Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 83


__ADS_3

Meski harus beradu mulut dulu antara Khanza dan juga Azriel, namun keputusan tetap di tangan Khanza dan Khanza sudah memilih jalan ini. Jadinya, mau tidak mau Azriel maupun yang lainnya harus menerima keputusan Khanza.


"Kamu serius mau menerima perjodohan ini?" tanya Fatimah masih belum mempercayai ucapan Khanza. Padahal kemarin Khanza kekeh dengan pikirannya dan penolakan terhadap perjodohan ini. Namun saat ini sungguh di luar dugaannya. Akan tetapi, Fatimah merasa senang karena ada cucunya yang mau mengikuti permintaan dia.


"Demi kebahagiaan Nenek, aku akan melakukannya." Melihat kenekatan Fatimah kemarin, Khanza menjadi takut neneknya berbuat nekat lagi. Dia tidak mau ada korban lain, biarlah dia yang mengalah asalkan tidak ada kejadian seperti kemarin.


"Ini baru cucu nenek, tidak seperti dia yang suka melawan dan tidak mau nurut." Fatimah menyindir Azriel.


Akan tetapi, Azriel tetap tidak bisa menerima ini. Dia menarik tangan Khanza, "ikut kakak!"


Setibanya di luar ruangan, Azriel memegang kedua pundak adiknya. "Apa kamu serius mau menerima perjodohan ini? Ini tentang hidup kamu, Khanza. Jangan karena kasihan sampai mengorbankan diri kamu sendiri. Jangan karena paksaan kamu sampai rela melakukan hal konyol ini. Kakak yakin kalau kamu terpaksa dan tidak ingin ini terjadi."


"Mau bagaimana lagi, Kak? Aku tidak bisa menolak keinginan Nenek. Kalau aku menolak pasti akan terjadi sesuatu lagi. Nenek sampai masuk rumah sakit karena aku, Kak. Aku tidak bisa melihat seseorang terluka di depan mataku."


"Tapi bukan berarti kamu harus mau menerima tawaran ini. Apa kamu yakin akan bahagia dengan pilihan kamu ini?"


"Insyaallah, segala sesuatu jika tidak di coba tidak akan tahu hasilnya, Kak. Maka dari itu, aku mencoba untuk menerima perjodohan ini. Aku yakin kalau pilihan nenek tidak akan salah."


"Kalau salah, bahagia?"


Khanza terdiam.


"Kamu tidak bisa menjawab kan?"


"Aku hanya minta doa dari kalian supaya aku mampu menjalani kehidupan baruku setelah menikah nanti. Doakan aku supaya dia menang jodoh aku."


Azriel menghela nafas, sulit baginya membujuk Khanza. "Jika ini keputusan kamu, maka Kakak tidak bisa melarangnya. Kakak hanya bisa berdoa demi kebaikan kamu sendiri dan kebahagiaan kamu."


Dan semuanya Khanza yang mengambil segala keputusan dalam hidupnya. Sebagai kakak, dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk adiknya.


*****


Baik Genta maupun Azriel, keduanya sudah tidak ada lagi urusan di rumah sakit. Genta sudah membicarakan segala macam urusan tentang resepsi pernikahan Azriel dan juga Naura, tentang pengesahan pernikahan mereka, hingga peringatan untuk Fatimah supaya tidak lagi mengganggu anak dan menantunya.

__ADS_1


Pun dengan Azriel yang sudah merasa tidak nyaman berada di sana karena neneknya terus saja menyinggung Naura. Hatinya tidak terima jika Naura terus di salahkan.


"Ayah, Bunda, kami pamit dulu." Azriel sudah menyalami kedua orangtuanya yang berada di depan pintu ruangan perawatan Fatimah.


"Azriel, kalau boleh Ayah minta, kamu pimpin perusahaan Ayah. Hanya kamu dan Khanza yang nantinya akan menjadi pewaris perusahaan keluarga. Apalagi Ayah sudah tua, Ayah sudah ingin istirahat di rumah dan menghabiskan waktu bersama Bunda kamu. Kamu harus pimpin perusahaan, ya."


"Yah, dengan sangat hormat aku menerima setiap perintah Ayah dan Bunda, tapi aku tidak mungkin bisa menerima semua ini di saat nenek sudah tidak lagi memberikan aku hak waris di dalam perusahannya. Jadi mohon maaf Azriel tidak bisa menerima tawaran Ayah."


"Nenek kamu tidak sungguh-sungguh bicara hal itu. Semua warisan sudah di berikan pada ayah dan sudah menjadi atas nama ayah, dan kini ayah berikan kepada kamu dan Khanza. Bagian kamu sudah ayah pisahkan dan bagian bagian Khanza juga sudah ayah pisahkan. Kamu tidak bisa menolaknya begitu saja sebab ayah sudah mengurus seluruh harta warisannya."


"Tapi Ayah ..."


"Sebenar lagi mungkin kamu akan punya anak, susah punya istri juga, jadinya kamu harus memikirkan nafkah buat mereka. Kamu ini pria yang akan menjadi pemimpin dalam rumah tangga kamu, akan menjadi kepala keluarga juga, jadinya kamu harus siap memberikan nafkah untuk keluarga kecil tamu. Ayah tahu kalau saat ini kamu belum siap, tapi cepat atau lambat kamu akan memimpin perusahaan. Ayah harap kamu siap dan mau menerimanya, setidaknya pikirkan keluarga kecil kamu."


Azriel diam mencerna, dia memang sedang ingin mencari pekerjaan, tapi apa harus menerima posisi ini di saat mertuanya sudah menawarkan menjadi guru.


"Nanti aku bicarakan lagi dengan mertuaku, Ayah. Soalnya kita sempat membahas pekerjaan jadi guru."


"Itu keputusan kamu, cuman Ayah ingin kamu memikirkan ini lagi. Siapa lagi yang akan menjadi penerusnya kalau bukan kamu?"


Azzam mengangguk, dia tidak mungkin memaksa putranya mengelola usaha yang sedari dulu turun temurun. "Baiklah, Ayah tidak akan memaksa kamu. Kapan pun kamu siapnya, Ayah tunggu kabar baiknya. Oh iya, jangan lupa beri Ayah dan Bunda cucu."


Azriel menunduk tersenyum malu. "Sedang proses, Ayah." Azzam tertawa, dia mengacak rambut putranya.


"Jaga istrimu dengan baik, Ayah yakin kalau dia akan menjadi istri Sholehah untukmu."


"Insyaallah."


Kedua wanita yang memang berbeda di antara mereka berdua hanya diam mendengarkan pembicaraan Azzam dan putranya. Setelah selesai barulah Azriel dan Naura berpamitan pulang.


*****


Langkah Mentari begitu tergesa memasuki area rumah sakit, dia sudah janji akan menjemput putranya setelah pulang dari dari pencarian pekerjaan.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mama pulang." Suara Sean terdengar girang melihat mamanya datang.


Mentari tersenyum lalu memeluk putranya. "Gimana hari kamu di sini? Kamu tidak nakal kan? Tidak bikin susah nenek?"


Sean menggelengkan kepalanya. "Tidak Mama, Sean anak baik tidak mungkin nakal."


"Sean anteng, Nak. Dia tidak rewel dan dokter bilang keadaan Sean sudah jauh lebih baik dan sudah di perbolehkan pulang."


"Alhamdulillah, jadi hari ini boleh pulang?" Ibu itu mengangguk.


"Syukurlah, kalau gitu kita siap-siap pulang."


"Mah, tadi ada tante baik dan om baik yang temanin Sean main loh."


"Oh ya, siapa?" Mentari melirik pada Bu Sukma.


"Katanya mereka sedang menjenguk sanak saudaranya di sini. Kebetulan ketemu Sean di taman dan bermain. Sean juga langsung akrab dan makan di suapinya. Namanya Naura dan Azriel, mereka pasangan suami istri yang baru menikah."


"Oh. Kamu senang kenal dengan mereka?" tanya Mentari pada putranya.


"Senang banget, Mah. Tantenya baik, om nya juga baik." Mata Sean berbinar membicarakan keduanya. Nampak sekali jika Sean menyukai keduanya.


"Mereka juga menawarkan pekerjaan buat kamu kalau kamu belum dapat pekerjaan."


"Pekerjaan?" Mentari mulai tertarik, dia memang ingin mencari pekerjaan demi bisa menghidupi keluarga kecilnya.


"Assalamualaikum." Dan suara seseorang mengalihkan mereka berdua.


"Waalaikumsalam." Mentari, Bu Sukma, dan Sean menoleh.

__ADS_1


"Tante Naura." Pekik Sean kegirangan.


"Jadi dia yang Sean ceritakan tadi."


__ADS_2