aditya dan Ayahnya. Dia semakin terkejut ketika melihat mata Naura terbuka dan menatapnya.
__ADS_1
"Naura."
"Naura?" ucap Aditya dan Ayahnya bersamaan. Lalu keduanya beralih melihat ke arah brangkar.
"Naura membuka mata," kata Aditya. "Cepat periksa dia, Revan!" sambungnya. Namun berbeda dengan Genta yang diam mematung menatap tak percaya kalau sosok itu menatapnya.
Revan segera memeriksa keadaan Naura. "Apa kamu ingat kejadian kemarin?" tanya Revan setelah memeriksanya.
Naura mengangguk.
"Syukurlah, tidak ada luka serius yang kamu alami, hanya tangan kanan saja yang mengalami sedikit keretakan."
"Revan, apa Naura boleh pulang?" tanya Aditya.
"Untuk sekarang belum bisa, dia harus mendapatkan perawat dulu. Nunggu dua atau tiga hari lagi, kita lihat kondisinya baru bisa di nyatakan boleh pulang atau belum," tutur Revan.
Revan menatap Aditya dan Ayahnya secara bergantian. "Untuk saat ini kamu ti ..."
"Aku Aditya, kakak kamu. Dan ini Ayah Genta, Ayah aku dan juga kamu," jawab Aditya tidak sungkan bilang kalau mereka kakak dan ayah.
"A-ayah, ka-kakak?" Naura menatap Revan seakan meminta penjelasan maksud dari ucapan mereka. Waktu sebelum membuka mata, dia sebenarnya mendengar, namun untuk saat ini dia belum siap bertemu dan mengakui itu ayahnya setelah tahu cerita yang sesungguhnya.
"Ah hmm, gini ..."
__ADS_1
"Kamu kan baru sadar, sekarang kamu istirahat saja dulu, ya. Nanti aku datang kesini lagi setelah memeriksa pasien lainnya." Revan memberikan kode pada Aditya untuk pergi dari sana dulu.
Naura mengangguk saja. Dia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat pria yang di sebut ayah.
"Adit, Om, ada yang ingin aku sampaikan," kata Revan. Lalu mereka bertiga keluar meski Genta merasa berat hati karena ingin banyak bicara sama Naura.
Setelah mereka pergi, air mata yang berusaha ia tahan tumpah juga. Dia menahan Isak tangisnya. "Ibu, kenapa rasanya sesakit ini setelah mendengar ceritanya? Aku tidak sekuat itu untuk memaafkannya. Apa aku salah kalau untuk saat ini aku belum mau bertemu dengan mereka? Ibu, aku merindukanmu, kenapa kamu tidak membawaku pergi bersamamu, Bu. Aku merasa hidupku hampa tanpamu. Aku merasa sendiri hiks hiks."
Sedangkan di ruangan Revan, kedua pria tadi sudah duduk di depan meja kerja.
"Ngapain lo ngajak kita kesini?" tanya Aditya.
"Revan, Om ingin bicara sama gadis tadi, Om ingin tahu tentang ibunya. Apa benar dia ..."
"Anak Om atau bukan? Hasil ada di sini." Revan memberikan amplop putih.
"Ini?"
"Itu tes DNA yang lo minta, Dit. Atas bantuan tim medis lainnya, tes ini selesai dalam satu hari. Dan untuk memastikan bahwa Naura anak Om Genta atau bukan, inilah hasilnya?"
Genta menerka-nerka kapan dia melakukan tes DNA? Seingatnya dia tidak pernah melakukan itu dan Aditya juga tidak memintanya.
Aditya buru-buru mengambil kertasnya, lalu membuka isinya. Dia membaca setiap tinta warna hitam yang tertulis dalam kertas putih. Matanya terbelalak. "99,90% cocok, itu artinya Naura memang anak kandung Ayah."
__ADS_1
Deg.
Genta merebut kertas itu, ia juga membacanya. Tangannya gemetar kala matanya membaca isi dari kertas itu. "Ya Allah, di-dia a-anak ku."